| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Meniti Ghat Varanasi (Part 1)

Di antara lantunan doa dan pujian yang berkumandang setiap harinya, begitu banyak kata-kata pujian yang mengalir di dalam kehidupan yang terkuak lewat anak tangga di pinggiran Sungai Gangga ini.
Salah satunya dari penulis kondang berkebangsaan Amerika Serikat, Samuel Langhorne Clemes atau yang lebih dikenal sebagai Mark Twain. Ia begitu terpesona dengan legenda dan kesucian Varanasi ini.
Mark Twain pernah menuliskan kekagumannya lewat salah satu buku karyanya. Pemilik “The Adventures of Huckleberry Finn” dan cerita nonfiksi “Life on The Mississippi” ini mengatakan,
“Varanasi lebih tua daripada sejarah, lebih tua daripada tradisi, bahkan lebih tua daripada legenda, dan penampilannya dua kali lebih tua daripada kesemuanya jika digabung menjadi satu”.
Meninggalkan kesan kotor dan jorok, untungnya India merupakan negara dengan warisan-warisan budaya masa silam. Hingga kini warisan itu masih sangat dijaga kelestariannya.
Kebudayaan yang unik dan menarik dari setiap daerah dan keramah-tamahan orang-orang sekitar menjadi pesona yang mengundang para traveller untuk menjelajahinya. Seperti kepada kota keempat di India yang saya kunjungi ini, setelah sebelumnya mengunjungi New Delhi, Amritsar, dan Agra.
Banyak nama lain yang unik untuk menyebut kota ini selain Varanasi. Benares misalnya, nama ini adalah pemberian dari pemerintah kolonial Inggris sebagai kekagumannya atas kota ini ketika masih menduduki negara India Utara bagian Uttar Pradesh ini.
Banyak kalangan Hindu menyebutnya sebagai Kashi, yang dalam bahasa Hindi berarti “The City of Light”. Kota ini disebut-sebut sebagai salah satu kota tinggal terkuno di dunia. Varanasi juga dikenal sebagai kota budaya India, karena terkenal dengan gaya hidupnya yang sangat religius dan spiritual.
Tanah Kashi ini telah menjadi tempat ziarah utama bagi umat Jain, terutama pemeluk Hindu dan Buddha di dunia selama berabad-abad. Varanasi bagi umat Hindu, layaknya tanah suci Mekkah bagi umat Islam dan Vatikan bagi umat Khatolik.
Umat Hindu percaya bahwa Varanasi merupakan rumah bagi siapapun yang mengharapkan keselamatan dan kebebasan dari siklus kelahiran demi kelahiran. Lalu air Sungai Gangga yang mengalir damai di pinggiran kota ini pun dipercaya bisa menghapus dosa-dosa manusia.
Kota ini terletak di tepi Sungai Suci Gangga, yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari di tengah riuhnya penduduk Varanasi. Sebagai kota tertua, konon Varanasi telah menjadi saksi bisu dari banyaknya pergolakan dan peristiwa sejarah.
Mitologi batas kota dengan sejumlah situs dan lembaga keagamaan juga tempat ibadah di seluruh pelosok kota, yang dikunjungi orang setiap hari terutama di pagi hari dan sore hari.
Untuk menyibak lebih dekat, masyarakatnya telah membuka hati untuk kita yang ingin mengunjungi ke beberapa tempat penyembahan yang masih tertuang pada praktek kehidupan di kota.
Lewat perjalanan 16 jam dengan kereta api dari Kota Agra, akhirnya kami sampai di Varanasi JN, nama stasiun kereta api satu-satunya di Varanasi. Soal akomoditas dan transportasi kota ini lebih mengaktifkan kendaraan umum berskala kecil dan tradisional seperti bus dalam kota dan autoricksaw, yang berbentuk seperti bemo atau bajaj baik dengan argo resmi atau menawar.
Lebih unik lagi adalah ricksaw atau tuk-tuk kalau di Thailand. Tuk-tuk bentuknya seperti bajaj, tetapi tuk-tuk di sini bentuknya seperti becak, bedanya becak di Indonesia pengendaranya di belakang, kalau di India pengendaranya di depan.
Kami memilih menggunakan autoricksaw untuk sampai penginapan yang terdapat di pusat kota di tepi Sungai Gangga. Perlu merogoh kocek sebesar 50 rupee atau sebesar Rp 10.000 saja, namun kami rasa harga pantas untuk turis asing setelah sebelumnya melakukan penawaran hampir 15 menit lamanya.
Dalam hal akomodasi, kota ini memang banyak menyediakan penginapan. Dari mulai harga yang relatif eksklusif seperti hotel, hingga harga berbujet backpacker seperti hostel atau guest house. Semuanya berjejer di tepian Sungai Gangga.
Berhubung misi ini bergaya backpacker, kami memutuskan untuk tinggal di salah satu guest house murah yang terdapat di tepi sungai. Mishra Guest House terletak di Manikarnika Ghat, salah satu dari puluhan ghat atau gang berbentuk titian batu anak tangga yang mengarah ke tepian Sungai Gangga. Biaya menginap tak lebih dari Rp 50.000 per malam.
Tak seperti yang kami bayangkan, ternyata butuh perjuangan unik untuk bisa sampai ke penginapan. Karena, semua kendaraan kecuali motor hanya bisa mengantarkan sampai di setiap ghat di tengah-tengah riuhnya pusat perdagangan di kota ini.
Menelusuri lika-liku jalan kecil yang sempit sejauh 800 meter, dihimpit oleh barisan toko-toko milik pribumi sekitar yang terkadang sekaligus dijadikan tempat tinggal. Juga diiringi dengan kuil-kuil beraroma dupa menyengat dan lantunan lagu-lagu pujian berbahasa Hindi.
Bahkan sudah jadi rahasia umum untuk seluruh pelosok India tak terkecuali kota ini, bahwa hewan-hewan yang dihormati sebagai kendaraan para dewa mempunyai hak hidup yang sama dengan manusia lainnya. Seperti sapi atau kerbau banyak berkeliaran bebas di mana saja tanpa harus takut dibunuh dan dijadikan daging sapi potongan yang siap dijual.
Satu hal yang sangat disayangkan adalah minimnya kualitas kebersihan di wilayah ini. Tampak kotor dan kumuh dengan kubangan air bercampur sampah yang berserakan di pingiran jalan yang hanya cukup dilalui oleh kendaraan roda dua ini.
Bahkan tak jarang jejak kotoran hewan yang dianggap suci seperti sapi dan kerbau menjadi pemandangan umum yang sama sekali tidak pernah mereka keluhkan.
Di sisi lain, sekelumit kebudayaan unik dan menarik tampil dari balik liukan saree, pakaian adat India, para wanita Hindi yang cenderung berkulit hitam dengan senyuman ramah begitu menggoda dengan bunyi gemerincing gelang kaki mereka.
Tak mau kalah, para pria dan anak-anak berwajah khas Hindi dengan pakaian blus dan celana ala India pun tampak sangat antusias saling mengucap salam ketika bertemu dengan kami.
“Namaste”, kata seorang anak laki-laki kepada kami sambil tersenyum ketika berpapasan. Ucapan “Namaste” adalah satu bentuk wujud kebudayaan yang tercermin dalam keseharian orang India untuk saling menghormati.
Ucapan tersebut diungkapkan sebagai salam. Bahkan mereka tidak canggung untuk menyapa para wisatawan meski dengan bahasa Inggris yang ala kadarnya.
Legenda Tepian Sungai Gangga
Untuk dapat mengetahui sejarah dari kota ini, kita diajak untuk menyibak sekelumit legenda yang tertuang di dalam Sungai Gangga. Penduduk setempat mengatakan bahwa nama Gangga itu sendiri berasal dari nama seorang dewi dalam agama Hindu.
Dewi Gangga dipuja sebagai dewi kesuburan dan pembersih segala dosa dengan air suci yang dicurahkannya. Dalam seni India, Gangga sering digambarkan sebagai wanita cantik yang mencurahkan air di dalam guci.
Menurut sastra Hindu, Dewi Gangga merupakan ibu asuh Dewa Kartikeya yang sebenarnya adalah putra dari Shiva dan Parvati. Ia juga disebut-sebut sebagai ibu Dewabrata atau Bisma yang merupakan salah satu tokoh paling dihormati dalam Mahabharata.
Spekulasi tentang kelahiran Gangga sendiri telah melahirkan beragam versi. Menurut legenda Hindu masyarakat setempat mengatakan, suatu ketika Brahma dengan takzimnya mencuci kaki Vishnu dan mengumpulkannya dalam kendi air miliknya. Seketika air itu menjelma menjadi seorang gadis bernama Gangga.
Konon legenda kota Varanasi ini mempunyai asal muasal dari lakon cerita Sungai Gangga yang tertuang dalam kitab-kitab suci seperti Rigveda, Ramayana, dan Mahabharata yang menyebutkan tempat ini dulunya digunakan oleh Dewa Shiva sebagai tempat peristirahatannya kala ia turun ke bumi.
Alkisah, nama Varanasi berasal dari nama dua sungai yang mengapit kota ini. Dua sungai itu Baruna (Dewa Air) yang terletak di utara Sungai Gangga dan Sungai Assi yang berada di selatan Sungai Gangga.
Tak hanya Varanasi atau Benares, jauh sebelum nama Varanasi dinobatkan, kota ini dikenal dengan nama Amivukta, Anandakanna, Mahasmasana, Surandhana Brahma, Sudarshana, Ramya dan Kashi.
Dalam Rigveda, salah satu bagian dari Veda, kitab suci Hindu, yang dianggap paling awal, kota ini disebut Kashi yang artinya “satu terang”. Hal itu berkaitan erat dengan sebuah referensi terhadap keadaan sejarah kota yaitu kota sebagai pusat pembelajaran, sastra, dan budaya.
Konon kehidupan di kota ini selalu dikaitkan dengan spiritualisme, mistisisme, bahasa Sanskerta, yoga, kesenian musik, sastra seperti penulis terkenal Prem Chand dan Tulsi Das, dan penyair suci yang memukau dengan tulisannya yang berjudul Ram Charit Manas.
Tak hanya itu, Ravi Shankar, maestro sitar yang handal itu besar di unsur tari dan musik. Jadi tak heran bila Mrs. Annie Beasant memilih Varanasi sebagai rumah “Theosophical Society”.
Juga Pandit Madan Mohan Malviya memilih untuk melembagakan “Banares Hindu University”-nya sebagai Universitas terbesar di Asia lewat kota kuno ini. Ayurveda yang diyakini sebagai dasar ilmu kedokteran modern pun dikatakan berasal dari kota ini. Religiusitas di kawasan ini tak hanya dimaknai dengan simbol kebangkitan Hindu.
Dari bukti-bukti arkeologi yang terdapat di dekat kota ini, tepatnya di Sarnath, memperlihatkan bahwa kota ini juga merupakan kota suci untuk para penganut Buddha. Sarnath merupakan tempat Sang Buddha berkhotbah untuk pertama kalinya setelah mendapat pencerahan.
Umat Jain pun merasakan getaran yang sama. Karena di tanah inilah konon telah lahir Jain Tirthankars dan beberapa Waisnawa Shaiva serta orang-orang suci.
Ghat Kremasi
Matahari beranjak ke peraduan dan malam mulai menggeliat ke atas bumi. Kami bergegas melintasi turunan anak tangga guna menyeruput udara sakral di pelataran Sungai Gangga yang tampak kecoklatan. Samar-samar terdengar lagu pujian dari sebuah kuil yang sepertinya berada tak jauh dari tempat kami berpijak.
Kuil itu bernama Manikarnika Ghat yang merupakan salah satu ghat yang paling tua dan tersuci dari puluhan ghat yang berjejer di kota ini. Kepercayaan setempat menyebut dalam penciptaan tempat ini digali sendiri oleh tangan Dewa Vishnu.
Sedangkan Manikarnika Ghat yang satu ini dikenal juga sebagai “Ghat Kremasi” atau pusat pembakaran jenazah. Tak heran bila ketika menginjakan kaki di sini kita mula-mula akan mencium bau khas dari daging yang terbakar lalu diikuti dengan banyaknya bungkusan-bungkusan jenazah yang mengantre untuk dikremasi.
Tak kurang dari hitungan ratusan, bahkan bisa mencapai ribuan jenazah yang mengantre untuk dicelupkan ke sungai sebelum dan sesudah dikremasi setiap harinya. Hal tersebut dituturkan seorang resi yang sempat kami tanyai.
Bagi kami ini fantastis, karena berkaitan erat dengan kepercayaan umat Hindu bahwa jika mandi di Sungai Gangga pada saat yang tepat akan memperoleh pengampunan dosa dan memudahkan seseorang untuk mendapatkan keselamatan.
Banyak orang percaya bahwa hasil tersebut didapatkan dengan mandi di Sungai Gangga. Tak perlu heran jika orang-orang melakukan perjalanan dari tempat yang jauh hanya untuk mengkremasi atau mencelupkan abu dari jenazah anggota keluarga mereka ke dalam Sungai Gangga.
Pencelupan itu dipercaya sebagai jasa untuk mengantarkan abu tersebut menuju surga. Tetapi dari hal ini pula timbul pemandangan yang kurang sedap di sepanjang ghat. Banyak sisa-sisa tulang yang masih terbungkus daging  manusia bekas pembakaran yang mengambang di sini.
Hal ini terjadi karena mereka tak selalu sanggup menyelesaikan pembakaran seutuhnya dengan jumlah jenazah yang begitu banyak. Bisa Anda bayangkan keadaan yang unik tetapi sungguh bisa membuat bulu roma bergidik tajam.
Dari sekian banyaknya ghat di sini, ada beberapa ghat yang paling terkenal karena dianggap paling tua dan suci. Selain Manikarnika Ghat, ada Assi Ghat yang terletak di pertemuan antara Sungai Gangga dan Sungai Assi di arah selatan Varanasi.
Umumnya para peziarah datang ke ghat ini untuk mandi sebelum mereka mengadakan ritual penghormatan kepada Shiva dalam bentuk lingga besar yang terdapat di bawah sebuah pohon besar Peepal. Tak jauh darinya ada sebuah kuil marmer tempat para lingga lainnya ditempatkan.
Biasanya ribuan peziarah akan berbondong-bondong ke sini untuk mandi ketika bulan Chaitya datang (Maret -April) dan Magh (Januari-Februari). Atau, pada peristiwa penting lainnya seperti gerhana matahari atau gerhana bulan, Gangga Dussehra, Probhodoni Ekadashi, dan Makar Shankranti.
Melintasi 15 ghat ke arah barat kota terdapat Harish Chandra Ghat. Ghat ini juga salah satu yang tertua. Nama Harish Chandra dikalungkan pada leher ghat ini untuk menghormati kegigihan raja mitologi Harishchandra setelah bekerja di krematorium sebagai bentuk amalnya menggantikan tahta yang telah hilang dan anaknya yang sudah mati.
Harish Chandra Ghat juga ghat kremasi kedua setelah Manikarnika yang telah dimodernisasikan pada akhir 1980-an ketika listrik krematorium dibuka di daerah ini.
Ghat penting lainnya lagi adalah Tulsi Ghat. Dulunya ghat ini diketahui sebagai Lolarka Ghat. Kemudian, dirubah namanya menjadi Tulsi Ghat setelah seorang penyair suci Hindu yang amat terkenal, Tulsi Das, memutuskan tinggal dan mengabdikan hidupnya di sebuah rumah di dekat kuil yang terdapat di ghat ini pada pertengahan abad ke-16.
Penyair inilah yang menurut kepercayaan merupakan tetua yang mengembangkan epos besar di India lewat karyanya Ramcharitmanas. Bahkan ada mitologi yang mengatakan ketika naskah Tulsi dijatuhkan ke Sungai Gangga sebuah keajaiban terjadi. Tidak sedikit pun bagian dari lembaran naskah itu tenggelam. Lembaran naskah itu terus saja mengambang tanpa basah sedikit pun.
Hal lainnya adalah bahwa tempat ini dipercaya sebagai awal kisah kehidupan Dewa Rama dimulai. Untuk memperingatinya sebuah candi dibangun pada tahun 1941 di ghat ini. Orang percaya mandi di Tulsi Ghat ini untuk memberkati kehidupan anak-anak mereka dan berkhasiat untuk menyingkirkan kusta.
Nama Tulsi Ghat juga dikait-kaitkan dengan kegiatan budaya yang berpusat di ghat tersebut. Seperti Lunar Hindu, Khrisna Lila yang dipentaskan secara besar-besaran di sini.

Leave a Reply