| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Karapan Sapi, Antara Martabat dan Eksploitasi

Kalau yang namanya pacuan kuda itu sudah biasa, lalu bagaimana dengan pacuan sapi? Jangan salah. Perlombaan adu cepat sapi yang menjadi ciri khas Madura itu pun tampak lebih sengit dan heboh. Ya, masyarakat Madura lebih mengenalnya dengan Karapan Sapi atau Bull Race, acara tahunan masyarakat Madura ini selalu berhasil menyedot perhatian masyarakat luar, baik dari nusantara bahkan bule-bule mancanegara. Tahun lalu saja, kehadiran kami dengan ratusan sahabat Kakigatel dari berbagai daerah, yang belasan di antaranya berasal dari luar Indonesia disambut meriah oleh Bapak Bupati Pamekasan dan seluruh stafnya di kantor Bupati Pamekasan .
Pada 23 Oktober 2011 ini, kembali puncak acara karapan sapi akan digelar di bilangan jalan Stadion Pamekasan, tepatnya di Lapangan Sunarto Hadiwijoyo. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, acara bergengsi bagi masyarakat Madura ini memperebutkan piala Presiden Cup. Sistemasi calon lomba pun masih sama, masing-masing dari empat kabupaten yang ada (Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sumenep) dikirim enam pasangan sapi yang sudah diperlombakan untuk melaju di babak puncak. Masih sama uniknya, juaranya pun bukan hanya pasangan sapi yang menang, kategori juara juga diperuntukan bagi pasangan-pasangan sapi yang kalah. Salah satu panitia pelaksana festival karapan sapi, Nanang Sufianto mengungkapkan bahwa acara besar ini sudah menjadi ketetapan bersama antara Dinas Pariwisata Jatim, Bakorwil, dan panitia pelaksana.
Selain menggelar adu cepat sapi, acara ini juga menghadirkan unsur kesenian dan budaya Madura, masih berbau-bau sapi, sehari sebelum perlombaan karapan sapi digelar, biasanya didahului dengan kesenian Sapi Sonok. Jika di medan laga, si sapi bertarung dengan tenaga, lain halnya dengan pagelaran Sapi Sonok yang bertarung dengan mengandalkan kecantikan dan keluwesannya berjalan di catwalk ala Sapi Sonok.
Langsung dari lapangan Bakorwil IV, di jalan Slamet Riyadi, belasan pasangan sapi Sonok didandani bak model kelas dunia. Jalannya pun sudah diatur supaya serempak. Si pemilik bahkan sorak sorai menari bersama sapi-sapinya dengan diiringi kelompok seni musik tradisional ala Madura, Soronen. Tak jarang, sinden ronggeng pun dibayar untuk menari bersama saat penilaian. Namun ujung-ujungnya si sinden ronggeng yang kaya dengan lemparan ribuan bahkan puluhan ribu rupiah, hasil “nyawer” para penonton. Rupanya bukan cuma kesenian berbau sapi yang digelar, pada malam harinya digelar pula berbagai kesenian budaya dan adat Madura, seperti festival tarian tradisional dari berbagai kabupaten, festival makanan, dan kesenian ala Madura lainnya. Sebagian orang yang datang berburu tontonan apik itu terkadang memang tak tahu menahu soal asal-usulnya. “Hanya sekadar pesta rakyat,” jawaban singkat itu saya peroleh dari beberapa penonton yang sempat saya tanyai.
Tak ada yang tahu secara persis tradisi karapan sapi ini bermula. Namun yang dikutip dari cerita warga kebanyakan ialah Pulau Sapudi yang berlokasi di ujung utara pulau penghasil garam ini yang menjadi tonggak sejarah Karapan Sapi dari mulut ke mulut. Seorang Pangeran bernama Tandur disebut-sebut yang mempopulerkan pesta rakyat tersebut, guna memperingati musim panen yang jatuh hampir setiap bulan September hingga Oktober. Itu sebabnya, sapi dari Pulau Sapudi terkenal sebagai sapi-sapi dengan kualitas raja.
Dari sebuah ajang perlombaan balap sapi sederhana, masyarakatnya secara turun temurun mulai melestarikan tradisi tersebut setiap tahunnya. Dari generasi ke generasi, dari cara sederhana hingga yang menggugah air mata, hingga dari ajang senang-senang sampai totalitas sebuah kehormatan. Sejak itu, pesta rakyat ini berkembang menjadi sebuah acara yang sangat prestisius di mata warga-warganya. Bagaimana tidak, ini adalah ajang adu gengsi bagi penduduk Madura, terutama tokoh-tokoh warga yang memiliki sapi. Harkat dan martabat seorang Madura benar-benar diperhitungkan lewat kemenangan yang diraih pasangan sapi miliknya.
Tak heran, bila si pasangan sapi (baca: atlet karapan) benar-benar diperlakukan bak raja, dari segi makanan, kesehatan, kandang, kebersihan, hingga stamina hingga merogoh kocek jutaan rupiah persatu ekor. Si sapi bukan hanya diberikan makanan bergizi seperti puluhan butir telur ayam, diberi minum jamu-jamuan, hingga terapi pijat oleh si tukang ahli pijat hewan.
Ternyata di balik perlakuan istimewa tersebut, si sapi harus berjuang keras ketika sudah di garis laga. Semua harus dibayar si sapi dengan hal-hal yang di luar kewajaran perlombaan. Dari mulai nasib pantat dan ekor sapi yang digaruk paku oleh sang joki saat perlombaan, hingga mata dan dubur si sapi yang diolesi bedak panas, balsam, dan sambal ekstra pedas.
Saya mulai bertanya, pasangan sapi-sapi tersebut murni berlari karena kemenangan atau hanya sekedar rasa tak tahan untuk lepas dari rasa sakitnya. Bahkan yang lebih fantastis, permainan gaib sang dukun keberuntungan diadu pula di sini. Jangan kira ini memang budaya asli. Tidak sama sekali. Ini adalah sebuah penyimpangan budaya yang memang sulit diubah, meski berkali-kali pemerintah sudah menegaskan agar tidak ada kekerasan fisik terhadap atlet-atlet sapi tersebut.
Harapan besar kami tentulah menghapuskan kekerasan itu semua, dan melestarikan keaslian karapan sapi yang memang memiliki konsep sebuah “Pesta Rakyat”. Kapan? Itu pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah setempat serta warga asli Madura itu sendiri.

Leave a Reply