| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

DUA PANTAI PILIHAN DAN CAGAR ALAM DI PANGANDARAN

DUA PANTAI PILIHAN DI PANGANDARAN

Pantai Pangandaran sudah, Green Canyon juga sudah, namun kaki masih ingin terus menjelajah pantai? Jangan khawatir, Pangandaran masih memiliki segudang pantai yang unik. Setelah dua-tiga jam menikmati pesona stalaktit dan stalakmit di tebing-tebing gua di Green Canyon, kami kembali menyusuri sungai Cijulang menuju Dermaga Ciseureuh. Puas berbasah-basah dikawasan ini, tak sebaiknya anda kembali ke penginapan. Sebuah mutiara alam lainnya masih menunggu tandangan anda rupanya. Hanya berjarak 5 km dari Green Canyon, terdapat pantai Batu Karas. Dimata para surfer, pantai ini adalah salah satu spot terbaik untuk surfing pemula dikawasan Jawa Barat, ombaknya sangat besahabat namun menggelitik papan selancar untuk terus dikayuh oleh tarian kaki para surfer mania. Pesona alam yang tenang akan membuat anda betah berleha-leha diantara deburan ombak dan angin yang bersemilir disela pasir putihnya. Meski lebih tenang dan bersahabat, pantai ini juga tak kalah meriahnya dibanding pantai-pantai lainnya.
Bukan lagi Banana Boat, coba rasakan gemitir Butterfly boat bahkan Donat Boat yang dapat membuat anda jungkir balik ketika perahu penarik menghempaskan anda diantara ombak yang datang. Berenang dan meluncur dengan Waveboat juga menjadi salah satu alasan anda untuk tetap menikmati pantai ini hingga sunset tiba. Tak perlu khawatir dengan fasilitas, bak penginapan di Bali, dikawasan desa Batu Karas juga banyak bercokol penginapan-penginapan, dari mulai harga dan fasilitas eksklusif hingga yang sederhana. Bahkan anda juga dapat berkemah di Camping Ground yang tersedia disekitar pantai.
Lain pantai, tentu lain cerita dan kesan. Begitu pula yang terjadi dengan pantai-pantai lainnya yang bertebaran disekitar Pangandaran. Dari bias tenang di Pantai Batu Karas, Pangandaran menawarkan pesona ombak raksasa dipantai bernama Batu Hiu. Jaraknya sekitar 14 km arah selatan Pangandaran, tepatnya di desa Ciliang, kecamatan Parigi. Pantai ini istimewa dengan namanya, Batu Hiu. Sekitar 200 meter dari pantai seonggok batu mirip sirip ikan hiu menjadi ikon menarik pantai yang ditutupi buasnya ombak dari Samudera Hindia. Legenda mistis dari tentara buangan kerajaan Mataram pun mewarnai aroma magis batu dikawasan yang disinyalir sebagai tempat pemujaan sakral bagi para sinden tersohor ini. Konon Batu Hiu tersebut dulunya adalah seekor ikan hiu yang ditangkap pasukan Mataram untuk dijadikan santapan, tetapi setelah ditolak mentah-mentah oleh Aki Gede dan Nini Gede, sang pemimpin pasukan, ikan hiu tersebut berubah menjadi batu saat dikembalikan ke laut.
Sejak saat itu batu ini menjadi pelopor nama unik pantai eksotis ini. Sebuah terowongan berbentuk Ikan Hiu akan mengantarkan anda pada sebuah bukit yang mejadi spot utama pantai ini. Anda dapat menikmati pemandangan lepas sang Samudera lewat saung-saung cantik yang banyak terdapat dibukit tanjungan tebing karang ini. Tebing-tebing karang yang tergerus ombak dan masa tersebut jika sejenak diperhatikan juga seperti moncong ikan hiu. Melalui sisi lainnya, anda juga bisa menikmati jalan-jalan disemenanjung pantai ini. Mencoba berenang boleh saja, spot teraman hanya berada dipinggiran pantai yang masih tertutup tebing batu lainnya. Memancing, tentu jadi hal yang paling mengasyikan, atau menyeruput es degan dan rujak buah yang ditawarkan beberapa warung kecil disekitar. Di radius 200 meter dari pantai baratnya, anda dapat sejenak bermain dengan penyu-penyu langka di kawasan penangkaran penyu Batu Hiu. Penyu Sisik adalah salah satu penyu langka yang menjadi daftar jenis penyu yang amat dijaga kelestariannya. Keunikan lain, tak jauh dari kawasan tersebut, ada sebuah nusa kecil yang konon terbentuk dalam semalam. Menurut masyarakat sekitar, nusa tersebut dulunya adalah bagian dari lapangan untuk pacuan kuda yang terletak masih dikawasan hulu pantai, entah apa gerangan, dalam semalam lahan berumput itu terpecah dua dan dipisahkan oleh perairan.

RAFLESIA DAN PANANJUNG, DUA MUTIARA CAGAR ALAM PANGANDARAN

Dari semua keajaiban alam Pangandaran yang telah kami kunjungi, kami masih bertanya-tanya dengan keajaiban apalagi yang akan disuguhkan alam Pangandaran kepada saya selanjutnya. Dari bilangan lapangan Boulevard di pantai Pangandaran saya bertolak ke sebuah Pulau Puteri atau pulau pasir putih, dengan menggunakan sampan motor berkapasitas tak lebih dari 6 orang. Tak sampai 10 menit, saya tiba ditepian pulau dengan air kebiruan yang sangat jernih, karang-karang dibawahnya nampak jelas saat air tak beriak. Seorang kenek sampan mengatakan kepada saya, keindahannya tak kalah cantik dengan Bunaken.

Snorkling adalah tujuan kedua saya dipulau ini, karena ternyata pulau ini spektakuler dengan ststusnya sebagai cagar alam sejak ditemukan sebuah Raflesia langka di pedalaman hutan tersebut, belum lagi habitat hewan langka seperti banteng, rusa, kera ekor panjang yang menjadi penghuni tetap pulau ini, kian menambah minat para wisatawan untuk bermain-main dengan alam raya. Tak banyak pula diketahui, sebuah pemandangan cantik dari air terjun sakral bernama Pananjung menjadi daftar warisan cagar alam ini.

Satu jam menyusuri habitat hayati langka dari jenis hutan pantai hingga hutan primer, seperti formasi Barringtonia seperti ketapang dan butun, atau dari jenis hutan sekunder seperti kisigel, laban ataupun merong. Belum lagi dengan habitat fauna langka seperti banteng, rusa, landak atau tandon, atau ragam primata hutan seperti burung tlungtumpuk, canghegar dan lainnya, jenis reptil biawak dan ular pucuk juga menjadi salah satu habitat umum di kawasan hutan pantai tersebut.

Padang sabana yang disinyalir sebagai habitat para banteng yang sudah mulai menghilang itu, menjadi gerbang utama yang cantik untuk masuk ke pedalaman hutan. Beberapa jejak sudah mulai menghilang dihempas pepohonan tumbang, anda harus memiliki daya pikir kuat dengan jalur setapak yang ada. Melintasi gemercik air diatas bebatuan berlumut menjadi tantangan yang cukup ekstrim buat anda. Perhatikan baik-baik daya penciuman anda, bila sebuah aroma bangkai busuk mulai hinggap di hidung anda, kuatkan pandangan anda dikawasan sekitar. Sang Raflesia Fatma yang langka itu akan membuat anda tercengang akan keindahan bentuknya yang seperti mangkuk besar, tentu dihinggapi oleh lalat dan serangga sekitar.

Tidak sampai 15 menit menyusuri bebatuan yang dialiri air, anda akan dibuat tercengang kembali atas dahsyatnya pemandangan yang akan disuguhkan kepada anda. Saya terhempas dalam lamunan ketika menyadari bahwa posisi saya berada diatas air terjun Pananjung yang dimaksud. Tak perlu resort mahal, sebuah kolam batu yang terbentuk dipenuhi air layaknya kolam renang disebuah resort mewah dengan pemandangan full of Samudera. Kengerian akan ketinggian tak membuat saya berhenti melompat narsis untuk mengabadikan spot indah ini.

Pemandangan air terjun Pananjung sendiri dapat anda nikmati setelah kembali mengarungi hutan, menuruni bukit tebing tersebut, hati-hati dengan medan sempit dan licin adalah kenikmatan bagi para petualang sejati. Air terjun Pananjung dari bawah juga nampak spektakuler. Ceruk tebing yang cukup luas dan dalam membentuk kolam yang dialiri oleh air terjun tersebut. Meski intensitas air yang jatuh tidak terlalu deras, curahan airnya sanggup membuat anda terpekik seperti dicubit kecil. Jangan ditanya kesegaran airnya, kesejukan angin yang bersemilir, juga kespektakuleran pemandangan samudera yang saling berhadapan, nyatanya membuat saya tak sanggup lagi melangkahkan kaki untuk pulang.

Selain kekayaan hayati dan air terjun tersebut, Taman Wisata Alam Pangandaran ini memiliki spot-spot unik yang tak kalah menariknya untuk disambangi. Gua Jepang adalah peninggalan historikal paling mudah dijangkau, karena letaknya yang tak jauh dari bibir pantai. Gua Jepang tersebut merupakan peninggalan kolonial Jepang saat pernah menduduki kawasan di kepulauan Jawa. Diperkirakan dibangun selama masa PD 1 dan PD II, berguna sebagai tempat pengintaian atas serangan sekutu yang mungkin datang.

Selain peninggalan historikal tersebut, terdapat gua-gua lainnya, seperti Gua Lanang, Mata air Rengganis, gua Panggung, Gua Parat, gua Sumurmudal dan beberapa gua lainnya. Satu dari sekian banyaknya gua tersebut banyak mengkisahkan legenda masa silam yang penuh aroma mistis dan super magis. Kedatangan orang-orang yang percaya akan ilmu klenik untuk berbelas keberuntungan, menjadi warna pikat tersendiri bagi kawasan ini.

Leave a Reply