| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Jantar Mantar, Taman Astronom di Jaipur

Jaipur, tak henti-hentinya menyandang mahkota sebagai salah satu tujuan paling menarik para wisatawan sepanjang tanah padang pasir Rajashtan. Tak hanya keindahan gurun-gurun kecilnya, landmark-landmark kota disajikan setia dalam bentuk kemewahan hingga sejarah serta pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Tak hanya piawai menjadi seorang pemimpin kerajaan, konon Pembesar Jaipur, Maharaja Sawai Jai Singh II dikenal juga sebagai seorang astronomer dimasa hidupnya, keterampilannya membaca ilmu luar angkasa itupun di tuangkannya dalam sebuah taman indah penuh penelitian dasar tentang segala ilmu astronominya.
Ia membangun apa yang disebut Jantar Mantar. Jantar berarti “alat perhitungan” dan Mantar berarti “Instrumen”. Taman ini merupakan wujud observatorium di tengah kota, di dalamnya banyak sekali kumpulan bangunan arsitektur tentang alat-alat astronomi. Jantar Mantar yang terletak di Jaipur ini adalah salah satu dari 5 Jantar Mantar yang dibangun di kota lainnya, seperti New Delhi, Ujjain, Varanasi, sedangkan satu di Mutra telah runtuh. Tetapi konon, Jantar Mantar yang ada di Jaipur ini merupakan Jantar Mantar terbaik dan terlengkap instrumennya.
Observatorium yang dibangun pertama kali di antara tahun 1727 hingga 1734 ini konon telah diresmikan menjadi Bangunan Nasional India sejak tahun 1948, setelah sebelumnya di tahun 1901 diadakan konstruksi pemulihan secara besar-besaran, bangunannya terbuat dari batu lokal dan marmer yang juga beralaskan marmer, setiap instrumen membawa skala khusus untuk perhitungan astronomi, konon keakuratannya berasal dari pengaruh material perunggu yang terdapat di dalam marmer tersebut.
Observatorium ini memiliki 14 jenis instrumen atau perangkat geometris utama, yang mayoritas fungsinya adalah untuk mengukur waktu, melacak lokasi bintang sebagai orbit bumi ketika mengelilingi matahari, memprediksikan gerhana, memastikan deklinasi planet-planet, bahkan untuk menentukan ketinggian langit dan ephemerides yang terkait.
Semua partikel disebutkan dalam bahasa Hindi, tapi beberapa penjelasannya terangkum dalam dua bahasa Hindi dan Inggris. Diantara 14 instrumen yang paling memukau perhatian adalah Samrat Yantra atau disebut juga Jam Matahari, ukurannya yang paling besar sepanjang komplek ini menafsirkan instrumen yang satu ini sabagai Jam Matahari paling besar di dunia.
Samrat Yantra menyerupai struktur bangun segitiga yang menampilkan titik jam dan menit. Busur arah kanannya menunjukkan waktu sejak matahari terbit hingga tengah hari, sedang busurnya yang ke arah kiri menunjukkan waktu mulai tengah hari hingga malam. Waktu bisa dibaca dengan melihat penekanan daerah pada bayangan tajam yang timbul saat itu.
Lain lagi dengan Ram Yantra, partikel ini digunakan untuk menentukan ketinggian dan deklinasi benda-benda langit yang muncul. Jai Prakash Yantra, yang berbentuk dua mangkuk dengan struktur Hemispherical dan garis vertikal di tengahnya itu di baca sebagai ruang lingkup benda langit, kegunaannya untuk mengetahui posisi benda langit pada siang dan malam hari.
Druvra Yantra berfungsi untuk menentukan posisi dua belas bintang zodiak dan bintang kutub alias bintang Kejora di malam hari. Kemudian ada Narivalya Yantra, merupakan jam matahari yang memiliki 2 putaran yang berbeda. Putaran pertama ke arah selatan untuk membaca waktu antara 21 September hingga 21 Maret, ketika matahari berada di belahan bumi bagian selatan. Sedangkan sisi lainnya menghadap utara, menjelaskan perhitungan waktu saat matahari berada di bagian utara bumi, yaitu sekitar 21 Maret hingga 21 September.
Kemudian ada Kranti Yantra yang berguna untuk penghitungan langsung antara bujur dan lintang dari badan luar angkasa. Untuk menghitung kalender Hindu, Raj Yantra paling akurat, biasanya instrumen yang satu ini digunakan sekali dalam jangka waktu setahun.
Unsshyshsmsa Yantra umum digunakan untuk membaca ketinggian benda-benda langit, Cakra Yantra berfungsi untuk memberikan efek sudut objek dari khatulistiwa. Disha Yantra didaulat sebagai kompas yang selalu menunjukkan arah utara. Dakhsina Yantra digunakan untuk mengamati posisi serta pergerakan benda langit ketika melewati garis meridien.
Yang unik lainnya adalah The Largest Samrat Yantra, yang konon keakuratannya 10 kali lebih akurat dari pada Samrat Yantra yang biasa. Instrumen ini masih lazim digunakan oleh masyarakat sekitar untuk memprediksi panjang dan berat siklus hujan di daerah sekitar. Lainnya ada Rashivalayas yang memiliki 12 sundial untuk membaca zodiak, dari 12 masing-masing instumen ini mempunyai Jai Prakash Yantra sendiri-sendiri.
Wajar saja, selain menjadi salah satu atraksi wisata yang paling populer di Jaipur, observatorium ini masih lekat digunakan oleh para petani desa, meski keakuratannya masih menjadi pertanyaan. Bisa dikatakan, observatorium ini merupakan salah satu peninggalan jejak ajaran Wedha yang masih bertahan. Itu sebabnya banyak para mahasiswa astronomi dan astrologi konon diwajibkan mengadakan penelitian di observatorium yang satu ini.
http://travel.kompas.com/read/2011/07/05/22025459/Jantar.Mantar.Taman.Astronom.di.Jaipur

Leave a Reply