| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

KETIKA ANGIN BARAT BERSEMILIR DI TIDUNG

TIDUNG – PART I

Bagi sebagian orang, mungkin tak mengenal dalam istilah “angin barat”, tetapi bagi para nelayan ini adalah salah satu siklus alam yang wajib mampir setiap tahunnya, meski kehadirannya tak dikehendaki. Pasalnya, musim angin Barat selalu jadi bulir petaka bagi segelintir mata pencaharian nelayan-nelayan yang hidup dengan mencari ikan. Seperti yang telah tertulis dalam pelajaran Sekolah Dasar, dalam seni melaut, kita mengenal istilah angin dan musimnya, diantara yang menguntungkan adalah Musim Daya Laut, lainnya ada musim kemarau, musim tenggara, musim pancaroba, dan musim timur. Musim daya laut dikenal sebagai waktu terbaik bagi para nelayan meraup kekayaan bahari, tepatnya sekitar bulan oktober. Sedang pada musim timur, melaut hanya berlaku pada waktu malam saja, pasalnya pada musim ini arus gelombang sangat besar dengan tinggi hingga 2 meter, bahkan mengindikasikan timbulnya badai sepanjang hari hingga malam. Sedang musim tenggara dikenal nelayan khususnya di Kepulauan Seribu sebagai bulan sampah, konon pada musim yang biasanya terjadi di bulan Mei ini, sampah-sampah dari perkotaan sekitar banyak bertebaran dilaut.
Seiring perkembangan kehidupan, ketika wisata bahari menjadi salah satu daya pikat baru bagi para pengunjung lokal baik wisatawan asing, kepulauan Seribu pun menjadi salah satu pilihan wajib bagi pecinta snorkling ataupun diving. Berbagai trip diadakan untuk menikmati sensasi putih dari kebisingan kota Jakarta dan sekitarnya. Tetapi, anda juga jangan lupa memperhatikan faktor-faktor penting ketika anda bertandang ke wilayahnya. Salah satunya adalah musim, tepatnya musim angin. Karena ternyata selain berpengaruh kepada aktivitas melaut masyarakat kepulauan, musim angin juga berpengaruh jelas atas dampak kunjungan wisatawan, yang tentunya mengharapkan cuaca yang mempesona dan kenyamanan yang terpenting. Lalu bagaimana ketika faktor ini anda lupakan, siap-siap menerjang badai dehh, heheh
Seperti pada kunjungan kami dua hari lalu, tak ada persiapan pasti, karena ini bukan trip besar dengan jumlah orang yang besar pula. Kami berbackpacking ria dengan satu orang teman kami asal Italia. Doi ngebet banget pengen mantai, setelah hampir setengah tahun gak nginjek pasir laut, heheh. Dengan senang hati, setelah puas diayun ombak di Kepulauan krakatau minggu lalu, Kakigatel pun menemani trip Stevano kali ini ke Kepulauan Seribu.
Jangan tanya kemana? Karena kami akan jawab “kemana aja boleeehhh”, heheh. Jelasnya kami gak punya tujuan pasti kemana, tetapi saat tiba di Muara Angke, di jam 6.45 pagi itu kami memutuskan untuk berlabuh di KM Bisma, dengan tujuan Pulau Tidung. Alasannya sih ok, sejak kunjungn kami ke Pulau Harapan tahun lalu, kami belum pernah menginjak pulau Tidung. Sebenarnya sih ada 2 gadis lagi yang mau ikut serta dalam trip ini, sayang mereka telat datang, jadi salah satu option lainnya, mereka harus ke Ancol Marina untuk naik kapal cepat.
Siapa yang tak mengenal Pulau Tidung? Pulau yang khas dengan jembatan “CINTA” panjangnya yang menghubungkan antara Pulau Tidung Besar hingga ke Pulau Tidung Kecil. Pesona alam bahari sekitar daratannya pun terbilang yahuud sebagai destinasi wisata air, termasuk snorkling atau sekedar bergulak dengan Banana Boat. Pulau Tidung terletak tak jauh dari perkotaan Jakarta, 2 jam perjalanan dengan kapal motor, dari beberapa pelabuhan. Di Jakarta perkotaan, yang terkenal sebagai pelabuhan penghubung antara lain bisa dari Muara Angke atau bisa juga dari Ancol – Marina, tepatnya di Pelabuhan 21, atau dari wilayah Tangerang di Waraseban.
Dimata kepemerintahan DKI Jakarta, pulau Tidung tercatat sebagai wilayah kabupaten administratif Kepulauan Seribu, pantas saja jika pulau ini dihuni oleh pemukiman dengan fasilitas yang cukup memadai, baik fasilitas umum bahkan fasilitas pribadi, seperti pemukiman hingga sekolah. Terdapat puskesmas, sampai kelurahan bahkan kantor polsek Kepulauan Seribu.
Tak seperti trip kami tahun lalu, angin dan ombak hari itu seperti sedang marahan, kejar-kejaran seperti ingin membunuh kapal yang kami tumpangi, baru saja terlelap, kami terbangun dan melek hingga Tidung karena ombak yang berdesir hebat. Beda sama si Stevano, doi adem ayem kayak gak pernah tidur seratus tahun. 😛
Sekilas pelabuhan kecil Tidung mirip pelataran pulau Pramuka, tetapi lebih turisty, fasilitas untuk pengunjung sangat ok, baru jalan 20 meter, kami disambut tempat penyewaan sepeda, seharga 15.000 Rupiah perhari. Fasilitas ini kami lewatkan begitu saja untuk sesi perkenalan kami di kampung ini. Tetapi sial, setelah bertanya pada orang dimana area campingnya, ternyata masih sejauh 3 km lagi, hueeekkcuihh, jalan udah kayak zombie gara-gara jetleg. Banyak penginapan yang dijejeri warung-warung dan persewaan alat Snorkling, lapar mendegus kencang kami pun berhenti merampok warung yang belum buka, untung dengan senang hati si ibu memasakan kami nasi goreng, ikan dan telur, bujugg, lumayan murah, cuma 10.000 Rupiah plus minum, belum lagi persewaan alat snorklingnya, cuma 15.000 Rupiah.
Yuhuuu, dengan nenteng pelampung kami pede aja ketika harus berjalan 3 km lagi diatas terik menyengat. Buahh, pulau ini tak sekampung yang saya kira, sekolah SMA dengan 3 Kejuruan termasuk Nautika pun mejeng deket Tanjungan. Tanjungan adalah spot area terindah dari Tidung, selain sebagai camping area, disini Jembatan Cinta itu bercokol, telaga nya landai dan cetek sekali, kamu bisa liat isi dalam telaga itu dengan jelas termasuk si hitam bulu babi. Enaknya Tidung, ada spot snorkling disekitar telaga, hanya musti berjalan di telaga sekitar 500 meter saja.
Sayang seribu kali sayang, alat snorkling yang kami sewa gak terpakai, karena baru saja niat mendirikan tenda, angin badai menerjang tanpa kulonuwun dulu. Bwushhhewtt deh, perlu perjuangan keras untuk bisa mendirikan tenda dalam keadaan seperti ini. Berkali-kali pasak tak jua mendarat kuat, tetapi dengan kerjasama semua terasa ringan. Angin gila itu mengamuk hingga lebih dari 2 jam lamanya, kami cuma bengong dalam tenda berharap tenda kami gak terbang. Sesudahnya, pukul setengah lima sore angin mulai lembut, tetapi tetap saja, membuat illfeel untuk jumping style apalagi snorkling. Kami cuma jalan-jalan menyusuri jembatan Cinta yang sudah lapuk itu, plus merasakan aroma mistis dari pemandangan Tidung kecil yang tak berpenghuni. Kecewa beratnya, udah gak bisa snorkling, fishing pun gagal karena gak bakal ada ikan yang mau berkeliaran saat angin barat, trus gak bisa juga nemuin harta karun disini, padahal saya sudah bawa 2 kantong plastik. Huffttt
Gak sampai disitu rupanya, setelah nyeyak tertidur dari waktu Maghrib, kami terbangun karena badai datang lagi tanpa permisi, ini lebih besar dari badai saat siang, kami seperti siap adalam gulungan tsunami, hujan besar disertai angin kencang membuat tenda kami dirembesi air. Melihat semua makin parah, kami segera packing barang-barang, mengantisipasi bila sesuatu yang lebih besar menimpa kami. Sudah lebih dari 4 jam badai ini mengusik istirahat kami, dari pukul 11 malam, saat kami sedang bermimpi indah, hufftth saking letihnya megangin tenda, kami tertidur lagi Mungkin bila si angin gila itu tak datang lagi kami pasti bangun siang, jam setengah enam badai itu datang lagi, dan memaksa kami untuk meringkasi semua tenda dan barang-barang. Duhh, serba salah pula, pulang dengan kondisi angin kayak gini, apa gak sama aja mengantar nyawa untuk para ikan-ikan, dan apa iya ada kapal yang berani berangkat?
Bah, ternyata ada lohh, jelas cuma kapal dengan mesin paling besar yang mengiyakan perjalanan pagi itu, itupun masih menunggu cuaca sedikit reda. Untung seorang nelayan plus staff kebersihan yang kami temui di Tanjungan kemarin sore, dengan bijaknya memberi kami tips untuk nyaman dalam perjalanan meski ombak sedang mengamuk. Gini Tipsnya, secara angin sedang bertiup dari barat, kami disarankan untuk duduk didek kapal paling bawah, sebelah kiri, karena dilihat dari datangnya, ombak datang dari kanan. Laki-laki yang mengaku bernama Rey itu juga memberikan banyak wejangan tentang alam, “Jangan menentang The Mother Of Nature”, katanya. Ombak jangan dilawan neng, ikutin aja kemana dia mau, dijamin neng malah tidur dibuatnya, ombak ibarat pacar yang lagi ngambek minta perhatian, sok atuh neng, diperhatiin, diliatin aja gimana ombak itu pasti semua akan baik-baik saja. Kalo masih takut juga pakai Ipod atau dengerin musik, dan jangan lupa minum obat anti mabok, atau Tolak Angin cair, heheh teuteup yah iklan belakangannya. :PPPP
Bener juga ternyata, semua awak nampak tegang ketika kapal mulai bergerak, lima menit yang lalu saya sudah menenggak Tolak angin dan memasang headphone ditelinga saya. Suara merdu Katon Bagaskara melantunkan lagu-lagu santai yang manis, membuat saya seperti bukan sedang di laut, tapi Jogja, heheheh. Gak berasa apapun, padahal ombak diluar sana sangan ganas menyerang kapal kami, tapi anehnya, saya malah seperti sedang dihipnotis, tak sadarkan diri lalu, bangun-bangun kapal sudah mulai merapat di Pelabuhan Muara Angke. Yuhuuuuuuuuu..

TIDUNG – PART II

Rasa penasaran dan tidak puas mengguncang-guncang hari kami setelah seminggu lalu sia-sia menjelajah Pulau Tidung. Fenomena angin barat itu membuat kami malah jatuh cinta sama pulau yang terkenal dengan Jembatan Cinta-nya itu. Bergegas saja pasang status di situs pertemanan paling yahuud, Anyone for Tidung this weekend?, alamak para Gatelers yang bales lumayan banyak, disetujui akhirnya ada 13 orang yang terserang virus Kakigatel. Semua persiapan dan itenerary disebarluaskan, lagi-lagi kami bukan Trip Organizer, pasalnya setiap trip yang kami buat, you have pay Just your own. Trip kami juga bukan kayak trip kebanyakan yang doyan pake penginapan, kami backpackeran to the max seperti bawa tenda, the whorst case nya bagi yang gak punya tenda tidur dipantai pake sleeping bag saja.heheh.
Sabtu pagi itu 13 orang berkumpul di Terminal Grogol, diantara 13 orang ikut juga beberapa sahabat kami, bule-bule narsis yang doyannya jalan-jalan dan karokean mulu *sigh, satu teman kami dari Jepang juga sangat antusias snorkling di laut Pertiwi ini. Lagi-lagi busway menjadi pilihan paling ekonomis dan praktis untuk mengakses Terminal Grogol. Disambung mikrolet merah B01, menuju Pelabuhan Muara Angke, 5000 perorang jadi harga oke untuk gak susah-susah becek-becekan sepanjang area pasar ikan di pelabuhan, alias turun di spot bersih dan terdekat apalagi kalo bukan SPBU. Yang perlu diingat, scedjule kapal yang beredar sepanjang Kepulauan Seribu biasanya hanya ada 2 kali sehari, pagi di jam 7.30, dan siang hari di jam 13.00. Gak boleh telat, karena gak ada rikhsah bagi anda-anda yang telat, meski cuma 5 menit. Ini terjadi pada kunjungan pertama saya di Pulau Tidung seminggu lalu, 2 teman saya terpaksa gagal berangkat akibat telat, padahal cuma 10 menit lagi sampai.
Bujuggg dahh, spontan logat Betawi saya kumat ketika melihat pemandangan super duper crowdied di area pelabuhan, orang dalam bentuk group begitu banyak, kayak antre sembako murmer. Saya menghela nafas panjang, berpikir positif, secara kan kepulauan seribu banyak, gak mungkin juga semua pada mau nyangkut di Pulau Tidung saja. Tetapi pyufhtt, KM Raksasa yang kami tumpangi sudah penuh dengan penumpang, bahkan sampai di lantai atas. Kami sepakat meninggalkan backpack kami di dek bawah dan bermain angin di dek depan kapal. Sayang, lagi-lagi cuaca kurang mendukung, cloudy banget, tetapi ombak lumayan bersahabat, melewati beberapa pulau seperti Bidadari, Onrust yang terkenal sebagai Pulau Kuburan, Pulau Kelor yang terkenal dengan Dutch Fort-nya itu. Asyiikk, sayang gak selamanya memang hidup ini mulus, setelah melewati pulau-pulau unik itu, ombak mulai menggerutu pada kami menginjak jam ke 2. Dari kejauhan pun, aroma hujan dapat tercium dan terlihat, berupa awan hitam dan rintik keras air yang jatuh. Tak ayal, awak kapal yang berada di depan dek diungsikan kedalam, itupun masih penuh perjuangan keras, bahu membahu memegangi satu demi satu para perempuan nekad yang tetap duduk didepan dek, termasuk saya.
Ombak kian dahsyat, kapal diguncang-guncang sangat keras hingga hampir karam atau terbalik, aroma (maaf) muntahan juga tak kalah dahsyatnya tercium disepanjang bagian dalam dek. Semua orang sudah tergeletak tak berdaya, ada yang mengutik-utik untaian tasbih ditangannya, ada cowo yang dengan romantisnya memeluki sang pacar, meski akhirnya doi jackpot duluan. Ombak ini benar-benar dahsyat, beberapa keluarga terpisah, seorang bapak sudah hampir tewas karena mabok laut, sedang si anak terbengong-bengong kayak sapi ompong dengan plastik hitamnya yang sudah berisi muntahan yang berantakan. hufftt. Ada juga yang sibuk fokus dengan mempraktekan Yoga pernapasan agar tidak mabuk laut. Saya cuma geleng-geleng kepala melihat fenomena ini, seorang ibu yang duduk disamping saya pun menawarkan permen mint untuk si nona Jepang yang sudah pucet dan pyuuuuk abis-abisan. Gak mau di bawa panik, saya mulai ngobrol panjang lebar sama si ibu dengan dua anak itu. Gak jauh-jauh dari fenomena ini topiknya, doi yang punya cara menghindari mabuk laut dengan tidak memakan makanan berat apapun sebelum perjalanan, memberikan tipsnya pada saya. Saya cuma ketawa nyengir sambil cecelingukan melihat semua orang sudah mulai pegang plastik satu-satu. Bukannya sombong kalo saya cecengiran aja, selain sudah pernah membaca kondisi ini, saya jadi mudah belajar untuk menghandle-nya. Jadi ingat pesan bang Rey, ikuti saja kemana ombak pergi, maka semua akan baik-baik saja. Dan memang sekali lagi ini buktinya, saya gak terpengaruh apapun dengan ombak sedahsyat ini, meski ternyata susah juga memfokuskan badan untuk lunglai dalam kondisi sekitar yang sudah awut-awutan.
Untung hanya sejam, whatt sejam, heheheh. Akhirnya dua jam setengah yang dahsyat itu membawa kapal merapat ke sebuah pelataran yang sudah dipenuhi orang. Lagi-lagi jetleg melanda awak kapal, jalan sudah kayak zombie mencari mangsa, untung matahari mulai bersinar, menghangatkan badan kami yang sudah hampir kaku karena gelombang.
Dari sini kami sepakat untuk menyewa sepeda, seharga 15 ribu perhari, bukan cuma karena malas jalan ke area nenda yang masih 3 km tersebut, speda ini kami sewa untuk lebih mudah menjelajah pulau Tidung saat Sunset nanti. Jangan pikir pulau Tidung ini kecil, populasinya saja sampai 3000-an orang. Dalam wacana kepemerintahan, Pulau Tidung merupakan sebuah Kelurahan dari Kepulauan Seribu disebelah selatan. Kecamatannya terletak di di pulau yang tak jauh darinya, Pulau Pramuka. Seperti yang sudah disebutkan kemana-mana, Tidung terkenal dengan dua bagian pulaunya, Tidung Besar dan Tidung Kecil. Tidung besar merupakan pusat pemukiman masyarakat, sedangkan Tidung kecil konon merupakan lahan Mangroove milik Departemen Pertanian yang hampir gak ada penghuninya. Kenapa saya bilang hampir, karena ternyata di Pulau Tidung kecil terdapat penghuni setia yang sudah masuk liang lahat, makam itu disinyalir sebagai Panglima Hitam dari Malaka, orang pertama yang menginjakan kaki di pulau ini. Menurut sejarah Djakarta, fakta mengatakan pulau ini memang dulunya merupakan hasil jajahan Fatahillah dari kekuasaan Raja Malaka.
Seperti kembali ke masa kecil, semua antusias memilih sepeda dan mengayuhnya hingga area Tanjungan. Tanjungan sendiri adalah spot utama dari Pulau Tidung, dikawasan ini area nenda diizinkan, disini pula pautan-demi pautan kayu Jembatan Cinta itu bermula. Pemandangan telaga yang landai itu pun mengelilingi sekitar antara pulau Tidung beasr dan Tidung kecil. Disini juga aktivitas para pengunjung tumpah ruah, dari atraksi loncat indah, berenang, banana boat, sampai snorkling ada disekitar kawasan ini. Warung makan tak kalah bersaing menyediakan berbagai menu makanan, dari yang ringan macam gorengan hingga nasi goreng, plus kelapa muda yang menggugah selera.
Disalah satu sebuah warung, miliki Pak Udin namanya, kami berlabuh untuk makan siang, mereka dengan sangat ramah menawarkan kami tidur di warungnya nanti malam, tak usah susah buka tenda, karena warungnya selain luas juga beratap terpal yang kuat. Aktivitas keliling pulau dimulai, foto-foto narsis dan unik mulai bertebaran, dari mulai jembatan Cinta yang panjangnya hampir 3 km tersebut, sampai pelosok pulau Tidung Kecil. Kami terbelalak kaget, dengan kondisi Pulau ini, pulau ini sudah layaknya pasar rakyat, mulai dari produk makanan, miuman, alat-alat rumah tangga seperti kasur sampai alat masak, perlengkapan kantor sampai mainan anak-anak hadir disini, dipulau ini, suwerrr rameee banget nih pasar, pasar sampah maksudnya. Semua yang saya sebutkan sudah berupa sampah, bahkan kami menemukan pecahan tabung TV yang masih utuh di tepian.
Bagi sebagian pengunjung, prasangka buruk tentang edukasi rendah masyarakat disini tentang kebersihan memang sudah biasa. Tetapi perlu anda pikirkan lagi, apa iya sebodoh itu masyarakat Tidung untuk tega membuang komponen sampah-sampah aneh itu? Jelas saja tak sepenuhnya begitu. Perlu kamu ketahui, sampah-sampah raksasa ini merupakan sampah kiriman dari Jakarta. Jadi begini penjelasannya. Seperti yang telah saya bahas pada artikel sebelumnya, kehidupan di pulau memang sangat lekat dengan yang namanya musim angin, disekian banyaknya musim angin, angin tenggara merupakan biang dari timbunan sampah tersebut. Konon musim angin tenggara disebut juga musim sampah, gak cuma ditepian pulau, disepanjang laut dari Jakarta menuju Kepulauan Seribu akan dipenuhi sampah-sampah gak jelas yang datangnya konon dari spot-spot di Jakarta, seperti Manggarai dan sekitarnya.
Yang lebih tragis, beberapa habitat star fish masih berjuang hidup diperairan sekitar ujung pulau kecil ini. Tetapi jelas warnanya tak seindah di Krakatau, putih kelam dengan lumut-lumut tebal. Pulau yang terletak disebelah timur Tidung besar ini juga dimanfaatkan oleh Departemen pertanian sebagai lahan hidup bagi para Mangroove.
Setelah hujan sempat berdesir, akhirnya menjelang sore matahari bersinar, kami mulai berjalan menyusuri telaga landai itu menuju spot snorkling. Berkelahi dengan karang, ouch-ouch berkali-kali saya mengaduh karena sekitar spot tersebut merupakan karang tajam. Setalh penuh perjuangan, kami memulai penjelajahan bawah laut, yuhuuuuu, cantiiikkk banget, meski tak semeriah alam laut Krakatau (maklum deh secara baru snorkling di krakatau doang), ikan-ikan disini banyak banget, dan berwarna takjub. Berulang kali tangan saya gemas meraih-raih binatang air itu, seneeeng baget dehh, rasa senengnya melebihi rasa seneng punya pacar dua, hahahaha.
Usai main dengan ikan-ikan dan karang, kami melipir kebagian barat pulau ini untuk menikmati moment sunset, kami mengayuh sepeda perlahan, huuuwwhh jauh juga ternyata, Tidung besar gak sekecil yang saya kira, masih 5 km lagi menuju ujung barat pulau ini dari pelabuhan. Pulau ini juga punya gedung kepemerintahan yang oke banget, sekolah-sekolah dan pondokan pun nampak luas dan catik dengan taman-taman yang indah.
Meski akhirnya gak dapat moment sunset yang sempurna, kami tetap senang sudah menjelajah keseluruhan pulau Paradise ini. Setelah mandi dan bersih-bersih, kami menikmati makan malam dari warung pak Udin. Tikar-tikar mulai ditebar setelah makan malam usai, sleepingbag masing-masing pun sudah ikut serta mengalasi kemudian, kami putuskan untuk tak buka tenda. Karena saya terlalu lelah, tak lama setelah alas tidur itu digelar rapi, saya rebahan tak berdaya menikmati pegel-pegel luar biasa, tapi senang tak terkira. Lainnya masih riuh tertawa dengan game-game usil nan unik yang mereka mainkan. Hingga akhir jam 11 malam, saya tengok suasana sekitar, sudah sepi, dan terlelap tidur.
Lagi, lagi saya, dan kami semua dibangunkan oleh badai, jam 4 pagi badai mulai menyeringai tanpa permisi, beberapa dari kami terbangun dan terjaga gara-gara ini, saya yang sudah tau kondisi macam itu, enak saja terlelap tidur. Untungnya badai ini tak sehebat badai malam seminggu lalu, sebentar badai itu tenang dan membawa kami ke pagi hari yang indah. Meski tertutup kabut, akhirnya Sunrise indah juga bisa kami nikmati. Sejenak setelah foto-foto keluarga dan sarapan pagi, kami bergegas kembali ke pelabuhan menuju Jakarta. Siaaaalll, saat kami pulang, matahari bersinar dengan cerahnya, langit biru cerah digelayuti beberapa gundukan awan putih. Seakan sedang membujuk kami agar tidak kembali ke Jakarta, hifftytt, tapi untung juga sih, perjalanan pulang yang sudah kami takutkan akan seperti kemarin, cuma mimpi, tak ada ombak berarti, tak ada angin, yuhuuuu, terpaan sinar matahari ke air laut, membuat gemintang berlian yang tak ada habisnya, disusul atraksi para Jet Ski-er yang lalu lalang sekitar kepulauan seribu makin membuat kami tersenyum habis-habisan.
Belum puas jalan, kami singgah di Mall Taman Anggrek untuk makan siang, foodcourtnya doang kok, heheheh. Wajah kucel dengan jinjingan tenda dan sleeping membuat puluhan mata tertuju pad akami, belum lagi, kendaraan yang mengantarkan kami sampai lobi mall adalah mikrolet merah itu, heheheh. Udah kayak pengungsi Jepang yang habis kena tsunami, bedanya cuma di wajah-wajah kami penuh keceriaan yang mendalam, bukan kesedihan. Thanks God to all your Gifts.

Leave a Reply