| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Keramahan Suku Etnik Sapa di Vietnam Utara

Sama seperti demografi Indonesia, Vietnam selain terkenal dengan warisan budaya dan sejarahnya, pantai dan pegunungan negara itu pun menjadi salah satu destinasi wisata yang apik bagi wisatawan. Sebelum melihat Nha Thrang dengan eksotisme alur pantainya, kami berkesempatan mencicipi udara dingin di kawasan utara Vietnam, tepatnya di Sapa.
Sapa sendiri terletak lumayan jauh dari arah utara Hanoi. Dari Ho Chi Minh, Anda harus terbang dua setengah jam ke Hanoi. Dari Hanoi butuh waktu semalaman dengan kereta api untuk sampai ke Lao Chai. Selain pemberhentian kereta api terdekat menuju Sapa, Lao Chai juga kawasan terdekat dari perbatasan Vietnam dengan Cina. Perjalanan tidak berhenti sampai di situ, butuh waktu sekitar empat jam lagi dengan bus untuk sampai di pusat kota Sapa.
Keindahan Sapa bisa Anda nikmati dengan melakukan wisata trekking ke desa-desa di pegunungan Fansipan yang merupakan salah satu pegunungan tertinggi di Indochina, dan dekat dengan perbatasan Cina. Pegunungan tersebut menyimpan lika-liku kehidupan suku-suku Sapa yang menarik untuk diulas. Bukan hanya untuk dijadikan objek fotografi, budaya dan cara hidup mereka pun menarik untuk dijadikan cerita kepada sanak saudara.
Suasana kota Sapa lebih mirip pedesaan yang cukup besar, masih alami, meski sudah banyak fasilitas komersial di sekitarnya. Belum jauh keluar dari penginapan untuk memulai trekking, langkah saya tertahan oleh pemandangan unik dari perempuan-perempuan lokal Sapa. Mereka bukan hanya cantik alami dengan pipi kemerahan akibat udara dingin, namun terlihat unik dengan pakaian serta atribut yang mereka kenakan.
Kostum mereka begitu beragam. Ada yang berpakaian hitam-hitam, kombinasi hitam merah, hingga pakaian yang berwarna-warni. Ikat kepala mereka juga bermacam-macam, dari warna merah, warna-warni, biru, hingga kuning. Rupanya mereka inilah ikon-ikon wisata Sapa, mereka adalah bagian dari suku Hmong, suku asli Sapa. Meski suku Hmong merupakan minoritas Vietnam, sebenarnya suku ini tersebar juga di beberapa negara lainnya seperti Thailand dan Kamboja.
Keanekaragaman pakaian adat serta atribut mereka itu rupanya ciri khas dari masing-masing sub etnik dari suku Hmong. Ada Black Hmong dengan nuansa hitam-hitam, ada Red Hmong dengan kombinasi hitam-merah, atau Flower Hmong dengan baju dan atribut warna-warni yang cerah.
Perempuan-perempuan eksotis yang begitu berwarna-warni tersebut menawarkan untuk menjadi pemandu kami ke desa pedalaman seperti desa Cat-Cat yang dikenal sebagai kampung Hmong Hitam, Lao Chai – Ta Van – Ta Chai Giang yang terkenal sebagai kediaman suku Hmong etnis Tay Dzay.
Ada pula yang menawarkan menuju Ban Khoang yang dikenal sebagai suku Hmong dengan etnis Dzao Merah. Tujuan lainnya hingga ke Ta Phin, yang terletak 15 km dari Sapa dengan pemandangan yang eksotis dan Ban Ho – Sai Nam, rumah bagi etnis Tay dan Pho Xa yang terkenal dengan adat budaya kunonya yang masih kuat.
Karena tidak memerlukannya, kami memutuskan jalan sendiri mengikuti jejak rombongan yang lainnya. Dan saat itu kami mendapati keunikan budaya dan mata pencaharian kaum perempuan Sapa, yaitu mereka mengekor di belakang para wisatawan. Dengan ramah dan bahasa Inggrisnya yang fasih, mereka menawarkan suvenir khas Sapa berupa kerajinan tangan, dari mulai kain tenun, tembikar, hingga aksesoris gelang atau kalung.
Tidak seperti orang-orang di kawasan wisata komersial lainnya, mereka tetap tersenyum menemani perjalanan Anda meski Anda tidak membeli apa pun. Yang kami heran, kami hanya melihat kaum perempuan. Ke mana pria-pria suku Sapa? Ya, kebanyakan kaum pria suku Sapa memilih bekerja di perkotaan. Sebagian besar yang kami temui, bekerja sebagai tukang ojek mengantarkan para turis untuk menjelajah Sapa.
Perjalanan menyusuri lika-liku suku Sapa memang sangat menyenangkan dan unik. Hampir empat jam sudah kami menyusuri alam Sapa, keluar masuk hutan, menyeberangi sungai-sungai kecil nan elok, menyusuri jalan setapak di persawahan hingga menikmati lansekap melalui gigir perbukitan. Sekilas pemandangannya mirip dengan suasana alam di Indonesia bahkan Nepal. Udaranya pun sejuk bak di Puncak Gunung Gede Bogor. Setelah singgah di balai desa pedalamannya, dan makan siang dengan sup Poe Noodle ala Vietnam yang segar di warung-warung milik penduduk, saya kembali ke jalur trekking untuk turun menuju pusat desa Sapa.
Beruntungnya, kedatangan kami di Sapa tepat pada hari Minggu, pasalnya hampir semua sub suku etnik Sapa turun ke pusat perdagangan di Sapa, tepatnya di Cho Sapa Market. Setiap minggu digelar keramaian bertajuk Bac Ha Sunday Market. Mereka menggelar ragam barang dagangannya dengan harga miring, dari mulai hasil kerajinan tangan, hingga hasil kebun. Bukan hanya riuh para pedagang, Anda bisa melihat bagaimana suku etnik tersebut bersatu padu, dan suasana ini akan menjadi momen unik bagi kamera Anda.

Leave a Reply