| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

DANAU SEGARA ANAKAN, PESONA DAN KEMISTERIUSAN ALAM RINJANI

Taman Nasional Gunung Rinjani memang memukau pendaki untuk menjelajahinya. Banyak spot penting dan super indah, selain puncaknya. Setelah sukses mencium kerikil puncak Rinjani, kami meneruskan destinasi menarik lainnya yang ditawarkan TNGR ini. Diantaranya adalah Danau Segara Anakan. Spot paling dinanti pendaki setelah muncak ini memiliki keindahan dan keunikannya tersendiri.
Dari jutaan kerikil dan pasir serta tanah merah vulkanik di turunan terjal setelah puncak, kami kembali ke jalur Pelawangan Sembalun. Tidak sesulit saat naik untuk melewati turunan terjal di punggungan kaldera Rinjani, namun memang tetap harus berhati-hati, apalagi jika kabut sudah mulai turun selepas pukul 7 pagi.
Habitat Edelweis, si bunga abadi itu bertebaran dikawasan ini. Bunga yang memiliki nama latin Anaphalis Javanica ini merupakan sejenis tanaman endemik dizona alpina di berbagai pegunungan tinggi di Indonesia. Tanaman bunga yang mirip ilalang ini seringkali disebut sebagai perlambang cinta, ketulusan, kegigihan, pengorbanan dan keabadian. Tanaman ini telah dikategorikan sebagai tanaman langka, itu sebabnya dilarang untuk dipetik. Dari versi kepercayaan adat Sasak, tanaman yang dikenal sebagai Bunga Sandar Nyawa ini juga dilarang untuk dipetik, karena konon bunga ini merupakan inti dari taman sari para kerajaan jin di alam gaib, dahulu untuk mendapatkan bunga ini, orang harus mempertaruhkan nyawanya, itu sebabnya disebut Sandar Nyawa. Bunga abadi ini memang tak pernah layu, konon usianya sama seperti bangsa jin.
Dari bilangan Pelawangan Sembalun kami mulai menyusup ke jalur Segara Anakan. Lagi-lagi cedera lutut saya kumat karena medannya adalah turunan terjal, dengan batu-batu besar dan cadas. Perjalanan yang seharusnya 3 jam jadi dua kali lipatnya. Menjelang sore kami disambut kemilau danau berwarna toska itu.
Selain pesona dan keindahan alamnya, masyarakat sekitar meyakini danau Segara Anak memiliki serentet petuah beraroma ghaib, kawasan ini dipercaya sebagai tempat bermukimnya para jin penghuni Gunung Rinjani. Bagi orang Sasak, danau ini dianggap sebagai tempat salkral dan sering digunakan untuk tempat ritual suci Wettu Telu, yaitu sejenis kepercayaan sinkretisme antara Islam dan Hindu. Rasa kesat akibat percampuran air tawar dan belerang ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Tak heran banyak bule-bule yang “nyemplung” di danau ini tanpa rasa risih sedikitpun. Meski kekayaan danau ini sering dieksplotasi oleh masyarakat, tetapi untungnya kearifan budaya lokal yang tumbuh, menjadi sumber penjaga kuat kealamian kawasan ini, bahkan setiap seminggu atau dua minggu sekali ada petugas kebersihan yang akan membersihkan kawasan ini dari sampah.
Jika anda hobi mancing, disini pasti jadi tempat favorit anda, terkadang tidak perlu pancingan, dengan gaya Sasak, alias pakai kayu atau bambu runcing saja bisa jadi senjata yang cukup ampuh buat mendapatkan ikan-ikan seperti mujair, harper, atau ikan mas. Sayang waktu kami disini, kami tak membawa pancingan, kami hanya sempat ikut mancing dengan anak-anak Sasak, dan membeli beberapa hasil tangkapannya untuk dimasak. Dan sayangnya, sejak letusan Gunung Baru Jari yang terakhir, ikan-ikan disini banyak yang mati karena cairan lava beracun, jadi belum banyak ikan yang hidup disini.
Selain danau, Gunung Baru Jari adalah pemandangan paling eksotis disini, gunung muda itu merupakan pusar dari gunung Rinjani, yang terbentuk dari abu dan batu vulkanik saat letusan Gunung tersebut. Tetapi perlu dicatat, Gunung Baru Jari adalah Gunung Berapi Aktif, anda harus waspada dengan rutinitasnya yang masih mengeluakan uap dan gas, terkadanag saat malam, gunung ini bahkan masih mempertontonkan percikan api yang disertai gemuruh.
Akibat lava yang ada diperut gunung muda ini, mengakibatkan sebuah aliran danau dalam bentuk mata air panas, ini dia spot paling dinanti wisatawan, letaknya tak jauh dari danau dan sumber mata air, sambil melemaskan otot dengan air hangat ini, anda bisa menikmati pemandangan alam sekitar yang memejeng sederetan air terjun cantik dan bertingkat-tingkat, anda bisa pilih mau mandi di air dingin atau air hangat, tak tanggung-tanggung, spot pemandian air panasnya ada dua tingkat, mandi di air belerang ini juga dipercaya dapat menguatkan tulang dan membuat umur panjang (awet muda mungkin maksudnya)
Jika bicara soal kawasan ini memang tak ada habisnya, tak ada bosennya, konon aroma mistik yang berhembus disini malah akan membuat pengunjung betah berlama-lama. Percaya takak percaya, saking betahnya, meski persediaan makanan kami sudah habis, kami nekad tinggal sampai 4 hari didanau ini.
Jika sudah saatnya anda kembali keperadaban, kenakan ransel/carrier anda menuju jalur pulang, yaitu melalui Senaru. Sama seperti Sembalun, Senaru pun memiliki camp yang disebut Pelawangan. Jalur menuju Pelawangan Senaru cukup membuat dag-dig-dug, di beberapa spot, anda harus melakukan climbing ringan di bebatuan besar dan cadas. Jangan panik, jalurnya sudah dilengkapi dengan tali pengaman untuk anda pegang kuat-kuat.
Setelah melalui Pelawangan Senaru, anda akan dihadiahi hutan rimbun, penuh dengan cemara, hingga zona konservasi beberapa jenis pepohonan yang berbeda, sepanjang perjalanan anda akan dihibur oleh kicauan burung-burung dan serangga hutan. Di jalur tersebut anda akan menemui sisi-sisi paling gelap dari hutan Senaru, jadi hati-hati, terlebih apabila hujan turun, jalanan jadi becek dan licin. Di jalur ini terdapat 4 pos peristirahatan, tetapi yang ramai disinggahi hanya pos 3 dan 4. Hmmm, perjalanan hampir 7 jam itu membuat stamina kami semakin berkurang, dan masih karena phobia turunan, saya menjadi orang terakhir yang keluar dari pintu Senaru sore itu.
Senaru juga desa yang indah, spot-spot penting yang patut ditengok, seperti Masjid kuno adat Bayan, dan beberapa air terjun yang eksotis, dekat desa ini juga ada pasar unik yang digelar pedagang hanya setiap hari kamis, semua jenis barang dagangan, dari mulai pakaian hingga makanan dijual sangat murah.

Leave a Reply