| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

KRAKATAU, AS GIVEN BY GOD

Tak henti-hentinya saya memuji keagungan Tuhan yang disuguhkanNya kepada saya selama ini. Pemandangan indah demi pemandangan indah pun terhampar dibumi kelahiran saya di sekitar tanah Jawa. Badan sudah tergolek di kelambu putih, tapi berkali-kali hantaman ombak itu masih menari-nari di ingatan saya. Dengan 20 orang lainnya saya meluncur ke Sumatera weekend ini untuk menjelajah kepulauan di Selat Sunda. Siapa yang tak kenal dengan Krakatau, seluruh dunia mengenalnya sejak tragedi “bunuh diri”nya tahun 1883 silam. Film sejarah terbaik “The Last Day” pun mengukir kenangan hitam yang cemerlang di hati para penduduk Indonesia dan beberapa negara lainnya yang diperlakukan sebagai korban masa itu.
Krakatau sejatinya adalah sebuah kepulauan vulkanik yang bercokol di kawasan Selat Sunda, terletak diantara Lampung dan kepulauan Banten. Gunung ini tercatat dalam The Guinness Of The Book sebagai ledakan terdahsyat yang pernah terekam dalam sejarah. Bertolak ke masa silam, Letusannya yang konon melebihi dentuman bom atom yang mengguncang Hiroshima pada PD II tersebut, melahirkan cikal bakal gunung baru yang terbentuk setelah 40 tahun dari jenjang waktu letusan. Sepertiga tubuhnya yang luluh lantak pun kemudian menyisakan tiga pecahan pulau, orang sekitar menamainya pulau Panjang, pulau Sertung, dan pulau Krakatau besar. Seiring berjalannya waktu, ibarat pelangi setelah badai, kepulauan ini kemudian menuai pemandangan indah yang kemudian mengundang para pengunjung baik lokal atau wisatawan untuk menjelajahi misteri keindahan dan kehidupan di pulau tersebut.
Pulau Rakata, alas dimana Anak Gunung Krakatau tumbuh kian besar dan tinggi, kini menjadi salah satu pilihan wisata trekking yang diburu para wisatawan mancanegara. Letaknya yang berada diantara perairan selat Sunda, mengundang anda untuk singgah dikedalaman wisata bahari Indonesia yang menyediakan spot-spot terbaik. Berbagai aktivitas outdoor, seperti trekking jadi lebih amazing ketika diselingi acara snorkling, bahkan diving.
Berbagai itenerari sudah kami persiapkan dua minggu sebelumnya, untuk menyiasati cost perjalanan, kami sepakat untuk menggenapi peserta sebanyak 22 orang max (menurut max jumlah boat yang berlaku), tentu saja kami bukan berlaku sebagai Trip Organizer yang seperti bayangan orang kebanyakan. Kami lebih fokus untuk berbagi pengalaman, baik trip bersama secara langsung ataupun lewat cerita kami di jurnal ini. Tak hanya kalangan dari komunitas Couchsurfing, orang-orang yang berasal dari silahturahmi situs jejaring Facebook pun ikut serta meramaikan.
Menurut letaknya, kepulauan Krakatau dapat diakses melalui beberapa jalur. Dengan Kapal Phinissi Nusantara, anda akan diajak berkelana gaya koper melalui pelabuhan Tanjung Priuk di Jakarta. Jalur kedua melalui kawasan Labuhan Banten, jalur ini sedikit ekstrim, karena terkenal dengan gelombang ombak yang gak lembut sedikitpun. Nah, kini ada jalur lebih aman untuk mengakses kepulauan Krakatau, yaitu melalui jalur Lampung, tepatnya melalui dermaga Canti, sekitar satu jam perjalanan dari Pelabuhan Bakaheuni. Tetapi apapun jalurnya, waktu terbaik untuk melakukan penjelajahan adalah di musim kemarau, selain cuacanya yang dijamin biru mempesona, aktivitas ombak pun tak sedang bergelora. Tetapi, tak ada salahnya jika anda pergi dibukan musim tersebut, asalkan anda tetap mengupdate cuaca yang sedang berlangsung di beberapa hari kunjungan anda.
Kami sepakat untuk menggunakan jalur ke tiga saja, mengingat cuaca juga tak menentu akhir-akhir ini. Rute perjalanan nya adalah Jakarta – Merak – Bakaheuni – Dermaga Canti – Krakatau. Dari bilangan kota Jakarta yang masih sibuk, kami bergegas berkumpul di terminal Kalideres. Sebenarnya, terdapat beberapa transportasi yang menyediakan rute perjalanan menuju Merak. Untuk jenis transportasi kereta api, hanya ada dua jadwal keberangkatan dari Stasiun Kota, yaitu di jam 8 pagi, dan jam 1 siang. Kami memilih untuk menggunakan bus karena perjalanan sepakat dimulai setelah jam kantor usai. Untuk transportasi bus, terdapat beberapa terminal besar yang menyediakan rute ke Pelabuhan Merak, yaitu terminal kampung Rambutan, Lebak Bulus, Pulo Gadung, dan Kalideres. Sekali lagi kami memilih terminal Kalideres, karena terminal ini melayani rute ke Merak 24 jam. Walaupun memang agak susah dan lama untuk mengakses Kalideres dari kemacetan Jakarta. Busway adalah salah satu pilihan ok untuk hal menyebalkan yang satu itu.
Tepat pukul 22.45 bus Kalideres – Merak mulai bergerak, satu setengah jam kemudian kami dibangunkan kondektur saat bus sudah masuk di areal terminal bus di Pelabuhan Merak. Maklum, mayoritas diantara kami adalah pekerja, butuh waktu istirahat ekstra untuk hal menakjubkan esok hari. Dengan muka-muka bantal, kami bergerak menuju loket tiket, harga tiket Rp.11.500, kamu harus menyebutkan nama, umur, dan alamat kepada petugas tiket untuk didata. Jangan menginformasikan data yang palsu yah, pasalnya data diri anda tersebut meski sepele, akan menjadi bermanfaat jika terjadi suatu halangan dalam perjalanan.
Beruntung kapal feri bernama Raja Basa itu memiliki fasilitas ok dan bersih. Anda tinggal pilih mau berlabuh dikelas mana, kelas 1 seharga 10 ribu rupiah, anda disuguhkan ruangan no smoking, ber AC dengan sofa-sofa berjejer cantik dengan meja. Fasilitas hiburan live music atau karoeke dapat anda nikmati selama perjalanan, diwaktu-waktu tertentu, saat sudah larut, tak ada aktivitas hiburan didalam ruangan tersebut. Di kelas dua seharga 5000 rupiah, tak jauh beda dengan ruangan kelas 1, bentuknya seperti cafetaria dengan bangku biasa. Dikelas 3 (free) ada bangku biasa, tetapi anda bisa tiduran diatas kursi kayu panjang, dengan catatan jika penumpang tidak banyak. Atau yang mau lebih asyik lagi, anda bisa menikmati perjalanan sepoi-sepoi di dek kapal dengan menggelar tikar atau sleeping bag, seperti yang dilakukan beberapa teman kami yang gak kebagian tempat di ruangan 1.
Sebenarya perjalanan dari Merak ke Bakaheuni hanya berkisar 3 jam saja, sayang lama waktu kapal ini merapat saja sudah menghabiskan 30 menit, belum lagi antri untuk keluar. Kami tiba di Pelabuhan Bakaheuni pukul 5.30 pagi, berangsur hari mulai terang. Sebagaian menunaikan sholat Shubuh di Mushola, ada juga yang masih terperangah oleh tulisan Bakaheuni, tak menyadari dirinya sudah menginjak tanah Sumatera, heheheh. Angkutan mikrolet hasil carteran pun sudah menunggu dipintu keluar, 2 angkot siap mengantarkan kami ke Dermaga Canti, Pak Udin yang mengemudikan angkot di group kami damai-damai saja, tetapi kehebohan terjadi di angkot ke dua, si Redho (bukan anaknya Bang haji Roma yak, heheh) supir yang mengaku anak kuliahan semester lima itu, rupanya kebanyakan gaya gara-gara kesengsem salah satu temen kami. Doi tanpa ampun menyetel lagu-lagu Dugem dengan volume seperti suara letusan Gunung Krakatau tahun 1883 lalu itu, heheh ada-ada saja angkot hari gini, udah kayak diskotik berjalan atau bahkan lebih mirip Stadium Club yang lagi jalan-jalan ke Lampung, secara masih jam 6 pagi booook, tapi itu musik menyeringai hebat ditelinga kami.
Lampung pagi hari masih berkabut, jalan raya full dipagari oleh segelintir pepohonan seperti hutan belantara, sebuah atap bangunan unik yang disebut Menara Siger pun menarik perhatian kami. Menara Siger merupakan ikon kebanggaan propinsi Lampung. Beda dengan propinsi lainnya yang memperlihatkan lambang bergaya maskulin, Lampung malah memejeng ikon mahkota adat perempuan Lampung sebagai ciri khas pintu masuk propinsi ini. Empat puluh lima menit kami dibawa menyusuri liku-liku jalan di sekitar perairan lampung, melalui kabupaten Kalianda, lalu tiba di tepian dermaga Canti. Tak sabar menjelajah, kami segera menyendok nasi dan lauk pauk yang dijual oleh warung kecil disebelah dermaga. Harganya lumayan murah dengan varian lauk seperti telur, ayam dan ikan, berkisar 7000 hingga 10000 Rupiah plus minum.
Makan sudah, foto-foto keluarga juga sudah, hehehe, kami segera naik ke kapal motor hasil carteran sebelumnya. Lumayan murah loh, untuk sewa kapal motor, Pak Ayun si pemilik kapal memberikan harga 2,2 juta Rupiah untuk around trip. Maksimal penumpangnya dijatah 20 hingga 22 orang. Jadi kami patungan 110 ribu rupiah perorang. Kepulauan Krakatau tak hanya menyimpan gunung-gunung aktif yang menantang untuk di jelajahi, spot-spot wisata bahari seperti Snorkling juga banyak diminati. On the way to Gunung Krakatau atau Rakata, kamu bisa melakukan aktivitas nengok ikan dan karang dibawah laut alias snorkling. Dari dermaga Canti, KM Usaha Muda yang kami tumpangi segera bergerak menuju spot-spot penting untuk aktivitas snorkling. Pulau Sebuku Kecil, Pulau Umang, Lagoon Cabe adalah tiga diantara sekian banyaknya itenerari snorkling disekitar Krakatau. Perjalanan dari Canti ke Sebuku kecil memakan waktu hampir satu jam, ombak-ombak kecil menari-nari menggelitiki kapal motor kami, membuat kami kadang terjerembab desir yang tak biasa, seperti kaum muda yang hendak jatuh cinta, rasanya alias deg-degan kecil-kecilan.. cie cie.. lebayy 😛
Weuwww, air laut nampak bergradasi biru toska, digemintangi oleh pasir putih yang membentang di radius 100 meter mengelilingi pulau yang disebut Sebuku Kecil ini, semua awak kapal berlomba turun, seperti mengejar sebuah harta karun. Termasuk saya, penasaran saya dengan snorkling pun terlupakan sudah, sejak melihat “harta karun” yang terhampar ditepian pulau ini, karang-karangnya sumppppaaah, bagus-bagus banget, unik, dan lucu-lucu, impian jadi pengusaha galeri karang mulai membara lagi, saya kalap habis-habisan menjelajah pulau ini hanya untuk menjumput bentuk-bentuk karang dan mayat para penghuni tanah bawah laut yang lucu-lucu, heheh. Yang lainnya sibuk melihat penghuni asli tanah laut yang masih hidup, alias snorkling. Baru saja mengucapkan harap bertemu dengan Star Fish, gak sampai lima menit, kami menemukan Star Fish yang masih hidup, warnanya biru keunguan, dan jangan tanya tentang kegembiraan saya waktu itu, saya jingkrak-jinkrak di air, memeluknya, menaruhnya dikepala saya dan terbayang bermain dengan Sponge Bob, hahaha. Tetapi saya juga sedih ketika harus Say God Bye pada si Patrick Sebuku kecil itu, teman-teman sampai membujuk saya habis-habisan untuk tidak nekad membawa serta si Patrick pulang, ah saya seperti ingin menangis sejadi-jadinya gara- gara terbentur masalah hak hidup dan kelestarian. Iya teman-teman, si bintang laut pun berhak untuk hidup kan, jadi jaga kelestarian mereka dengan membiarkan mereka di habitatnya. Lagi pula kecantikan warna-warni mereka akan punah menjadi putih belaka setelah mereka tak bernyawa, dan jauh dari air laut.
Masih dirundung duka karena perpisahan dengan si Patrick, saya memandang sekitar diatas dek kapal, penuh dengan air, jauh berkilo-kilo meter dari saya pun isinya air semua. Sedang si kapal motor dengan tenangnya masih berjalan diatas air ini, haaarghh, saya mulai menitikkan air mata, betapa agungnya Sang Kuasa menciptakan segalanya di dunia ini, gak hanya aspal di kota, air laut pun dapat menjadi jalur utama perjalanan mengakses tempat lain. Gak sampai setengah jam, kami tiba di destinasi kedua, Omang-omang kecil namanya. Dari pemandangan dan keberadaannya, Omang-omang kecil memang jauh lebih indah dari Sebuku Kecil. Pasir putihnya super halus kayak sutera, heheh kayak tepung dehhh. Hahahah. Pulau ini bisa dijelajahi dengan jalan kaki, bebatuan besar tersusun rapi membentuk sebuah bukit kecil, ditumpahi oleh dedaunan yan menutup permukaan batu. Terdapat tiga spot berenang yang super deluxe disini, untuk snorkling, berenang di spot yang agak luas, dan satu lagi di balik bukit, terdapat spot berenang yang tersembunyi, namun asyik seperti miliki sendiri, hehehe. Saya gembira menjadi orang pertama yang menapaki spot tersembunyi itu, merasa jadi orang kaya yang punya pulau sendiri, heheheh.
Sudah tiba waktu makan siang, KM Usaha Muda tersebut mulai bergerak menjauhi dataran Omang-omang kecil, menuju Pulau Sebesi. Pulau Sebesi merupakan pemukiman yang paling dekat dengan Anak Krakatau. Tak sampai setengah jam kami tiba di Sebesi untuk makan siang. Yah, selain sebagai pemukiman, Sebesi dijadikan spot fasilitas untuk para wisatawan, penginapan ber-budget hingga cottage menawarkan anda keindahan lain dari biasanya. Untuk yang singgah makan siang pun, pulau ini menarik perhatian, karena selain pemandangannya yang indah, makanannya juga murah sekaligus nendangggg, dengan harga 15.000 Rupiah kamu bisa dapatkan nasi, sayur asem, ikan goreng, telur balado, tempe, plus kelapa muda dan buah, sungguh bikin kami kalap kayak orang sudah gak makan seminggu, heheheh.
Pulau ini gak cuma ramai dengan kehadiran group kami, beberapa group lainnya ternyata singgah disini untuk beberapa hari. Anak-anak lokal sekitar juga terlihat bahagia bermain di tepian pulau, dengan getek alias perahu mini, mereka menghabiskan waktu melompat-lompat dari perahu dan berenang sampai tertawa sakit perut, hahahah. Lalu terbesit pertanyaan, dimanakan sekolah yang seharusnya menjadi kebahagian mereka diusianya??
Hari beranjak lewat tengah siang, sebelum melabuhkan hari di Rakata Island, kami mulai mengarungi lagi lautan untuk menuju spot Snorkling berikutnya, Lagon Cabe namanya, spot ini berada dikawasan gunung Krakatau Purba. Perjalanan dari Sebesi Island biasanya memakan waktu 2 hingga 2 jam setengah. Jauh, dan paling menantang. Medannya yang merupakan laut lepas dari Samudera Hindia ini membuat ombak disekitar gak bersahabat sedikitpun. Berkali-kali jantung kami dibuat berdesir oleh goncangan kapal yang keras menghantam ombak, percikan air gak lagi memercik, tapi menumpahi dan membasahi kapal dan baju-baju kami. Tawa-tawa geli kami mulai berubah seperti teriakan mimpi buruk, wajah-wajah stress nampak di semua awak kapal. Berkali-kali pula angin berdecak hebat, membawa arus ombak kian besar, tapi mesin kapal nampaknya tak mau menyerah, terus menerjang setiap ombak dahsyat yang membuat diantara kami hampir mati karena mabok laut, heheh. Lebay lagi.com dahhh 😛
Hampir saja sampai di spot tersebut, gulungan ombak-ombak besar mulai mendekat dan berkali-kali menerjang, bayangan akan tsunami di Jepang pun menjadi derita pikiran saya berikutnya, apalagi setelah nahkoda kapal menyerah untuk melanjutkan perjalanan, karena mesin kapal motor tidak akan kuat menerjang ombak dan arus yang mengamuk dikawasan ini. Para awak kapal pun sudah mutung untuk melanjutkan, kami memilih menyayangi nyawa kami jelasnya, kapal pun akhirnya berputar balik di jalur lain menuju Rakata Island. Itupun ombak masih mengerikan mengguncang kapal kami, sebuah spot untuk snorkling pun akhirnya ditolak mentah-mentah karena rasa takut yang masih menghujam. Beruntung, perjalanan ini di mulai dengan doa, sedikit-demi sedikit kapal mulai menjauh dari arus besar itu, satu jam perjalanan kemudian akhirnya membawa kapal berlabuh di tepian kaki Gunung anak Krakatau, tepatnya Pulau Rakata.
*Black Sand – Berbeda dengan pulau-pulau lainnya, pasir di kawasan ini warnanya hitam pekat, airnya juga hitam gelap. Sisa-sisa abu vulkanik gunung ini pun beterbangan menyambut kedatangan kami. Kami segera mendirikan tenda di camping area kawasan cagar alam Krakatau. Tak tanggung-tanggung tujuh tenda didirikan, meramaikan sunset yang tenggelam temaram sore itu. Atraksi gaya yoga dipamerkan oleh teman-teman kami, dan subhanallah, diantara kami masih ada yang kekeh mengambil air wudhu dengan cara tayamum. Aktivitas malam gak kalah menariknya di pulau ini, selain api unggun dan paket makan malam dengan sontong – ayam, kami masih sempat bermain tebak-tebakan di tepi pantai, bahkan cerita-cerita horor, baik tentang aroma mistis yang bersemayam di pulau ini atau bahkan kisah-kisah mistis yang pernah kami alami. Aktivitas lainnya juga datang dari para pelaut yang singgah berlayar di pulau ini unttuk meraup ikan. Berhubung kami niat summit attack saat sunrise, istirahat pun dimulai lebih early. Namanya juga gunung berapi, kawasan tanah dan hawa panas disini sangat menyengat, baiknya jendela tenda dibuka saja, untuk melindungi kulit dari nyamuk dan serangga lainnya, kamu boleh mengoleskan lotion anti nyamuk. Jangan lupa bekas sampah makananmu dikumpulkan dalam satu wadah yah..

SUMMIT KELABU

Haiyyaa, karena terlalu lelah snorkling, kami jadi tertidur pulas hingga hampir fajar, untung si Kakigatel bangun dengan semangatnya yang selalu membara, doi langsung tepok-tepok tangan dan tepok jidat saya agar bangun dan bergegas. Ranger alias guide sekaligus nahkoda kapal kami pun bergegas memimpin pasukan 17 orang yang akan mendaki summit Rakata. Yupe, seperti yang sudah diumumkan oleh sang Ranger, perjalanan satu jam ke summit Rakata gak semudah yang dibayangkan, setelah mengalami gejala batuk-batuk akhir-akhir ini, jalur pendakian gunung yang masih berstatus waspada ini sudah mulai terputus akibat terjangan lahar yang menyapu kawasan hutan. Apalagi saat gelap, kalau gak dengan guide, mitosnya kamu bisa nyasar dan “hilang”. Beberapa kali saja guide kami harus berjuang mencari-cari jalan tembus menuju pelataran gunung tersebut. Hati-hati dengan ranting-ranting tajam yang memutus jalan. Jalur lahar dinginnya pun masih nampak jelas menjadi struktur dasar pegunungan beraroma belerang ini.
Baru setelah setengah jam muter-muter hutan, akhirnya jalur pelataran pasir pun tegak lurus hampir 90 derajat. Belum lagi hujan mulai turun dan angin bertiup kencang, alhasil harapan melihat sunrise putus dijalan, tetapi tidak dengan semangat kami untuk meraih summit yang hanya 500 meter lagi ketinggiannya. Medan berpasir mengingatkan saya pada jalur menuju Puncak Rinjani, tetapi jelas tak sesulit istana dewi Rinjani yang super ekstrim itu. Berkali-kali kami berhenti untuk beristirahat, melanjutkan pendakian dengan teori praktek mengikuti jejak sang Ranger. Alhamdulillah, saya orang pertama setelah guide yang menginjakkan kaki di summit Rakata. Sebenarnya gak bisa dibilang summit juga sih, karena ternyata anak gunung Krakatau ini punya puncak yang tidak bisa dinaiki. Dari tempat kami berpijak di ujung timurnya menjulang sebuah kerucut yang lumayan tinggi. Disinyalir, ketinggian anak Krakatau mencapai 820 mdpl.
Sungguh besar kuasa Tuhan, segala yang diciptakannya tak pernah sia-sia, dibawah hujan yang rintik dan angin kencang, kami menggali-gali pasir untuk mendapatkan kehangatan. Yah, ternyata permukaan dalam pasir gunung ini menyemburatkan hawa hangat yang awet, satu persatu dibuatkan galian seukuran (maaf) bokong untuk duduk dikedalaman. Menunggu hari tak juga terang, menunggu hujan tak juga reda, akhirnya setelah kami nekad foto-foto narsis, kami segera bergerak turun ke dasar gunung ini.

AMAZING SEA

Tak seperti saat naik, dengan menggunakan tumit, kami bergerak turun lebih mudah dan cepat, hanya setengah jam kami tiba di camping area, dan bergegas berkemas meninggalkan pulau Rakata menuju Pulau Sebesi untuk makan dan bersih-bersih. Hujan masih berderai lembut menemani perjalanan kami pagi itu, seakan gak mau rugi kami kembali ke perairan lagoon Cabe untuk Snorkling, untung meski cuaca tak bersahabat, tetapi arus ombak sangat tenang. Kami tiba di spot Lagoon Cabe satu jam kemudian. Beuh, dari kejauhan saja gelapnya warna air tak mampu menghalangi pemandangan indah dibawah laut tersebut, warna karang kebiruan nampak jelas diatas air. Dan Pyarrrrrrrr, jeburrr-jebbbururr, heheh, anak-anak mulai meluncur lompat ke perairan dengan girang. Sedang saya masih mikir-mikir untuk nyebur apa nggak, padahal snorkle gear nya sudah ditangan saya kali ini. Huuuu narsis, emmmang, kalo di kolam renang saya masih pede berenang, tetapi kalo sudah di lautan, saya jiper setengah mati untuk menyentuh permukaan yang gak bisa menapak tersebut, bahkan meski sudah dibalut dengan pelampung, hehehe. Byuuurr, seseorang melepaskan pegangan saya di dek kapal, tiba-tiba saja saya sudah dipermukaan air kemudian, tapi aneh saya gak berteriak narsis, hanya sempat tersedak air yang masuk kemulut.
Ini pengalaman kedua saya nengok kehidupan bawah laut, pertama di Pulau Seribu tahun lalu, itupun sudah diteriaki narsis karena terlalu kegirangan melihat ratusan ikan-ikan dengan warna-warni yang memukau. Kali ini saya berlagak kalem, diam-diam saya memakai snorkle gear nya, dan mulai melongok kebawah air, Ddugghh, dag-dig-dug jantung saya berdetak kencang akibat kaget, saya merasa berada diketinggian. Tetapi untungnya narsis saya kali ini tak diketahui orang, padahal saya sudah hampir pingsan untuk menetralkan kembali detak jantung saya. Beberapa menit saya cuma berenang dan ditertawai anak-anak, heheh, seorang teman yang sudah punya Dive licence pun mulai mengajarkan saya memakai alat snorkling ini, setelah beberapa saat beradaptasi, saya akhirnya bisa menikmati keindahan lain dari dunia ini. Seribu kali narsis saya muntahkan didalam air, saya berteriak kegirangan dengan gigi masih menggigit snorkling gear “ikaaaan ikaaann, siniiii siniiii”, tangan saya geram meraih-raih ratusan ikan dengan berbagai gaya dan warna itu tersebut, belum lagi karang-karang yang lebih mirip permadani di istana presiden, heheh. Ah, saya seperti mimpi melihat ini. Arta, saya jamin kamu menyesal menolak melihat ini semua, hahahah. Gak cuma saya yang kegirangan, lainnya nampak enjoy dengan anugerah yang mereka lihat saat itu, meski tak berlangsung lama, karena kapal harus segera bergerak kembali menuju Pulau Sebesi. Dua setengah jam kapal terasa damai mengarungi lautan, acara makan-makan dan mandi-mandi di Pulau Sebesi pun usai di jam setengah dua siang. Perjalanan menuju dermaga Canti benar-benar saya nikmati, saya duduk di ujung dek kapal, sensasi dunia milik sendiri pun mulai menggoda saya berangan-angan, diiringi lagu-lagu terkini milik Katy Perry dan the best song list 2011, membuat aqua gelas serasa wine, heheheh.
Satu jam berlalu, kapal pun mulai berlabuh di Canti, serasa rindu rumah dan Facebook, heheh, kami bergegas naik angkot Pak Udin yang sudah menunggu. Kami bahkan sempat bertemu dengan teman group kami lainnya yang abis diunyeng-unyeng ombak Kiluan, heheh. Niatnya sih mengejar rencana Karaoke malam itu, tapi akhirnya gagal karena kapal Ro Ro yang membawa kami ke Merak jalannya kayak siput sakit, belum lagi dengan full dangdut songs yang menemani 5 jam perjalanan kami. Dari keberangkatan jam lima sore, baru jam setengah sebelas malam kami tiba di Merak. Demi kemudahan dan kenyamanan, dari sini kami split up menuju kawasan rumah masing-masing dengan menggunakan bus. Wisata kali ini memang benar-benar berbeda, saya hinggap di kursi bus hingga bermimpi dua kali snorkling, hehehhe.

Leave a Reply