| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Baduy, Wisata Tanah Leluhur

Badan masih terasa remuk redam, kaki pegal-pegal, belum lagi pergelangan tangan yang keseleo saat menahan badan ketika terpeleset di turunan curam itu, tetapi lagi-lagi kami tak sabar untuk membagi cerita. Cerita tentang beningnya mata air di sungai itu, tatapan mata dan kulit sehalus sutra yang mondar-mandir di sana. Perjalanan kali ini membawa kami ke salah satu tanah leluhur yang ada di Indonesia, Suku Baduy orang menyebutnya, tepatnya di Provinsi Banten Jawa Barat.
Baduy terkenal sebagai orang Kanekes, suku yang sarat dengan adat istiadat serta kesederhanaannya sejak ribuan tahun lalu. Masyarakatnya mendiami kawasan pegunungan Keundeng, tepatnya di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Menurut letaknya, suku Baduy dibagi menjadi dua, yaitu suku Baduy Luar dan Baduy Dalam. Desa Ciboleger yang termasuk dalam kawasan Baduy Luar adalah pintu masuk utama menuju kawasan Baduy. Transportasi hanya sampai di sini, selanjutnya giliran fisik yang bertarung dengan jarak serta terjalnya bukit-bukit untuk mencapai wilayah Baduy Dalam yang terletak jauh di pedalaman lereng gunung Keundeng. Trekking tiga jam lamanya adalah syarat normal, bila tanah licin setelah diterpa hujan, perjalanan makin lama dan harus ekstra hati-hati.
Untuk mengunjungi kawasan Baduy tak semudah yang dibayangkan. Selain harus dengan pendamping dari orang Baduy asli, kita juga dituntut untuk menghormati peraturan adat istiadat yang berlaku. Suku Baduy Dalam dikenal anti dengan kunjungan warga asing, baik itu bule, orang kulit hitam ataupun yang berwajah Tionghoa.
Jadi bagi wisatawan luar ataupun pengunjung berwajah oriental dan mata sipit hanya bisa berkunjung di kawasan sekitar Baduy Luar saja. Namun memang ada satu waktu ketika Baduy membuat larangan bagi wisatawan untuk berkunjung, yaitu selama Kawalu Baduy. Kawalu Baduy sendiri adalah jenjang waktu masyarakat Baduy untuk melaksanakan ibadah seperti puasa dan beberapa acara keagamaan dan acara adat lainnya dalam rangka menyambut perayaan musim menjelang panen tiba.
Baduy Dalam terbagi menjadi tiga desa, Cibeo, Cikeusik dan Cikatawarna. Makin ke dalam, peraturan semakin ketat. Untuk mengakses kawasan Desa Cibeo, ada dua jalur utama yang biasa digunakan. Yaitu Jalur Kadukeuter dan Jalur Gajebo.
Jalur Kadukeuter meliputi Kampung Kadukeuteb – Kampung Kadukeuter – Tanjakan Pagelaran, barulah Cibeo. Jangan ditanya bagaimana sulit medannya, alam hari itu begitu beringas memecah semangat, apalagi setelah hujan deras mengguyur, tanjakan terjal makin sulit dilalui karena licin.
Ternyata tak hanya orang dewasa yang menyarungkan golok di pinggangnya, bahkan sejak balita pun anak Baduy sudah dilatih untuk mengenakan sekaligus menggunakan senjata khas laki-laki Baduy tersebut.
Suara debuk lesung membahana. Di sebuah gubuk terbuka para perempuan Baduy tampak cekatan menumbuk padi. Konon rutinitas menumbuk padi dan kopi adalah pekerjaan utama para wanita Baduy, apalagi pada saat panen. Tempat menumbuk dan menyiangi padi mereka terletak di pinggir sungai.
Bagi warga Baduy Dalam, sungai adalah elemen penting bagi kehidupan mereka, terutama sebagai sumber air dan toilet. Fasilitas yang satu itu dibagi menjadi tiga, tempat mandi pria yang berada di permukaan sungai teratas, lalu tempat mandi perempuan, dan ketiga paling ujung adalah tempat buang hajat. Jangan harap juga ada secarik kain menutupi, yang ada Anda harus rela nyelip-nyelip di bebatuan sekitar sungai jika ingin mandi atau buang hajat.
Rasanya jemari makin gatal untuk memotret, sayang momen unik itu tak dapat kami abadikan, skarena hukum adat melarang kami untuk mengambil foto selama di kawasan Baduy Dalam.
Makan malam di rumah warga Baduy penuh kesederhanaan dan aturan, sebongkah obor jadi penerangan satu rumah, alat makan pun terbuat dari bambu dan batu. Adat mengharuskan wanita mencuci piring perkakas setelah makan, tak peduli sudah malam atau hujan deras.
Warga Baduy mempunyai ketua adat yang disebut sebagai Puun yang hanya berada di tiga desa di wilayah Baduy Dalam saja. Sedang wakilnya diberi pangkat sebagai Jaro, berfungsi sebagai juru bicara untuk hubungan dengan pemerintah desa, daerah dan pusat. ‘
Inti kehidupan warga Baduy adalah bertani, bahkan momen Kawaluan dititikberatkan untuk ritual harapan pada hasil masa panen padi di bulan kelima, bulan ini dianggap paling agung karena telah masuk masa panen.
Sebagai kawasan yang menarik perhatian wisatawan, sering kali pendatang yang masuk malah mencemari kemurnian adat daerah ini. Makanan-makanan kota sebenarnya tak diperkenankan masuk ke kawasan ini, tetapi pengunjung yang iba malah memberikan beberapa jenis jajanan ala kota yang tak dikenal suku Baduy, akibatnya sekarang orang luar Baduy diperkenankan menggelar dagangannya di Baduy Dalam. Seharusnya biarkan mereka memakan hasil alam saja.
Jadi buat pengunjung yang mau memberikan sesuatu, jangan pernah memberikan benda kenangan apa pun, apalagi berbentuk benda elektronik, atau perhiasan perak emas. Jangankan untuk memberi, bagi para pengunjung yang memakai fasilitas elektronik seperti radio, ponsel, serta kamera dan senter, tidak boleh dipergunakan selama di Baduy Dalam. Kalau tidak konon bukan pengunjung yang kena sanksi, melainkan mereka sendiri yang kena sanksi dari para leluhurnya.
Warga Baduytidak mengenal sekolah, alasannya cukup unik, jika warga Baduy sekolah dan menjadi pintar, dikhawatirkan kepintaran tersebut akan digunakan untuk hal buruk, seperti membodohi orang. Bagi para Baduy yang nakal dan melanggar aturan terdapat hukuman berupa dipekerjakan dalam masa yang ditentukan oleh Puun. Satu lagi, kawasan ini adalah tanah suci, Anda dilarang melakukan sesuatu yang melanggar norma.

Leave a Reply