| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Mengintip Peninggalan Mughal di Agra

Kota ini merupakan state dari India bagian Uttar Predesh, terkenal sebagai salah satu sudut segitiga emas India, selain dari 2 kota lainnya, New Delhi dan Jaipur. Beberapa highlight kota ini juga banyak dipromosikan pemerintah dan Tour Agency lewat brosur-brosur gratis yang disebar melalui hotel, bahkan restoran sekitar kota.
Salah satu yang terkenal sudah pasti adalah Taj Mahal, bahkan bisa dibilang Agra menjadi rumah bagi bukti cinta dari Raja ternama Shah Jehan itu. Menuai ketenarannya membuat tempat ini selalu padat dikunjungi setiap harinya, jumlah pengunjung meningkat drastis saat weekend tiba karena warga lokal sekitar banyak pula menghabiskan weekend mereka dengan mengunjungi Taj Mahal.
Seakan tak ingin tertarik dengan keriuhan menjelang weekend, kami memutuskan untuk mengunjungi Taj Mahal di hari esok, berharap kemacetan sedikit berkurang. Shah Jehan tak hanya meninggalkan Taj Mahal untuk kota ini, beberapa peninggalan lainnya tampak masih jadi agenda utama para turis domestik.
Alih-alih sebagai backpacker, kami ingin cost setiap perjalanan kami semurah-murahnya, termasuk dalam hal transportasi. Untuk berkeliling kota Agra, kami mengambil alternatif paling memungkinkan dan murah, dengan men-carter autoricksaw alias bajaj seharga 400 rupees untuk waktu 7 jam, mengunjungi beberapa tempat seperti Agra Fort, Akbar Mousoleom, dan Ittimad-ud-daulah, atau sering dikenal sebagai Baby Taj. Setelah jam makan pagi, kami segera meluncur dengan sopir bajaj berkopiah ala pak haji menuju salah satu peninggalan ternama dari Raja Mughal Shah Jehan, Agra Fort.
Suasana jalanan mulai ramai dengan suara klakson yang membahana, kanan kiri kendaraan saling menyalip mendahului, dua puluh menit kami dibawa sang sopir melaju kencang. Akhirnya tibalah kami di depan gerbang Agra Fort. Dari kejauhan benteng ini jelas mirip sekali dengan The Red Fort, dinding benteng ini masih terbuat dari bata merah, yang membedakan adalah gaya arsitektur dalam ornamen ukirannya sangat dominan kepada relief kaligrafi Islam. Anggun dalam warna kebiruan, beberapa bagian dari benteng ini adalah istana dan ruangan-ruangan publik milik Raja Jehangir. Tak hanya kemegahan istana, sebuah pemandangan apik dari Sungai Yamuna yang membelah di antara Taj Mahal dan Agra Palace ini tampak jadi sesuatu spot penting bagi para pencari berita dan gambar alias foto.
Masalah tiket, para turis dimudahkan dengan tiket paket yang disediakan oleh Agra Development Association  (ADA), yang memberikan satu tiket yang berlaku untuk kunjungan ke beberapa tempat wisata yang telah ditentukan di kota Agra, seperti Agra Fort, Akbar’s Mousoleom, Ittimad-ud-daulah, dan Fatehpur Sikri dalam masa berlaku hitungan satu hari.
Akan tetapi, untuk turis yang tidak memiliki agenda kunjungan ke semua tempat di Agra dapat memilih tiket umum Archeological Survey of India (ASI), yang hanya memberlakukan satu tiket untuk hanya satu kunjungan ke satu tempat. Istimewanya, bagi para pengunjung anak-anak diberlakukan non charge, terhitung anak usia 2 hingga 17 tahun. Karena, menurut kami, terlalu tergesa-gesa untuk menyelesaikan sightseing kami dalam satu hari, termasuk di dalamnya Taj Mahal, maka kami memutuskan untuk mengambil sistem ASI dalam perjalanan kami hari ini. Tiket masuk Agra Fort mematok harga 300 rupees per orang.
Selesai dengan kemegahan benteng Agra ini, kami segera meluncur ke tempat berikutnya, salah satu situs tempat penting bagi para pendahulu Agra, sebuah pemakaman mewah berdinding istana marbel bagi para keturunan kerajaan Mughal. Namanya Akbar’s Mousoleum, letaknya di daerah bernama Sikandra, arah tenggara Agra Fort. Tiket masuknya hanya sekitar 110 rupees per orang.
Ada Taj Mahal, ada Baby Taj, yah di Agra terdapat bangunan yang struktur bangunannya mirip sekali dengan Taj Mahal, masyarakat Hindi memberinya nama Itimad-ud-Daulah, atau sering dijuluki Baby Taj. Yang menjadi satu-satunya yang berbeda tempat ini dengan Taj Mahal adalah bahan materialnya yang terbuat dari campuran bata merah dan putih.
Baby Taj merupakan sebuah makam bagi Mizra Ghiyaz Beg, seorang nobleman kenamaan Persia yang pernah menjabat  perdana menteri pada zaman Kerajaan Jehangir. Di sekitar Baby Taj ini juga terdapat tempat penting lainnya, seperti Chinika Rauza dan Mehtab Bagh, di mana kita bisa melihat pemandangan dengan unsur warna hitam dari Taj Mahal. Banyak foreigner datang ketika menjelang matahari terbenam untuk mendapatkan pantulan warna sunset dengan Sungai Yamuna, yang cenderung kehitaman dari Taj Mahal.
Waktu sunset begitu cepat, saat gelap mulai tiba, turis yang haus moment masih tampak sibuk mencari spot terbaik untuk mendapatkan efek refleksi Taj Mahal yang kehitaman di pinggiran Sungai Yamuna yang mulai mengering. Karena antara ujung taman dengan bibir sungai telah banyak dibatasi dengan kawat-kawat berduri, tetapi begitu para turis tampak asyik mengambil gambar di sela-sela kawat yang lebar.
Kami berusaha mematuhi peraturan yang ada, yakni berada dalam batas yang telah ditentukan. Tak hanya memandangi, para turis dengan penampilan hippies, dengan selembar kertas dan ballpoint kecilnya tampak asyik menulis kata-kata indah yang sedang terlintas di sekitar Sungai Yamuna yang membentang tepat di belakang Taj Mahal.
Bahkan, seorang sopir bajaj yang sedang menunggu penumpang sewaannya tampak terbengong-bengong melihat cara para turis mengambil gambar dengan sempurna beserta refleksinya. Ikut diramaikan dengan beberapa pedagang kecil yang menjajakan beberapa potong pakaian khas bersablon Taj Mahal.
Seorang anak terlihat aktif menawarkan dagangannya kepada turis-turis dengan mengucapkan salam khas negara para orang yang menjadi incarannya, anak itu sempat menggoda kami degan “konichiwa”-nya yang berkali-kali tak kami tanggapi.
Tak menyerah, ia mencoba menanyakan asal negara kami, dan ketika kami menjawab “Indonesia”, maka yang terlontar dari bibir usilnya itu adalah “Assalamualaikum”, lalu kami jawab dengan tersenyum, seraya mengatakan maaf untuk barang dagangan yang ia tawarkan.
Kami suka cara ia menjual dagangannya, ia harus tahu beberapa kata khas dari beberapa negara demi mengambil hati calon pembelinya. Beberapa orang lokal juga tampak mencari nafkah dengan membersihkan tepian sungai sekitar yang berujung meminta imbalan rupees.
Kami mengangsur pergi dari keramaian yang masih berlangsung saat refleksi Taj Mahal di air Sungai Yamuna mulai menghilang, mulai tenggelam dalam gelap. Tampaknya pak sopir itu juga sudah tak sabar mengakhiri pekerjaannya hari ini, konon ia harus kembali sebelum jam makan malam. Dia merupakan seorang ayah dan Muslim yang taat, baginya makan malam bersama keluarga setiap harinya adalah salah satu kewajibannya sebagai kepala keluarga dengan rezeki hari ini yang ia dapatkan. Sopir bajaj itu juga tampak terburu-buru dengan waktu magrib yang mulai menipis dikikis macet di sebagian jalan yang kami lewati.
Akhirnya 30 menit perjalanan kami tiba di Stasiun Kereta Api Agra Cantt, membeli tiket kereta ke kota Varanasi untuk 2 hari mendatang, lumayan mahal, 263 rupees per orang atau sekitar Rp 50.000-an. Untungnya kami tak harus mengantre di form enquery karena kami sudah punya beberapa formulir kosong yang siap diisi sesuai identitas dan jadwal kereta api yang dimaksud. Kami tinggal mengantre di loket pembelian tiket, itu pun tak lebih dari 10 menit, 2 buah tiket ke Varanasi JN dengan nama kereta MTJ PNBE Express kami dapatkan dengan mudah. Bergegas saja kami meninggalkan stasiun dengan wajah penuh ceria, menanti lanjutan perjalanan setelah Agra.
Si sopir mengantar hingga di depan pintu lobby hotel, tampak ia terburu-buru dan bergegas pergi setelah menerima 400 rupees yang kami sodorkan ke kantongnya. Senyum dan rasa syukurnya sangat kami dengar jelas diucapkannya dengan nada tulus, kami mengamatinya hingga bajaj berwarna hijau krem itu menghilang di ujung gang Agra Ganj.
Setelah urusan mata selesai hari ini, kami menyempurnakannya dengan menyenangkan hati perut kami yang sudah sejak magrib tadi menagih-nagih janji pembayaran atas hasil kerjanya di dalam tubuh kami, alias lapar yang sangat. Kami tak langsung kembali ke kamar. Kami menuju Taj Cafe yang kelihatan sudah mulai ramai dengan para turis yang datang untuk makan malam atau hanya sekadar menikmati khasnya rasa bir lokal India. Beberpa menu utama restoran ini kami pesan, jenis daging-daging hingga ikan-ikanan mendominasi meja kami malam kedua kami di Agra.
Sambil menyusun rencana untuk agenda esok hari atas kunjungan kami ke Taj Mahal, kami asyik berbincang dengan beberapa bule-bule lainnya yang kebetulan satu meja dengan kami tanpa tahu betul nama mereka. Kami tetap asyik ngobrol, berbagi pengalaman tentang perjalanan dan tempat wisata di negara kami masing-masing. Seusai ngobrol sana-sini, akhirnya satu per satu dari kami mulai menyudahi malam ini dengan kembali ke penginapan masing-masing.
http://travel.kompas.com/read/2011/06/10/15050476/Mengintip.Peninggalan.Mughal.di.Agra

Leave a Reply