| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Berwisata Kuliner Menyantap Reptil

Kalau pernah dengar namanya sih kami yakin Anda semua sering, tapi bagaimana dengan mencobanya? Pasti dari sekian banyaknya sekejap akan mengkerut, leher bergidik, dan agak-agak mual. Berbeda dengan kami yang meski menyukai reptil, hampir setiap bulan kami menyeruput darah ular hampir setiap bulan. Bahkan setiap kali kedatangan teman dari luar negeri, kami selalu mengajak mereka menyantap daging dan minum darah ular.
Sebagian besar teman yang kami tawari langsung berkernyit wajahnya namun akhirnya mereka penasaran. Maka jadilah kami mengajak mereka ke restoran atau warung yang menjual hidangan khusus reptil. Di Jakarta sendiri ada beberapa tempat yang terkenal, seperti di restoran Istana Raja Kobra di bilangan Jalan Kapten Tendean, Mampang Jakarta Selatan. Istana Raja Kobra juga punya cabang lain di Jalan Boulevard Kelapa Gading. Yang agak lebih ekstrim dan merakyat ada di bilangan Lokasari, Mangga Besar. Ketiganya memiliki suasana yang berbeda namun dengan cita rasa menu yang sama, yaitu hidangan reptil.
Lihat menunya saja sudah buat orang bergidik. Ada menu ular kobra, piton, biawak, monyet, kelelawar, tokek, dan buaya, tentu dengan perlakuan memasak yang berbeda. Ada yang khusus digoreng seperti ular kobra dan piton, ada yang dibuat sate seperti daging monyet, buaya, biawak, dan piton, ada juga yang dibuat menjadi sup ala Cina dan Korea, seperti sup biawak dan ular.
Tetapi setelah semua reptil yang kami sebutkan tadi disulap menjadi hidangan dalam piring atau mangkuk, giliran lidah Anda yang bergetar ingin mencobanya. “Umm yummi, the taste of fried Phyton is like Chicken,” tutur Megan Mcalonis, backpacker asal Amerika, tetapi buat kami tetap saja rasanya aneh bin ajaib. Saran kami sih lebih baik daging piton dari pada kobra, karena daging kobra tipis sekali dan kebanyakan tulangnya. Lain lagi dengan pendapat si imut Laura Pysalo, sahabat kami asal Finlandia “It’s very delicious,” sambil mengacungkan sate buaya di tangannya. Arta sendiri meringis geli saat merasakan daging tokek goreng.
“Ini benar-benar pengalaman yang super gila, tidak terbayang jika saya pulang kampug nanti saya akan menceritakan dan menunjukkan foto-foto ini ke orangtua dan teman-teman saya, pasti mereka terbengong-bengong dan mengatakan saya gila tapi keren, hahaha,” ujar Scott Anthony Hanson dan Ben Polly, dua backpacker gila asal Amerika. Dan semua pasti setuju bahwa hidangan yang paling lezat adalah daging buaya dan monyet, teksturnya lembut dan paling gurih.
Yang paling fantastis adalah menu darah ular. Bagi sebagian orang darah ular dicari sekaligus dihindari. Tidak semua orang mau melakukan hal yang agak aneh ini, namun sebagian lainnya justru mencarinya untuk pengobatan. Ramuan darah plus empedu ular dengan ragam bentuknya dipercaya sebagai obat yang mujarab, baik untuk kulit, eksim, maag, rematik, asma, stamina, hingga menambah nafsu makan. Jenis ularnya pun berbeda-beda, dari ular kobra hitam, Lanang Sapi, Kalimangsa, Belang, Ular Hijau, hingga King Cobra yang terkenal liar, besar, dan sulit dijinakan. Harganya pun bervariasi dari mulai kobra hitam seharga 50.000 Rupiah, hingga King Cobra yang harganya bisa mencapai Rp 2,5 juta.
“Nah, kalau King Cobra biasanya banyak dicari oleh pemain lama alias pelanggan yang mayoritas kaum Cina Kota,” tutur ibu Hafida di warungnya, yang terletak di bilangan Lokasari Mangga Besar sambil ia dengan dua anaknya sibuk memegangi King Cobra yang ditutup matanya, sesaat sebelum memenggal kepala ular yang berkali-kali mendesis. Aiihhh..
Yang paling mendebarkan adalah saat jamuan minum darah ular digelar. Prosesnya membuat meringis antara kegirangan, penasaran, dan takut. Semua bersiap mendekati dapur khusus yang berisi kandang penuh ular hidup itu. Seorang koki mencolek-colek kawanan ular di dalam kotak kaca guna memilih yang terbaik dan mengeluarkannya dari kandang. Ular hitam mengkilat itu medesis keras, meliuk-liukkan badannya, hingga melebarkan kepalanya, seakan tahu akan dibunuh.
Dengan tangannya yang cekatan, koki memegang erat pucuk kepala si ular dengan kuat, dan “traaaak”, si koki mengayunkan pisau daging tersebut, dan sedetik kemudian dengan sigap sudah menuangkan darah dari tubuh si ular ke dalam gelas. Lain lagi cerita dari balik pemenggalan kepala King Cobra di warung milik ibu Hafida yang sudah melakukan pekerjaan ini sejak umur 12 tahun berkat didikan nenek buyutnya. Dengan tenangnya ia mulai membuka kandang kawat King Cobra yang panjangnya hampir dua meter. Bak semut mengerumuni gula, secepat kilat penonton makin bertambah banyak.
Sulitnya membuat tenang King Cobra bukan jadi masalah buat si ibu, yang dibantu dua anaknya. Dengan ketenangan sikapnya, si ular berhasil digenggam pucuk kepalanya. Sebelum memenggalnya, si ibu menekan salah satu bagian sisi kepala ular, dan seketika bisa ular keluar seperti air liur yang muncrat. Nah hati-hati, jangan dekat-dekat si ular ketika proses ini, karena bisa ular dapat menempel ke tubuh Anda dan membuat masalah. Meski kepala ular dan tubuh ular sudah terpisah, tubuh ular masih menari-nari, bahkan hingga dikuliti dan dipotong-potong kecil.
Untuk menghemat, Anda bisa datang berkelompok dan saling berbagi menu. Untuk oleh-oleh ke keluarga atau teman yang membutuhkan, Anda bisa membeli olahan jadinya, seperti abon, dan obat bentuk kapsul. Suvenirnya berbentuk ular dari kulit ular yang diisi gabus juga ada lho.

Leave a Reply