| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

MANGGAR – DENDANG – TANJUNG PANDAN, EXPLORASI JALAN TENGAH

Setelah usai dengan Membalong, kami meneruskan perjalanan menuju kota Manggar, Belitung Timur. Sebenarnya sih beberapa sudah kami jelajahi waktu kedatangan kami pertama kali bersama 9 orang teman yang nekad liburan gaya kami to the max , dan beberapanya itu cuma Sekolah Laskar Pelangi dan Pasar Malam si LP juga yang deket pertigaan Pasar Lama Gantong, bukan di Manggar nya. Jadilah kami kembali ke kota si Laskar Pelangi itu. Dari Membalong kami menyusuri jalan utama menuju Tanjung Pandan, akses umumnya memang harus kembali ke Tanjung Pandan dulu untuk ke Manggar, tetapi kami nekad menyusuri jalan tengah alias jalan pintasnya, biar ngirit bensin ! Menurut Pak Zuharno, pemilik warung sekaligus mantan RT di Panyabung, kami harus belok ke arah desa Mempiuk, tepatnya setelah desa Batan. Lumayan jauh juga, satu jam sudah kami tancap gas meninggalkan kota Membalong, perut sudah mulai keroncongan padahal tadi dirumah pak Zulyadi hampir saja makan siang enak, sayang kami segan untuk bilang iya karena baru kenal, ah jadi nyesal ! Alhasil kami berhenti di persimpangan jalan sebelum desa Batan, untuk makan siang di warung Padang. Emang bener sih, namanya juga di Pulau, meski udah di kota nya harga makanan jadi lebih mahal dari warteg atau warPad di Jakarta.
Selama di Membalong, matahari setia bersinar, tanpa awan mendung sedikitpun, tetapi setelah kami keluar desa Membalong, matahari kembali berulah, bergaya matahari lokal, hujan pun ikut-ikutan lokal. Sebentar didesa ini mendung dan gerimis, eh 200 meter kesono’an dikit udah terang benderang, hampir begitu terus selama perjalanan. Cuaca Belitung barat memang lagi hobi bertingkah lokal macam ni, jadi siap-siap aja jas hujan. Mempiuk itu adalah jalan tengah menuju arah Bandara, dipersimpangan setelah keluar desa Mempiuk kami menyusuri jalan menuju Manggar sesuai plang penunjuk jalan yang setinggi tiang listrik itu.
Lumayan, hampir 3 jam kami ngebut, dengan 2 kali isi bensin di warung bensin pinggir jalan yang tersedia, akhirnya kota Manggar kami dapatkan 20 menit sebelum Sunset. “Selamat Datang di kota 1001 Warung Kopi” sebuah gapura besar membentang di lintasan jalan yang kami susuri. Mampir ke Hotel Oasis yang ibarat Novotel nya Manggar untuk tanya harga, siapa tahu aja ada kamar super ekonomis yang harga 50 ribuan, hehehe, si mbak resepsionis protes, kamar Cleaning Service nya aja disini lebih cakep dari pada hotel melati, hahahah. Harga berkisar 200 ribuan keatas, semua AC. Ah, kami pass aja lah untuk yang ini. Tancap gas lagi cari penginapan, dari tawaran 300 ribu di Nusa Indah sampai yang 50 ribu di penginapan Ibu Wena didepan taman kota, tapi 50 ribu kali ini kami tolak juga, pasalnya setelah ditengok, tuh sih kamar para dedemit, hiiiih kami kabur terbirit-birit.
Disini rata-rata penginapan emang mahal banget, entah mungkin karena ikon kota ini yang juga mahal sebagai Tanah Timah sekaligus Laskar Pelangi. Akhirnya kami menyerah di Hotel Citra 21 di jalan Jendral Sudirman, seharga 110 ribu untuk kelas AC, dan non AC seharga 100 ribu. Saking semangatnya, baru taruh ransel kami cabut lagi memburu Sunset disalah satu pantai. Sayang kebanyakan pantai disini nggak untuk liat Sunset, karena si Sunset datengnya dari arah belakang pantai malah. Iseng hampir gelap kami tiba di Pantai Nyiur Melambai, 3 km dari arah taman kota. Pantai ini punya nickname pemberian masyarakat sekitar, Pantai Lalang karena terletak didesa Lalang. Gaya pantai ini sih agak boring, mirip banget kayak tepian Ancol, air nya juga lagi keruh kayak ampas kopi gara-gara pengaruh angin musiman yang membawa sampah, tapi mungkin memang cantik seandainya saja lebih dirawat dan lagi nggak musim sampah. Banyak gubuk ala gazebo baik permanen ataupun terpal sponsor.

WARKOP GESER DIKIIIIIT.. :-)

Malam pertama kami di Manggar lumayan asik, berkat kenalan dengan Trio Manggar (Reza, Mosel dan Ian) di Pantai Lalang sore itu, kami ketemuan untuk jelajah Warkop sekitar, tetapi error nya kami malah geser haluan jadi nyelinap ke Puri Indah. Kami pikir Tj.Pandan lebih gaul dari pada Manggar, tapi ternyata nggak juga tuh, disini selain Warkop dan tempat Karoekean, ada juga Klub ajep-ajep alias tempat dugem, Puri Indah adalah tempat hangout anak-anak Manggar ala perkotaan, macam kayak hiburan malam gitu lah, khusus malam kamis, malam minggu, dan malam senin PI begitu klub tersohor sejagad Manggar itu disebut jadi ajang dugem gaya geleng-geleng. Selain tiga hari itu settingan klub dirubah jadi tempat karoekean massal. PI tetanggan dengan Hotel Nusa Indah, dari depan PI nampak seperti bangunan klenteng, ada naga-naga merahnya, awalnya waktu lewat pertama kali kami mengira memang itu klenteng, tapi kok ada lampu nama ngjreng pisan, dipelototin kok ada kolam renang, didenger-denger kok ada musik dung-dung -pak. Eh, taunya tempat dugem, berlantai 4, ada restoran, kolam renang, klub, dan kamar shorttime’an gitu. Selain lucu ngeliat aliran musik ala “ klub geleng-geleng” yang lagi Inn banget disitu, lucu juga ngeliat LE nya imut-imut, tapi gendut-gendut bukan kepalang. Sampai kami pikir memang begitu selera kaum adam disini, “nggak kak, dulu sih waktu didatangkan dari kota kembang mereka nggak begitu, masih langsing, nggak tahu kenapa 3 bulan disini jadi bengkak nggak keruan gitu, heheh” kami tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Reza dan Mozel yang sedang asik menenggak bir hitam yang katanya minuman wajib pemuda-pemudi Manggar setiap malam.
Hari kedua kami dibawa muter-muter ke daerah kampungnya Mosel di Kecamatan Damar, sekitar 12 km dari taman kota Manggar, tepatnya kami menyusuri desa Burung mandi. Desa dengan pemakaman Cina yang luas itu menyimpan beberapa destinasi wisata pantai yang cukup menarik, dari mulai wisata ziarah ke kuil Sun go kong, kuil Dewi Kwan Im, lalu wisata alam gaya bukit dengan alas pantainya di Bukit batu, kemudian ada pantai cantik favorit masyarakat Manggar di Pantai Burungmandi. Dan nggak hanya itu, Mozel dan Reza dengan ramah membawa kami kesudut pantai yang belum ada namanya di ujung desa Sukamandi, jalannya masih tanah merah, belum lagi pemandangan spektakuler dari tanah-tanah yang bolong sampai tanah yang menggunung hasil ulah para pengolah timah, yang sepanjang jalan tak henti-hentinya membuat kami geleng-geleng dan ngelus dada berkali-kali. Lepas dari itu, si pantai memang super perawan bo, pasirnya itu lohhh, putih dan halus kayak butiran sutera, yah beberapa sih memang ada yang tercemar karena pengaruh musim sampah yang sedang berlangsung beberapa bulan terakhir. Pantai ini dulunya adalah kediaman sekaligus tempat semedi seorang pemangku adat atau dukun tokcer di Sukamandi. Sore menjelang kami disambut keluarga Mozel di Damar, logat bicara ibu nya kental sekali Melayu Deli nya. Perjalanan diteruskan menyusuri Pantai Mudong yang hanya 8 km dari Damar, tepatnya di desa Mudong, dimana rawa-rawa angker pemukiman buaya sering kali membuat getir di hati kami yang sedang melintas.
Melepas sore kami berlabuh di Pantai Serdang yang hanya 3 km dari taman kota Manggar, pantai ini sangat fotogenik, meski kurang berkenan dibuat berenang. Tetapi budaya suku laut yang katanya kebanyakan orang Bugis ini memang patut diacungi 10 jempol sekaligus, Waktu pagi buta saat para nelayan itu bersiap melaut, dan momen sore saat waktunya nelayan mulai menepi, para istri , anak dan sanak saudara sekitarnya Wajib ada untuk melepas atau menyambut sang kepala keluarga, melepaskan mesin, menggulung layar, hingga membantu kapal untuk parkir di tepian. Hasil tangkapan mereka nggak cuma di jual ke agen, kami dan Reza mulai mendekati para keluarga nelayan yang sudah siap dengan timbangan, lalu blek-blek-blek, jadilah ikan Kerisi seberat 1 kilo 2 ons dihargai 30 ribu untuk jamuan makan malam kali itu. Seaddapp, mantap, ajiib suwerr deh, citarasa ikan segar dengan rempah-rempah racikan ala hotel Nusa Indah bikin kami gelap mata saat menyantap, 2 menu lengkap ikan bakar dan makan khas Belitung gangan ikan, semua bersih tak bersisa, sampai kami sendawa berkali-kali tanda kekenyangan.

GANTONG – DENDANG – TJ. PANDAN

Hari ketiga di Belitung Timur, kami menyusuri kecamatan Gantong yang terkenal sebagai rumah produksi film Laskar Pelangi. Ada replika sekolah Muhamadiyah Gantong di desa wisata Selingsing yang sebelumnya sudah kami kunjungi bersama 7 orang kawan lainnya. Kali kedua kami di Gantong adalah untuk melengkapi paket wisata si Laskar Pelangi, nggak Laskar-laskar Pelangi doang sih, tetapi ya memang kebanyakan tempat disini memang digunakan untuk syuting layar lebar itu. Dari Manggar hanya setengah jam menuju Bendungan Pice, salah satu peninggalan Belanda yang juga jadi tempat syuting LP. Cerita tentang buaya-buaya penghuni bendungan ini memiliki dua sisi yang unik, mistis dan menggelikan, menurut saya pribadi. Mosel menceritakan, buaya-buaya disini bisa dipanggil dengan mantra khusus dari si dukun, nggak sembarangan dipanggil juga, pasti ada keperluannya lah. Misal, jika salah satu dari keluarga kamu hilang atau dibawa lari si buaya, kamu bisa minta si pawang buaya untuk memanggil para buaya untuk mengembalikan, paling tidak jasad yang menjadi korbannya. Lain lagi cerita si Reza, “kak nggak usah khawatir, buaya-buaya disini makan orang yang hanya dengan tanda-tanda”ungkapnya. Belakangan dari ceritanya, rupanya si buaya hanya memakan orang dengan guratan alis yang menyatu, alasannya karena menurut si buaya yang doyan makan monyet, manusia dengan guratan alis menyatu itu mirip sekali dengan monyet !! Nah Lohhhh.. untung alis saya masih misah, hahahah.

PUCUK DI CINTA ULAM TIBA..

Ah, ini takdir atau kebetulan bagi kami sama-sama menyenangkan, sama-sama bikin sirik orang,heheh. Dalam benak kami nggak sampai berpikir sejauh itu, kenal doi pun cuma sekedar nama dan karyanya di Laskar Pelangi dan di Sang Pemimpi, nggak pernah liat wajahnya seperti apa. Tapi Tuhan memang Maha Kuasa, apa yang nggak terpikirkan manusia bisa IA perlihatkan jauh dalam seperseribu detik bahkan. Tanpa ada firasat istimewa apapun, tanpa mimpi kejatuhan bintang dulu pun pagi menjelang siang itu kami bergegas tancap gas dan berhenti di pertigaan Gantung, tepatnya di Pasar Lama Gantung, sebuah pasar tradisional sederhana yang menjual berbagai barang keperluan hidup masyarakat Gantung. Berkat petunjuk dari beberapa orang, kami masuk ke pasar itu demi mengunjungi Warkop paling legendaris sejagad Belitung. Apalagi kalau bukan Warkop Akiong atau Warkop Aitam, asumsi kami warkop beken itu sudah menjadi macam cafe Starbucks yang kayak di Jakarta, tetapi can u imagine, tempat ini bukan hanya beken tetapi juga bersahaja, biar udah beken sejagad Belitung, lokasi nya masih dimurnikan di tempat asalanya, di pojokan pasar lama Gantung. Berjejer dengan lapak-lapak sayuran, pakaian, bahkan ikan, uniknya lagi dikelilingi banyak orang gila berkeliaran, “ada turis, ada turissss”, berkali-kali orang gila itu berteriak mendekati saya yang sudah beringsut minggir karena ketakutan. Apa nya yang mirip turis yah, rambut saya saja pirang juga nggak, ah pasti nih gara-gara si Arta bawa kamera SLR nya yang kata segede gaban. Untung ada seseorang yang baik hati bicara pada si orang gila dengan bahasa lokal, sekejap orang gila itu pergi setelah diberikan sebatang rokok. Ah, saya menghela nafas panjang dan melemparkan senyuman kepada lelaki gempal dan kawan-kawannya itu yang sudah asyik menyeruput kopi di Warkop Akiong.
Bukan cuma karena doi meredakan orang gila yang keranjingan turis itu saya kembali menatapnya, dan menyapanya kemudian, aura famousnya bikin saya penasaran ingin tahu siapa namanya. “Bang, lagi berkunjung disini juga”kataku membuka. “heeyyh, iya nih, kami sedang ada acara, kalian darimana” si pria gempal berambut ikal itu balik bertanya dengan logat super luwesnya, “kami dari Jakarta bang, sudah semingguan kami disini, emang lagi ada acara apa bang disini?” pertanyaan ku makin pede. “waah dari Jakarta, asik ya, kalian lagi liburan atau lagi ada tugas disini, oh ya jika kalian ada waktu sore ini kami ada acara di Pelabuhan tj.Pandan, kalian silahkan datang” doi menanggapi dengan senyuman sambil menyeka pipi anak kecil yang ada dipeluknya. “Ehh, acara???”saya mulai bertanya-tanya sendiri, saya curiga sesuatu, saya ingin sekali menerka sesuatu, tetapi entah saya tak dapat langsung mengungkapkannya, padahal saya tahu saya sedang menerka apa . “ah cuma jalan-jalan doang kami bang disini, saya, saya sih nggak kerja bang, cuma nulis kecil-kecilan” jawabku patah dan malu. “Wah sama dong kita, datanglah nanti sore, aku mengundang kalian untuk acara launching novel ke 7 ku” doi membalas. Glegggg, rasanya mau telen ludah sedalem-dalemnya sodara-sodara, hampir keselek es batu dari es kopi susu yang sedang saya minum kala itu. Belum sempat saya bicara sesuatu, doi mengajak saya berjabat tangan dan mengatakan hal yang bikin saya keceleee setengah matiii bo. “kenalkan, saya penulis novel dari 11 patriot dan Laskar Pelangi, saya Andrea Hirata, im proud of you girl, saya suka sekali bicara dengan penulis-penulis, kamu harus datang diacara saya nanti sore yaa” begitu doi menatap saya berbinar-binar, dan saya cuma terbengong-bengong nggak sempet menanggapi apapun katanya, saya seperti berada di dunia lain saat itu, saya tengok kanan kiri, lalu saya menepuk pipi saya sebentar, ehh kok beneran yah, “bang, abang tuh bang Andrea Hirata yahhh” abis sekian menit saya bengong, saya langsung nyambar begitu aja kayak geledek, dan bang Andrea tersenyum-senyum geli melihat polah saya yang salah tingkah. Untung beberapa detik kemudian suasana mencair dengan kata-kata pujian diantara kami. Bang Andrea bukan cuma luwes dalam kata, doi juga bersahaja, berkali-kali doi memuji kami dan www.kakigatel.com kami, saya sampai kehabisan kata-kata untuk balas memujinya setinggi langit, saya keburu terkesima dengannya, dengan ceritanya tentang Laskar Pelangi dan 11 Patriot, saya sampai tak sadar menertawakan seorang Mira Lesmana, yang katanya doi nggak bisa kerja kalau belum minum kopi dari warkop Akiong, teman sekolah bang Andrea ini. *sigh
Whattt, jam setengah sebelas !! langsung saja kami pamit sama Bang Andrea untuk kabur dan putar haluan, yep akhirnya dari Gantung kami balik ke hotel di Manggar, packing, dan check out saat itu juga. Secepat kilat kami tancap gas menuju Kecamatan Dendang, itenerari wajib sekaligus destinasi terakhir kami di Belitung Timur. Di kawasan Dendang banyak yang bisa dilihat juga loh, Pantai Punai cantik dan eksotik meski agak sepi, lalu ada Batu Belida, sebuah batu ditepian pantai dengan bentuk dan mitos tua yang masih kuat. Oh ya, sesaat sebelum pamit pada Bang Andrea tadi, doi sempat menyebutkan nama tempat rahasia nya yang katanya soooo dramatis kalo dilihat saat malam. Jujur sih saya tak mendengar jelas saat dia bilang, karena kemudian ia menutupinya dari saya, dia bilang nanti lain waktu dia akan mengantar saya kesana. Tetapi seperti sudah jadi rezeki, nggak sengaja seorang bapak pemilik bengkel yang kami singgahi di dekat pantai Punai mengatakan salah satu tempat yang sama, yang disebut bang Andrea Hirata. Langsung saja gotak-gatik persneling, wuiiizz, kami sampai disuatu tempat bernama Batu Buyong, dahsyat man, amazing, nggak perlu menunggu malam untuk melihatnya menjadi dramatis, siang bolong pun bulan udah nongol, jadi tetap aja nggak ada jeleknya sama sekali. Sebuah batu juga menuai mitos mistis, batu kecil yang konon nempel cuma se’ipit di batu raksasa itu katanya nggak bisa digerakkan sama sekali apalagi dijatuhkan dari batu besarnya. Alat-alat berat sudah pernah diuji coba untuk meluluh lantahkan atau memisahkan batu kecil itu dari sang batu induk, tetapi yah yang bisa diliat aja, batu itu masih disitu, nggak bergerak sedikitpun. Malah ada mitos, batu itu nggak bisa difoto, alias kalo difoto nggak ada hasil gambarnya, apalagi yang dengan tujuan untuk dikomersilkan atau dijual, tetapi siang itu kami beruntung, batu itu tetap ada dalam hasil gambar foto kamera SLR nya Arta.
Weyhh, kian sore, kami kian panik, serasa nggak mau ketinggalan acara penting itu, kami buru-buru memburu destinasi seightseeing selanjutnya menuju Makam Raja Balok di desa Balok, pertengahan jalan menuju Tj.Pandan. Makam keramat itu jauh berada didalam sebuah hutan lindung Sapta Pesona milik daerah setempat. Baru 500 meter kami masuk kedalam hutan itu, aroma cendana bercampur melati pun semerbak menyengat kehidung kami, benar-benar keramat.
Beruntung, kami tiba di Tj.Pandan 10 menit menjelang Maghrib, balik lagi ke Hotel Surya, ke kamar yang sama, hah suatu kebetulan pula. Malamnya acara itu berlangsung sukses dan super lancar, banyak awak media jauh-jauh dari Jakarta datang untuk mewawancarai dan mendengar tutur kata tentang novel ke 7 nya tentang semangat PSSI ini. Kami kebagian tempat duduk kehormatan bersama awak media lainnya. Bahkan saat kami mengantri minta tanda tangan, bang Andrea bilang, “hey kalian, jangan pulang dulu, kita masih harus bicara dan cerita banyak hal, atau mungkin kita bisa ngopi-ngopi di Jakarta nanti yah, heheh” begitu bersahabatnya ia, membuat kami tersanjung dan tersandung kege’eran, hahahaha.

Leave a Reply