| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Kentalnya Peninggalan Kolonial di Kota Melaka

Melaka adalah kota yang eksotik, dengan limpahan situs-situs bersejarah masa silam. Saat mengunjungi kota ini, pengunjung seolah diajak napak tilas ke masa kejayaan Iskandar Syah, seorang Raja Hindu dari Kerajaan Sriwijaya yang beralih menjadi muslim. Kemudian memasuki masa ketika kekuatan militer Portugis, Belanda, dan Inggris, masuk ke kota ini, dan kemudian saat Melaka menjadi bagian dari Malaysia pada 1957.
Lokasi Malaka yang sangat strategis di pantai barat Semenanjung Malaysia menjadi salah satu pelabuhan favorit bagi jalur perdagangan di Asia pada masa silam. Tak heran, banyak pihak melirik Malaka.
Karakter kota Melaka mirip dengan Jakarta. Di satu sisi kota ini sisi masa silam, namun di bagian kota lainnya, terdapat gedung-gedung pencakar langit seperti di Jakarta.
Pertama kali saya menginjak Melaka, bus dari terminal Melaka Sentral membawa saya ke “Kota Tua”. Kami terkesiap dengan pemandangan di kanan kiri berupa gedung-gedung yang nyaris tak ada warna lain selain merah. Hanya dihiasi banner-banner bergaya China dan bendera Malaysia. Rupanya ini yang disebut Red Square, salah satu atraksi utama pariwisata.
Taman utama dengan menara jam dan tugu air mancur ala Belanda di Jalan Gereja itu penuh orang, dengan becak-becak berbunga yang mondar-mandir dan siap mengantarkan Anda keliling Melaka. Sebuah salib mentereng tertancap di ujung bangunan yang dikenal sebagai Christ Church Of Melaka.
Gereja ini terbilang paling ramai di Melaka. Selain indah, juga memiliki nilai sejarah karena gereja tertua di Malaysia. Menurut sejarah, gereja ini didirikan guna memperingati satu abad kepemerintahan Belanda di Malaka, tepatnya pada tahun 1753. Gereja ini unik dengan properti yang dihasilkan dari kerajinan tangan, langit-langit dengan balok yang tidak bersendi, alkitab dari material kuningan, abjad-abjad Armenia yang terlampir di beberapa nisan, hingga altar-altar perjamuan dengan keramik yang cantik.
Tepat di samping gereja mentereng merah itu, ada bangunan merah lainnya yang disebut Stadthuys. Di sepanjang teras bangunan tersebut, penjual-penjual suvenir berlomba-lomba menawarkan harga diskon untuk para turis. Stadthyus yang warna dindingnya diselaraskan merah bersama gereja di sampingnya itu dikenal sebagai salah satu landmark utama Melaka.
Sejak dibangun pada tahun 1650-an, gedung ini digunakan sebagai kantor Gubernur kepemerintahan Belanda, dan diyakini sebagai gedung kantor tertua Belanda di areal Timur. Sekarang ini, Stadthuys House dialihfungsikan sebagai museum sejarah dan etnografi. Museum ini beroperasi dari jam sembilan hingga lima sore pada hari biasa, dan di akhir pekan beroperasi hingga pukul 9 malam. Tiket masuk museum ini lima ringgit untuk dewasa, dan tiga ringgit untuk anak-anak.
Ketika kami menyusuri pinggiran areal Red Square tampak sebuah gereja lainnya. Ini rupanya yang disebut Gereja Santo Franciscus Xaverius. Sore itu, gereja dipenuhi para jemaat yang beribadah. Uniknya, bahasa yang mereka pakai dalam lantunan doa-doa mereka adalah bahasa China peranakan.
Seorang pastur menghampiri dan mangajak kami duduk di dalam dan bernyayi rohani bersama. Gereja bergaya gotik tersebut adalah buah karya dan donasi dari seorang Pastur Katolik berkebangsaan Prancis, tepatnya pada tahun 1849. Dia khusus membangunnya sebagai dedikasi untuk Santo Franciscus Xaverius, seorang misionaris yang membawa ajaran Katolik di Asia Tenggara pada abad ke-16.
Di seberang jalan Gereja Santo Francisucus Xaverius, terdapat pemandangan menarik lainnya, yaitu sungai Melaka yang mengingatkan pemandangan Venesia. Pinggiran sungainya terdapat jajaran rumah-rumah warga China peranakan.
Sungai ini memiliki dermaga kecil yang digunakan untuk wisata sungai. Hanya dengan 10 Ringgit, Anda bisa menikmati suasana dan kehidupan sepanjang sungai Melaka tersebut. Ada gudang-gudang unik, galeri-galeri, jembatan-jembatan cantik dan bersejarah, hingga Kampong Morten, tipikal rumah tradisional Melayu.
Dari tengah jembatan lorong Hang Jebat, kami mampir di sebuah rumah penginapan. Namanya unik: Tidur-Tidur Guest House. Pemiliknya tak kalah unik. Stanley namanya. Ia dengan sigap menceritakan sejarah Melaka yang terdapat di lukisan-lukisannya sambil menawarkan baju-baju distro hasil karyanya.
Dari Hang Jebat kami meluncur ke atraksi menarik lainnya, yaitu Jonker Walk di China Town, sebuah areal Pecinan Melaka, yang meliputi tiga lorong utama. Salah satunya lorong Hang Jebat yang disebut Jonker Street, lalu ada lorong Tan Cheng Lock atau Belanda/Heren Street, lorong ini terkenal sebagai pemukiman jutawan-jutawan China di Malaka. Dan satu lagi lorong Tokong Street atau Temple Street. Ketiganya ramai saat malam di penghujung pekan, terutama di Jongker Street.
Di sini Anda akan terkesiap dengan rupa-rupa barang antik dari masa ratusan tahun silam yang diperjualbelikan baik dari galeri antik hingga emperan. Dari mulai relief, artefak, guci, hingga koleksi mata uang dan benda-benda kuno lainnya.
Jonker walk rupanya tak hanya ramai dengan barang-barang antik. Jalan ini juga penuh toko-toko dan gerobak suvenir, restoran khas dari cita rasa Portugis, Belanda, Inggris, hingga China peranakan. Ada makanan jalanan, fashion bazaar, hingga pertunjukan musik. Cemilan-cemilan kering khas Melaka juga bisa menjadi oleh-oleh untuk para kerabat. Untuk harga bisa ditawar.
Jangan lewatkan pula bangunan-bangunan unik di kota ini yang dipengaruhi gaya Portugis, Belanda, dan Inggris. Ada Baba Nyonya Heritage Museum, Cheng Hon Theng Temple, salah satu kuil Cina tertua di Malaysia, Makam Hang Tuah, Gereja Tamil, serta lima tempat ibadah dari semua agama pun jadi satu padu dalam lorong ini.
Selain daerah Pecinan, tempat menarik lainnya adalah Portugese Square atau Kampong Portugis. Letaknya memang agak jauh sekitar tiga km dari Red Square. Di Kampong Portugis, Anda bisa menikmati banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan dan budaya Portugis, dari mulai rumah tradisional, masyarakatnya, hingga cita rasa masakannya.

Leave a Reply