| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Londa, Gua Kubur Para Bangsawan Toraja

Kete Kesu adalah bagian kecil dari objek wisata pekuburan Toraja, 15 menit perjalanan melalui Rantepao ke arah Makale terdapat Londa. Kawasan yang juga wisata pekuburan itu bahkan lebih besar dari pada Kete Kesu.
Sebuah gunung batu purba menjulang setinggi kurang lebih 1000 meter. Bagian dalamnya juga sudah membentuk gua alami. Dapat dibayangkan berapa ratus mayat telah di semayamkan didalamnya. Penasaran kami pun mulai menjelajahinya. Perlu penerangan untuk masuk, jadi siapkan senter. Namun rupanya petugas disini sudah sigap menyediakan jasa petromak seharga 25 ribu sekaligus memandu Anda selama di dalam gua kubur itu.
Hakikatnya, Londa adalah sebuah areal pemakaman satu rumpun keluarga saja, yang kemudian dibuka untuk umum dan menjadi kawasan wisata. Kabar yang saya dengar dari pemandu petromak, Londa adalah areal pemakaman para bangsawan Toraja, terutama keluarga Gubernur, rektor, hingga anggota DPR RI Tana Toraja. Harga tiket masuk ke kawasan ini adalah 10ribu perorang. Bagian dinding luar gunung batu ini terdapat banyak erong-erong tua yang berumur ratusan tahun digantung di dinding batu. Konon itu adalah erong para leluhur Tana Toraja.
Terdapat pula tau-tau bangsawan dan keluarga pemuka-pemuka Tana Toraja. Dibuat mirip seperti rupa aslinya. Dibalutkan baju-baju kebesaran mereka. Bekas-bekas keranda bahkan masih tercecer disekitar pintu gua, dari keranda beratap yang konon untuk para bangsawan, hingga keranda bambu biasa yang digunakan untuk jenazah golongan biasa.
Sebuah pintu gua kecil hanya muat ukuran satu badan, membawa kami pada pemandangan yang lain dari biasa. Didalam gua gelap itu tersusun rapi peti-peti mati yang konon umurnya sudah bertahun hingga puluhan tahun. Letaknya bisa dimana saja, diselipkan diantara ruang-ruang yang menjorok, dibawah, didinding bahkan di bagian atas. Hebatnya, tak ada satupun kelelawar berkeliaran disini. Gua ini benar-benar bersih dari binantang-binantang yang umumnya terdapat di dalam gua.
Disini banyak sekali puntung rokok diselipkan diantara tengkorak-tengkorak dan peti matinya. Minuman kaleng hingga makanan kecil. Rupanya rokok hingga minuman kaleng tersebut adalah sesajen untuk para almarhum. Ya, menurut kepercayaan adat setempat di dunianya orang meninggalpun butuh makan, minum hingga rokok.
Pak Syarifudin, pemandu kubur yang menemani penjelajahan kami pun sangat sigap memberi jalan dalam gua ini, tak jarang kami harus merunduk bahkan merayap duduk untuk mencapai ruangan-ruangan lainnya. Beliau sudah berpuluh-puluh tahun menjadi pemandu wisata kubur disini, ia bahkan tahu betul peti mana yang sudah berumur ratusan tahun, puluhan tahun atau bahkan yang masih berumur bulan dan mingguan. Ia sigap membuka sebuah peti mati yang didalamnya terdapat mayat laki-laki yang masih utuh rapi dengan jas hitamnya. Anehnya, mayat itu tak berbau sedikitpun. Konon orang Toraja punya ramuan tersendiri untuk membuatnya sedemikian rupa kering, tetap bersih dan tidak bau.
Lagi, pak Syarifudin menunjuk dua kepala tengkorak yang terletak berdampingan disebuah sudut gua. Lain dari yang lain, dua tengkorak itu nampak ditaburi bunga-bunga dan beberapa sesajen lainnya. Rupanya benar, dua sosok tengkorak tersebut bukan sembarang tengkorak. Dua tengkorak itu konon sangat melegenda di bumi Toraja. Dua anak manusia yang saling jatuh cinta semasa hidupnya, namun getir pahit kehidupan menolak keberadaan cinta mereka karena berbeda kasta dan keyakinan. Bertekad tetap dalam kebersamaan, keduanya memutuskan bunuh diri di depan rumah masing-masing. Konon ini simbol cinta abadi, mitos adat Toraja mempercayai bahwa setiap pasangan yang menziarahi kedua tengkorak ini akan menjadi jodohnya. Dan bagi yang belum memiliki pasangan akan segera mendapat jodoh yang setia.
Ziarah kami pun tak sampai disitu, pak Syarifudin kembali mencari jalan lain untuk masuk ke celah goa bagian belakang. Tak puas dengan bagian dasar goa ini, Pak Syarifudin membawa kami ke sebuah saung di dataran yang agak tinggi. “Lihat diatas didekat puncak sana, ada satu makam terletak disana!”, seru Pak Syarifudin kepada kami. View Point di tempat-tempat wisata biasa difungsikan untuk melihat sunset atau sunrise bukan? Lain di Londa, sebuah view poin dibuatkan pihak pariwisata guna melihat beberapa makam batu yang terletak di bagian atas gunung batu, bahkan dipuncaknya. Tak dapat dibayangkan bagaimana rumitnya memakamkan jenazah di bagian dinding puncak gunung batu tersebut. Konon, semakin tinggi letak makam tersebut maka semakin tinggi pula derajat seseorang terlihat.
Menurut cerita pak Syarifudin, ibu sang pemilik pemakaman Londa ini meninggal beberapa bulan lalu, dan pesta Rambu Solok akan dilaksanakan untuknya disekitar awal bulan Juli mendatang. Tentu akan jadi pesta yang sangat besar dan meriah, karena konon beliau termasuk salah satu tokoh bangsawan Tana Toraja, diberitakan malah terdaftar sebagai pejuang PDI Perjuangan. Mayatnya masih tersimpan rapi didalam rumahnya, tepat didepan kami kala itu. Sayangnya, hanya keluarga dekat yang boleh melawatnya.
Rasanya harga jasa pemandu petromak sebesar 25 ribu saja tak cukup membayar pengetahuan yang banyak diberikan pak Syarifudin. Dengan berapi-api ia masih menggiring kami kesebuah ladang di samping pemakaman. Ia menunjuk kesebuah kandang bambu. “Itu lihat, kerbau belang itu akan menjadi salah satu persembahan di pesta Rambu Solok pada Juli mendatang!”, serunya.
Kami mendekat mencermati si kerbau yang belangnya hampir sempurna, terdapat belang hitam di bagian-bagian tubuhnya, baik kaki, kepala, telinga, ekor, hingga badannya. Ditafsir kerbau belang ini seharga 400juta-an. Tidak hanya satu kerbau, kandang lainnya di huni sebuah banteng hitam legam yang konon didatangkan dari Aceh. Satu lagi yang paling unik, kerbau belang emas namanya. Tanduknya menjulang lebar dikedua sisinya, dibaluti biji-biji Tamarela atau terong belanda. Konong biji buah tamarela bukan hanya nikmat dinikmati dalam rupa jus segar, manfaat lainnya digunakan untuk merawat tanduk-tanduk kerbau atau banteng agar tetap berwarna kuning gading.
Belang kerbau galak ini berbeda, bukan hitam tapi kuning keemasan. Kerbau ini terbilang sangat langka, awalnya hanya belang hitam-putih, namun ajaib setelah beberapa hari belang hitamnya berubah menjadi warna keemasan. Ditafsir, kerbau pemberian sang petinggi Gerindra ini bisa mencapai harga satu BMW. Banyak hal-hal menarik yang kami lewati hari itu, seumur hidup saya baru kali ini melihat kerbau secantik dan semistis si belang emas itu.
KEUNIKAN LAIN TANA TORAJA
Wisata Tana Toraja tak sedikit yang Anda bayangkan. Wisata kubur macam Londa masih bisa Anda jelajahi dibagian Tana Toraja lainnya. Seperti di Lemo, areal pemakaman sekaligus tanah seni Tana Toraja, dinding-dinding batu pemakaman tersebut diukir sempurna dengan pahatan rumit.
Masih ingin menikmati uniknya tongkonan namun dengan suasana yang lain? Datanglah ke Pallawa, kawasan yang juga sering digunakan sebagai lokasi perayaan adat Toraja ini terletak dipuncak bukit. Tongkonan tersebut konon berusia ratusan tahun, masih asli dengan material alam. Atapnya bukan seng, tapi masih terbuat dari lapis bambu bahkan pakis. Saking tuanya, atap tersebut sudah penuh lumut, bertanah bahkan sudah ditumbuhi tumbuhan kecil-kecil macam lumut.
Keunikan Tana Toraja tidak hanya sekedar batu-batu atau goa pemakaman. Bukti-bukti peradaban masa silam leluhur nusantara masih bisa di lihat dalam rupa-rupa bebatuan megalitikum. Jika disekitar Jakarta Anda harus menjelajah ke kawasan Gunung Padang Cianjur untuk melihat peninggalan batu megalitikum kuno, tak begitu di Tana Toraja, Anda bisa melihat bukan hanya dalam satu kawasan wisata, di tepi jalan, di beberapa area pemukiman tongkonan hingga di puncak-puncak bukit mudah Anda temukan. Tak jarang batu megalitikum tersebut dibuat menjadi simbol rupa kuburan seorang tokoh bangsawan.
Menjelajahi keunikan Toraja tak pula cukup sampai disitu. Wisata menarik lainnya bisa Anda kunjungi jika memiliki waktu luang yang cukup. Setidaknya ada tujuh wisata baru yang akan menambah kekayaan wisata Tana Toraja. Diantaranya ada Tongkonan Tumbang Datu-Bebo, Agro Pango-Pango, wisata Sirope, Air terjun Sarambu Assing, pemandian alam Tilangnga, perumahan adat Sillanan, hingga panorama Buntu Burake.

Leave a Reply