| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Mysore, Kota Istana Lampu

Di sela-sela tiga hari kunjungan kami di Bangalore, pada hari kedua kami berkesempatan mengunjungi sebuah kota bernama Mysore. Terletak sekitar 140 km dari kota Bangalore, negara India bagian Karnataka selatan, kota tersebut konon menyuguhkan atraksi menarik dari sebuah istana yang megah dengan karya seni hingga rangkaian lampu pada malam hari.
Penasaran dengan cerita yang ditampilkan di situs pariwisata Karnataka, pukul delapan pagi kami sudah bergegas menuju stasiun kota Bangalore. Kali ini kami jalan kaki ke stasiun. Lumayan jauh juga sih, sekitar dua kilometer. Karena lapar, kami singgah di warung yang khusus menjual sarapan pagi, baik berupa omelet, atau roti chapati, samosa dan lain-lain.
Kami memilih samosa, yang menyerupai pastel, isinya kentang berbumbu dan biji-bijian, ditambah chai satu sloki. Di India jangan harap mendapat ukuran gelas besar, yang ada cuma ukuran gelas sloki. Rasa chainya enak, membuat kami ketagihan.
Sampai di stasiun pukul sembilan, 10 menit sebelum kereta berangkat. Stasiun ini keren dan mudah dipahami petunjuk-petunjuknya, karena bilboardnya selalu didampingi dengan bahasa Inggris. Tak susah menemukan platform dua, tempat kereta Tippu Express yang akan membawa kami ke Mysore, karena sudah tampak dijejali penumpang. Tak susah juga menemukan gerbongnya. Baru saja duduk, kereta ini sudah mulai bergerak.
Lama perjalanan dari Bangalore menuju Mysore umumnya hanya tiga hingga empat jam. Dengan Tippu Express perjalanan hanya tiga jam saja. Selain kereta api, transportasi menuju Mysore juga dilengkapi bus dengan fasilitas menengah. Adapun kereta api yang menuju Mysore, memang ada beberapa, seperti Chamundi Express, Mysore Express, dan Tippu Express yang jadwal keberangkatannya umum digunakan. meski harganya di atas rata-rata, tetapi jasa pelayanan Tippu Express ini lebih nyaman. Berbeda dengan kereta lainnya yang hanya memiliki jadwal dua kali atau malah sekali sehari, Tippu Express selain cepat, juga melayani keberangkatan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam.
Di tengah perjalanan, seorang petugas cantik berhidung mancung mendorong sebuah kereta penuh dengan boks-boks makanan. Kami pikir ia menjualnya, eh ternyata gratis lho. Langsung saja kami ambil boks yang disodorkan. Di dalamnya berisi roti, samosa, salad, dan air mineral kecil, plus chai satu sloki. Pantas saja harga tiketnya mahal mengingat fasilitas kereta ini yang bagus dengan AC dan toilet yang bersih ditambah pesawat televisi dan boks kudapan.
Perjalanan tiga jam pun tak terasa telah membawa kami ke kota Mysore. Sama indahnya dengan Bangalore, jalanan kota ini tampak rapi dan teratur, dengan pusat perbelanjaan, gedung-gedung perkantoran, hingga fasilitas kesehatan yang memenuhi jalan utamanya. Banyak orang menikmati kota ini dengan jalan kaki di pelataran yang disediakan, begitu juga kami. Meski berjarak lima kilometer ke Istana Mysore, kami nekat jalan kaki berpanas-panasan di terik matahari.
Setibanya di kawasan Istana Mysore, beberapa peraturan harus ditaati, seperti menitipkan barang bawaan, membayar 50 INR untuk administrasi tambahan kamera bawaan, dan tiket 200 INR per orang. Pengunjung juga diharuskan melepas alas kaki, dan menitipkannya di penitipan khusus alas kaki, itu pun masih dikenakan biaya 10 INR per pasang alas kaki. Selain itu semua pengujung harus memakai audio guide, yang harganya sudah termasuk dalam tiket masuk, tetapi pengunjung non-India harus menyerahkan jaminan paspor. Huh, belum masuk, kami sudah dibuat lelah dengan mondar-mandir ke pos-pos tersebut.
Jangan coba-coba menyelipkan kamera di kantong celana Anda, meskipun kamera itu dalam keadaan mati, karena penjagaan dengan peraturan yang super ketat akan membuat Anda harus kembali keluar dari pintu masuk istana. Ini pengalaman kami.
Menurut sejarah, kawasan ini merupakan rumah hunian bagi keturunan penguasa dinasti Wodeyar sejak abad ke 14, salah satu dinasti kerajaan pertama yang pernah menduduki Mysore. Setelah sempat tergerus oleh cuaca, bahkan sempat mengalami kehancuran, istana ini kembali dibuka setelah mengalami proyek perbaikan 1897 dan selesai tahun 1912.
Terdapat sekitar 27 ruangan penting tempat kekayaan istana dipamerkan. Sebagian dari istana ini merupakan museum kerajaan yang menampilkan replika kehidupan dinasti pada masa itu, miniatur-miniatur budaya dan gaya hidup, serta silsilah keluarga kerajaan dipaparkan begitu jelas. Anda tak akan bosan mencermati bagaimana indahnya seni ukir dan lukisan yang membentang di setiap atap langit dan pilar-pilar, dilengkapi furnitur-furnitur berkualitas luar biasa.
Dirancang arsitek kenamaan Henry Irwin, istana terdiri dari tiga lantai yang di antaranya merupakan ruangan penting yang menyimpan berbagai atribut kerajaan, lukisan kuno, dengan lima menara dan kubah, serta pilar-pilar dan atap langit yang penuh ukiran serta lukisan yang indah.
Khas dengan gaya arsitektural Indo-Sarasenik, dengan sentuhan budaya Hindu, Islam, Rajputana, dan aksen gotik ala Barat, istana ini dapat dikatakan sebagai mahakarya seni ukir dan seni lukis yang menakjubkan. Belum lagi lampu-lampu permata yang menggantung anggun di beberapa sudut bagian ruangan utama, dengan dihiasi kaca patri yang berwarna-warni, makin membuat setiap sudut ruangan di istana ini sayang untuk dilewatkan.
Tak hanya istana dan taman yang indah, Anda dapat menengok situs keagamaan yang juga bertengger di kawasan istana ini, sebuah kuil Hindu yang ramai dikunjungi baik dengan niat beribadah ataupun hanya sekadar mengagumi keindahan arsitekturalnya saja.
Kawasan Istana Mysore ini tutup setelah pukul lima sore, tetapi keistimewaan lain dari kemegahan istana ini masih dapat Anda saksikan hingga malam hari, ketika langit sudah gelap. Saat itulah istana ini akan mulai memancarkan cahaya kuning keemasan dari untaian lampu-lampu hias yang memenuhi setiap sisi bangunan istana. Sangat menakjubkan. Hampir setiap malam lampu-lampu ini dinyalakan, apalagi ketika akhir pekan tiba, sepanjang malam untaian lampu tersebut akan membentuk sudut-sudut di istana tersebut.

Leave a Reply