| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

JEMBER FASHION CARNAVAL, MATA MATA SENI NAN EKSOTIK DI FESTIVAL YANG FANTASTIK

Gemuruh sorak-sorai membahana sejak subuh berakhir di kota Jember, pekan itu. Ribuan aparat keamanan dari jajaran Kepolisian dan TNI dikerahkan diberbagai sudut di jalan utama kota Jember. Pasalnya perhelatan besar dari sang Mpunya Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz akan digelar siang itu. Ratusan ribu orang dari berbagai elemen masyarakat, baik wisatawan, pemerintah, awak media dari luar daerah hingga mancanegara sudah mulai berburu tempat di pinggiran rute catwalk yang telah ditentukan. Jangan ditanya, rute catwalk dari Alun-alun kota hingga GOR Jember sepanjang 3,6 km itu telah memecahkan rekor MURI sebagai salah satu catwalk street terpanjang didunia.
Dari bilangan kota Jakarta yang penuh kemacetan kami bertolak ke Surabaya dengan pesawat terbang, jangan protes kalau kali ini akomodasi kami gak backpackeran, pasalnya apes bin sial, tiket kereta api ludes terjual hingga minggu depan, bus pun sulit diakses, dilain pihak kesibukan yang menyita waktu terus mendesak, akhirnya kurang dari sejam perjalanan dengan Lion Air kami tiba di Surabaya. Sebenarnya bisa saja kami langsung terbang ke Jember, tapi sudah kadung (baca;terlanjur) janji barengan dengan 8 sahabat Kakigatel yang ada di Surabaya untuk sekalian mblusuk ke Pantai Papuma salah satu pantai eksotik di Jember, akhirnya kami melipir kesana malam sebelumnya. Paginya dengan 8 orang lainnya kami meluncur ke Jember dengan mobil sewaan selama kurang lebih 4 jam.
Berbekal peta konstruksi acara JFC kami menyusuri jalan-jalan yang belum di segel polisi menjelang siang itu. FYI teman-teman, untuk dapat mengakses cepat jalan utama ke parkiran saja kami harus kucing-kucingan sama aparat penjaga, ngaku dari media inilah itulah, ribet sampe ditanya surat tugas, heheheh. Tetapi semua itu worth it to do lah, 😛 Sudah kenyang dengan semangkok Bakso gerobakan di depan SMK 4 Jember, kami langsung menuju rute lintasan catwalk JFC, ratusan ribu orang sudah berjubel memadati area catwalk sepanjang jalan Sudarman, Gajah Mada hingga Sport Hall Jember. Pembatas besi sudah berjajar rapi memagari para penonton, meski beberapa kali terlihat para potografer mencuri-curi jalan untuk melintas. Ini memang benar-benar Perhelatan Fashion terheboh didunia.
Salut buat Presiden JFC Dynand Fariz yang merintis konsep karya ini dari nol sejak tahun 2000-an lalu, denger punya denger hasil dari ngegosip sama ibu-ibu yang nonton JFC, Dynand Fariz, pria yang sudah menyabet penghargaan International Awards sebagai Runner up 1 kategori Best National Costume di Ajang Men Hunt International 2011 di Taiwan, dan The Winners dalam Ajang Mister International 2011 di Jakarta serta di Mister Universe Model Peagent 2011 di Republik Dominica itu dulunya hanya seorang perancang mode biasa, bahkan jahitannya suka ngelewer ( baca: gak rapi) kemana-mana, ungkap ibu “TA” yang konon dulu suka ngorder ke Dynand Fariz. Tetapi semangatnya bikin event tradisional seperti pagelaran busana kecil-kecilan mulai dari karyawan-karyawan rumah mode miliknya hingga di kampung-kampung dan kecamatan gak pernah padam, hingga akhirnya nama beliau melambung tinggi sejak tahun 2003 silam, ketika gagasan JFC pertama diwujudkan bersama HUT kota Jember dengan tema busana Cowboy, Punk dan Gypsy. Terus bergulir tahun demi tahun perhelatan itu bersama tema-tema unik yang terinspirasi dari seluruh pelosok bumi, dan di 2011 ini JFC pun bermuara di “First Decade”.
600 lebih kostum terbaik perwakilan dari JFC pertama hingga ke-9 disiapkan dalam memperingati JFC ke-10, kali ini JFC mengusung tema “Eyes On Triumph”, memaknai sebuah kekuatan mata untuk melihat sesuatu guna menggapai kemenangan”. Di satu dekade penyelenggaraan JFC ini, parade kostum menampilkan 10 tema yang masing-masing adalah perwakilan dari penyelenggaraan JFC tahun-tahun sebelumnya, seperti Royal Kingdom sebagai marchingband pembuka yang konon terinspirasi dari perhelatan besar Kerajaan Inggris yang baru-baru ini menggelar pernikahan sang pewaris tahta Inggris William dan Kate Middleton, lalu ada Defile Punk sebagai Best Defile 2003, India, Athena dengan peradaban dan dewa-nya, Tsunami yang terdedikasi untuk korban bencana Tsunami 2004 silam, Bali yang khas dan eksotik, Borneo dengan inspirasi oleh keindahan hutan belantara yang liar, Roots, Animal Plant, dan Butterfly. Makin semarak dengan iringan ilustrasi musik dan koreografi serta Live performing art yang unik, eksotik, fantastik dan spektakuler.
Yang istimewa, meski tema-tema kostum diambil dari perhelatan tahunannya, namun kemasannya di suguhkan sungguh berbeda, semua dimodifikasi dengan perubahan-perubahan yang trendi dan lebih menyala. Seakan ingin menegaskan The Eyes on Triumph mereka, tidak hanya aksesoris dan make up yang heboh menghiasi tubuh mereka, mata-mata mereka dibuat lebih menyala dan mewakili tema dengan softlense khusus yang unik, artistik dan fantastik. Lebih dari 100 hingga 600 kostum yang tampil pun tidak ada satu pun yang sama. “Semua bahan dan material pembuatan kostum didaur ulang dan tidak diperjual belikan, tapi disediakan miniatur-miniaturnya”, ungkap Dynand Fariz saat diwawancarai beberapa wartawan.
Yang bikin bangga, selain sebagai ajang mejeng budaya dan kesenian bangsa Indonesia ke tingkat dunia, serta mengukuhkan kreativitas anak-anak bangsa, JFC kini masuk dalam kategori 7 perhelatan karnaval terbesar di dunia, setelah Karnaval Mardi Gras di New Orleans, AS yang sudah 200 tahun lebih terselenggara, karnaval Rio de Janeiro (Brazil) 76 tahun, karnaval di Cologne (Jerman), baru kemudian JFC (Indonesia), lalu karnaval di Copenhagen (Denmark), karnaval de Quebec (Kanada), dan karnaval Trinidad dan Tobago, sebuah negara kepulauan di laut Karabia sebelah laut Utara Venezuela.
Dari bilangan depan Masjid Agung Jember pada pukul 2 siang saat itu, saya sudah menemukan 3 orang pingsan dan diungsikan kesebuah warung karena dehidrasi dan terinjak-injak. Makin ruwet aja ketika pembatas besi sudah tak dihiraukan lagi, lintasan yang tadinya lega untuk 3 x peserta parade dengan kostum selebar 2 meter dan tinggi kostum mencapai 3 meter itu akhirnya hanya menjadi selebar got saja (baca;saluran air), para model sampai jalan terseok-seok bahkan patah-patah kostumnya akibat penonton yang kian padat dan hampir menutup jalan, dari mulai kawanan fotografer yang berlomba-lomba memfoto dari jarak dekat, menyuruh para model berpose, hingga penonton yang narsis pengin foto bareng dengan si model. Saking narsisnya, seorang polisi disuraki ramai-ramai oleh penonton lainnya akibat berfoto dengan si model, yang bikin saya ketawa ngakak, si polisi dengan gamblangnya teriak balik “Polisi kan juga manusia yang butuh narsis” Lol.
Behind The Scene nya juga terbilang unik dan mengharukan loh teman. Selain dari kalangan sekolah, mahasiswa, dan modelling, peserta parade JFC juga diambil dari para atlet fitnes, shemale alias banci, hingga narapidana. Alasannya cukup lugas kenapa atlet fitnes dan banci diikutsertakan, gak bisa dibayangkan kalo hanya perempuan-perempuan cantik alias model yang biasa pakai higheels disuruh jalan sepanjang 3,6 km siang bolong dengan kostum super berat yang bisa mencapai 5 kg, belum-belum baru latihannya aja bisa pingsan duluan kan. Malah kalau saya amati, peserta parade yang shemale bisa lebih mengekspresikan diri dan kelihatan lebih luwes dan cantik, kayak ladyboy-nya Thailand, hehehehe.
Nah gimana kalo peserta parade yang didatangkan dari Penjara, alias narapidana?? hmm, mikir berapa kali dulu gak looo?? Tapi ini benar-benar fakta yang mengharukan, hakikat seni yang memang tidak bisa/ tidak boleh dibatasi oleh siapapun. Seperti yang saya kutip dari tribunnews.com, dari ratusan peserta parade, ada 6 narapidana yang diterjunkan langsung oleh Kementrian Hukum dan HAM Jawa Timur khusus untuk event JFC tahun ini. Mereka bukan hanya sebagai model, namun lebih dari pada itu, mereka membuat sendiri kostum yang sudah ditentukan, tentunya setelah ikut pelatihan di JFC Center sebelumnya. Dari sini saya belajar, dinding dan jeruji besi pun tak sanggup menghalangi hakikat seni yang lahir pada diri seseorang, mereka mungkin punya masa lalu dan kesalahan, tetapi semangat untuk melakukan hal yang lebih baik adalah kewajiban setiap orang.
Dengan segenap kemeriahan yang terlaksana sepanjang siang itu, harapan besar dari budaya Indonesia berkibar untuk maju ke kancah perhelatan dunia, tak terasa event JFC ke 11 pun yang akan digelar 08 Juli 2012 mendatang sudah dinanti oleh para masyarakat diseluruh penjuru Indonesia dan mancanegara.

Leave a Reply