| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

MADURAI DALAM 24 JAM

Meninggalkan Varkala yang penuh dengan kesenangan dan kedamaian, kami kembali menyusuri perjalanan dengan kereta api middle night menuju Madurai. Madurai adalah salah satu kota peradaban kuno di Propinsi Tamil Nadu, India selatan. Perjalanan dari Kochuveli ke Madurai mennghabiskan waktu sekitar 10 jam. Kami tiba di Madurai saat pagi buta, masih jam 5 pagi, diluar masih sangat dingin dengan kabut tebal masih menggelayut dimana-mana. Seperti biasa, bila tiba pagi hari, kami langsung menuju toilet di stasiun kereta tersebut. Di beberapa stasiun kereta api di India, biasanya toilet berada dalam ruang tunggu, adapun ruang tunggu itu sendiri terdiri dari beberapa kelas, waiting hall umum, hingga yang eksekutif untuk penumpang 1st class. Kamu dapat menggunakan fasilitas itu free dengan syarat kamu punya tiket kereta api, itupun disesuaikan dengan jenis kelas yang kamu ambil. Kalau tidak kamu harus membayar minimal 20 INR untuk menggunakannya.
Beruntung, pagi itu kami dapat masuk kedalam waiting hall yang kelas menengah, meski tanpa tiket. Awalnya kami pura-pura bego asal masuk saja, tetapi berkat kebaikan wanita si penjaga, kami pun dengan mudah menikmati fasilitas toilet, hingga kamar mandi. Tak banyak memang yang menjadi sightseeing di kota ini, itu sebabnya kami hanya day trip saja di propinsi Tamil Nadu ini, Itu sebabnya pula kami memilih istirahat sebentar di waiting hall untuk menunggu restoran buka paling tidak seperti itu, pluss mandi-mandiiiii, heheheh. Iyah, mandi, nekad kita mandi di waiting hall stasiun yang terkenal dengan kejorokannya. Beruntungnya sih kami masuk di waiting hall kelas eksekutif, jadi lumayan bersih kok, ada petugas yang membersihkan toilet, cleaning servicenya juga rajin menyemprotkan pewangi ruangan di waiting hall ini.
Menurut rencana, setelah day trip di Madurai, kami langsung menuju kota Trichy, ibukota Tamil Nadu. Karena konon disana lebih banyak yang bisa dilihat dari pada Madurai. Pagi itu, disela-sela waktu menunggu kantin buka, kami sempatkan membeli tiket menuju Trichy, tetapi heran seheran-herannya, ini bukan highseason, tetapi tiket kereta habis terjual. Selidik punya selidik dari petugas, di Trichy dalam seminggu terakhir sedang mengadakan even budaya. Info jelasnya kami tidak mengetahui, tetapi selentingan tersebut ternyata membuat kami makin tertarik untuk kesana. Seperti biasa, kami gambling untuk tiket cancel’an. Dari loket kami nekad beli tiket yang unreserved, bila ada yang cancel, tempat duduknya jadi milik kami dengan membayar biaya tambahan seperti yang tercantum dalam tiket asli, kalau tidak yah terpaksa berdiri di seating class. Lumayan murah, Kereta api Tiruchiraphali Express di pukul 14.30 siang, dari harga asli tiket 141 INR, kami dikenakan harga 56 INR untuk unreserved tiket. Besar harapan kami untuk mendapatkan tiket cancel’an tersebut.
Setelah urusan bersih-bersih dan tiket selesai, kami segera menuju kantin stasiun untuk sarapan. Baru saja kursi-kursi kantin ini di turunkan, kami sudah sibuk memilih menu makanan yang tersedia. Semangat kami luntur ketika pelayannya memberitahu menu-menu disini dibagi menurut jam, khusus pagi, menu sarapan pagi India, kayak idli, samosa, atau puri baji. Baru di jam 11 hingga jam 3 sore menu ikan, nasi, thali dan ayam bisa dipesan. Begitupun saat sore, menunya beda lagi. Tapi yah demi energi yang kami butuhkan seharian ini, saya terpaksa menelan puri baji itu pelan-pelan, sebenarnya sih cita rasanya enak, tetapi biasalah, lidah saya kelihatannya jetleg sehabis berlibur dengan nikmatnya seafood di Kerala. Hehehe 😛
Sudah jam 8 pagi, kami bergegas memisahkan daily pack kami dengan big backpack, pasalnya kami gak mau berat-berat bawa dua backpack itu sekaligus, jadi kami menitipkan barang-barang lainnya ke cloackroom yang biasanya disediakan di setiap stasiun kereta. Lumayan murah, cuma 30 INR untuk 3 tas. Setelah urusan beban bawaan selesai, kami langsung sigap menelusuri jalan utama kota ini. Berbekal map dari LP, kami menelusuri jalan yang masih lengang, kawasan pasarnya pun masih sepi sekali. Kota ini terletak di semenanjung India, diantara aliran sungai Vaigai. Sejarah Madurai sendiri dikutip dalam silsilah 2500 tahun silam, dan merupakan bagian jalur perdagangan yang atraktiv untuk Roma dan Yunani. Dalam segi kereligiusan madurai juga terkenal sebagai rumah bagi para kuil. Dari sekian banyaknya kuil yang terdaftar masuk dalam kebudayaan Tamil Nadu di Madurai, sebuah kuil bernama Shri Meenakshi menjadi satu-satunya tonggak sejarah peradaban kuno yang pernah hidup di kawasan Tamil Telugu ini. Pasalanya kuil ini didirikan pada masa dinasti kerajaan paling tua, Raja Pandya Kulasekara di abad ke-12.
Jarak dari stasiun kereta hanya berkisar 1 hingga 1,5 km, baru berjalan 20 menit kami tiba di gerbang pintu kuil bernama Meenakhsi itu. Tak seperti dugaan kami, memasuki kawasan kuil, aktivitas disini sudah ramai pengunjung, mayoritas adalah hamba-hamba Hindu yang taat agama. Baru dari kejauahan luarnya saja, kuil ini terlihat luar biasa, dengan menara kuil yang unik dan full of colour. Tak ada biaya masuk, meski ada biaya untuk administrasi kamera sebsar 50 INR. Kuil ini adalah kuil yang melambangkan sepasang epik kesusastraan Hindu kuno, antara Sundareswara dan Meenakshi (Siva dan Parvati). Kuil ini juga dipercaya sebagai kuil Siva, anggapan ini mendarah daging atas kehadiran sebuah kolam teratai besar dihalaman kuil tersebut yang dipercaya sebagai wujud rumah yang sering dijadikan tempat Siva bersemedi.
Struktur bangunan dan menaranya sangat mengagumkan, relief-relief tokoh Hindu dipaparkan habis lewat patung-patung Dewa, hewan bahkan monster jahat yang diukir membentang setinggi menara. Tak hanya satu menara, terdapat 12 menara dengan relief yang berwarna-warni. Dari 12 menara, terdapat 4 menara utama, masing masing dari setiap sisi, selatan, barat, timur dan utara. Dari keempat menara tersebut, menara selatan lah yang memiliki tinggi diatas rata-rata, sekitar 170’6 meter.
Ruangan-ruangan suci penuh dengan pahatan Dewa- Dewi Hindu nampak mendominasi bagian dalam kuil, ratusan bahkan ribuan pilar-pilar yang berdiri kokoh pun nampak penuh dengan ukiran serta pahatan dengan motif yang detil dan rumit. Belum lagi atap langit yang membentang tak luput dari lukisan dengan berbagai macam motif, dari motif bunga hingga lukisan yang menggambarkan adegan dari para tokoh Epik Hindu. Kuil ini ramai dikunjungi oleh peziarah dan wisatawan setiap harinya, apalagi menjelang weekend, tepatnya hari Jum’at, kuil ini pasti penuh orang yang akan melakukan pemujaan dan ritual. Anda akan melihat budaya Tamil ketika sedang menghadap Tuhannya, tidak seperti Hindu kebanyakan, cara mereka bersembahyang agak sedikit lain, dengan menarik telinga (seperti menjewer) selama tiga kali sambil melompat-lompat kecil adalah salah satu ciri khas kereligiusan warga Tamil, konon gerakan itu dimaksudkan untuk pengakuan dosa dan meminta perlindungan dan ampunan. Relief yang menjadi ciri khas adalah relief Ashta Sakhti Mandapam, yaitu patung Sundareswara (dewa Siva) yang bersanding dengan Meenakshi atau Parvati, tepatnya saat mereka melakukan ritual pernikahan. Selain monumen suci tersebut, masih banyak monumen atau relief lainnya yang mengandung berbagai makna dalam kehidupan Tokoh-tokoh Epik Hindu ternama. Ruangan dalam kuil ini terbilang gelap, cahaya yang dihasilkan adalah berkat lilin persembahan dari para peziarah, semerbak bunga bertebaran dimana-mana, khususnya ditempat para patung Dewa – Dewi berdiri. Minyak atau mentega khusus untuk ritual banyak tertoreh dimana-mana. Sindur merah pun banyak diperebutkan peziarah guna mencari berkah.
Hampir tiga jam kami menyusuri pedalaman kuil full colour ini, puri baji yang tadi pagi ternyata tidak cukup mengganjal perut kami dari rasa lapar. Setelah puas mengunjungi kuil tersebut, kami segera mengarah ke market yang berada disekitar pintu gerbang kuil. Namanya juga pasar, pasti banyak yang menjual makanan, kami singgah di Meenakhsi restauran yang lumayan bersih, letaknya hanya 50 meter dari pentu gerbang kuil. Yah, lumayan, kali ini kami dapat makan berat, kami pesan 2 paket Thali. Rasanya lumayan enak, tetapi yang unik ialah, selain cuma menyuguhkan menu vegetarian, cara makan disini juga beda. Budaya makan di Madurai lebih cenderung dengan tangan, dan dihidangkan diselembar daun pisang, plus boleh nambah dua kali. Kami ditawarkan untuk memakai daun atau piring, heheh jelas saja kami memilih memakai piring untuk mengantisipasi bakteri. Harga super murah, untuk 2 paket Thali kami dikenakan harga 65 INR. Saking uniknya budaya makan di restoran tersebut, kami jadi lupa waktu karena mengamati setiap orang yang datang, tak hanya orang lokal, turis pun banyak yang datang untuk makan, satu group asal Jepang bahkan asyik menikmati budaya makan dengan tangan dan daun pisang tersebut. :))

MADURAI – TRICHY

Seperti harapan kami rupanya, ketika satu jam sebelum jadwal keberangkatan kami sengaja nongkrong di platform 2, dimana kereta yang dimaksud akan singgah. Hohooo, rupanya kereta itu sudah ada di platform 2, dengan lincah kami mencari kondektur kereta api, bertanya sono sini, akhirnya ketika kami bertanya pada petugas berseragam putih, ia memberikan saran untuk datang mengaplly tiket tersebut di kepala stasiun. Dengan baiknya beliau mengantar sampai dipintu head office dan menunjukan ruangan kepala stasiun tersebut. Saya mulai mendayu-dayu merayu kepala stasiun untuk memberikan tiket tersebut. Dan alhasil kami mendapatkan tiket reservednya, dengan membayar sisa jumlah uang tiket yang seharusnya.
Kami melenggang dengan ringan menuju cloack room yang hanya berjarak 100 meter. Tepat di jam 2.20 siang, kereta api Tiruchiraphali express tersebut akhirnya bergerak meninggalkan kota Madurai. Menurut tiket, kami akan tiba di Trichy sekitar pukul 11 malam. Itu berarti kami harus sudah booking hotel disekitar sana. Sayang karena tak ada Hp, kami harus cari on the spot saja. Hmmfhh, ini lah masalahnya kemudian, ketika tiba di Trichy pukul 10.50 malam, kami langsung cari penginapan disekitar City Centre. Hotel pertama yang kami tanyai sudah full, bahkan hotel yang ditawarkan oleh si supir bajaj pun ternyata sudah full. Kami jadi naik pitam sendiri dengan keadaan ini, menurut cerita si supir bajaj, semua penginapan diseluruh kota Trichy kemungkinan sudah full, karena even Kawin massal besar-besaran yang diadakan di kota ini. Gillllaaak aja, masa seleuruh penginapan di kota sebesar Trichy sudah penuh sih, kami penasaran dan terus mencari dengan jalan kaki, gak perduli keselamatan kami saat itu, di gang-gang kecil, di terminal, di perkomplekan pun kami susuri, tetapi siaaaall, semua full booking. Pasrah dan gak tahu mau gimana, kami akhirnya kembali kembali ke stasiun, untuk mengecek retiring room yang biasanya juga disewakan. Sayaaang seribukali sayang, semua ruangan pun sudah penuh, bahkan yang VIP sekalipun, padahal stasiun ini sangat luas dengan 3 lantai loh. :((
Hhmmhh, menghela nafas panjang, akhirnya kami menenagkan diri dipelataran platform, sejenak kami berpikir untuk rencana dan apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Karena tak ada penginapan, bahkan cloack room pun sudah penuh, kami memutuskan hengkang dari Trichy malam itu juga menuju kota lainnya, Thanjavur, masih dalam wilayah Tamil Nadu. Letaknya juga hanya sekitar 4 hingga 5 jam’an. Kami bergegas ke loket tiket untuk membeli tiket ke Thanjavur. Menurut scedjule, kereta Tamil Nadu Centre yang menuju ke Thanjavur baru ada di jam 4. 20 pagi. Harganya memang cuma 22 perorang.
Masalahnya, dimana kami istirahat malam ini, nekad tidur di pelataran platform, diusir security. Masuk diruang tunggu umum, sudah penuh orang, malah sampai ada yang gantian tidurnya. Menengok waiting room di VIP class, masih lumayan kosong, ada beberapa sofa yang masih nampak tak bertuan. Kami masuk dan langsung tidur, alih-alih pura-pura bego, kami kemudian tetap ditagih uang administrasi untuk fasilitas ruangan tunggu ber AC ini. 100 INR perorang atau sekitar 20 ribuan. Tapi yah gak apa sih, itu kan memang sudah peraturannya. Yah,serasa baru juga merem, alarm yang kami pasang pukul 3.50 pagi sudah berbunyi. Kali ini kami gak mau missing train lagi, kami bergegas berseih-bersih dan meluncur ke platform satu. Kereta Tamil Nadu Centre itu sudah berada didepan mata kami, langsung saja mencari nomor seat yang dimaksud. Akhirnya kami bisa rebahan enak untuk beberapa jam kedepan, huffft hari ini sungguh melelahkan, tetapi kami sangat senang. Begitulah mungkin warna dalam sebuah perjalanan, banyak kejadian yang tak terduga kami alami, itu semua membuat kami banyak belajar dalam memutuskan langkah selanjutnya. Semoga Thanjavur memberikan kami kenyamanan setelah Trichy yang tak menyambut kami dengan baik hari ini.

Leave a Reply