| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Borobudur, Rahasia Pembelajaran Hidup

Borobudur masih menjadi salah satu destinasi wajib yang begitu dicari para wisatawan. Berbagai spekulasi tentang kehadiran The Single Temple In the World ini pun hanya berujung menjadi misteri yang tak terungkap, sekaligus jadi rasa penasaran para wisatawan untuk mengunjunginya.
Setelah namanya diseret menjadi jawaban atas teka-teki misteri Kiamat 2012 di sebuah video yang diunduh di You Tube, Borobudur makin ramai diperbincangkan, makin ramai pula dikunjungi. Dan secara kebetulan baru-baru ini Raja Swedia Carl XVI Gustav yang menjabat sebagai Ketua World Scout Foundation beserta rombongan, menyempatkan diri untuk mengunjungi Borobudur untuk menjelajahi sejarah dan misterinya.
Tak ada bukti pasti, hanya dari beberapa penemuan arkeologi yang terkumpul, Borobudur dipadankan sebagai mahakarya penganut Buddha Mahayana pada saat pemerintahan Dinasti Syailendra berjaya.
Disinyalir pembangunan candi Buddha yang terletak di Magelang ini terjadi sekitar abad ke-8 dipelopori oleh Raja Samaratungga. Pembuatannya konon selesai di awal abad ke-9. Konon setelah sempat tertimbun oleh tanah vulkanik Merapi dan rentangan waktu, baru pada tahun 1814 Borobudur kembali lahir di tangan Sir Stanford Raffless yang mengerahkan serangkaian sistem penyelamatan dan pemugaran atas situs budaya leluhur ini. Dikatakan, menyusuri tanah Jawa terasa belum lengkap tanpa menginjakkan kaki di Borobudur, masyarakatnya percaya bahwa Borobudur adalah taman suci di tanah Jawa. Pasalnya kawasan candi yang memiliki panjang 121,66 meter dan lebar 121,38 meter dan tinggi 35,40 meter ini dipagari beberapa lanskap eksotis di tanah Jawa.
Di antaranya ada Gunung kembar Sindoro – Sumbing, lalu ada Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah timur lautnya, Perbukitan Tidar, dan Menoreh. Sungai Progo dan Sungai Elo pun membelah di antaranya. Borobudur bukan hanya eksotis dengan rupa dan materialnya. Dari segi relief-reliefnya pengunjung diajak serta merta mempelajari sejarah kuno masa lampau, undakan demi undakan mengajak pengunjung untuk menyelami arti dan tingkat kehidupan dari kacamata seorang Buddha. Konstruksinya mengajak para pengunjung untuk menjelajah misteri cara berpikir manusia saat itu, khususnya dalam bidang arsitektural.
Dari bilangan kota Yogyakarta, kami menyusuri ke arah barat laut menuju kota Magelang dengan motor sewaan, menikmati sisa-sisa aliran lahar dingin Merapi dua tahun lalu. Tak dinyana, gempa dan letusan Merapi 2010 lalu membuat desa-desa sekitarnya porak poranda. Namun keeksotisan alamnya seakan tidak pudar.
Naik ke arah perbukitan tempat komplek candi itu berada, kami mulai menyusuri tumpukan pola batu yang disusun tanpa semen itu. Bangunannya berupa sembilan teras berundak dan sebuah stupa induk di puncaknya. Terdiri dari enam teras berbentuk persegi dan tiga teras berbentuk lingkaran.
Untuk menghormati candi Borobudur sebagai tempat peribadatan umat Buddha, dan sebagai wujud penghargaan terhadap budaya Indonesia, setiap pengunjung kini diwajibkan melilitkan kain batik di tubuhnya selama masa kunjungan di Candi Borobudur.
Untuk mendapatkan chemistry-nya, kami menyusuri candi secara filosofisnya. Kami memutarinya searah jarum jam, menikmati cerita yang tersaji dari undakan demi undakan. Dari tingkat yang disebut sebagai Kamandatu, kemudian naik ke tingkat undakan yang disebut Rupadhatu hingga ke undakan terakhir yang disebut Arupadhatu. Setiap tingkat memiliki relief yang berbeda, Anda bisa membacanya dengan berjalan ke arah kiri hingga finish di kanan. Kamandhatu menggambarkan tingkat kehidupan manusia yang masih diliputi oleh nafsu. Sedangkan empat tingkat di atasnya menggambarkan tingkatan manusia pada lingkaran Rupadhatu, yaitu lingkaran tempat manusia sudah bisa melepaskan hawa nafsu namun masih terikat dengan rupa dan bentuk.
Yang terakhir untuk mencapai seperti Buddha, manusia harus melewati tingkat Arupadhatu, yaitu tempat manusia harus bebas dari segala bentuk nafsu dan keinginan duniawi. Di tingkat undakan ini terdapat arca Buddha yang tersembunyi di dalam sebuah stupa yang memiliki lubang-lubang, sehingga pengunjung melihat Buddha samar-samar. Hingga sampai di puncaknya, tercatat ada 504 arca dan 73 stupa di Candi Borobudur, yang konon menghabiskan dua juta potongan batu.

Leave a Reply