| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Perjalanan di India (Hari 03 – New Delhi)

Pagi yang cerah merambah masuk lewat jendela kamar yang tersingkap, kami segera bangun dan “nongkrong” di ruang tamu yang masih sesak oleh John dan satu Cs er lainnya yang masih tertidur pulas. Rupanya 2 wanita muda yang sekamar dengan kami sudah hengkang meninggalkan flat ini menuju kota lain semalam, mungkin karena terlalu lelah, kami jadi tak tahu ketika mereka pergi. Kami bergegas mandi, ketika selesai John menyambut kami dengan secangkir kopi panas dan beberapa potong biskuit, serta obrolan hangat mengenai rencana kami hari ini, John nampak berusaha memberi informasi yang ia ketahui tentang berbagai tempat dan transportasi sekitar Delhi. Kami melongok pada kamar Larra, nampak lengang, ternyata 2 wanita yang tak lagi muda tersebut pun sudah meninggalkan flat ini menuju destinasi mereka selanjutnya. Kami jadi tak mau kalah dengan mereka, setelah kelimpungan mencari charger laptop yang kami lupa menaruhnya, akhirnya hampir tengah siang kami memulai hari menuju lagi-lagi Connaught Place, pusat segala kebutuhan masyarakat Delhi, sasaran kami adalah makan, untuk menghindari rasa shock, kami masih menetapkan makanan umum yang masih netral dilidah, alias fast food. Pilihan kami jatuh pada Mc.D yang tak sengaja kami temui waktu menyusuri Connaught Place di inter circle. Abg-abg necis ala Indian style kelas VIP banyak nongkrong disini, cekakak cekikik ramai setengah mati, kalangan expat hipy juga nampak setia di jalur antrian.
Ada yang beda di Mc.D India, karena mayoritas pangan pokok masyarakat India adalah roti, maka menu yang disajikan hampir seluruhnya berupa roti, alias burger atau sandwich. Saladnya sudah pasti sama, meski sausnya masih khas dengan Chadne dan komposisi irisan bawang. Nah, mengingat negara ini sangat menghormati mamalia seperti sapi, maka jangan harap ada menu daging disini, chicken masih berlaku untuk ditawarkan, karena dari yang kami amati kebanyakan para konsumennya berasal dari kalangan Punjabi, yang khas dengan gulungan surbannya yang membumbung dikepala. Tapi uniknya, ayam yang biasa disajikan dengan citarasa original atau pedas, di India hadir dengan citarasa kari yang pekat, pilihannya hanya itu dan vegetable curry. Kami yang hobi makan berat jelas memilih ayam sandwich untuk makan siang kali ini, lidah kami mulai mengamati rasa menu citarasa Mc.D India, enak juga, meski sedikit nampak aneh rasa curry yang membalut ayamnya. Tapi yang paling menyenangkan adalah harga perpaketnya jauh lebih murah dari harga Mc.D di negara-negara lain yang pernah kami kunjungi, sepaket sandwich ayam, kentang goreng dan segelas coke ukuran medium hanya sekitar 16.000 rupiah, sayangnya bagi anda peminat saus pedas, disini tidak menyediakan, sausnya hanya berupa tomato sauce dan ketchup sauce. Tak mau berlama-lama juga, kami segera melengser pergi menuju line Metro station, agenda kedua kami melipir ke pusat gedung-gedung kepemerintahan India yang bercokol di sekitaran Vijay Chowk, Dari line Rajiv Chowk, kami ikut antrian di line menuju Central Sekretariat, tidak harus menunggu lama, karena biasanya train datang setiap lima menit sekali. Akses tiket keluar masuk line tidak seperti tiket masuk line busway, aksesnya menggunakan koin yang terbuat dari plastik sistematis, jadi jangan sampai koin tersebut hilang. Baru sejenak melepas ransel, ternyata train sudah tiba di stasiun metro yang kami tuju. Bergegas kami lari menjauhi kerumunan orang yang mulai berebut untuk keluar dan masuk train.
Dari kejauhan, Parliament House nampak megah dengan aksen warna bangunannya yang memerah eksotis dari material batu bata. Kami memutuskan berjalan kaki untuk sampai disana, menyusur pada taman Vijay Chowk yang indah dengan air mancurnya, spot burung-burung merpati liar dipelataran, dan para penjaja makanan keliling, dari mulai tukang es hingga snack bahkan kopi, mirip-mirip pelataran Monas. Tak hanya sebagai tempat rekreasi weekend ternyata, disekitaran taman ini sering digunakan untuk aktivitas shooting, baik film atau reportase berita harian. Beberapa stasiun televisi dan radio ternama di New Delhi nampak sedang melakukan shooting reportase berita hari ini, kami mengamatinya sambil leyeh-leyeh di taman. Bosan dengan para penjaja makanan yang terus saja mengganggu kami dengan tawaran dan tatapan matanya yang aneh, kemudian kami “ngeloyor” pergi menjauh, menyusur jalan menuju gedung pemerintahan terbesar di New Delhi. Hati kami jadi dag-dig dug mendekati pintu gerbang, pasalnya para penjaga militer bersenjata laras panjang seperti sedang siap mengintai dan menembakkan ke sasarannya. Hal bodoh yang kami bayangkan kalau salah salah mereka melepaskan bedilnya ke arah kami, aduh tak keruan hati kami jadinya. Tapi tekad malah jadi membaja, pantang menyerah, terus saja berjalan meski lirikan para petugas militer itu makin mengganas, seolah kami ini teroris Jepang kesasar. Tapi tak seperti yang kami duga, semua berjalan baik-baik saja, kami menyusur di tepian halaman gedung-gedung megah itu, sekarang giliran kami balik membidikan senjata kami, untuk mengabadikan moment dan angle menarik dari situs sejarah India pada masa kolonial dulu.
Sinar keemasan memerah tepat disudut salah satu kubah di istana itu, namanya Rashtrapati Bhavan, yang merupakan Istana kepresidenan India. Bangunannya di rancang oleh arsitektur kenamaan Inggris, Lutyen. Konon dulunya istana ini dibangun untuk tempat tinggal para pemimpin kolonial saat masih menduduki India. Dari catatan yang ada, Presiden India biasanya membuka open house hanya pada saat musim semi tiba, dimana bunga-bunga taman di Istana sedang bermekaran, dan merayakan sejumlah festival keagamaan. Rastrapati Bhavan terletak di jalan Raisina hill, letaknya memang agak seperti di dataran tinggi bukit, disebelah kanan dan kirinya terdapat bangunan kantor pusat pemerintahan dari berbagai parlemen. Senja mulai meredup, saatnya untuk mengakhiri agenda perjalanan kami di istana presiden hari ini. Berharap kursi panjang yang kosong dengan hawa AC yang sejuk di kereta melepas lelah kami, tapi ternyata kami pulang di jam yang salah, saatnya jam pulang kantor tiba, alhasil kami musti berdesak-desakan di kereta sepanjang perjalanan menuju Janak Puri Metro station.

Leave a Reply