| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

New Delhi, Beda dengan di Film !

Welcome to India, seorang pramugari cantik berhidung bangir melambaikan tangannya kepada para awak pesawat yang akan turun. Terasa membara semangat kami setelah menapakkan kaki di Bandara Internasional Indira Ghandi, New Delhi ini. Kami bergegas menuju bagian imigrasi untuk melewati prosedur umum, serangkaian pemeriksaan data paspor dan visa, nggak ribet seperti negara lain pada umumnya, kami langsung mendapatkan cap imigrasi tanpa interogasi. Sedikit  shock, setelah pemandangan wajah-wajah yang khas India itu mulai mengerumuni kami, seperti tanah asing yang tak pernah kami kenal, padahal wajah-wajah khas berhidung mancung tersebut sudah akrab dimata kami sejak kami kecil dulu, waktu teater perfilman India tengah merambah dunia pertelevisian internasional khususnya Asia.
Hal pertama yang kami lakukan setiap kali tiba di bandara apalagi kalau bukan ke toilet. Apalagi kami tiba tepat menjelang subuh, saatnya membersihkan sisa-sisa makanan selama perjalanan kemarin agar tidak menimbulkan “polusi udara” di pagi pertama kami di Ibu Kota negara India ini. Sayangnya tak sehebat Singapura dan Jakarta, fasilitas toilet di bandara terbesar di India nampak jauh dari kesan nyaman, bau-bau aneh langsung mampir di hidung kami, tak terhirup lagi pewangi ruangan yang biasanya ada untuk menetralkan udara sepanjang toilet, bahkan tisu-tisu nampak tak di tempatnya, seorang penjaga toilet ramah menyapa kami, menanyakan bahkan mengira kami turis Jepang kaya. Tilik demi tilik nampak gelagat aneh menuju obrolan soal materi alias tips, masih dengan senyum getir kami berlalu sambil geleng-geleng kepala meninggalkan penjaga toilet itu.
Setelah mengambil bacpack di bagage claim, kami mulai menyusur pada lobi bandara, menurut rencana, hari pertama kami akan menuju sebuah flat di bilangan Vikash Puri milik seorang teman, hasil dari perkenalan kami lewat sebuah situs yang mengangkat nama sebuah jaringan komunitas antar traveller di seluruh dunia, Couchsurfing. Kami mengenalnya sejak dua tahun belakangan, namun baru mulai aktif sejak beberapa waktu sebelum keberangkatan kami menuju India.
Jaringan silaturahmi di dunia perjalanan ini ternyata sudah sangat akrab di telinga para pelancong dunia, apalagi yang berstatus backpacker alias budget traveller, sangat berguna untuk meminimalisasikan biaya perjalanan khususnya dalam segi akomodasi, karena hanya dengan meng-apply permintaan pada anggota yang memungkinkan di negara yang dituju, kita bisa mendapatkan akomodasi alias tempat tinggal gratis. Sudah barang tentu keuntungan lainnya kita dapat mencerna budaya kehidupan lokal melalui wacana kehidupan sehari-hari mereka, mendapat informasi keadaan wilayah sekitar yang setidaknya walau tidak lengkap tetapi cenderung akurat.
Seperti yang kami harapkan, pagi ini kami menghubungi Shiva kembali, dengan SIM card berkode wilayah New Delhi yang baru saja kami beli di gerai phone card di pintu masuk lobi. Uang 600 rupees plus voucher pulsa 100 rupees, harga yang fantastis untuk sebuah SIM Card lokal, karena setelah ditelusuri harga SIM card lokal phone plus voucher cuma 100 rupees, alias SIM card phonenya gratis! Dongkol rasanya hati, tapi nggak mungkin menuntut balik, yang ada kami misuh-misuh sepanjang perjalanan menuju keluar bandara.
Berbekal alamat yang diberikan Shiva kami bergegas ke prepaid taksi dan mendapatkan harga sebesar 350 rupees untuk sampai pada alamat yang dimaksud. Kami terperanjat ketika melihat taksi yang dimaksud berhenti di depan kami. Bayangan taksi setaraf Blue Bird pun jauh dari jangkauan. Taksinya lebih mirip oplet kecil berwarna kuning hitam dengan ACE alias angin cepoi-cepoi.
Mau apalagi, pikir kami mungkin beginilah tingkat keeksklusifan negara India, tak lama sopir berpakaian ala kadar dengan sendal jepit berbeda warna tersebut segera mengemudikan taksinya. Ancer-ancer masih dapat melesat, taksi jenis ini malah memboyong sekumpulan getaran dan gemuruh aneh dari dalam mesinnya, berkali-kali mesin mati tanpa sebab, yang akhirnya membuat perjalanan serasa menaiki siput, alias lama benerrrr… Kami berusaha senang apa pun keadaannya, mencoba mempelajari titik demi titik kehidupan sepanjang jalan yang kami lalui, beberapa gedung-gedung tinggi dengan pusat-pusat agrobisnis nampak sedang dibangun disekitar areal bandara, beberapa flyover yang terhubung ke jalur bandara pun beberapa sudah diaktifkan menjadi jalan utama.
Sambil berteriak kecil, “India..India!” kami mengucap syukur pada Tuhan, India pernah jadi satu list dalam mimpi kami dan sekarang menjadi list salah satu negara yang pernah kami kunjungi. Seakan tak ingin merusak suasana kami tetap tenang ketika sopir mulai gelisah mencari alamat yang dimaksud, komunikasi alot antara kami yang terjadi sejak taksi berjalan membuat kami akhirnya mulai naik darah, kami maklum jika ia tak bisa bahasa Inggris, tapi tak seharusnya ia tidak tahu jalan.
Muter-muter, sambil berkali-kali bertanya pada orang lokal, akhirnya sopir itu lincah membawa kami pada alamat yang dimaksud. Seorang pemuda masih dengan pakaian kusut nampak merem-melek membukakan pintu saat kami berkali-kali memencet bel. Flat ini mirip dengan rumah susun di bilangan Penjaringan, Pluit, Jakarta Utara, dengan 2 kamar tidur, satu kamar mandi, dan ruang tamu mini, nampak agak kumuh dan kurang terawat, tapi mungkin inilah yang dimaksud tingkat kehidupan di India. Di ruang tamu telah duduk 2 orang gadis yang berasal dari Republik Chech dan 2 orang wanita setengah baya asal Amerika. Setelah memperkenalkan diri dan ngobrol panjang lebar, Kumar mempersilahkan kami beristirahat di kamar.
Berbaring santai akhirnya sambil menghirup atmosfir baru dikota pertama kami di India. Kami mencoba memejamkan mata tetapi tak kunjung bisa, nampaknya semangat kami terlalu menggebu-gebu untuk segera melihat bagian penting dari kota ini. Suara dering telepon dari Shiva membawa kami pada janji makan siang di bilangan Connught Place, langsung saja kami buka kitab traveller paling shahih, Lonely Planet, mencari info akurat untuk bisa menjangkaunya dari tempat kami berpijak.
Tiba-tiba ingatan kami kembali pada sebuah pemandangan tak biasa yang tadi sempat kami temukan sepanjang perjalanan menuju flat, tak habis pikir, sapi dan kerbau plus kotorannya berkeliaran dimana-mana, di jalan utama ditengah kota, bak artis yang mangkal ditengah trotoar jalan raya. Tapi aneh, tak ada yang mengusir, apalagi menabraknya. Pertanyaan dibenak kami itu kemudian terjawab dari sms yang kami dapat dari ayah, mengingatkan kami untuk menghormati dan menghargai segala budaya dan kepercayaan yang ada. Rupanya, sapi di India, merupakan hewan suci yang dihormati umat Hindu.
Beranjak siang kami bergegas menuju Metro Train Station terdekat di bilangan Vikash Puri dengan menggunakan ricksaw atau becak ala India, menyusur pada  tengah riuhnya pasar distrik di bilangan kota ini, lalu lintas mulai amburadul tak ada lampu lalu lintas yang mengatur, seradak seruduk kendaraan lainnya berusaha saling mendahului, suara bising  klakson makin membuat panas hari ini. Untungnya tak sampai 20 menit kami tiba di stasiun monorel yang dimaksud.
Metro Train Station merupakan transportasi darat paling digandrungi di kota ini, dari mulai kenyamanannya hingga harganya yang masih terjangkau, monorel yang tak kalah bagusnya dengan negara lain itu dilengkapi dengan security screening dengan check body terbilang ketat, beberapa petugas berseragam kepolisian nampak sebagai pengaman fasilitas umum tersebut. Kami harus jeli memperhatikan kemana arah flatform yang dituju, karena hampir semua sign disini bertuliskan abjad Hindi.
Tak lama menunggu, kereta menuju Rajiv Chowk alias stasiun pemberhentian terdekat di Connaught Place akhirnya datang. Hmmm, semilir bebauan rakyat India mulai menyengat tajam seketika pintu kereta otomatis terbuka, lalu mau apalagi dalam benak kami, hadapi saja, konsekuensinya kami jadi sering menutup hidung menampik bau curry-curyan tersebut.
Untungnya hanya 13 stasiun pemberhentian yang harus kami lewati, tak lebih dari setengah jam kami tiba di pusat Metro Train Station di bilangan pusat kota New Delhi, tepatnya di Rajiv Chowk. Seperti pada fasilitas-fasilitas umum lainnya kita harus sangat jeli dan teliti melihat sign tujuan yang dimaksud, beberapa line nampak membingungkan kami karena bahasanya terbilang dalam honocoroko Hindi. Tapi untunglah di beberapa lorong pintu keluar terdapat tulisan abjad biasa, kami bergegas mencari exit line menuju Connaught Place.
Nampak dari luar Connaugh Place merupakan pusat agrobisnis bergengsi di kota Delhi, berjejer toko-toko yang menawarkan berbagai macam barang dengan tingkat kualitas, pada jalan utama yang kami lewati nampak banyak showroom fashion branded kelas dunia, dan berbagai restauran modern ala mediteranian bahkan Oriental dishes. Kami kemudian masuk pada sebuah restoran bernama Indian Coffee Cafe, restoran ini tampak elite dengan penjaganya yang berseragam etnik formal menyambut kami ramah, terbilang ketat karena yang masuk harus sudah pesan terlebih dahulu.
Di sudut meja sebelah kanan akhirnya kami melabuhkan makan siang kami bersama Shiva, Laura dan Lady Lawyer, wanita asal Amerika yang salah satunya merupakan American Ambasador Couchsurfing. Tak benar-benar makan siang, kami hanya memesan secangkir kopi seharga dominan setaraf kafe elit di bilangan Blok M. Setelah melalui serangkaian obrolan dan berbagi perjalanan, akhirnya kami sepakat menuju beberapa tempat wisata terdekat sekitaran kota Delhi.
Agenda pertama membawa kami menuju pusat landmark kota New Delhi, dengan mobil mini sedan yang dikemudikan Shiva, kali ini kami urunan sebesar 200 rupees per orang untuk bensin. Mobil tanpa AC tersebut melesat cepat dalam riuh lalu lalang kendaraan lainnya menuju komplek landmark di bilangan Vijay Chowk, daerah Vijay Chowk juga dikenal sebagai pusat kepemerintahan Delhi, berbagai kantor pemerintahan dan gedung parlemen bercokol di areal komplek sipil.
Kunjungan pertama kami dibawa tuan rumah menuju India Gate, ibarat tugu selamat datang di bilangan Thamrin, Jakarta, India Gate juga merupakan Tugu selamat datang di negara ini, dikelilingi taman-taman yang cantik dan luas tertata rapi, statusnya seperti Monas yang laris manis menjadi tujuan utama para pelancong ketika tiba di kota ini. Tak hanya itu, situs sejarah api suci “amar bhawan” yang dikobarkan pada bagian bawah monumen yang penuh nama-nama di sekitaran dindingnya tersebut, nampak menghembuskan aroma sejarah masa silam, bagi para pahlawan nasional India yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini
Puas mengabadikan kedatangan kami di Monumen “Welcome to India” ini, kami bergegas menyusur pada landmark kota Delhi lainnya yang terletak di Jalan Mathura di bilangan Nizamudin Timur, Delhi. Humayun Tomb tercatat sebagai tourist atraction setelah Qutb Minar. Bangunan yang keseluruhannya didominasi material bata merah, bata putih dan marmer tersebut nampak anggun dan apik, menampakkan jelas citra dari sang mpunya hajat, konon menurut sejarah bangunan ini didedikasikan oleh Haji Begum yang tak lain adalah Istri sang Raja Humayun untuk suami tercintanya.
Kompleks bangunan megah ini menganut paham gaya arsitektur India-Persia, dengan taman-taman yang dihiasi air mancur yang indah, dan tembok-tembok bata merah yang tinggi. Bangunan yang konon diilhami dari kisah epik Taj Mahal ini mengundang UNESCO untuk mencatatnya menjadi salah satu bagian dari Warisan Budaya Dunia alias World’s Cultural Heritage. Tempat wisata ini terbilang mahal, bagi para wisatawan dikenakan biaya masuk sebesar 5 dollar AS, sedangkan lokal hanya 10 rupees saja. Nampaknya pihak pariwisata India memang sedang menggalakkan tingkat kehidupan yang lebih layak lewat santunan dari orang non-India di bidang pariwisata.
Hari beranjak sore, Shiva bergegas membawa kami pada destinasi tempat berikutnya, yang terkenal dengan Lakhsmi Narayan Temple atau Birla Mandir, yang letaknya di sebelah barat Connaught Place. Beberapa peraturan ketat kuil bergaya Orissan Style ini membuat kami tak dapat masuk kedalam karena memakai celana pendek. Peraturan lain melarang pengunjung mengambil gambar atau video, jadi untuk kemudian hanya Laura dan Lady Lawyer yang menyempatkan diri masuk kedalam.
Dari kejauhan, kami berusaha mengamati kemegahan kuil yang konon didedikasikan untuk Dewi Lakhsmi, dewi kecantikan, pantas saja, setiap wanita yang datang ke kuil ini selalu nampak rapi, sopan dan wangi, memakai banyak atribut kewanitaan Hindi, dan sejumlah untaian bunga dan sesajen untuk ritual pemujaan. Shiva mulai bercerita panjang lebar tentang jati diri dan keluarganya, hitung-hitung sambil nunggu 2 wanita tangguh itu, bayangkan saja, Lady Lawyer, wanita paruh baya tersebut punya plan nekat bertandang ke Pakistan yang saat itu terdengar banyak konflik dan sering terjadi peperangan politik. Sedang Laura nekat menyusur negara bagian India lainnya sendirian.
Perbincangan akhirnya disudahi ketika 2 wanita itu kembali ke mobil, kami bergegas mengangsur pada jalan-jalan kota menuju area Old Delhi, Shiva merekomendasikan kami makan malam di restoran muslim ternama di bilangan Jama Masjid. Riuh penduduk lokal sekitar nampak tumpah ruah memenuhi jalan kecil menuju pintu utara Jama Masjid. Restoran Karims yang terkenal itu nampak penuh tak ada kursi yang tersisa, akhirnya kami menikmati makan malam kami di restoran tetangga si Karims, dengan menu Chicken Curry dan kabab, yang unik terdapat pada Indian saladnya. Dalam benak kami terbesit, pantas saja orang India baunya lebih ekstrim, wong makanan pembukanya aja udah berupa bawang-bawangan, apalagi menu makanan utamanya, pasti banyak memakai bawang-bawangan pula.
Awalnya kami sama sekali tak berminat mencobanya, tapi setelah dipaksa mencicipi dan tahu rasanya, kami jadi mulai tertarik memakan selembar irisan bawang dengan perasan jeruk lemon yang ditoreh dengan sambal hijau khas bernama Chadne.
Hmm, lezat juga menu baru kami hari ini, belum lagi soal uniknya Indian mouthfresh alias permen ala India, rasa mint dari buah berbentuk seperti gabah berwarna hijau dicampur dengan gula batu pasir, membuat cita rasa permen relaksa atau mentos terasa lebih berbudaya.
Semua nampak berbahagia dengan menu tempat dan makanan yang disuguhkan Shiva hari ini, bahkan ia menyempatkan diri untuk mengantar kami kembali ke flat keduanya itu, sebelum akhirnya ia pamit pulang. Setelah membersihkan diri, akhirnya, agenda kami hari ini ditutup dengan perbincangan menarik tentang pengalaman traveling masing-masing dari para traveller yang juga berada di flat yang sama dengan kami. Main kartu remi ala India bersama John Kumar, juga makin membuat suasana malam ini menyenangkan sambil menyusun rencana sightseing esok hari.
http://travel.kompas.com/read/2011/03/10/12442437/New.Delhi.Beda.dengan.di.Film.

Leave a Reply