| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Meniti Ghat Varanasi (Part 2)

Lirihan terdengar dari dalam perut, ternyata hari telah membawa matahari berada tepat di atas kepala. Waktunya memanjakan perut yang sudah sejak tadi meraung-raung minta makanan.
Kami pun segera meluncur menyusuri jalan setapak untuk sampai pada sebuah restoran yang menyajikan menu nonvegetarian. Karena kota ini merupakan Holy City dan para penganut Hindu tidak memakan daging, maka sebagian besar restoran di sini hanya menyediakan menu vegetarian.
Sulit juga mencari restoran dengan menu internasional, setidaknya menu dengan ayam. Langkah kami terhenti di sebuah restoran bernama Pulwari. Sepasang bola mata kami sibuk menilik menu yang tersedia.
“Puji Tuhan”, kata saya. Akhirnya ketemu juga pelepas dahaga dan lapar. Restoran yang berada di halaman depan hotel dengan nama yang sama ini, memiliki karyawan lain daripada restoran lokal biasanya.
Wajah-wajah dengan mata sipit dan berkulit putih nampak sibuk melayani para pemburu makanan. Setelah kami tanyai, ternyata orang-orang ini berwarga negara Nepal yang sengaja datang ke Varanasi untuk bekerja.
Setelah puas dengan menu Mediterania yang tersaji di restoran ini, kami menyempatkan diri bersantai menelusuri pasar. Demi mengunjungi pasar yang mayoritas adalah “fashion market”.
Kami mampir ke pasar sambil menunggu jadwal perjalanan selanjutnya menuju Dashwamed Ghat dengan menyewa sebuah perahu sore hari nanti. Konon setiap harinya selalu ada ritual khusus di ghat tersebut.
Tak terasa hari telah sore ketika kami memutuskan untuk segera kembali ke penginapan guna membersihkan badan. Tubuh terasa lengket karena sengatan cuaca panas dan debu yang bertebangan melekat di kulit kami.
Kebetulan kehadiran kami di kota ini disambut dengan musim panas yang terjadi sejak April hingga Oktober. Suhu di musim panas sangat bervariasi, yaitu antara 32 derajat Celcius hingga 46 derajat Celcius.
Tiupan angin kering panas yang kadang menjadi kendala saat berjalan di tepi sungai. Sedangkan suhu di musim dingin yang terjadi di bulan Desember hingga Februari mencapai 5 derajat Celcius hingga 15 derajat Celcius.
Melalui kombinasi dari pencemaran air, bangunan-bangunan baru, hulu bendungan,dan peningkatan suhu lokal mengakibatkan tingkat air Sungai Gangga jauh menurun baru-baru ini. Hingga tak jarang bisa kita dapatkan pulau-pulau kecil tampak terlihat di tengah sungai.
Setelah badan terasa segar kami memutuskan segera pergi menuju Dashwamedh Ghat, dengan menggunakan perahu kecil yang kami sewa seharga 100 rupee atau berkisar Rp 20.000 untuk 2 jam.
Matahari mulai tenggelam di seberang Sungai Gangga. Cahaya bulan dan kerlip bintang mulai menggantikan teriknya siang ketika kami berperahu untuk mengabadikan kedamaian sambil mempelajari kehidupan di anak tangga yang keramat di tepian sungai.
Sedang asik-asiknya belajar mendayung bersama si empunya perahu, sebut saja Anand. Tiba-tiba dari arah lain, sebuah perahu yang melintas dekat perahu kami, tampak seorang laki paruh baya menawarkan sebuah piring kertas.
Piring kertas itu berisi putik-putik bunga dengan lilin kecil di tengahnya seharga 10 rupee saja. Ketika kami tanyakan untuk apa bunga itu, ia hanya menjawab,
“Berdoalah untuk keluargamu, untuk orang-orang yang kau kasihi dengan bunga ini, lalu letakkan bunga ini di air sungai dan biarkan mengambang mengikuti alirannya, maka niscaya Dewi Gangga akan memberkati semua orang yang kau doakan.”
Tak jauh dari tepian sungai sana, telah tampak keramaian memenuhi tempat itu. Itulah Dashwamedh Ghat yang dimaksud.
Tepian sungai yang meninggi, candi dan tempat pemujaan yang bermandikan cahaya malam, nyanyian-nyanyian pujian dan mantra-mantra yang menggugah hati disertai keharuman dupa memenuhi udara. Segalanya menjadi magnet tajam untuk segera menghampirinya.
Dashwamedh Ghat ini merupakan pusat lokasi ritual para Hindu di varanasi. Pada setiap harinya menjelang fajar dan menjelang matahari terbenam selalu ramai oleh para Sadhu (orang suci Hindu) dan warga sekitar yang mengadakan ritual harian, seperti Gangga Aarti atau penyembahan untuk Dewi Gangga dan Durga Aarti yang didedikasikan untk menyembah Dewi Durga.
Tak hanya pemujaan harian yang terpusat di kota ini. Tercatat beberapa festival besar pun di rayakan di sini. Seperti Bharat Milap Festival pada bulan Oktober atau November yang didedikasikan untuk menghormati kembalinya Dewa Rama ke Ayodya.
Dev Deepavali sebuah momen yang menjadikan Varanasi bersinar dengan kilauan cahaya lampu tanah di hari ke-15 Diwali, sebagai penghargaan masyarakat untuk Gangga. Itu semua terasa menjadi bagian unik sepanjang tahun.
Secara harfiah nama Dashwamedh berarti “sungai terdepan dengan 10 kuda”. Konon menurut legenda tempat ini menjadi tempat Dewa Brahma mengorbankan 10 kuda untuk mengakhiri masa pengasingan Dewa Shiva.
Ghat ini adalah ghat tertua. Tetapi ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, pemandangan di sini lebih bersih dari ghat lainnya. Air sungainya pun tidak terdapat sampah.
Hanya terlihat kemilau lampu-lampu tanah yang mengambang bersama putik-putik bunga sebagai pengantar doa mereka menuju yang Kuasa. Anda akan diajak mengerti perbedaan makna antara “The City of Light” yang dimiliki Varanasi, dengan “The City Of Light” julukan yang juga melekat pada kota Jakarta.
Menuju Varanasi
Untuk mencapai Varanasi, dari semua maskapai penerbangan domestik yang tersedia, seperti India Airlines, Jet Airways dan Air Sahara, Anda dipersilahkan memilih pemberhentian menuju Babatpur Airport di Varanasi.
Perjalanan dilanjutkan menuju pusat kota dengan autoricksaw dengan tarif berkisar 150 rupee. Bisa juga dengan naik taksi seharga kurang lebih 350 rupee.
Sedangkan jasa angkutan kereta api dan bus  menuju kota suci ini terdiri dari privat delux bus dan government bus yang berhenti di terminal bus Varanasi. Sedangkan dengan menggunakan kereta api, Varanasi Juncion merupakan stasiun pemberhentian menuju kota ini.
Umumnya di setiap ghat, Anda bisa menemukan penginapan-penginapan yang sesuai selera Anda. Tetapi mayoritas wisatawan lebih memilih hotel yang letaknya benar-benar di pinggiran ghat dengan panorama langsung ke Sungai Gangga.
Mishra Guest House bisa menjadi salah satu pilihan Anda. Harga berkisar 250 rupee hingga 350 rupee menurut kelasnya. Lainnya, Anda dapat mencoba Schindia Guest House yang letaknya tepat di pinggiran ghat. Harga berkisar 450 rupee hingga 1.200 rupee.
http://travel.kompas.com/read/2011/09/22/16230571/Meniti.Ghat.Varanasi.2

Leave a Reply