| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Kete Kesu, Rumah Masa Depan Suku Toraja

Pagi itu kami bergegas ditarik kerabat mengendarai sebuah kijang tua menelusuri jalan-jalan di Rantepao, Tana Toraja. Tak sampai 15 menit mobil pun berhenti di sebuah kawasan, setelah masuk dalam jalan setapak. Nampak seperti objek wisata, ya Kete Kesu adalah salah satu objek wisata di Tana Toraja. Kawasan ini sekaligus menjadi yayasan yang biasa digunakan suku Toraja untuk melaksanakan berbagai perayaan, ritual dan upacara adat, termasuk serentetan acara dalam proses Rambu Solok.
Tongkonan cantik nan tinggi menjulang mencoba meraih awan putih yang terlihat hanya selemparan batu dari atas kepala. Jadi nampak mistis dengan tiang tongkonan yang dibalut dengan tanduk-tanduk kerbau. Konon tanduk kerbau ini berasal dari kerbau-kerbau yang dipotong dalam persembahan di acara Rambu Solok atau upacara dan perayaan lainnya. Nyata, tanduk tersebut konon menjadi tolak ukur status dan kehormatan sebuah keluarga. Semakin banyak tanduk-tanduk itu terlihat di tiang rumah, semakin tinggi derajat anggota keluarga tersebut.
Berhadapan, telah berjejer bangunan yang hampir mirip dengan tongkonan dengan ukuran lebih mungil. Rupanya itu adalah lumbung, tongkonan khusus untuk menyimpan hasil panen baik padi ataupun palawija. Nampak pula beberapa calon tongkonan yang sedang dibuat oleh para tukang. Rupanya, setiap kali akan mengadakan perayaan, maka akan dibangun beberapa tongkonan tambahan di sekitar kawasan ini. Menurut kabar, bulan Juli 2012 nanti akan diadakan pesta Rambu Solok besar-besaran.
Diantara jejeran rumah adat tersebut, terdapat satu tongkonan yang difungsikan sebagai museum. Isinya, dari benda-benda bersejarah, benda-benda adat kuno, hingga benda-benda aneh hasil penemuan. Di toko souvenir sebelahnya, terdapat sebuah kayu batu, berasal dari tiang salah satu bagian tiang tongkonan. Uniknya dulu itu adalah kayu, lama kelamaan kayu tersebut berubah menjadi batu. Jika diamati, dibagian tubuh kayu batu itu terlihat kilau keemasan, bahkan kilau putih. Warga setempat curiga bahwa didalam kayu batu tersebut tersimpan unsur-unsur pecahan logam emas.
Puas menjelajah keunikan depannya, kami pun menjelajah ke bagian belakang Kete Kesu. Syahdan, 50 meter dibelakang tongkonan tersebut terdapat area batu pemakaman. Baru sekejap menikmati tawaran souvenir-souvenir cantik dari kios yang kami lewati, beberapa bangunan unik sekejap mengagetkan kami. Satu seperti rumah biasa, ada satu menjulang dibuat seperti Tongkonan, namun tengahnya nampak berbentuk bulat lonjong dengan ukiran, seperti bentuk molen raksasa. Didalamnya terdapat beberapa mayat seperti yang terpampang di dalam foto. Ah rupanya ini adalah kuburan-kuburan modern para suku Toraja yang berstatus bangsawan.
Disebelahnya terdapat bukit batu yang sudah mulai dirembesi air dari atasnya. Di dindingnya terdapat beberapa lubang berbentuk bujursangkar yang ditutup dengan papan kayu yang diukir. Konon didalamnya ada ruangan-ruangan lagi yang menjadi kuburan keluarga.
Kawasan batu pemakaman ini diselimuti pohon bambu yang menjulang. Sebuah tangga mengantarkan kami pada erong-erong yang tergeletak diantara tangga dan dinding batu. Erong-erong adalah sebutan peti mati adat Tana Toraja. Erong-erong juga punya bentuk tersendiri yang menggambarkan jenis kelamin si penghuni. Erong-erong dengan ujung berbentuk kepala babi jika sang jenazah adalah perempuan. Sedangkan bentuk perahu jika sang jenazah adalah laki-laki. Semua erong-erong dihadapkan ke arah utara.
Bentuk perahu baik pada keranda atau pada peti jenazah pun mengartikan tanda penghormatan kepada leluhur Toraja yang konon dipercaya datang dengan perahu dari arah utara. Fantastis, tengkorak-tengkorak hinga tulang belulang manusia berceceran dimana-mana. Tulang kaki, tangan, tubuh hingga tengkorak kepala manusia menjadi satu dengan dedaunan dan sampah kecil lainnya. Saya menemukan dua gigi geraham yang masih utuh bahkan. Merinding tak percaya, ini mimpi atau nyata, saya mencubit pipi saya.
Naik ke atas lagi, kami menemukan tengkorak manusia yang dipenuhi dengan puntung rokok, hingga minuman kaleng. Disudut dinding batu tersebut terdapat tau-tau satu rumpun keluarga. Tau-tau adalah sebutan untuk patung-patung para jenazah yang dimuliakan. Biasanya hanya keluarga bangsawan yang memiliki kesanggupan atas pembuatan tau-tau. Bayangkan saja, untuk satu patung kebangsawanan ini keluarga jenazah harus mengorbankan minimal 24 kerbau belang dan puluhan ekor babi. Persembahan kerbau pun tak sembarang kerbau, yang dipilih adalah kerbau-kerbau dengan belang terbaik. Konon, harga satu ekor kerbau belang bisa mencapai 400 juta.
Rupanya tak hanya erong-erong yang digantung di bagian luar dinding gua batu tersebut, jalan hingga ke ujung Anda akan menemukan pintu gua yang lumayan besar. Dari luar pintu saja sudah terlihat beberapa bekas karangan bunga kematian, didalamnya pun peti mati bersusun-susun telah menempati bagiannya masing-masing. Sayangnya, makam batu ini kurang terawat, terlihat banyak sampah plastik tercecer dimana-mana.

Leave a Reply