| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

MALELA, PESONA SI CURUG BAJA

Bicara soal alam, tanah air kita memiliki pesona alam yang tak terkira, pun tidak kalah dengan gunung-gunung es yang jadi paku bumi dibelahan dunia lainnya. Indonesia memiliki cagar alam liar yang eksotis dan membumidaya, sebagai ciri khas lain tanah tropis yang tidak dimiliki negara lain. Pada dewasa ini, dunia pariwisata semakin berkembang, seiring meningkatnya sumber-sumber keindahan yang berhasil di temui oleh para petualang dan para dedengkot kepemerintahan. Seperti halnya trendsetter, pariwisata tak habis-habisnya mengundang hal-hal baru yang terus menerus diminati oleh para pelancong, petualang ataupun pecinta alam. Dulu, setelah hits tamasya ke kebun-kebun raya, lalu gunung ke gunung, pantai ke pantai, pulau ke pulau, hingga akhirnya hembusan cerita tentang berbagai air terjun pun mulai marak jadi trendsetter destinasi para wisatawan baik lokal maupun internasional.
Berdasarkan topografi cagar alam Indonesia, banyak beragam air terjun yang bisa ditemukan. Tidak hanya keindahannya, beberapa keunikan khas dari air terjun ke air terjun lainnya juga bisa kita rasakan. Seperti halnya, si air terjun yang satu ini, si liar nan cantik ini dinamakan Curug Malela. Pelancong lokal biasanya lebih akrab menyebutnya dengan sebutan curug, karena berdasarkan letaknya yang masih berada dalam wilayah Jawa Barat, nama curug (bahasa Sunda) lebih mendominasi arti dari air terjun. Wisata alam yang satu ini berlokasi diwilayah Bandung barat, tepatnya di ujung desa Cicadas, kampung Manglid, Kecamatan Rongga. Ini bukanlah sekedar wisata biasa, “perlu hal-hal lain yang menggugah adrenalin anda untuk siap menjelajah ke situs liar ini”, cetus mereka yang pernah menginjakan kaki ke curug yang dimahkotai dengan nama Niagara Mini ini.

RUTE PERJALANAN

Untuk mengakses kawasan ini, kota Bandung adalah awal petunjuk pada umumnya. Meski lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi, tetapi alternatif transportasi umum juga masih berlaku untuk mengakses kawasan curug ini. Mini bus yang berbentuk elf, siap mengantarkan anda menuju daerah Gunung Halu atau Bunijaya dari stasiun Ciroyom. Karena tidak ada transportasi yang melayani rute selanjutnya, anda harus menggunakan moda transportasi ojek menuju Kecamatan Rongga hingga ke Desa Cicadas, kampung Manglid, bahkan ke spot terakhir yang biasanya dapat diakses. Untuk anda yang menggunakan kendaraan pribadi, siapkan gadget GPS anda sebagai self otomatic guide menuju desa Cicadas, atau bersiaplah untuk berkiblat pada pribahasa ini, “malu bertanya, sesat dijalan”. Terdapat beberapa rute untuk menuju kawasan curug ini, tetapi yang paling umum digunakan adalah Bandung – Padalarang – Cimareme – Batu Jajar – Cililin – Sindang Kerta – Gunung Halu – Rongga – Cicadas, rute ini menempuh waktu ± 3 jam. Bagi para pelancong yang datang khusus dari Jakarta dapat mengakses rute langsung menuju tol Padalarang, khusus rute dari Jakarta biasanya memakan waktu ± 5 jam. Anda perlu mempersiapkan jas hujan atau payung, just in case turun hujan. Dan jangan lupa untuk memastikan kondisi kendaraan anda hingga benar-benar berstamina, pasalnya tak semulus yang anda kira, pada awalnya perjalanan menelusup desa ke desa lainnya masih normal, jalan berliku menelusuri perkebunan teh, tapi setelahnya anda akan dibuat berdesir oleh jalan-jalan terjal, tidak rata, hingga berlubang besar. Disini kekuatan mesin dan badan kendaraan anda diuji, sang supir harus ekstra hati-hati terhadap kondis jalan yang semakin liar, jika tidak ingin beberapa bagian kendaraan anda terluka.

GET LOST IN “TEMPAT JIN BUANG ANAK”

Trip kali ini merupakan injakan kaki pertama kami di sini. Menggunakan Kijang Innova, dengan 7 awak penumpang hasil jaringan silahturahmi Couchsurfing, kami mulai menembus jalan-jalan di jam 00.30 pagi dari bilangan Kuningan Jakarta. Karena kami berangkat saat weekend, alternatif “menghindari macet” kami pilih dengan berangkat pada malam hari, agar kami dapat lebih leluasa menikmati waktu seharian disana. Beruntung, satu diantara kami adalah sesepuh petualang curug Malela ;), paling tidak kami berharap ada titik terang untuk mudah mengaksesnya. Dengan kami, ikut juga sebuah Gadget GPS untuk melengkapi penunjuk jalan. Alih-alih mencoba kehebatan GPS, malam itu kami malah get lost ke daerah “para jin buang anak”, hhhiiiiiiyyhh. Entah apa yang salah, kami hanya mengikuti petunjuk dari gadget canggih itu, sebelum memasuki desa Cililin, kami belok kejalan gelap dan akhirnya jadi cuma setapak, jarang sekali ada pemukiman, makin ke dalam, jalan cuma setapak dan terjal berliku, kanan kiri kami tepian jurang, yang ditumbuhi pohon bambu liar ( ada mitos yang bilang pohon bambu kuning adalah habitat para dedemit malam), jalan juga makin parah. Mas Beck, sesepuh kami yang pegang GPS juga mulai ragu dengan jalan yang tidak pernah ia lewati tersebut. Hampir setengah jam kami terus saja berkutat dengan kebon-kebon liar dan super horor tersebut. Saya jadi teringat masa kuliah dulu, saat menelusuri jalan menuju bumi perkemahan Cibatok – Bogor, sempat nyasar juga, menyusup masuk ke tempat para jin buang anak, hingga sebuah jembatan kayu terpaksa membuat kendaraan berhenti karena tidak mungkin melintas. Ingat demikian, saya jadi mulai komat-kamit membaca doa yang saya ingat. Entah mukjizat Tuhan, saya terheran-heran ketika mobil yang kami kendarai berhenti didepan sebuah jembatan, yang rupanya hanya terbuat dari bambu atau kayu pula. Entah bagaimana, situasi ini sama seperti situasi 5 tahun lalu ketika menuju Cibatok. Kontan kami ragu untuk membiarkan mobil ini terus melintas. Beruntung, masih ada seorang penduduk lokal yang kami temui didekat jembatan ini. Dari keterangan yang diperoleh si ujang (sebutan untuk laki-laki sunda), jalan ini memang mengarah ke Gunung Hawu, tetapi jalur ini tidak disarankan untuk kendaraan roda empat, karena jalannya yang sempit dan rusak parah. OMG, sambil menghela nafas panjang, pentolan trip kami yang merangkap sebagai supir pun langsung tancap gas berbalik arah *lirik Arta, (tentu setelah mengucapkan “nuhuuuun atuh kang” kepada si ujang.) :)
Meski telah terlepas dari tempat gelap itu, kami masih sempat mendiskusikan apa yang salah dengan rute GPS itu yah. Hmm, entah dengan alasan apa kami membuat kesimpulan, bahwa si GPS yang diketik “curug Malela” pada kolom tujuan lebih menitik beratkan pada tujuan, bukan elemen penting lainnya seperti struktur jalan rusak atau tidak, roda empat atau roda dua saja, yah kalo gak emang si GPS lagi error kaliii, atau emang udah takdir kita nyasar, heheheh *lebaymodeON.

PETUALANGAN OJEK

Berasa masih trauma sama GPS, rute selanjutnya pun kami memilih untuk bertanya sama orang lokal saja. Syukurlah, beberapa kali bertanya, 2 jam kemudian kami mulai masuk kedaerah perkebunan teh di Sindang Kerta. Fajar mulai menyingsing, adzan Shubuh menggema mengantarkan kami masuk ke wilayah Rongga. Aroma embun pagi pun berhembus bersama sang bayu serta siluet alam yang mulai berubah warna. Pemandangan bukit-bukit hijau keemasan menjadi santapan pertama kami menyambut pagi di perjalanan menuju desa Cicadas, desa terakhir dan paling dekat dari Curug Malela. Dag-dug-dag-dug groookk, mobil Innova yang kami kendarai mulai meraung-raung, pasalnya jalan sudah sangat parah, kubangan besar hingga struktur tanah yang tidak rata sudah didepan mata, tak jarang kami harus turun demi meringankan beban agar “si kuda hitam” kami ini tak terluka saat melintasi jalan rusak tersebut. Sebenarnya, dari mulai pintu masuk desa Cicadas kami sempat ditawari oleh sejumlah tukang ojek untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai warung terakhir (post terakhir), tetapi berhubung ada rekomendasi dari sesepuh, untuk memarkir kendaraan di rumah seorang warga lokal yang sempat ia kenal saat trip sebelumnya, kami bilang pada si tukang ojek, bahwa kami akan naik ojek dari rumah yang kami tuju nanti. Amazing, para tukang ojek langsung tancap gas mengiringi perjalanan kami menuju rumah pak Dadan. Serasa seperti pejabat deh yang kalo kemana-mana dikawal pake iringan mobil dan motor police, secara iringan kami cuma para tukang ojek, jadi gak membuat ribet pengendara lainnya dengan bikin macet jalan kayak model iringan pejabat-pejabat itu. *bravo Tukang Ojek **colek Santi 😛
Anda bisa bayangkan bagaimana rusaknya jalan, kami menempuh waktu 1 jam untuk jarak yang hanya 3 hingga 4 km saja. Roda si kuda hitam mulai penuh tanah, terkadang perut mesinnya pun mulai meraung-raung saat melintasi kubangan tanah yang licin. Karena medan makin parah, dan saran tukang ojek untuk menghentikan perjalanan dengan mobil saat itu, kami memutuskan parkir mobil didepan sebuah warung, padahal rumah pak Dadan masih lumayan jauh ke atas. Untungnya, setelah melakukan penawaran, para tukang ojek tersebut menyetujui harga yang sama dengan harga trip mas Beck setahun lalu, Rp. 30.000,- PP. *jempol buat mas Beck yang sudah menawar :))
Sebelum melanjutkan perjalanan dengan ojek, kami mulai prepare barang yang akan dibawa, sambil gantian ngantri di toilet si pemilik warung. Ibu dengan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil itu nampak sibuk di dapur mengurus bakwan goreng yang akan dijualnya, sedang si bapak, masih dengan lilitan sarungnya melayani pembeli di teras depan rumahnya yang dijadikan warung. Disini kami menikmati kopi tubruk panas buatan si ibu dengan beberapa sobekan roti yang kami beli di Indomaret semalam.
Satu orang satu ojek, petualangan ojek pun dimulai. Yuhuuuuuu, sensasi gujlak-gujlak jalan yang rusak membuat kami berpegangan pada sisi motor, karena tripod gede yang saya bawa, saya asik berpegangan pada baju si tukang ojek yang mengaku bernama Maman, seruu melihat yang lain mulai sedikit tegang dengan medan yang berubah makin terjal, belum lagi tanjakan dan turunan yang ekstrim dan menantang. Dari pada terbuai takut, saya asik ngobrol dengan si tukang ojek selama perjalanan. Yah, si ojek dengan satu anak berumur 5 tahun tersebut sehari-harinya hanya mengandalkan sebongkah motor Honda Supra dan tangan-tangan kekarnya untuk mencari nafkah. Menurutnya, kawasan ini mulai dilirik masyarakat luar sejak 3-4 tahun lalu. Seiring dengan gencarnya pujian para pejabat daerah ke media untuk kawasan ini, 2 tahun kemudian, curug ini menjadi destinasi baru bagi para petualang. Yah bagi para petualang, karena medannya yang masih liar dan sulit dicapai dengan kendaraan biasa. Kamu masih harus trekking 1 km lagi untuk sampai di spot utamanya. Yah 1 km, tapi tak semudah 1 km yang kita bayangkan, konon menurut para anak-anak Hobbit (Lia lt dkk) yang pernah menjejakkan kaki disini, medan trekkingnya bisa sampai 1 jam, belum lagi kalau habis hujan, medan yang licin dan dalam kategori bahaya (secara kanan kiri tepi jurang, hahah), membuat perjalanan harus ekstra hati-hati.
BUKAN LAGI PETUALANGAN
Sepertinya Dewi Fortuna sedang menaungi kami hari ini, pagi ini nampak cerah, matahari mulai menampakkan taringnya, struktur jalan dominan normal, tidak licin. 6 motor bebek dan 1 Rx King pun mengantarkan kami ke spot terakhir, setelah hampir 20 menit menyusuri bukit-bukit hijau. Bwahahah, kami kaget bukan kepalang, jalan setapak yang katanya para Hobbit itu terjal, sekarang sudah berubah menjadi semen aspal. Saya lebih kaget lagi ketika si ojek memberitahukan, “neng teh gak usah khawatir, sekarang mah jalannya sudah mulai bagus, banyak yang sudah di aspal atau dipaving blok, rencananya jalan sampai ke curug akan dipaving blok”cetusnya sumringah dengan logat sunda nya yang kental. Weeeehh, rupanya kawasan ini mulai jadi sangat touristy dan gak hanya buat petualang ato para pecinta alam lagi, kawasan ini akan dibuka untuk wisatawan umum, yang gak perlu susah-susah merasakan sensasi trekking di medan liar yang terjal. Berbagai pendapat pun mulai bermunculan ketika kami mulai menyusuri jalan setapak berdak semen tersebut. Ini bukti keseriusan pemerintah dalam mengembangkan spot pariwisata daerahnya, ada juga yang bilang “beruntunglah kau para hobbit yang mendulang sensasi trekking dahsyat saat kawasan ini masih liar dan habis di terpa hujan”, ada juga yang nyeletuk “syukurlah kalo begini, jadi gak perlu belok-belokan lagi (red :kotor-kotoran lagi)” heheheh. Yah apapun keadaanya, toh alamnya tetap indah. Setelah melewati warung makanan terakhir, medan berubah menjadi tanah basah, sawah, jembatan bambu, turunan terjal, pohon-pohon rindang, kemudian kami menemui beberapa spot yang sudah di dak dengan semen lagi, hingga tanah gembur yang mulai ditutupi dengan tumbuhan rambat yang lebat, belum lagi suara debur air yang jatuh. Tiga puluh menit kemudian kami tiba di curug tersebut (including sesi foto narsis). Satu-satu dari kami mulai “mencar” mencari spot yang nyaman untuk menikmati pemandangan takjub ini, yang lainnya mulai sibuk dengan “senjata” fotografi mereka.Untuk beberapa saat saya memandang takjub penuh ingatan terhadap Sang Penguasa alam ini, menciptakan hal-hal yang begitu indah dibumi. OMG, serasa seperti di Niagara waterfall lohh, *lirik Mbah Google. 😀

SI CURUG BAJA

Kalau curug berarti air terjun, nah kalo Malela artinya apa yah, beberapa dari kami sering mem’plesetkan Malela menjadi Mak lela *lirik emaknya mpok lela si juragan singkong 😛 Departemen Perhutani daerah Jawa Barat mencatat, mini Niagara ini memiliki tinggi ± 50 meter dan lebar ± 70 meter. Aliran sungai yang jatuh menjadi air terjun Malela ini rupanya berasal dari Sungai Ci Curug. Air terjun mengalir deras melalui dinding bebatuan keras jenis Breksi dan lainnya yang sudah berumur hingga puluhan juta tahun. Itu dapat kamu amati dari kesan bebatuannya yang nampak tegak dan licin. Fakta ini berhubungan erat dengan namanya sebagai Malela. Karena Malela dalam bahasa Kawi Sunda berarti Baja.
Yah, nama si curug Baja ini juga dikaitkan dengan nama sungai yang mengalir diatasnya, Ci curug yang berarti “sungainya air terjun”. Konon hulu Ci curug berasal dari lereng Gunung Kendeng sebelah utara, dengan kaldera raksasa berdiameter 15 km. Selanjutnya mengalir ke Cidadap, Bunijaya, hingga menjadi Ci Curug yang terjal. Dan ternyata gak cuma Malela saja, masih ada 6 curug besar lainnya yang terdapat di desa ini, antara lain ada Curug Katumiri, Manglid, Ngebul, Sumpel, Palisir, dan Pamengpeuk. Masing-masing mempunyai ciri khas yang berbeda. Menurut cerita tukang ojek saya, curug Katumiri di pagi hari akan memperlihatkan bias pelangi di badan batunya, sedang curug Manglid memiliki spot goa dibelakangnya. Nah kalo curug Ngebul tuh neng, kebalikannya curug Malela, kan kalo Malela mah cai yang jatoh jadi misah-misah, kalo curug Ngebul cai yang jatoh teh malah ngumpul, gituh atuh neng”.begitulah logat yang bisa saya tirukan dari mang Maman. :) Sayang dari kesemua curug tersebut, akses jalan yang lebih mudah dicapai hanya Malela. Itu sebabnya 6 curug lainnya jarang sekali di intip masyarakat. *so, para Hobbit, secara Malela udah turisty, kalian bisa start adventure lagi ke curug-curug lainnya. :)
Makin siang, pengunjung makin banyak, kebanyakan sih kayaknya orang lokal sekitar desa-desa disini *ngeliat tampang-tampangnya yang agak sedikit ndeso, Lol
Hmm, akhirnya “jas hujan sekali pake” hasil berburu di Indomaret, gak kepakai deh. Secara langit sangat cerah, sudah empat jam lebih kami menikmati fenomena alam yang satu ini, ada sesi foto-foto gaya slow speed hasil ajaran si Master Fotografer, kanjeng sesepuh Mas Beck, hehheh, yang membuat efek air terjun yan jatuh seperti benang sutera halus yang menjuntai kebawah. Ada sesi percobaan lensa baru White Angle milik si Pentolan trip, bahkan ada sesi cidera dan basah-basahan dari Dyah dan Ketty, saat menyebrang batu ke batu lainnya. Lainnya kami juga menonton atraksi berani dari para cewek-cewek lokal yang sigap melompat dari batu ke batu (meski akhirnya kepleset juga, heheh), ada juga kita nonton acara padangan (red: makan bareng) mereka di sebuah batu besar, sayang mereka sempat meninggalkan sampah disana, dan memang kondisi sebelum mereka datang pun sudah banyak sampah di spot tersebut. *miriiiis
Tak bosan-bosannya kami memandangi si curug Baja ini, sayang kami harus kembali secepatnya, menghindari arah pulang yang biasanya macet cet cet. Menjelang tengah hari, kami kembali trekking ke atas, tempat warung terakhir. Gak seperti trekking awal, karena jalan kembali strukturnya lebih menanjak hingga 70 derajat, perjalanan jadi lebih lama. Sekali lagi petualangan ojek kami rasakan, motor-motor itu dengan lincah menaklukan jalan-jalan terjal menuju rumah dimana kuda hitam kami diparkir. Sungguh usaha yang berat, gak hujan aja mereka harus susah payah berkelahi dengan terjalnya batu-batu besar, apalagi saat jalan menjadi super licin saat hujan turun. Padahal dalam sehari mereka paling banyak hanya bisa meraup harga dua kali jalan saja, “itu juga kalo rame sih neng, kan disini tukang ojek udah banyak” curhat si mang Maman sambil konsentrasi pada keseimbangan stang motornya. Ketika saya iseng tanyakan berapa sawah yang ia punya atau usaha apa yang ia kerjakan selain ngojek, ia tersenyum miris “cuma ngojek neng, kebanyakan tanah-tanah disini udah banyak dibeli pengusaha dan pemerintah, jadi kalo mau nyawah hasilnya dibagi sama si pemilik sawah”, curhatnya dalem. Tetapi menurutnya, meskipun begitu, ia tetap mensyukuri apa yang menjadi rezekinya, “alhamdulillah neng, kalo dicukup-cukupin mah yah cukup-cukup aja” cetusnya haru hingga tiba didepan rumah si pemilik warung. Ia bahkan sempat menawarkan diri untuk mengantarkan saya sampai jalan yang tidak rusak kedepan desa Cicadas, tanpa bayaran lebih. Ah, kalau begitu nanti kasian si supir jalanin mobilnya sendirian, heheh *setiakawan.modeon

JALAN – JALAN KULINER: RAJA SUNDA OH RAJA SUNDA

Sesuai itenerary, pulang dari Curug Malela kami singgah di Bandung untuk wisata kuliner, lagi pula seharian ini kami memang belum makan. Awalnya, sasaran kami menuju Walela (matchingin status FB biar lucu, dari malela ke walela.. heheh *lirik Santi). Walela, itu sebuah warung mie ayam yang terkenal di daerah Dago atas, Bandung. Selain spesialisasi mie ayam, mereka juga menawarkan menu yang bersifat ringan. Berhubung takut terjebak kemacetan arah pulang menuju Jakarta, kami memilih sebuah restauran Sunda ala Lesehan di beberapa kilometer arah keluar tol Pasteur (dari arah Bandung), namanya Raja Sunda. Kami sengaja memilih lesehan agar bisa cepet-cepet rebahan (red: tidur-tiduran), secara sang supir sudah gak tidur hampir 2×24 jam, ditambah sakit gigi dadakan yang dideritanya sepanjang jalan menuju Bandung heheh.
Sudah semangat-semangatnya, eh si pelayan malah bilang lesehannya penuh, berkali-kali kami tanyakan pada yang lainnya juga penuh, bahkan kami sampai rela menunggu kalau ada yang akan selesai makan. Hasil penasaran Arta setelah melihat selebaran brosur lesehan tersebut, ia sempat bertanya ke pelayan dimana letak lesehannya. Hushhhhttt, secepat kilat doi langsung naik tangga ke lantai dua, kami jadi mengikuti jejaknya, tetapi apa saudara-saudara, ternyata ada dua tempat lesehan yang kosong. Hmmmm ??@#%$$&%*?? x _ x
Setelah merundingkan menu makanan dan memesannya, kami mulai rebahan santai, ada yang udah merem entah kemana, masih ada yang sibuk dengan BB nya mengupdate status, bahkan ada yang merem sambil meringis sakit gigi. Gak lama menu yang dipesan datang, ada nasi liwet, ada ikan goreng yang jadinya malah ikan terbang, ada ikan bakar, ada karedok, ada sayur asem, tempe tahu goreng, ada ayam hejo ( ayam cabe ijo) dan lalapan, tapi minumnya teuteup.. teh…ada teh tawar panas, ada teh manis anget, ada pula es teh manis. *Cser.modeON. 😛
Kelihatannya sih enak, tapi sayang, beberapa komplain dari mulai rasa hingga cara penyajian mulai bermunculan, ikan bakarnya kemanisan, ikan gorengnya jadi kecil gara-gara kebanyakan gaya (dibikin gaya terbang, hahah), sambelnya gak pedes blassss, hambar rasanya, dan satu lagi, masa penyajian sayur asemnya dingin kaya abis diinepin di kulkas. Saya langsung panggil si akang-akang nya suruh panasin lagi, ehh weleleh, udah hampir setengah jam gak balik-balik tuh sayur asem, padahal cuma semangkuk kecil. :( Akhirnya saya batalin aja tuh sayur asem.
Tapi tetep sih meski hambar, makanan abis gak bersisa. *lagi.CSmodeON 😀
Nah ini lagi si ujang kurang manner, masa ngasih bill kami dari lesehan sebelah, padahal depan lesehan kami masih plong melompong, gak soppppaaaan banget sih, keluh kami semua. Akhirnya entah mulai dari siapa, kami malah sepakat untuk mengajukan komplain ke sang Manager restauran ini atas segala ketidak nyamanan yang terjadi. Ini pun masih dihalang-halangi oleh beberapa pelayan yang mengatakan kalau Managernya lagi keluar makan. Pyuhhhh, kena batunya mereka. Pasalnya waktu kami keluar ada seorang laki berperawakan perlente kayak seorang Manager,langsung saja kami tanya di meja kasir, disitu mereka kami berondong dengan berbagai pertanyaan, sindiran, hingga komplain pedas. Mungkin mereka pikir, kami ini gelandangan atau apa yang ingin buat rusuh, secara pakaian kami gak sekeren tamu-tamu yang lain, hingga mereka diskriminatif terhadap kami dengan mengatakan bahwa lesehannya penuh. Huhuhuhuuuu, sang Manager lalu meminta maaf sambil meluncurkan beberapa alasan, sayangnya kami gak perduli itu, langsung saja tancap kaki. Oh yah, toiletnya juga gak nyaman loh, terutama bau nya ituuu loh, masa tempat seeksklusif ini, fasilitasnya masih bau kampung sih.. 😛
Aniwey, meski penuh komplain, acara makan-makan ini tetap menyenangkan, kan yang penting kenyang, hahahah. Sekali lagi, beruntung kami tak terjebak macet saat menuju Jakarta, jalan tol lancar car car ajjjaaahh, tim horeee satu persatu akhirnya tertidur lelap sampai Jakarta, tinggalah si pentolan trip dan navigator nya berjuang menerobos jalan tol Bandung – Jakarta. *thanks for Arta and mas Beck
Namanya juga mobil pinjeman, si kuda hitam yang sudah penuh lumpur itu harus masuk ke salon sebelum dikembalikan pada pemiliknya. Kami mampir ke Adji Wash Car dibilangan Jl Raya Pasar Minggu. Lumayan, cuma lima belas menit, udah termasuk vacum debu, steam, semir ban dan satu lagi pulangnya dikasih alas buat kaki dimasing-masing spot tempat duduk, tulisannya “Trimakasih, semoga puas dan kembali lagi”. Hehehehe, lucu juga, dan murah lagi, cuma 25 Ribu Rupiah. Harga backpacker, hehehe, saya jadi ingat keinginan saya untuk membuka usaha seperti ini, tetapi karyawannya cewe-cewe.. What Do you Think ???   :)           :)             :)

Leave a Reply