| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Perjalanan di India (Hari 01 – Jakarta, Singapura, New Delhi)

Fajar telah memulai sinarnya, pun kami memulai aktivitas baru sebagai “traveller” yang haus warna atas kehidupan di berbagai negara. Dua minggu setelah pengajuan visa kami di cap eksklusive “6 bulan” oleh pihak kedutaan India yang bermukim di bilangan Kuningan – Jakarta, akhirnya hari ini kami memulai status baru kami menjadi Indian backpacker wanna be. Butuh waktu sebulan untuk merampungkan daftar itenerary dan berbagai tek-tek bengek menyangkut semua bekal fisik dan mental yang akan kami bawa hingga beberapa bulan kedepan, pasalnya tak seperti pada paket tour kebanyakan, yang hanya menyinggahi beberapa tempat atau kota, “all over India” judul perjalanan kami kali ini, sudah barang tentu kami berharap mengkhatami kitab traveller “India” milik Lonely Planet seluruhnya, minimal dalam 3 bulan kedepan. Mati-matian kami menyusun itenerary perjalanan dari satu kota ke kota lain yang memungkinkan dan fleksibel, agar tidak membuang waktu dengan singgah di kota yang sama. Indian rail way website-nya pun sudah habis kami “ubek-ubek” demi mencari jalur transportasi yang memungkinkan menuju ke kota lainnya di sepanjang India, karena konon harga transportasi Kereta Api lah yang laris manis digunakan oleh para lokal dan wisatawan ala bacpacker pada umumnya. Bicara soal kereta api di India, usut punya usut negara ini merupakan negara dengan Jaringan kereta api terluas di dunia, bahkan seorang Menteri perkereta-apian di sandangkan dalam struktur kepemerintahannya demi kelancaran fasilitas negara Ghandi yang satu itu.
Tak tanggung-tanggung, masing-masing dua backpack sekaligus bakal menjadi teman setia kami selama perjalanan, dari mulai baju musim panas hingga musim dingin sudah jadi agenda tetap dalam backpack besar kami dan seperangkat alat tukang foto di ransel kecil kami, selain kebutuhan sandang pokok tersebut, yang tak lupa kami persiapkan adalah berbagai jenis obat-obatan ringan yang akan menjadi dokter kecil dalam saku perjalanan kami, mengingat epidemik wilayah ke wilayah lain di India yang terkenal cenderung kotor dengan intensitas bakteri penyakit yang cukup tinggi, maka untuk mengantisipasinya kami telah melakukan beberapa macam vaksin yang dianjurkan, terutama hepatitis, yang berguna untuk memperkuat imun dalam tubuh yang cenderung selalu beraktivitas setiap harinya. Bayangan bertemu Shah Rukh Khan menari-nari kian membumbung di kepala, senyum-senyum sendiri menikmati detik-detik keberangkatan kami ke negara yang terkenal karena “festival warna”nya tersebut, tak terasa telah membawa kami pada pukul setengah lima pagi, jemputan ala taksi pun telah menunggu di depan rumah, serasa sudah tak sabar melihat negara Ghandi itu, kami bergegas melompat kegirangan menuju taksi biru berjudul “Blue Bird” yang tak lama kemudian mulai melesat dalam embun-embun pagi yang menebarkan bau dedaunan segar sepanjang jalan menuju Airport tercinta kita, Soekarno-Hatta dibilangan Cengkareng Jakarta Barat. Fajar boleh baru menyingsing, tapi geliat Jakarta di pagi hari nampak selalu menunjukkan taringnya dari kendaraan-kendaraan yang selalu lalu lalang melibas sudut-sudut jalan kota metropolitan Indonesia. Senang sekali rasanya, kami akan meninggalkan rasa “stress” dampak kemacetan dan kebisingan Jakarta, paling tidak untuk tiga sampai 4 bulan kedepan. Belum genap satu jam, taksi yang terbilang dengan pelayanan terbaik se Indonesia ini telah berhenti didepan pintu gerbang Terminal 2 bandara Soekarno Hatta. Tak butuh waktu lama, kami segera mendapatkan 2 boarding pass sekaligus untuk tujuan Jakarta-Singapura dan Singapura-New Delhi sesaat setelah check-in dan menyodorkan NPWP dengan bangganya (karena tak perlu membayar viskal yang bakal merogoh kocek lumayan besar), kamingnya kami harus tetap mengeluarkan uang sebesar 150 ribu Rupiah untuk International Passenger service charge, harga yang terbilang selangit untuk macam traveller ala backpacker.
Penerbangan pertama kami menuju India kali ini menggunakan Maskapai ternama Singapore Airlines dengan pesawat berinisial SQ951 yang terbang tepat pukul 06.45 menuju Merlion City pagi ini. Getar deg-degan masih saja berlangsung saat pesawat akan tinggal landas, meski ini bukan pertama kalinya kami bepergian dengan transportasi udara. Maskapai penerbangan yang satu ini memang terbilang Eksklusive dalam pelayanannya, menu sarapan pagi yang disajikan sangat lezat dan bervariasi, pramugari nya pun terkenal cantik dan ramah, hingga satu jam perjalanan pun terasa cepat dan menyenangkan. Mengingat perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Jakarta, maka pesawat yang kami tumpangi akhirnya mendarat di Changi Airport Singapura tepat pukul 08.45 waktu Singapura. Berbeda dengan bandara Soekarno Hatta, bandara Changi Singapura nampak jauh lebih bersih dengan tingkat kemodernisasian yang tinggi. Aktivitas para wisatawan yang hilir mudik keluar masuk Singapura nampak tak pernah lengang, fakta menyebutkan lebih dari 80 maskapai penerbangan ternama seluruh dunia telah menjadi fasilitas paling dijempoli sejagad , kami menyempatkan untuk menukar sejumlah mata uang USD kedalam Singaporean Dolar, guna menikmati beberapa jam waktu transit di negara tetangga yang satu ini, pasalnya scedjule connecting flight kami menuju New Delhi masih di pukul 02.30 dini hari nanti waktu Singapura. Tak ingin buang-buang waktu kami
kemudian bergegas melaksanakan agenda Walking Tour kami menuju pusat kota yang banyak menyuguhkan landmark-landmark penuh sejarah negara Lion City ini. Mass Rapid Transit (MRT) yang merupakan jaringan transportasi kereta terbaik di Singapura dalam waktu tak lebih dari setengah jam telah membawa kami pada stasiun pemberhentian dibilangan Boat Quay, dari spot inilah kami mulai mengeksplorasi Singapura lewat landmark-landmarknya yang megah, gedung-gedung pencakar langit yang membumbung tinggi berkelas internasional, Hotel bintang lima ternama Fullerton Hotel nampak apik disandingkan dengan beberapa gedung perkantoran dan gedung departemen kelautan hingga Bank setaraf internasional, tak jauh dari gedung-gedung tinggi ini terdapat Covenagh Bridge yang disebut-sebut jembatan tertua di Singapura, namun tampilannya nampak seperti jembatan gantung modern. Dari jembatan tersebut kami menyusur pada Asian Museum Civilization dan Empress Place menuju utara Boat Quay, dimana terdapat Victoria Theatre dan Concert Hall, tanah utara Boat Quay disebut-sebut juga sebagai Sir Stamford Raffles landmark, yang menyuguhkan berbagai bangunan bersejarah yang didedikasikan untuk the founder of Singapore ini, terdapat 2 statue Sir Stamford Raflles, satu berwarna hitam terletak di depan gedung Victoria Theatre, dan satu lagi berwarna putih dari material campuran marble sebagai replika yang menandakan tempat pertama kali Sir Stamford menginjakkan kakinya di tanah Singapura ini.
Terik matahari tak terasa membuat perut kami tak dapat menahan haus dan lapar, akhirnya kami singgah di sudut jalan Clarke Quay, mengisi bahan bakar dibilangan restauran cina, yang disebelahnya juga berderet kedai-kedai makanan berbagai menu, nampak para eksekutive-eksekutif muda ramai memenuhi jalan ini untuk menyantap makan siangnya. Puas dengan sepaket menu ala Chinese, kami segera berbalik arah menyusuri tepian sungai menuju Merlion Park, dimana berdiri kokoh simbol unik dari negara ini, yang disebut Merlion. Wujud kemegahan Merlion itu sendiri merupakan kombinasi mistis antara bentuk kepala Singa dengan ekor ikan, dari mulutnya keluar air mancur yang diambil dari mata air Singapore River yang memagarinya. Ibarat Monas di Jakarta, spot ini merupakan spot terlaris yang dijadikan agenda pokok para pelancong, wisatawan dalam macam balutan busana nampak tumpah ruah mengantri berpose di berbagai sudut di Merlion Park ini, tak hanya si Merlion, taman ini juga menyuguhkan landmark-landmark cantik lainnya di bilangan Marina Bay dan sekitarnya, kami pun tak ingin kehilangan moment dengan si Merlion yang satu ini, langsung saja kami membidikkan kamera kekamingan kami di beberapa angle yang unik. Lagi-lagi terik matahari mengganggu tenggorokan kami, untungnya disudut bawah jembatan Esplanade yang tak jauh dari Merlion tersebut terdapat Cafe favorite kami, Starbuck Cafe, tempatnya unik karena agak tersembunyi dibawah jembatan, seperti kebiasaan kami yang agak aneh, hampir disetiap kota yang kami kunjungi, kami selalu mencari dan menyempatkan diri bertandang ke Starbuck Cafe demi hobby kami yang doyan mengkoleksi Starbuck Mug. Segelas iced cofee dan sebotol air mineral kemudian jadi penghilang dahaga kami, jangan ditanya harga makanan dan minuman disini, kalau dalam hitungan rupiah tingkat kenaikan harganya bisa 8x lipat, gak backpacker banget!
Perjalanan kami lanjutkan menuju atas Esplanade Bridge, melipir pada bangunan yang disebut sebagai City hall, disini juga berdiri sebuah monumen nasional Singapura, dulunya gedung megah yang dibangun pada sekitaran tahun 1926 hingga 1929 ini dijadikan gedung kepemerintahan pada masa kepemimpinan George VI. Selain gedung balai kota tersebut, berdiri pula Departemen Mahkamah Agung yang disebut-sebut sebagai bangunan artistik terakhir yang dibangun pada masa itu, tepatnya sekitar tahun 1937 hingga 1939. Sebuah lapangan hijau yang luasnya mirip stadion pun terhampar di depan jalan bangunan-bangunan megah tersebut, aktivitas olahraga kriket dilapangan yang membelah pusat kota ini nampak seru dan banyak penontonnya. Telusur demi telusur pada lapangan hijau tersebut, akhirnya kami tiba pada persimpangan jalan St.Andrew dan Coleman St. Pandangan mata kami tertuju pada sebuah gereja putih nan cantik disudut jalan tersebut, bergegas kami mengamati keindahan arsitekturnya dari sebuah kursi taman dihalaman depan gereja tersebut. St. Andrew Cathedral yang tadinya kami kira merupakan gereja Katholik Roma ini ternyata merupakan Katedral Anglikan terbesar sepanjang Singapura, bahkan telah dinobatkan menjadi salah satu monumen nasional pula. Menurut sejarah gereja ini dirancang pada tahun 1986 dan selesai beberapa tahun sesudahnya, tercatat pernah dua kali mengalami renovasi akibat sambaran petir yang menrusak sebagian bangunan, yang kemudian untuk kedua kalinya gereja ini diresmikan sebagai monumen nasional pada tahun 2005. Lega berteduh di taman gereja tersebut, kami bergegas menuju Parliament House, bangunan yang dulunya Art House dan merupakan Heritage Center ini terbilang sangat fungsional, layaknya Jakarta Convention Center, selain sebagai kantor pusat the famous former prime minister, Lee Kuan Yew, Parliament House ini banyak digunakan untuk acara-acara eksebisi-eksebisi besar, pertunjukan tari atau drama kondang. Sebuah Elephant statue bercokol gagah didepan bangunan tersebut, konon merupakan pemberian King Rama V of Siam Thailand dari apresiasinya saat mengunjungi Singapura pada tahun 1981 silam.
Tak terasa hari beranjak sore, aktivitas walking tour kami akhiri dibilangan China Town, tempat bermukimnya para etnik-etnik Cina dengan berbagai hasil karya seninya yang dijual sepanjang jalan. Kami segera mencari MRT station terdekat guna menuju Changi Airport. Gemuruh pesawat yang tinggal landas mulai terdengar saat kami tiba di bandara ekslusif ini, berhubung waktu penerbangan kedua kami masih sekitar 8 jam kedepan, berbagai aktivitas lainnya kami lakukan demi membunuh waktu. Dari mulai menjelajah eksekutif lounge yang menyediakan berbagai fasilitas istirahat dan hiburan serta informasi yang terbilang sangat nyaman, hingga rest outdoor tempat para pelancong mengepulkan asap rokoknya di semak taman yang penuh bunga matahari, bolak-balik ke Toilet antik yang hanya mempunyai flash otomatis pada sistem pintunya, hingga santap malam di fast food restaurant, sampai balik lagi menuju fun area yang penuh dengan fasilitas internet dan game gratiss, demi gak boring menunggu waktu penerbangan. Mata terasa sudah merem melek menahan kantuk, tapi untungnya waktu check ini dan boarding tiba, di pukul 2.30 dini hari waktu setempat, akhirnya pesawat SQ406 secara sempurna meninggalkan landasan Airport Singapura. Masih dengan antusias kami menatap langit malam yang bergurat indah oleh sinar gemintang bintang dan bulan, perjalanan yang menyenangkan, setelah kenyang disuguhi berbagai menu makanan dan minuman yang lezat oleh pramugari yang berwajah India blasteran, akhirnya kami terlelap tidur dengan alunan musik yang berasal dari flight entertainment monitor yang terdapat pada bagian depan kursi pesawat. Beberapa kali kami sempat terbangun, serasa tak sabar menunggu pijakan pertama kami di negeri Ghandi nanti, kami mulai memainkan remote monitor, mencari channel tontonan apik yang disuguhkan, tak berlangsung lama terdengar pengumuman, pesawat akan landing, hati kami mulai deg-degan lagi ketika melihat pendaran cahaya lampu kota yang dari kejauhan membentuk seperti pulau yang bersinar di tengah gelapnya malam, sangat eksotis dan artistik.

Leave a Reply