| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Naik-Naik Ke Puncak Gunung, Sampai Tana Toraja!

Jam di tangan baru menunjukan pukul 6 pagi, namun hingar-bingar sudah menusuk di telinga. Ah ya, kami berada di dek 5 kapal Bukit Siguntang yang melaju menuju Pare-pare, Makasar, Maumere hingga ke Kupang. Ranjang di kelas ekonomi sudah terisi penuh, jadilah kami “ngampar” dengan sebilah tikar ala karung semen di lantai depan kantor informasi. Tak apalah, ini cara kami menikmati dunia.
Sesumbar, rencana kami akan turun di Makasar, namun beginilah otak para backpacker, rencana bisa berubah dalam semenit demi rute terbaik yang bisa dipilih. Akhirnya kami memutuskan turun di Pare-pare. Karena rupanya, Pare-pare lebih dekat menuju Tana Toraja, yang juga destinasi dadakan kami.
Tepat 15 jam mengarungi Selat Makasar dari Balikpapan, kami tiba di Pelabuhan Pare-pare, Sulawesi Selatan. Di jemput seorang kerabat, kami menuju kawasan Lapade. Rumah panggung ala Toraja nampak asri menyambut kedatangan kami. Ya, kerabat kami kali ini adalah keturunan asli Tana Toraja. Banyak info yang beliau berikan kepada kami sebelum menginjak Tana Toraja.
Kota kelahiran BJ.Habibie ini nampak mungil, berbukit-bukit seperti kota Bandung. Belum banyak fasilitas modern seperti Mall-mall. Malam hari kami habiskan untuk nge’net di cafe bernama Transit, cafe ala Rastafara. Yang unik dari kota ini adalah angkotnya, cukup bayar 2500 atau 3000 Rupiah saja, si supir angkot bersedia mengantar Anda hingga depan rumah. Begitulah pelayanan angkot disini, mereka akan mengantar hingga masuk ke lorong-lorong atau gang rumah Anda.
Matahari bersinar hangat, jam 8 pagi membawa kami ke KM 2 Pare-pare, masih sekitar kawasan Lapade untuk menunggu angkot atau bus yang menuju Tana Toraja. Sesumbar dari saran yang diberikan kerabat kami, akan lebih baik tidak mencari kendaraan ke Toraja dari Pelabuhan, karena biasanya akan digetok dengan harga 5 kali lipat.
Kali ini kami dapat harga 40 ribu sampai kawasan Rantepao, salah satu pusat kota di Tana Toraja bagian utara. Angkotnya pun berupa Suzuki APV, jadi serasa naik mobil pribadi. Sepanjang jalan mobil ber-pelat kuning seperti yang kami tumpangi harus bolak-balik berhenti di pos polisi, untuk membayar sejumlah uang yang katanya sebagai dana retribusi. Aiiih!
“Zee, kamera cepat kamera” kata Arta seraya membangunkan saya dari tidur. Waaah rupanya pemandangan setelah 1 jam perjalanan menuju Tana Toraja sangatlah memukau. Masih ingat dengan pemandangan di kawasan Tanah Para Dewa alias Dieng? Nah kali ini lebih memukau lagi. Bukit, hingga gunungan tebing menjulang dibalut warna hijau yang damai, belum lagi warna langit yang biru cerah dililit gumulan awan putih.
Jalur jalan pun meliuk-liuk bak ular menari, naik turun perbukitan dan lembah, sangat impresif! Naik-naik ke puncak gunung, sampai Tana Toraja. Begitu saya bernyanyi setelah disambut sebuah gapura besar bertuliskan “SELAMAT DATANG DI TANA TORAJA”.
Saat di Sekolah Dasar dulu, saya melihatnya hanya di komplek wisata TMII. Namun hari ini untuk pertama kalinya saya melihatnya di mana-mana, di tepi jalan, di pematang sawah, berjejer dengan rumah-rumah lainnya, bahkan di pom bensin pun juga ada. Ya, tongkonan, rumah panggung khas adat Tana Toraja, lengkap dengan motif ukiran-ukiran Toraja yang eksotik, beberapa malah di pucuki kepala kerbau dengan tanduk yang aduhai.
Tana Toraja indah dipagari lembah dan perbukitan tebing yang menjulang. Sawah-sawah bertebaran diantaranya, beberapa petani nampak sibuk membajak sawah dengan kerbau-kerbau nya, lainnya bercocok tanam di kebun sebelah rumah. Anak-anak berseragam sekolah bertelanjang kaki menuju sela-sela pematang sawah, berjalan riang di tepi jalan raya yang tak ada ujungnya. Kehidupan yang harmonis, jauh dari pusat demonstrasi rakyat di Jakarta ataupun di kota Makassar.
Tiba-tiba perut saya lapar lagi, padahal baru satu setengah jam lalu kami singgah di sebuah Rumah Makan di kawasan Poros Cakek. Adalah lombok alias sambal Tana Toraja yang membuat lidah saya bergoyang tak keruan, padahal hanya dengan satu potong ayam goreng, tapi sebab si lombok yang super dahsyat itu saya jadi menghabiskan 3 piring nasi. Sambalnya terbuat dari cabai, bawang merah, tomat merah dan tomat hijau, rasa masamnya sangat segar, dan pedasnya pun aduhai. Jadi ingin cepat-cepat sampai di Rantepao, pusat keramaian Tana Toraja setelah Makale.
Ini baru cerita keindahan saat perjalanan menuju Tana Toraja, bagaimana dengan keunikannya yang tenar itu? Atau dengan lansekap lorong-lorong adat di hutan belantaranya? Simak saja cerita kami berikutnya.

Leave a Reply