| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

KOTA BANGALORE

Tidur di penginapan atau tidur di bus ternyata sama dinginnya. Saya masih bersedekap dengan mata setengah melek, menengok langit diluar jendela. Titik-titik embun merayapi kaca jendela bus, membuat kepala yang saya sandarkan merasakan lebih jelas hawa dingin diluar. Sudah pagi ternyata, sudah jam 7 bahkan. Saya terlelap tidur meski jalan-jalan menuju Bangalore semalam lumayan rusak, layaknya jalur pantura yang dipenuhi kontainer-kontainer besar saat malam tiba. Bus merambat lambat sekali, antree dengan puluhan kontainer. Harusnya tiba di terminal Bangalore pukul 7, tapi sudah pukul 7 pun bus masih bergerak menuiju arah masuk kota Bangalore. Obat Panadol yang saya minum untuk meredakan flu dan batuk, bekerja hebat, saya dibuat masih super ngantuk pagi ini.
Bangalore pada jam 7 pagi pun masih tak terlihat, tertutup oleh kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk. Baru setelah jam 9 pagi, Bangalore menampakkan cakramnya sebagai salah satu kota besar di India. Ruas jalan dengan 2 line yang lebar, jembatan layang, juga underpass, dilengkapi dengan gedung-gedung pencakar langit yang menyediakan berbagai fasilitas dari tingkat kecil, menengah hingga yang middle up. Entah dimana kami diturunkan, kota ini terlalu besar, dengan jalan-jalan bercabang dan memutar. Kami bergegas mencari terminal bus kota ini, maksud hati mau naik bus lokal atau malah jalan kaki saja menuju Avenue Road, lokasi tempat penginapan kami, sayangnya komunikasi super a lot membuat kami mengurungkan niat tersebut. Untungnya dengan autoricksaw pun cuma sebesar 50 INR, atau sekitar 10 ribuan. Gak sampai 10 menit kami diboyong sang supir kesebuah pasar tumpah, dibawah underpass yang masih dalam renovasi. Entah habis hujan atau apa, jalanan dipasar tersebut becek alaicek deh, dari mulai pisang, hingga bunga-bunga sesajen dijual tumpah ruah disisi jalan.Uhh, saya langsung membayangkan bagaimana hotel tersebut yang lokasinya tak jauh dari keramaian itu. Tapi, not bad juga sih, hotel ini hanya 100 meter dari jalan raya, meski penampilannya kayak ruko, tapi lumayan lah buat istirahat, bukan lumayan lagi rupanya, meski kami dapat kamar dilantai 5, kamarnya luas banget kayak presiden suit loh, over bed pula, lumayan bersih, tetapi untuk harga 400 INR (Rp.80.000) ini sudah termasuk murah banget, secara kan Bangalore itu statusnya hanya kota besar, bukan cenderung sebagai tempat wisata. Pelayanannya oke, seperti di hotel berbintang, sebuah harian surat kabar pun diselipkan dibawah pintu kamar setiap paginya.
Lamat-lamat saya tengok ke jendela, pemandangan kota Bangalore sekitar nampak tumpah ruah. Ibukota dari propinsi Karnataka ini terlatak disebelah selatan Karnataka. Perkembangan tingkat populasi dan taraf kehidupan di kota ini terkenal sebagai salah satu yang paling tinggi dan tercepat di Asia. Dari zaman abad ke 14, tepatnya saat Raja Verralabba, salah satu penguasa Vijayanegara itu memberikan nama kepada daerah ini sebagai “Benda Kalu Ooru” atau daerah kacang rebus, kota ini kemudian berkembang dengan pesat menjadi basis urban life yang memiliki fasilitas lengkap dan modern, termasuk dalam bidang industri IT. Yah, kacang rebus, konon sang Raja tersesat dalam perburuannya kala itu, dan seorang nenek dengan baiknya menawarkan makanan berupa kacang rebus. Keemudian berbekal dari kearifan sang Raja, daerah ini kemudian di katakan sebagai Benda kalu oruu, yang kemudian dalam transliterasi ejaan tersebut diucapkan sebagai Bengaluru.
Lain dengan Delhi yang masih menyimpan banyak sightseeing sejarah, kota Bangalore memang benar-benar didominasi oleh kemodernisasiannya sebagai kota metropolitan. Tak banyak sightseeing ala backpacking yang dapat dinikmati, kunjungan kami bahkan hanya sekedar muter dan bersantai menikmati kota yang terkenal sebagai Garden City ini. Bangalore jelaslah luas, terlalu lelah untuk ditelusuri dengan berjalan kaki, meski terkadang memang menyenangkan. Siang ini, berbekal map gratis yang diberikan hotel, kami nekad menelusuri jalan perkotaan dengan jalan kaki. Huuuhh, meski panas, tetapi hawa tetap terasa sejuk, kami menuju kawasan MG. Road (Mahatma Ghandi Road), boleh dibilang kawasan ini seperti Thamrin nya Jakarta, penuh dengan perkantoran, hotel-hotel mewah, pusat perbelanjaan, taman kota, sekolah tinggi, pusat keagamaan dan fasilitas penting lainnya. Lepas dari MG Road, Bangalore sebagai kota besar juga memiliki gedung-gedung kepemerintahan yang luar biasa mewahnya. Istana presiden di bilangan Jakarta atau Bogor masih kalah megahnya. Yang tercatat sebagai bangunan penting di kota ini salah satunya Vidhana Soudha, High Court, Cubbon park, Bengaluru palace, dan lainnya.
Kami sempat mampir ke kantor government of India Tourist untuk mengecek beberapa rangkaian tour yang disediakan kota ini. Gak banyak yang menarik kecuali kemodernisasian kota ini dan Istana Mysore, yang terletak di luar kota Bangalore. Get lost- get lost dikit sih biasa, sampai laper itu juga biasa, heheh. Terkena virus urban life, kami mampir di restoran Subway yang terkenal itu, ini pertama kalinya buat saya makan sandwich segede gajah itu dengan sayur-sayuran yang segarnya kayak gadis desa, hahah. Ennak banget, padahal waktu pesan saya gak exited-exited amat, mengingat saya bukan pecinta sayur mayur. Tetapi, bersama sebotol coke, sandwich segede badan bagong itu habis saya lahap. Entah mahal atau terbilang murah, untuk 2 menu sandwich dan minum plus kentang goreng harga berkisar 360 INR. Dan dijamin, gak ada rasa karii nya, heheh.
Usai dengan urusan perut, kami masih bingung mau kemana, hmm lagi-lagi kami terkena imbas metropolitan style nya Jakarta, hobi nonton pun beringas mengantarkan kami ke sebuah mall ternama di Bangalore, Garuda Mall. Kalau diamati dari pengunjung dan fasilitas, mall dan kawasan sekitarnya ini seperti Grand Indonesianya Bangalore, heheh. Barang-barang branded sampai foodcourt degan menu internasional tersedia. Nonton di Bioskop India, keinginan narsis itu akhirnya terlaksana di mall ini. Ibarat Megablizt di Indonesia, INOX memiliki peranan penting dalam dunia industri layar lebar di Bangalore. Gak seperti bioskop lainnya, INOX menyuguhkan menu film dari yang berbahasa lokal hingga English Subtitle. Tak tanggung-tanggung mereka memberikan fasilitas 2 studio untuk setiap film layar lebar, orang lokal masih bisa menikmati film-film barat dengan bahasa Hindi atau bahasa setempat. Wisatwan juga dijamu dengan studio khusus dengan bahasa Inggris. Bisa ditebak, kalo masuk ke studio ala lokal, film nya sudah pasti cenderung Hindi to the max. Soal update film di kota ini lumayan, masih lebih uptodate di Indonesia. Setelah hampir 3 bulan film 2012 booming di Indonesia, film itu jadi headline list movie di INOX, hehehe. Studionya sih gak kalah sama Megablizt di Jakarta, tetapi satu pengalaman unik nonton di India, sungguh buat kami tertawa terbahak-bahak. Bayangkan saja, film yang diputar harusnya full 2,5 jam itu berhenti ditengah-tengah, alias break, tak tanggung-tanggung, waktu break nya hampir 20 menit, hohoooo, tukang pop corn dan waitress di restoran frainchais sekitar bioskop pun menyodorkan menu-menunya. CPD, ilang feeling gituh gw nontonnya lagi, hahahah. Peraturan ribet juga terjadi sebelum kami masuk theatre nya, Arta yang membawa kamera, tidak dipersilahkan masuk, harus titip kamera di locker barang, bujuggg dah, nyuruhnya kayak nyuruh nitip kacang goreng. Secara itu kamera LSR, Arta tetap kekeh membawa kameranya, dengan syarat, baterai kameranya dititipkan oleh petugas, padahal kalo mau punya niat jahat mah bisa saja, wong di kantong Arta satunya ada baterei cadangan kok, heeheh. Ngatree tiketnya juga aduuuhh, kayak nonton tayangan perdana gituh deh, heheh, harga tiket juga lumayan mahal, berkisar 35 ribuan. Tetapi cukuplah membuat kami merasakan pengalaman nonton di bioskop India, hahah. Padahal menurut beberapa info yang kami dapat dari teman kami di India, kalau nonton film dibioskop lokal malah lebih seru, apalagi kalau yang diputar film India Asli, meski cengo dengan bahasanya yang honocoroko, tetapi kamu akan tetap terhibur dan dibuat sakit perut dengan ulah narsis para penontonnya. Sudah jadi rahasia umum, film India khas dengan lagu-lagu dan tarian selingannya, nah biasanya dalam momen itu, para penonton ikut-ikutan bernyanyi dan menari di dalam bioskop, fakta kalau orang India gak bisa liat tiang atau pohon sedikit saja, kursi pun jadi buat pegangan, wkwkwk, membayangkannya saja saya ngakak.com. 😀
Oh yah, Bangalore juga disebut-sebut kota pelajar loh, banyak mahasiswa rantauan yang menimba ilmu disini, pasalnya di kota ini banyak bercokol universitas besar bertaraf internasional. Dalam hal pendidikan, pemerintah negeri Mahatma Ghandi ini memang memberikan fasilitas dengan kualitas pembelajaran nomor wahid dibanding negara Asia lainnya. Beasiswa yang dilayangkan untuk para mahasisawa di seluruh dunia, membawa mahasiswa rantauan melabuhkan sekolah tinggi nya disini. Kota ini seperti bukan India, karena penghuninya kebanyakan sudah berbaur dengan expatriat. Pemandangan wajah-wajah bule dan oriental sudah menjadi hal lazim disini. Bahkan kami bertemu beberapa mahasiswa dari negara tetangga (Malingsia), sedang menikmati weekend mereka dengan jalan-jalan ke mall, nonton, ke toko buku, belanja, ngafe, makan-makan bahkan ke salon.
Makan-makan sudah, jalan-jalan dan hiburan juga sudah, saatnya memikirkan perjalanan kami selanjutnya. Setelah 2 hari di tanah antah berantah, kami memutuskan untuk back to sivilization hari ini, tetap dengan destinasi esok hari. Dari kawasan Jalan MG yang diguyur gerimis lumayan lepek kalau jalan, heheh, kami bergegas menyetop becak menuju Stasiun kereta api dibilangan jalan Gubbi Tothadappa, City Train Station. Seperti sebelumnya, dengan mudah kami mendapatkan tiket kereta dengan tujuan selanjutnya. Menurut rencana masih disekitar Bangalore, kami penasaran mengunjungi sebuah Istana, yang konon megah dengan sejuta lampu saat malam tiba, di kota Mysore tepatnya. Sayang, dari Bangalore, kereta kelas ekonomi gak available, adanya cuma 1st Class AC. Berhubung belum pernah coba naik yang 1st class AC selama di India (kecian ammmat), jadi kami iya kan saja tiket 1st class seharga 305 INR perorang tersebut. Gak mau ribet, kami juga memboyong pulang tiket menuju destinasi selanjutnya setelah Mysore, Kochuveli atau Kovalam, yang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Yuhuu, pantai lagi pantai lagiiii..
Bangalore malam hari masih nampak berdenyut hebat, saya tengok dari jendela kamar, aktivitas perdagangan masih ON hingga pukul 10 malam, teriak para pedagang masih sibuk mengisi keramaian. Sumber suara lagu-lagu pujian dari masjid sebelah juga menghiasi malam yang sudah gaduh dengan klakson bajaj-bajaj yang hilir mudik. Huuuh, malas berjalan lagi, saya hanya turun membeli banana untuk makan malam, heheh. Tetapi tetap saja tidur saya lelap, apalagi dengan kasur yang seluas sawah nyai gw, ditambah AC plus kipas angin, heheh. Tiga hari di kota metropolitan Karnataka ini sangat menyenangkan, sayang seribu kaliii sayang, sampai nangis darah kawan-kawan, kota ini di kisah perjalanan kami hanya menjadi “kota yang hilang”, pasalnya karena insiden kesalahan tekhnis waktu upload, foto-foto keren itu langsung goooooone, bahkan beberapa usaha untuk recovery pun gagal total. Arghhh, sampai sekarang pun saya masih tidak mengerti kenapa bisa terjadi, sudah kehendak mungkin, agar kami kembali suatu saat nanti.. aaamiiiin. *senyum sedih

Leave a Reply