| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Pelosok-Pelosok Eksotis Beijing (Bagian I)

Mahyong adalah permainan khasnya yang paling populer, bebek peking adalah salah satu menu andalannya, bahkan penduduknya masih menyebut kota ini sebagai Peking. Ya, inilah Beijing, sebuah kota yang setiap minggu pagi, taman-taman kotanya dipenuhi orang-orang tua dengan segala kesibukan dari menari hingga karaoke. Kota ini layaknya Jakarta. Virus modernisasinya sudah tinggi, tetapi Anda masih bisa menikmati sejarah dari bangunan-bangunan tuanya.
Beijing terletak di ujung utara daratan China, dan merupakan kota terbesar kedua setelah Shanghai. Ini wujud China dalam atmosfer gemerlap metropolitan, tetapi aroma sejarahnya masih sangat kuat melalui istana dan bangunan megah yang bercokol di pusat kotanya. Belum lagi pegunungan dan ngarai hijau yang membentang dari utara hingga baratnya, dan sungai-sungai yang mengalir di beberapa sudut lainnya, setidaknya membuat kota yang terkenal dengan polusinya ini terus bertahan sebagai kota yang wajib untuk disambangi saat mengunjungi China. Memasuki pusat kotanya, Anda langsung disuguhkan suara-suara meludah. Budaya meludah orang China yang khas dengan tarikan paling yahud ini karena mereka percaya dengan meludah sepuas itu akan membuat bakteri dalam tubuh mudah kabur. Dan jangan terheran-heran kalau Anda banyak melihat kaum lelaki, selalu menyingsingkan bajunya hingga ke atas perut. Itu memang cara mereka mengatasi hawa panas yang selalu menyeringai.
Lepas dari budaya super aneh itu, Beijing dan sekitarnya merupakan salah satu destinasi wisata Cina yang paling diminati. Banyak bangunan tua bersejarah yang menjadi incaran mata wisatawan, baik di pusat kota ataupun di sekitar kota Beijing. Lebih dari 20 destinasi wisata yang ditawarkan oleh dataran Cina utara ini, tetapi setidaknya ada lima target pertama yang selalu menjadi urutan utama para wisatawan. Dari bilangan hostel murah Red Lantern di Hutong, kami memilih mendaratkan ransel untuk beberapa hari. Ibarat kota tua di Jakarta, Hutong adalah sebuah perkampungan asli warga Beijing saat dinasti Yuan berjaya di tahun 1271 hingga akhir tahun 1368.
Mata-mata super sipit dengan lekuk pipi yang merona merah tampak menghiasi rumah-rumah kuno ala China yang biasa disebut Siheyuan itu. Mereka bermain Mahyong bak bermain catur dalam keseharian mereka, dari remaja hingga kakek nenek yang berkumpul di gang-gang sempit. Suasana perkampungan ini semakin dramatis ketika mercon bertebaran memeriahi Lunar Festival di momen Imlek. Belum lagi saat musim salju mulai tiba, mata Anda seakan dibawa ke masa China ribuan tahun silam. Meninggalkan penginapan sekaligus wisata kota tua itu, kami memulai membidikkan kamera menuju pusat kota, sebagai salah satu gudangnya wisata sejarah China. Adapun tempat-tempat menarik di Beijing, akan kami tampilkan dalam dua tulisan.
Forbiden City
Gugong Bowuguan dalam bahasa Chinanya. Inilah objek wisata pertama yang ditengok wisatawan saat baru tiba di kota Beijing. Letaknya di pusat kota, tepatnya di Jingshang Front Street no.4, distrik Dhongcheng. Bangunan ini merupakan istana Tiongkok kuno dari berbagai dinasti-dinasti agung China tempo dulu, dari generasi dinasti kaisar Ming, Qing, hingga yang terakhir Pu Yi. Dibangun pada pemerintahan kekaisaran ketiga dinasti Ming, Kaisar Yong Le, istana ini juga berfungsi sekaligus sebagai pusat tata kota. Bangunan segi empat dengan atap berwujud loteng-loteng yang bak jamur itu luasnya mencapai 183 hektar, dipagari parit sekelilingnya, yang kemudian dibalut lagi oleh dinding yang membentuk seperti benteng. Di dalamnya terdapat 9.999 ruangan dengan dominasi warna emas. Walau tak semua ruangan atau area dapat dikunjungi khalayak umum, Anda tetap bisa menemukan giok-giok hingga furnitur dari generasi ke generasi hingga 24 kekaisaran yang ditampilkan di ruang utama museumnya. Forbiden City dibuka untuk umum dari pukul 08.30 hingga 17.00. Tiket seharga 60 Renminbi (RMB) atau berkisar Rp80.000 akan membawa langkah Anda ke gerbang dan dinding yang berlapis-lapis di dalamnya.
Tiananmen Square
Mengemban tugas surga sebagai The Gate of Heaven Peace adalah makna yang terkandung dalam pembangunan alun-alun Chentianmen (namanya sebelum menjadi Tian’anmen) pada masa tahun ke-15 dinasti Ming Yong Le berkuasa, tepatnya sekitar tahun 1417. Letaknya hanya selemparan batu dengan Museum Kekaisaran, Forbiden City. Tepatnya di sebelah selatan, atau di seberang jalan. Dulunya berfungsi sebagai tanah bagi perhelatan besar kekaisaran, seperti penyambutan, tanah pernikahan keluarga kaisar, hingga perhelatan kesenian. Alun-alun ini terluas di dunia, sekitar 880 x 500 meter. Diyakini bisa menampung satu juta manusia. Bukan hanya dikenal sebagai alun-alun terbesar di dunia, jejak tragedi pemberontakan demokrasi oleh mahasiswa pada tahun 1989 saat kepemimpinan perdana menteri Li Peng, pun ikut menorehkan sejarah yang tiada habisnya. Alun-alun ini menjadi saksi bisu atas darah yang banjir dari ribuan mahasiswa yang memuntut mundur kepemerintahan masa itu. Di sini pengunjung bisa mengunjungi Museum Nasional Cina dan makam seorang pahlawan demokrasi, Mao Zedong. Tiket yang berlaku seharga 15 RMB. Karena letaknya masih di dalam komplek Forbiden City, maka jam operasionalnya sama dengan Forbiden City.

Leave a Reply