| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

ASAKUSA, JELAJAH TOKYO TEMPO DULU

Tokyo begitu apik sebagai olah otak manusia. Gedung-gedung pencakar langit berderet menjulang, jalanan yang mulus, sejuta kerumunan orang, hingga kecanggihan sistem kereta Shinkansen menjadi bukti kemodernisasian Tokyo yang tak terbantahkan. Namun disisi lain Tokyo masih menyimpan benda kuno yang eksotik.
Ialah Asakusa, yang terletak di timur kota Tokyo, tepatnya mendekati Teluk Tokyo. Asakusa dijuluki sebagai warisan keagamaan terkuno di Jepang.  Mengunjungi kawasan ini Anda akan dibuai athmoshper yang benar-benar berbeda dari tempat lainnya di Tokyo. Dulunya kawasan ini merupakan areal hiburan bagi masayarakat Tokyo di zaman abad 20-an. Kawasan yang terletak di distrik Thuo ini pun pernah menjadi korban keganasan bom dari pasukan AS saat Perang Dunia  ke II sedang memanas.
Back to the old Tokyo, sama dengan Kota Tua di Jakarta, kawasan ini menghembuskan aroma abad silam tentang Tokyo. Penuh dengan budaya yang masih tradisional dan tua, nampak pada the old style bangunan-bangunan disekitarnya.
Atraksi menarik disuguhkan oleh sebuah kuil tertua  bernama Sensoji Temple. Sebelum memasuki kuil, para pengunjung akan melewati sebuah pintu gerbang bernama Kaminarimon yang berarti Gerbang Petir. Di tengah-tengah gerbang tersebut terdapat lampion raksasa berwarna merah.
Gerbang Kaminarimon ternyata hanya sebuah simbol landmark bagi Asakusa. Namun pintu gerbang utama ke kuil Sensoji masih sekitar 250 meter kedepan. Jalan sepanjang 250 meter itu dikenal sebagai Nakamise Dori. Dimana lebih dari 100 kios menjadi surga belanja para pengunjung kuil. Sebelum masuk kuil, biasanya pengunjung akan menyalakan dupa yang akan diletakkan di tempat khusus pembakaran dupa.
Kuil Sensoji adalah tempat peribadatan bagi dua pemeluk kepercayaan yang berbeda, Buddha dan Shinto. Terdapat satu gerbang lagi sebelum masuk ke kuil utama. Di lokasi kuil, terdapat empat patung utama. Di pintu gerbang kuil terdapat dua patung Dewa Shinto, Fujin dan Raijin. Raijin, Dewa Guntur dan Kilat di sisi Barat, sementara di sisi timur gerbang terdapat Fujin, sang  Dewa Angin.
Di balik gerbang masih bertengger beberapa patung suci lainnya. Dewa Budha Tenryu di timur dan Dewi Kinryu di Barat. Di balik gerbang ini juga dijumpai sandal jerami raksasa yang tergantung di dinding gerbang. Konon, sandal tersebut adalah alas kaki Sang Budha.
Selain dibuat terperangah oleh sebuah sandal jerami tersebut, Anda juga dapat mengunjungi tempat peruntungan. Dengan menggoyangkan bambu yang berisi kertas, Anda dapat mengetahui ulasan peruntungan Anda. Terdapat sebuah wadah air besar yang biasanya dipakai untuk ritual minum dan membasuh diri. Dengan meminum serta membasuh diri dengan air kuil tersebut konon dipercaya akan menghapus dosa-dosa dan memberikan serangkaian berkah.
Bagi para pengunjung yang percaya, dapat membeli jimat peruntungan yang dijual didalam kuil ini. Kawasan ini juga sering digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival kebudayaan Jepang kuno, seperti lampion dan festival tahun baru. Berkunjunglah pada pertengahan bulan Mei. Saat itu digelar salah satu dari tiga festival tradisional Jepang, Sanja Matsuri. Jika sedang beruntung, di lokasi ini bisa ditemui Yakuza asli yang menari-nari di depan kuil dengan hanya memakai celana dalam saja.
Perjalanan saya kali ini membawa saya get lost di Asakusa, menikmati pasar Nakamishe yang menjual souvenir-souvenir kuno khas Asakusa, kami bahkan sempat menjelajah  di Asahi Brewers Tower, gedung perusahaan terkenal milik Asahi Company. Benar-benar sensasi yang berbeda.

Leave a Reply