| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

MENGUAK SANG PERAWAN BELITUNG BARAT, JEJAK HARTA KARUN TERPENDAM

Dear: Laskar Kakigatel

Salam Serumpun Sebalai,

Salam tersebut masih ramai kami sorak-sorakan di tanah Belitung di hari ke-9 kami di kota Tanjung Pandan. Setelah usai dengan 4 hari penjelajahan menyusuri sudut-sudut pinggiran Pulau Belitung, kami kembali ke Kota Bertuah ini untuk menghadiri beberapa momen penting si Laskar Pelangi. Semalam, 10 Juni 2011 nasib membawa kami kembali ke Pelabuhan Tanjung Pandan demi menghadiri temu ramah awak media dengan si Penulis Laskar Pelangi, Andrea Hirata, sekaligus peluncuran novel ke-7 nya berjudul “Sebelas Patriot”, hari ini 11 Juni 2011, tepat pukul 09.00 menjelang siang rencananya Bupati Bangka Belitung akan meresmikan nama Pelabuhan Tj. Pandan sebagai Pelabuhan Laskar Pelangi. Hebaaaaat kan !, nggak kalah hebat dengan cerita dibalik kehadiran kami yang super dadakan 10 jam sebelum acara. Sebelum kami ceritakan mengenai hal ini, kami ingin mengajak sobat Kakigatel melanjutkan kilas balik perjalanan kami 4 hari sebelumnya.
Rekan sejawat sempat meledek kepada kami, betah ammat sih kalian di Belitung, nggak takut hitam? Ah, emang dasar Bolang, nggak perduli hitam atau kere, yang penting bisa kenyang makan dan jalan-jalan, heheh. Belitung nggak cuma Tj.Pandan dan Manggar aja, Belitung bukan cuma sekedar Tanjong Tinggi atau Sekolahan fenomenal Laskar pelangi di Gantong aja. Dua kota itu memang tercatat sebagai ikon kota Belitung yang tak ada habisnya dikunjungi wisatawan, tetapi sekali lagi Belitung bukan cuma sekedar dua kota itu. Belitung kaya akan tempat-tempat cantik yang masih liar bahkan perawan, hampir tak tersentuh mata dan telinga orang luar kota Belitung.. Dari kabar yang kami dengar, banyak potensi tempat-tempat wisata di Belitung yang belum tersentuh Pemda, tak ada fasilitas, tak ada penginapan atau semacamnya. Akhirnya kami nekad berbekal tenda kecil dan peta culikan dari Hotel Martani, demi untuk menelusup masuk ke semak-semak, ke hutan liar, hingga lansekap-lansekap dramatis itu kami temukan.
Explorasi kami mulai secara berurutan, dari kawasan di Belitung Barat hingga potensi terkait di Belitung Timur, melewati 8 kecamatan penting dalam catatan administrasi Pulau Belitung tersebut. Dimulai dari kawasan Membalong, yang terletak di barat daya Belitung. Jaraknya lumayan, 53 Km dari pusat kota Tj.Pandan, atau berkisar 1,5 jam. Aksesnya nggak mudah dijangkau dengan transportasi umum, untuk mengeksplor kawasan membalong, kamu harus punya modal sedikit lebih banyak untuk menyewa kendaraan roda empat atau roda dua, paling tidak untuk 2 hari lamanya. Harga rental pada umunya sih 250 ribu untuk mobil dan 50 ribu untuk motor.
Membalong memang bukan kawasan yang terkenal, tetapi sangat aman, karena dulunya bukan kawasan fenomenal bagi perusahaan Timah, tetapi sejak sekitar tahun 2000-an, Membalong ikut-ikutan jadi sasaran penggali logam hitam itu. Alhasil, sepanjang perjalanan kami melihat bukan hanya perusahaan Kelapa Sawit yang menghektar di sisi jalan, tetapi banyak juga gang-gang setapak tanah merah yang merupakan ladang TI, alias Tambang Inkonvensional Timah atau lazim disebut Kolong. Dalam segi pariwisata, memang tak banyak yang tahu kecamatan ini memiliki sisi lain dari sebuah kemolekan, pantai-pantainya yang masih perawan jadi buah bibir yang masih jadi impian destinasi wisatawan. Namanya juga perawan sodara-sodara, masih susah untuk dijelajahi, akses dan fasilitasnya jadi biang masalah bagi yang ingin berkunjung, harus sewa kendaraan atau malah ikut agen perjalanan. Tetapi berdasarkan kunjungan nekad kami, Membalong memang punya potensi pariwisata masa depan yang cerah bila Pemda tahu bagaimana cara memperlakukannya. Terdapat beberapa pantai cantik dikawasan ini, diantaranya bisa kamu akses setelah ujung Membalong, sebuah tugu dan Masjid besar memisahkan dua arah desa, yaitu Padang Kandis disebelah kanan dan Tanjung Rusa belok ke kiri dari tugu tersebut.
Kami menelusuri jalan ke desa Padang Kandis, konon daerah desa Padang Kandis dan seterusnya adalah harta karun terpendam, setelah menyusuri ± 8 Km dari pertigaan Membalong – Padang Kandis kami menemukan hamparan Teluk diujung desa Padang Kandis. Namanya Teluk Gembira, ini sudut pantai yang memang belum tersentuh dengan baik oleh Pemerintah, keberadaannya sebagai dermaga kecil menampilkan fasilitas yang memang kurang terawat, tetapi tetap saja terlihat eksotik dan perawan. Belakangan kami tahu, kawasan Teluk Gembira adalah Milik Pribadi yang disebut-sebut sebagai “Pak Haji” di desa Padang Kandis, yang rumahnya paling mentereng dari yang lainnya.
Baru saja menyandarkan Backpack, beberapa orang pemuda sudah komat-kamit mempromosikan tanah kelahirannya di Pulau Seliuk, pulau diseberang Teluk Gembira, hanya dengan Rp. 10.000 dengan kapal reguler di jam 2 siang kamu bisa melihat bagaimana situasi cantik dari Pulau yang konon kedua terbesar populasinya setelah Pulau Mendanau di Belitung Barat itu. Kata si mas-mas yang maunya dipanggil Bro itu, Tanjung Marabulu adalah tempat cantik disana, pulau tersebut juga terkenal sebagai penghasil komoditi makanan seperti kopra, ikan asin, buah mangga dsb. Tetapi yang paling menarik buat saya dari Teluk Gembira adalah rasa penasaran orang dari Batu Malang, alasan namanya simpel tapi lucu, karena batu besar itu terdapat di tengah lautan yang jauh dari peradaban. Batu raksasa berwarna putih tersebut awalnya dikira pengunjung sebagai kapal dari kejauhan atau malah sebuah gunung. Pertanyaan selalu saja dilontarkan karena kapal batu putih itu juga tak kunjung bergerak, atau gunung bersalju itu sepertinya cantik untuk dikunjungi. Pulau Seribu juga fenomenal sebagai pulau besar tapi tak berpenghuni, dia hanya seonggok ladang raksasa bagi bakau-bakau dan cemara laut.
Kami sempat tergiur, tetapi tujuan kami hari ini adalah tempat lainnya, di dusun Batu Lubang, hasil iseng kami bertanya pada Bapak Zulyadi, seorang guru SD di Membalong yang sempat kami temui dijalan tadi. Ada Tanjung Kiras, Batu Beginde, Awan Mendung, dan Pantai Panyabung, katanya jelas sambil menjelaskan jarak dan rute jalan yang harus kami tempuh dari Desa Padang Kandis. Nggak mau buang waktu kami segera menstarter gas motor kami, setelah puas dikagetkan oleh seekor Biawak hitam di tepian ujung Teluk Gembira yang sedang asik Spa. Jalan-jalan menuju tempat-tempat cantik disini rupanya agak susah, ndak ade penunjuk jalan atau plang nama tempat tersebut, kamu harus mengira-ngira jarak yang diberikan sang penunjuk jalan. 4 Km sudah kami menyusuri jalan kekanan dari tengah desa Padang Kandis. Sebuah komplek kuburan Cina agak angker membuat kami berhenti menentukan perkiraan jarak, dan alhasil kami malah nyusuruk ke jalan setapak kecil ke tengah hutan, untung cuma 500 meter, dan ketemu pasir putih yang landai. Dari kakek nelayan yang sedang menepikan getek kecilnya, ini rupanya yang disebut Tanjung Kiras, peradaban dermaga kecil yang nampak sedang direnovasi karena sudah penuh karat. Sepi, hanya kami bertiga dan beberapa monyet hutan sore itu, tetapi justru ini yang membuat perasaan menjadi spektakuler, ranting-ranting rambat dari bakau yang kering nampak jadi oportuniti yang eksotis untuk difoto. Sebuah pulau mungil bernama Mempred (kata si bapak nelayan), hanya berjarak 500 meter, kalau air sedang surut, kamu bisa jalan ke pulau tak berpenghuni itu.
Arta asik dengan senjata Nikon nya, sedang saya meluruhkan kasmaran saya dengan si rumah-rumah kerang kecil yang sudah ditinggalkan penghuninya, terdampar di tepi pantai. Karena sudah sore, kami buru-buru menarik gas kembali, meliuk-liuk dan hampir jatuh terpeleset tanah kering itu. 100 meter dari jalan setapak itu rupanya ada jalan tanah merah yang cukup luas, dan menjadi pintu gerbang bagi Tanjung Kiras. Nggak berhenti nyasar disitu, 2 km setelahnya kami juga nyasar di sebuah Ladang Tambang tanah liat, seorang pekerja mengatakan, areal dermaga yang diapit batu granit raksasa tersebut memang masuk dalam kawasan Pantai di Batu Lubang, tetapi untuk spot yang dikunjungi wisatawan masih 3 km lagi, mungkin maksudnya adalah pantai Panyabung. Ahhh, nyasar lagii kaan, tetapi nyasar kami kali ini hebat juga, pemandangan tak lazim jadi penasaran kami untuk bertanya lebih lanjut tentang penambangan tanah liat ini. Tanah liat menggunung-gunung itu rupanya adalah bahan utama untuk pembuatan keramik macam Essenza dan Keramik Mulia, diekspor pula ke beberapa negeri di Asia, seperti India, Dubai dan Arab.
Tancaaap gas lagi sampai ke ujung jalan, ada papan nama awut-awutan yang menunjukan jalan menuju Pantai Panyabung, taraaaaa, 5 menit kemudian kami tiba disebuah dataran yang rindang, masih diselimuti cemara-cemara laut dan beberapa palawija yang sengaja ditanam. Beberapa warung nampak mati karena tak ada aktivitas. Untung satu warung dipojokan masih menggelar dagangannya. Seorang wanita dengan wajah lebam habis dihajar mimpi indah nampak terseok-seok melayani orderan makan siang kami yang super telat. Weuwww, dua semenanjung batu granit raksasa yang mirip indung biawak itu memang cantik, ada 3 spot yang bisa jadi ajang keliaran. Bebatuan raksasa itu nampak pipih dan bisa dijajaki demi melihat lansekap laut yang mempesona. Pokoknya sore itu indah, meski sunset nggak bisa jadi angle’nya. Yang repot, saat kami mau kebelakang alias ke toilet, jangan harap toilet beneran, adanya cuma tiang kayu sedang yang dibebat dengan terpal seadanya, dengan lantai dasarnya pasir liar. Hah, beruntung sang pemilik warung masih menyediakan air bersih untuk urusan gawat satu itu.
Meski repot, tetapi malam disini mengasyikan, super dramatis karena bintang-bintang dilangit sana terlihat bergerak bahkan menari-nari. Entah ini efek obat batuk yang saya minum, atau memang bintang disana lagi usil dan keganjenan. Tetapi suuuweRR deh, kami memang lihat partikel angkasa yang satu itu bergerak kadang naik, kadang mereka turun, menghilang dan timbul lagi dijarak dan batasan yang sama. Awalnya kami kira itu pesawat kecil yang melintas, malah kami kira bintang jatuh, tapi memang bukan. Wisata disini memang agak aneh, tempatnya cantik tapi sepi, ramenya kalo weekend dan lebaran doang, itu juga orang lokal, kalo turis biasanya datang berbondong-bondong dengan bus wisata, dan cuma mampir sebentar, itu juga gak tiap hari ada. Tetapi gak jarang juga yang mau ngemping disini. Yah, siapa juga yang betah, fasilitas buat pipis aja parah banget, apa lagi kalau mau berby, aduuuhh dihutaaan aja kalii, pagi nya saya diungsikan ke rumah penduduk di daerah atas untuk urusan satu itu, tetapi kembali saya juga kecewa karena kamar mandi subsidi pemerintah tersebut sudah gak layak pakai, kolam airnya malah dibuat tempat pembuangan baju-baju bekas, serangga dimana-mana. Padahal konon subsidi kamar mandi ini baru diresmikan tahun 2007 silam. Memang sih nggak ada keran airnya, tetap harus nimba disumur yang juga sudah disediakan. Biasanya dua paket kamar mandi plus sumur itu diperuntukan untuk 3 hingga 5 keluarga. Tetapi dasar budaya disini masih agak terbelakang, budaya WC alam alias pup di hutan, sungai atau bahkan halaman belakang rumah jadi pilihan paling IN didesa ini. Alhasil, saya mandi ditonton oleh puluhan serangga-serangga. Hiiiiih !!
Miris dengan hal itu, kami singgah di rumah Pak Zulyadi siangnya setelah mengintip Tanjung Rusa yang katanya fotogenik, dan kami tambah esmosi lagi setelah mendengar curcol ala laskar pendidik Belitung yang sudah 38 tahun mengabdi ini. Beliau gak hanya cerita tentang potensi wisata yang ada disekitar Membalong, ia juga menuturkan hal-hal terlarang yang membahayakan jika kami mengeksposnya ke media. Syuuut, ini sebagian rahasia kecil yang dilontarkannya gamblang sebelum ia tahu kami awak berita. Kebanyakan spot-spot pantai di Membalong sudah jadi milik pribadi, baik pribumi lokal, pejabat, atau malah pengusaha bermata sipit. Entah bagaimana caranya jadi milik pribadi, sedangkan kewajiban pajak-pajak lahan tersebut tanpa transparansi yang nyata. Belum lagi dilema Penambangan berbagai golongan, dari penambangan golongan A, alias Timah, golongan B yang dikenal sebagai komoditi Kaulin, dan C sebagai tambang pasir atau tanah liat. Janji-janji fasilitas dan bantuan dari Perusahaan pengeruk itu cuma bak tong kosong nyaring bunyinya, bahkan untuk keperluan hajatan kemerdekaan RI setiap 17 agustus, masyarakat cuma makan alasan-alasan lama saja akhirnya, rusak lah, apalah , tetekbengek lah. Yang ada bumi Belitung makin bolong-bolong aja. “Jangan samakan Belitung dengan Jepang yang punya tekhnologi canggih, mau digali sedalam apa, tetap nggak hancur meski diterjang Tsunami, nah kalo Belitung, udah kecil, terbelakang, gak ada sistem keamanan, tetap digali sampai mati tanpa upaya reklamasi yang utuh, lalu masyarakat mau lari kemana kalau ada Tsunami”, belum lagi dilema pendidikan yang dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Usia 12 tahun saja disana sudah dianggap produktif untuk bekerja, apalagi lapangan pekerjaan disana bak membalikan telapak tangan, super mudah. Orang tua sejak dini sudah menanamkan pikiran bekerja pada anak-anaknya tanpa pendidikan yang cukup. Si Laskar pendidik yang satu ini pernah protes besar-besaran, tetapi apa daya, kekuatan masyarakat lebih dari sekedar satu kampung, beliau malah dihujat balik karena disalahkan dengan tudingan menghalangi rezeki mereka. kira-kira begitu curcolnya, sambil menyeka mata nya yang sudah basah dengan air mata, Pak Zulyadi masih dengan senyuman menyuguhkan kami segelas air kepala muda dengan citarasa gula aren, nikmat dan sedikit membuat esmosi jiwa normal kembali.

Leave a Reply