| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Negeri Serumpun Sebalai Sang Laskar Pelangi

Sejak menjadi lokasi kisah Laskar Pelangi, Bangka dan Belitung mulai dilirik para wisatawan. Secara geografis, kedua pulau ini pantas memiliki keindahan pantai. Pasalnya, posisinya dipagari oleh beberapa selat dan lautan. Di sebelah barat ada Selat Bangka, sebelah timur ada Selat Karimata, sedangkan laut Natuna berada di pagar utara, dengan laut Jawa di selatannya. Pangkal Pinang yang terletak di Bangka tercatat menjadi ibu kota bagi dua pulau yang memiliki luas 81.725.14 km² dengan enam kabupaten ini. Tidak hanya terkenal dengan tradisi lautnya, Bangka Belitung juga terkenal dengan kekayaan sekaligus warisan wisata bahari Indonesia yang menakjubkan.
Mau tahu bagaimana menakjubkannya isi rumah si Laskar Pelangi ini, menukik saja kemudian ke beberapa titik terdekat kepulauan ini. Mau cara adventure hingga kelas tentengan koper, kamu bisa menikmatinya sesuai selera. Pasalnya kecanggihan era globalisasi telah berdampak positif pula bagi fasilitas di kepulauan ini.
Bandara-bandara kecil dan aman sudah mulai menjamur di sekitarnya, dari mulai Palembang, bandara Depati Amir di Bangka, dan bandara HAS Hanandjoeddin di tanah Belitong itu sendiri. Beberapa maskapai penerbangan seperti Sriwijaya Air, Batavia Air, Riau Airlines, dan lainnya tercatat melayani rute penerbangan ke dan dari berbagai daerah sekitar kepulauan tersebut. Jaringan Kereta Api Sumatra juga penuh sesak dijejali para penikmat jalan-jalan gaya backpacker seperti kami. Dari Jakarta menyeberang ke Bakaheuni Lampung, lalu ke stasiun KA Tanjung Karang di Lampung, pengalaman sauna 15 jam pun tak terelakkan menuju Palembang. Belum lagi harus menyeberang ke Mentok (Bangka) dengan Jet Foil seharga Rp210.000 termasuk dengan mini bus travel yang akan mengantarkan ke akses selanjutnya, lagi-lagi kami harus merogoh kocek 165 ribu untuk Jet Foil menuju Belitung.
Setelah perjuangan yang melelahkan selama hampir 48 jam, negeri Laskar Pelangi pun menyambut dengan aroma kuno nan apik selepas maghrib. Kami memilih untuk melabuhkan beberapa hari pertama kami di bagian Belitung, karena konon di kepulauan yang berjarak lima jam (dengan Jet Foil) dari Bangka ini adalah sumber cerita bagi kekayaan bahari Sumatera. Negeri Serumpun Sebalai, demikian yang tertera di sebagian besar billboard di sepanjang jalan di Bangka – Belitung. Belakangan, dari cerita supir travel kami, kata-kata tersebut adalah semboyan penegakan demokrasi khusus kepulauan ini, terutama melalui jalan musyawarah untuk mufakat.
Eksistensi masyarakatnya diwujudkan dalam sebuah kesadaran diri untuk tetap membuat kepulauan ini berada dalam kemakmuran, kesejahteraan, dan ketenteraman. Pluralisme di daerah ini terlihat dengan berbaurnya etnis-etnis seperti Tionghoa, Melayu, dan Jawa. Dalam dunia pariwisata, Bangka – Belitung memiliki struktur keunikan masing-masing. Meski masih dalam satu karakter wisata, wisata Bahari terbanyak terdapat di pulau Belitung, sedangkan Bangka, selain wisata serupa, juga terkenal dengan wisata sejarahnya. Pentolan RI pertama, Soekarno – Hatta dan beberapa pendiri bangsa lainnya pernah diasingkan di tanah Bangka. Supir travel kami menunjuk sebuah bukit bernama gunung Menumbing, sebagai tempat pengasingan Bung Karno dan kawan-kawannya pada masa penjajahan Belanda. Wisma Ranggam dan Pesanggrahan Menumbing adalah bukti jejak peninggalan Bapak Bangsa kita yang terdahulu di pulau ini. Rumah, kamar hingga mobil dan kendaraan lainnya yang sering digunakan mereka masih tersimpan rapi di atas bukit Menumbing tersebut.
Setelah jauh berlayar di perairan Laut China Selatan menuju Belitung, malam itu kami segera menyusuri jalan-jalan menuju tempat kelahiran sang Laskar Pelangi. Sulit mendapatkan penginapan murah dan nyaman, akhirnya kami bersembilan bermalam di penginapan yang seadanya, agak gelap dan mistik.
Paginya kami terpuaskan dengan wisata Laskar Pelangi yang terbentang di beberapa titik di Belitung timur dan barat. Kami menyusuri tanah kelahiran sang Novelis Andrea Hirata di kawasan Manggar, Gantong dan sekitarnya. Manggar berjarak kurang lebih 80 km dari pusat kota, sedangkan Gantong berjarak kurang lebih 15 km dari Manggar, menempuh waktu perjalanan sekitar dua hingga tiga jam dari pusat kota.
Replika sekolah SD Muhamadiyah Gantong yang disebut-sebut sebagai sekolah Laskar Pelangi pun habis kami kagumi. Begitu juga dengan Pasar Rakyat Laskar Pelangi, yang terletak tidak jauh dari sekolah, warung-warung kopi Akiong hingga warung kopi Aitam, hingga bendungan Pice dan tempat-tempat bersejarah bagi kehidupan sang Laskar Pelangi lainnya.

Leave a Reply