| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

NEGERI SERUMPUN SEBALAI, INILAH NEGERI SI LASKAR PELANGI

Ada Cut Mini sebagai Ibu Muslimah, Pak Harfan, Ikal, Lintang, Akiong, A ling, Riri riza sebagai Sutradara, Mira Lesmana selaku Produser, hingga grup band Nidji sebagai penyanyi lagu andalan, okay Laskar Kakigatel, Selamat Datang di Negeri Laskar Pelangi! Masih segar dalam ingatan, bagaimana sebuah novel karya Andrea Hirata, sang anak Belitung booming di layar lebar pada tahun 2008 silam. Tercatat lebih 4 juta penggila drama pendidikan ala pinggiran ini, bioskop Darwin di Australia Utara pun menggelar hajatan untuk memutar film yang bisa membuat mewek penonton -penontonnya ini. SBY, pentolan bangsa kita pun menuai bangga atas animo film ini, sekaligus meng’poke para Caleg untuk nongkrongin cerita ini berjam-jam hingga mengerti artinya masa depan. Nggak cuma jalan cerita tentang pendidikan, perjuangan dan persahabatan yang menarik untuk disimak, nyatanya latar belakang rumah syuting film dari penggalan kisah nyata ini pun punya andil besar membuatnya pernah ada di rate paling dicari penikmat film.
Nggak ada yang nggak gaul juga rasanya kalau saya katakan, Kepulauan Bangka – Belitung menjadi rimba bagi si Laskar Pelangi. Kemolekan alam yang masih murni perawan di jajaran Sumatera ini laris manis kini diburu wisatawan sejak Andrea Hirata mengenalkannya kepada publik lewat jurnal masa lalunya itu. Rumah Laskar Pelangi, begitu orang memahkotai kepulauan yang terdiri dua pulau ini, Bangka dan Belitung. Pulau yang lahir dari kerajaan Sriwijaya ini tercatat juga pernah mampir dalam sejarah sebagai “ jejak kenangan” dari kolonialisme Belanda. Nggak tanggung-tanggung, dua pulau bersaudara ini dipagari oleh beberapa selat dan lautan. Disebelah barat ada Selat Bangka, sebelah timur ada Selat Karimata, sedangkan laut Natuna berada dipagar utara, yang dilengkapi dengan laut Jawa di selatannya.
Pangkal Pinang yang terletak di Bangka tercatat menjadi ibukota bagi dua pulau perawan yang memiliki luas 81.725.14 km² dengan 6 kabupaten ini. Tidak hanya terkenal dengan suku laut nya, Bangka belitung juga terkenal dengan kekayaan sekaligus warisan wisata bahari Indonesia yang menakjubkan. Mau tahu bagaimana menakjubkannya isi rumah si Laskar Pelangi ini, menukik saja kemudian ke beberapa titik terdekat kepulauan ini. Mau cara adventure hingga kelas tentengan koper, kamu bisa menikmatinya sesuai selera. Pasalnya kecanggihan era globalisasi kali ini berdampak positif pula bagi kepulauan ini, bandara-bandara mini nan safety sudah mulai menjamur disekitarnya, dari mulai Palembang, bandara Depati Amir di Bangka, dan bandara HAS Hanandjoeddin di tanah Belitong itu sendiri. Beberapa maskapai penerbangan seperti Sriwijaya Air, Batavia Air, Riau Airlines, dan lainnya tercatat melayani rute penerbangan ke dan dari berbagai daerah sekitar kepulauan tersebut.
Nggak cuma jaringan kereta api Jawa saja yang sibuk, jaringan KA Sumatera juga penuh sesak dijejali para penikmat jalan-jalan gaya backpackeran, seperti kami. Dari Jakarta menyebrang ke Bakahuni Lampung, lalu ke stasiun KA Tanjung Karang di Lampung, pengalaman sauna 15 jam pun tak terelakan menuju Palembang. Belum lagi harus menyeberang ke Mentok (Bangka) dengan Jet Foil seharga Rp.210.000 termasuk dengan mini bus travel yang akan mengantarkan ke akses selanjutnya, lagi-lagi kami harus merogoh kocek 165 ribu untuk Jet Foil menuju Belitung. Perjuangan yang melelahkan selama hampir 48 jam, negeri Laskar Pelangi pun menyambut dengan aroma kuno nan apik selepas Maghrib. Kami memilih untuk melabuhkan beberapa hari pertama kami di tanah Sumatera bagian Belitung, karena konon di kepulauan yang berjarak 5 jam (dengan Jet Foil) dari Bangka ini adalah sumber cerita bagi kekayaan bahari Sumatera.
Negeri Serumpun Sebalai, sesekali kami agak asing dengan makna kata yang hampir tersebar di bilboard sepanjang jalan di Bangka – Belitung itu, belakangan dari cerita supir travel kami, kata-kata tersebut adalah semboyan penegakan demokrasi khusus kepulauan ini, terutama melalui jalan musyawarah untuk mufakat. Eksistensi masyarakatnya diwujudkan dalam sebuah kesadaran diri untuk tetap membuat kepualauan ini berada dalam kemakmuran, kesejahteraan, dan ketentraman. Secara pluralisme etnis-etnis asing seperti Tionghoa atau Cina, Melayu, Jawa juga berbaur lekat. Dalam dunia pariwisata, Bangka – Belitung memiliki struktur keunikan masing-masing, meski masih dalam satu karakter wisata, wisata Bahari terbanyak terdapat di pulau Belitung, sedangkan Bangka, selain wisata serupa, juga terkenal dengan wisata sejarahnya. Pentolan RI pertama, Soekarno – Hatta dan beberapa pendiri bangsa lainnya pernah diasingkan di tanah Bangka. Supir travel kami menunjuk sebuah bukit bernama gunung Menumbing, sebagai tempat pengasingan Bung Karno dan kawan-kawannya pada masa penjajahan Belanda. Wisma Ranggam dan Pesanggrahan Menumbing adalah bukti jejak peninggalan Bapak Bangsa kita yang terdahulu di pulau ini, rumah, kamar hingga mobil dan kendaraan lainnya yang sering digunakan mereka masih tersimpan rapi diatas bukit Menumbing tersebut.
Setelah jauh berlayar di perairan Laut China Selatan menuju Belitung, malam itu kami segera melucuti jalan-jalan menuju tempat kelahiran sang Laskar Pelangi. Sulit mendapatkan penginapan murah dan nyaman, akhirnya kami ber-9 bermalam di penginapan yang seadanya, agak gelap dan mistik. Paginya kami terpuaskan dengan wisata Laskar Pelangi yang terbentang di beberapa tiitk di Belitung timur dan barat. Kami menyusuri tanah kelahiran sang Novelis Andrea Hirata di kawasan Manggar, Gantong dan sekitarnya. Manggar berjarak kurang lebih 80 km dari pusat kota, sedangkan Gantong berjarak kurang lebih 15 km dari Manggar, menempuh waktu perjalanan sekitar 2 hingga 3 jam dari pusat kota. Replika sekolah SD Muhamadiyah Gantong yang disebut-sebut sebagai sekolah Laskar Pelangi pun habis kami kagumi. Begitu juga dengan Pasar Rakyat Laskar Pelangi, yang terletak tidak jauh dari sekolah, warung-warung kopi Akiong hingga warung kopi Aitam, Hingga bendungan Pice dan tempat-tempat bersejarah bagi kehidupan sang Laskar Pelangi lainnya.
Kamu harus nonton filmnya terlebih dahulu atau paling tidak mendengar ceritanya sekilas untuk nggak cengo-cengo amat saat mengunjungi tanah syuting yang digunakannya beberapa tahun silam. Bagi kamu yang pernah nonton atau pernah baca novelnya, secara tidak langsung akan dibawa kembali pada kisah era 70-an silam tersebut. Aroma kata-kata yang mereka ucapkan dalam film atau novelnya, pasti kamu katakan sekali lagi, bahkan berulang kali saat kamu mengunjunginya.

WISATA BAHARI

Puas dengan wisata Laskar Pelangi, kami digiring waktu untuk menjelajah perairan kepulauan tersebut. Tanjong Kelayang, adalah tempat pertama yang kami kunjungi, disana kami sudah menyeting rencana hoping Island dan snorkling ke beberapa pulau andalan terdekat dengan Belitung. Sayang, karena kami order nya dadakan, dan kami datang terlambat, pemilik kapal yang bermaksud menggabung grup kami dengan grup lainnya terpaksa meninggalkan kami. Tapi kami beruntung nggak jadi hoping Island saat itu, karena 10 menit kemudian tanah Tanjungan ini disiram hujan deras. Kami berteduh sambil sarapan siang di warung SMS, nama warungnya lucu, pelayannya juga lucu kalau lagi bicara, melayu-melayu cadel gituh deh. Tapi pelayanannya sangat ramah, menu disini cuma ada 2 varian, mie dan seafood.
Setelah memutuskan untuk hoping Island esok pagi, kami segera pindah mengeksplor ke Tanjong Tinggi, jaraknya nggak jauh dari Tanjung Kelayang, sekitar 2 km-an. Hujan masih mengguyur deras, tetapi ketika mulai masuk area tanjungan tertinggi di Kepulauan Belitung itu, kami terperangah dan kemudian menjerit-jerit takjub, pemandangan lautnya yang dibumbui batu-batu granit raksasa sangat eksotis, meski mendung tebal bergelayut. Kami menyisir pada warung-warung ditepiannya, kami menjerit-jerit takjub kembali, sebuah papan menulis “Tempat syuting Laskar Pelangi”, dibalut dengan bebatuan tinggi yang mirip dengan tebing-tebing curam. Nggak sabar kami berlarian kesana kemari, menghabiskan waktu yang berlalu sangat lama itu dengan berlarian, berenang, bermain bola hingga cemong-cemongan ala Holi colours dan main-main cipratan ala Songkran.
Malamnya kami kembali ke Tanjung Kelayang demi mencari tanah perkemahan, intip demi intip, alih-alih mau makan dan sekedar menyeruput teh manis, pendekatan demi pendekatan akhirnya kami buka tenda di sebuah warung gubuk didekat Kelayang Cottage. Dua pasangan kakek nenek itu sangat ramah menjamu kami, saya sampai tak tega membiarkannya melayani kami, jadilah saya ikut bantu memasak pesanan rekan-rekan lainnya. Paginya sebelum mengantarkan 7 rekan ke bandara Hanandjoddin untuk kembali ke Jakarta, kami mulai menjelajah pulau-pulau yang menjadi paket perjalanan kami pagi itu. Pulau Lengkuas, Pulau Babi, Pulau batu berlayar, menjadi kenangan indah bagi 7 rekan kami yang siang itu mulai berkemas kembali kedunia nyata. Kemolekan pesisir lautnya dan pulau-pulau kecil lainnya memang tak tertandingi, ratusan bebatuan granit raksasa siap membuat kamu terpesona dengan warna pasir dan airnya yang masih biru jernih disetiap pulau-pulau yang terbentuk. Bintang-bintang laut dari baby hingga yang segede bagong juga bisa kamu lihat dan kamu sayang-sayang.

WISATA KULINER

Di ruangan ruko lantai dasar itu nampak agak lengang, aroma kaldu berhembus kencang, disela dinding-dinding yang memajang beberapa foto artis dengan si pemiliknya. Ini warung Atep namanya, terkenal sebagai spesialis Mie Belitung dan Nasi Ayam khas Belitung. Racikan bumbunya konon sudah bertahan hampir 38 tahun sejak warung ini berdiri. Rasanya sih menurut kami biasa-biasa aja, kuahnya mirip kuah mpek-mpek, bedanya ini mie dan ada potongan kentang, tahu, toge hingga suiran udang. Nasi ayamnya juga biasa aja rasanya, nggak sehebat kesan-kesan si artis yang terpampang di foto. Tetapi aneh setengah mati, yang datang untuk makan makin lama makin ramai saja, bahkan sampai ada yang order dua kali alias nambah. Warung Atep nggak hanya ramai dengan mie atau nasi ayam, jajanan khas Belitung, dari kerupuk udang, hingga dodol hitam juga ditawarkan.

Leave a Reply