| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Fantastisnya Jember Fashion Carnaval

Ratusan ribu orang dari berbagai elemen masyarakat, baik wisatawan, pemerintah, awak media dari luar daerah hingga mancanegara sudah mulai berburu tempat di pinggiran rute catwalk yang terbentang dari alun-alun kota hingga gedung olahraga (GOR) Jember, Jawa Timur. Jalanan sepanjang 3,6 km itu telah memecahkan rekor MURI sebagai salah satu catwalk street terpanjang di dunia.
Berbekal peta acara Jember Fashion Carnaval (JFC) kami menyusuri jalan-jalan yang belum disegel polisi menjelang siang itu. Sesudah kenyang dengan semangkuk bakso gerobakan di depan SMK 4 Jember, kami langsung menuju rute lintasan catwalk JFC. Ratusan ribu orang sudah berjubel memadati area catwalk sepanjang jalan Sudirman, Gajah Mada, hingga Sport Hall Jember. Pembatas besi sudah berjajar rapi memagari para penonton, meski beberapa kali terlihat para fotografer mencuri-curi jalan untuk melintas. Ini memang benar-benar perhelatan fashion terheboh di dunia.
Salut buat Presiden JFC Dynand Fariz yang merintis konsep karya ini dari nol sejak tahun 2000-an. Dari hasil berbincang dengan ibu-ibu yang nonton JFC, Dynand Fariz, ini dulunya perancang mode biasa yang bahkan jahitannya tidak rapi. Namun pria ini sudah menyabet penghargaan International Awards sebagai runner up kategori Best National Costume di Ajang Men Hunt International 2011 di Taiwan, dan The Winners dalam ajang Mister International 2011 di Jakarta serta di Mister Universe Model Peagent 2011 di Republik Dominica.
Tetapi semangatnya bikin event tradisional seperti pergelaran busana kecil-kecilan mulai dari karyawan-karyawan rumah mode miliknya hingga di kampung-kampung dan kecamatan tidak pernah padam, hingga akhirnya namanya dikenal sejak tahun 2003 silam, ketika gagasan JFC pertama diwujudkan bersama HUT kota Jember dengan tema busana Cowboy, Punk, dan Gypsy.
Sekitar 600 lebih kostum terbaik perwakilan dari JFC pertama hingga kesembilan disiapkan dalam memperingati JFC kesepuluh yang jatuh pada 8 Juli 2011 lalu. Kali ini JFC mengusung tema Eyes On Triumph, memaknai sebuah kekuatan mata untuk melihat sesuatu guna menggapai kemenangan. Tampil tema-tema JFC tahun sebelumnya, seperti Royal Kingdom yang konon terinspirasi dari perhelatan besar kerajaan Inggris, Athena dengan peradaban dan dewa-dewanya, hingga peristiwa tsunami yang terdedikasi untuk korban bencana Tsunami 2004 silam.
Yang istimewa, meski tema-tema kostum diambil dari perhelatan tahunannya, namun kemasannya disuguhkan sungguh berbeda. Semua dimodifikasi dengan perubahan-perubahan yang trendi dan lebih menyala. Seakan ingin menegaskan The Eyes on Triumph mereka, riasan mata para model dibuat lebih menyala dengan softlens khusus yang unik, artistik, dan fantastis.
Lebih dari 100 hingga 600 kostum yang tampil pun tidak ada yang sama. “Semua bahan dan material pembuatan kostum didaur ulang dan tidak diperjual belikan, tapi disediakan miniatur-miniaturnya,” ungkap Dynand Fariz saat diwawancarai beberapa wartawan.
JFC kini masuk dalam kategori tujuh perhelatan karnaval terbesar di dunia, setelah Karnaval Mardi Gras di New Orleans, AS yang sudah 200 tahun lebih terselenggara, karnaval Rio de Janeiro di Brasil yang sudah 76 tahun, karnaval di Cologne (Jerman), baru kemudian JFC (Indonesia), lalu karnaval di Kopenhagen (Denmark), karnaval de Quebec (Kanada), dan karnaval Trinidad dan Tobago, sebuah negara kepulauan di laut Karabia sebelah laut Utara Venezuela.
Dari bilangan depan Masjid Agung Jember pada pukul dua siang saat itu, kami sudah menemukan tiga orang pingsan dan diungsikan ke sebuah warung karena dehidrasi dan terinjak-injak. Situasi makin ruwet ketika pembatas besi sudah tak dihiraukan lagi. Lintasan yang tadinya lega untuk diisi tiga peserta parade dengan kostum selebar dua meter dan tinggi kostum mencapai tiga meter itu akhirnya hanya menjadi selebar got saja.
Para model sampai jalan terseok-seok bahkan patah-patah kostumnya akibat penonton yang kian padat dan hampir menutup jalan. Dari mulai kawanan fotografer yang berlomba-lomba memfoto dari jarak dekat, menyuruh para model berpose, hingga penonton yang narsis pengin foto bareng dengan si model.
Cerita di balik panggung terbilang unik dan mengharukan. Selain dari kalangan sekolah, mahasiswa, dan model, peserta parade JFC juga diambil dari para atlet fitnes, waria, hingga narapidana. Alasannya cukup lugas kenapa atlet fitnes dan banci diikutsertakan, karena perlu kekuatan untuk berjalan sepanjang 3,6 km di siang bolong dengan kostum super berat yang bisa mencapai lima kilogram.
Kisah mengharukan datang dari para napi yang terlibat acara ini. Sekitar enam napi terlibat tidak hanya sebagai model, tapi membuat sendiri kostum yang sudah ditentukan, tentunya setelah ikut pelatihan di JFC Center sebelumnya. Dari sini saya belajar, dinding dan jeruji besi pun tak sanggup menghalangi hakikat seni yang lahir pada diri seseorang.

Leave a Reply