| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

BERKELANA DI TANAH HIPPIES, GOA

Dalam kabut putih pagi ini, roda kereta masih menderu tajam, udara dingin menukik tajam ditubuh saya yang masih berbaring. Waktu berjalan terasa lama, sudah satu jam saya terbangun dari mimpi saya tentang emak dan bapak saya dikampung halaman, geliat para pedagang chai panas menyadarkan saya dari lamunan. Dua turis cantik yang duduk disebelah kabin saya nampak jadi seleb dadakan di kereta, namanya Magda Milenskovka, doi seorang pekerja seni di Mumbai, perjalanannya kali ini untuk memenuhi undangan Birthday Party sobatnya di Goa, asyik ngobrol dengannya, saya diundang untuk meramaikan acara party tersebut 2 hari nanti.
Telat 15 menit, akhirnya kereta ini sampai mengantarkan kami pada poin terdekat untuk menuju Goa, stasiun kereta Madgaon atau Margao. Beruntung, hujan baru saja reda, matahari mulai menampakkan senyumnya meski sedikit, berhubung dari stasiun Margao tak ada transportasi ala backpackeran alias bus, kami terpaksa naik taksi. Demi menyiasati pengeluaran yang menguras kantong, biasanya kami melakukan sharing cost dengan pelancong lainnya, alias cari barengan, apalagi taksi disini bentuknya bukan ala mobil sedan, taksi disini lebih mirip angkot atau omprengan, yang bisa memuat penumpang maksimal 7 orang. Untung bertemu Magda dan beberapa pelancong lainnya, kami berenam sepakat untuk sharing cost taksi menuju Anjuna, salah satu spot pantai di Goa. Dari harga taksi yang mencapai 360 INR kami jadi hanya patungan 60 INR perorang, lumayan murah kan. Diiringi gerimis, 40 menit kemudian kami tiba di Anjuna. Magda yang sudah membooking hotel di Shore Guest House turun didepannya, kami mash diantar kepusat para backpacker melabuhkan tas ransel bututnya. Gak semua guest house terletak di pinggir jalan, kami sengaja mencari guest house yang agak masuk gang, agar biaya lebih murah. Ternyata sulit juga, semua harga rata-rata paling murah 450 INR, 4 lainnya memutuskan untuk berkelana kepantai lainnya, kami lebih memilih mencarinya disekitar sini saja. Beruntung, seseorang menawarkan “rumah kontrakannya” dengan harga 300 INR, itupun setelah menawar habis-habisan.
Memang benar-benar rumah kontrakan, bangunan 2 petak dengan satu kamar mandi didalam itu memang cukup luas, tetapi agak terpencil, ditengah kebun nyiur yang landai. Cukuplah buat kami berteduh menghindari kebisingan tempat-tempat lainnya. Seorang ibu tua berkulit hitam legam sangat telaten mengepel lantai, saya terenyuh ketika mendapatinya tengah menghitung recehan buntalan kainnya rupanya recehan itu adalah tips dari para penghuni kamar yang ia bersihkan. Ah saya mudah sekali tereenyuh melihat sesuatu yang gak setara dengan apa yang saya rasankan. Darinya, saya tahu, upahnya membersihkan kamar-kamar disini cuma 50 INR perhari, cukup buat makan 3 x sehari.
Siang menjelang, setelah mencuci tumpukan pakaian kotor kami bergegas keluar mencari udara segar, pasalnya fentilasi udara di kamar tak cukup melegakan lelah kami. Dengan modal motor sewaan yang seharinya 150 INR dari si mpu nya kontrakan, kami melenggang menyusuri jalanan utama. Fasilitas ala hipiies, dari mulai penginapan sampai warung makan semua berornamen ala Bob Marley. Oh yah, kedatangan kami yang niat banget ke Goa pada hari Rabu, karena di kawasan ini terdapat event besar setiap hari rabu, mereka menyebutnya Flea Market, meski terkenal dengan harga murah dan sistem barter, bukan bermaksud shooping sih, kami lebih mengutamakan momen penting dari sebuah tempat yang kami kunjungi. Flea Market memiliki sejarah tersendiri bagi para kaum Hippies, dulu kawasan Flea Market hanya sebuah tempat nongkrong iseng-iseng para hippies untuk berkumpul dengan sesama, lalu berkembang menjadi meeting point bagi para hippies yang kehabisan materi untuk sekedar menggadaikan atau barter barang-barangnya demi melanjutkan sensasi hidup me mantai. Kini, kawasan tersebut menjadi pasar rakyat yang menggelar berbagai jenis kebutuhan para pelancong, dari mulai sandang hingga kebutuhan bahan-bahan makanan. Tak seperti dulu yang hanya didominasi oleh para Hippies saja, kawasan ini kemudian dijadikan sebagai sumber mata pencaharian bagi pedagang-pedagang sekitar Goa dan Maharshtra untuk meraup untung dari transaksi penjualan.
Kami singgah disebuah restoran di gugusan pantai Anjuna sebelum menuju area flea market yang berada diutara Anjuna , langit mendung masih menyelimuti kota ini, dari hasil obrolan seorang pria hippies asal Amerika, rupanya kawasan Goa baru lepas dari terjangan Badai Typon, dan Flea Market kali ini sepertinya tidak akan dilaksanakan seperti biasa. Arghhh, seribu kecewa deh, pasalnya kami skip beberapa tempat di Mumbai hanya karena ingin lihat keramaian Flea Market yang terkenal itu, melihat ratusan hippies keluar dengan pakaian adatnya yang super kucel dan aneh, tinggal impian, setelah melihat tak ada aktivitas apapun di area tersebut. Kemudian kami hanya muter-muter di pantai yang gak layak untuk dibuat mandi atau berenang ini. Karena airnya keruh dan coklat, ombak juga sudah mulai besar, belum lagi mendung yang menggelayut sepanjang waktu, kami hanya berkecipak air ditepian, melihat beberapa bule yang nekad naked berenang di pantai, huuhuuu, jangan tanya itu bule cewek atao cowok, saya sampai memalingkan muka ketika tak sengaja melihat momen nya, ah mungkin bagi dunia barat, hal ini biasa, tetapi buat saya yang kental dengan adat ketimuran tentu saja bikin malu hati saat melihatnya, hahaha.
Kami menelusuri pantai hingga ujung yang penuh batu karang, sepanjang gugusan pantai ini terdapat banyak restoran dan cafe tempat bersantai menghabiskan waktu untuk sunset. Setelah lelah mendera, kami berlabuh disalah satu restoran yang ramai oleh penikmat beer dan menu seafood. Lagi-lagi selera makan kami dibuat sekonyong-konyong koder oleh bau harum seafood yang dibakar. Arghh, tak tahan untuk tak memesan beberapa menu tersebut, baru dua jam duduk-duduk santai menikmati lembayung diawal senja, Rupees kami sudah berkurang 700 INR. Sialnya, si tukang foto yang iseng mau bersihin kamera nya malah bikin tragedi, one of part the kamera nya jatuh begitu saja ketika ia mencoba membuka tutupnya. Tragedinya, ia gak tahu step untuk mengembalikan kamera itu seperti semula, hingga membuat kameranya tak lagi working on it kadang-kadang.
Gak mau tekor gara-gara makanan, menjelang sunset kami kembali ke jalan utama untuk menelusuri pantai lainnya, jaraknya gak lebih dari setengah jam, kami memilih Pantai Vagator untuk momen sunset, konon pantai ini dikenal dengan “sunset queen”. Ia dikenal sebagai tempat paling indah untuk menikmati momen saat matahari terbenam diatas tebing karang yang membentang. Karena pelatarannya merupakan gugusan tebing, pantai ini jelas tidak untuk mandi, bagi kamu yang ingin menjelajah turun kebawah tebing sih bisa saja, tetapi sebenarnya tidak diperkenankan, karena medannya cukup berbahaya. Ombak besar yang menari-nari menghempaskan khayal sejauh yang kita inginkan. Kursi-kursi pelataran semen saja dapat membuat kita melayang jauh menikmati pesona laut Arab yang megah, nikmati sensasi shoping pribadi anda saat beberapa penjual souvenir menggelar barang dagangannya hanya untuk anda, sebagai salah satu keunikan tersendiri.
Malamnya gerimis masih membasahi kawasan ini. Kami baru keluar penginapan pukul 9 malam, dan singgah di restoran pinggir jalan. Restoran pinggir jalan dikawasan ini lebih mahal ternyata dari pada restoran yang terletak didalam gang. Untuk menu kari ayam dan nasi goreng saja sudah seharga 420 INR, itupun minumnya air mineral. Huammmhh, bisa bangkrut kelamaan disini, pantas saja ada Flea Market di Anjuna, tempatnya para pengembara kehabisan uang dan menjual barang-barangnya. Mungkin kalo kami sebulan disini juga akan bernasib sama dengan para hippies mania itu yah, hahahaha.
Malam di Goa memang penuh hiburan, sudah jam 11 malam kami memutuskan untuk menghabiskan waktu dikamar saja, karena jalanan licin dan becek dimana-mana, malah sempat mati lampu, dari kamar rumah kontrakan itu, lamat-lamat saya mendengar suara musik Bob Marley menggema hingga jam satu dini hari. Yeahh, jadi tak sabar menikmati malam di Goa esok malam.

Leave a Reply