| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Perjalanan di India (Hari 08 – New Delhi to Amritsar)

Halal Bihalal Idul Fitri hari ke-2 di Kedutaan Indonesia
Gak sabar untuk menunggu hari ini, karena agenda perjalanan kami hari ini akan memasuki kota kedua dalam daftar destinasi kami di India. Pasalnya sudah cukup waktu seminggu untuk ngubek-ngubek kota metropolitan yang berstatus sebagai ibukota negara Ghandi ini. Dan sebelum meninggalkan New Delhi menuju Amritsar, yaitu India bagian Haryana Punjab, kami memilih merampungkan sightseing kami menuju Qutb Minar, setelahnya kami masih harus menghadiri halal bihalal hari ke dua Idul Fitri di kediaman salah satu pejabat tinggi Kedubes Indonesia, masih di tempat yang sama di Indonesian Embassy. Baru setelahnya akan meluncur ke Nizamuddin Railway Station. Pagi-pagi sekali kami sudah berkemas, menggendong lagi backpack kami yang masih jelas munjung sekali melebihi postur tinggi kami. Bersama Ruth kami meninggalkan flat ini setelah cipika-cipiki dengan John. Kami sepakat berpisah di Rajiv Chowk, karena Ruth hari ini akan menuju tempat penginapan barunya di bilangan Paharganj. Kami sendiri memilih untuk meluncur ke daerah Qutb Minar, selatan New Delhi dengan menggunakan bajaj seharga 120 rupees. Agak mahal, karena jaraknya yang memang agak jauh dari Connauht Place. Setengah jam lebih perjalanan, akhirnya kami tiba didepan komplek Qutb Minar. Mengamati orang sekeliling kami, nampaknya mereka sedang resah dengan sesuatu yang terjadi disini. Benar saja dugaan kami, akhirnya nasib kami tak jauh beda dengan pengunjung lainnya, kecewa, karena tanpa alasan kuat dan pemberitahuan beberapa hari sebelumnya pihak pariwisata komplek Qutb Minar menutup kawasan ini untuk umum pada hari ini. Dengan muka cemberut kami mulai mengersir jalan raya untuk mencari transportasi balik menuju Indonesian Embassy, berkali-kali kami menyetop bajaj yang lewat, tetapi tidak ada yang mau berhenti. Rupanya sistem bajaj disini juga mempunyai halte sendiri, selain di halte pemberhentian khusus bajaj alias pangkalan bajaj, bajaj-bajaj ini jarang ada yang bersedia mengangkut penumpang. Akhirnya kami harus berjalan sejauh 2 km menuju pangkalan bajaj terdekat. Harganya juga membumbung tinggi dipatoknya, 150 rupees meski sudah menawar mati-matian. Tak ingin ketinggalan moment makan enak, akhirnya kami terpaksa mengambil harga tersebut untuk sampai ke Indonesian Embassy.
Tiba disana kami tak lagi seperti orang asing, kami langsung dipersilahkan masuk oleh para penjaga gerbang, menuju rumah yang dimaksud, rupanya halal bihalal kali ini diselenggarakan di rumah bapak Athan, yang merupakan wakil Dubes. Selintingan kami dengar terjadi sedikit perpecahan dalam kubu ini, tapi apapun itu, kami kesini datang untuk bersilahturahmi antar sesama. Kami disambut ibu Roos Iskandar yang sedang sibuk membantu menyambut tamu lainnya, suasana yang tak kalah ramainya dari hari kemarin, bedanya halal bihalal hari ini terlihat lebih santai dan tidak terlalu formal. Lagi-lagi sederet menu Indonesia disajikan dalam beberapa meja, tidak malu-malu, kami langsung melahap beberapa menu yang sudah kami ambil dalam piring ukuran besar. Berbincang dengan para tamu yang datang, tamu formal dari sejawat si tuan rumah juga nampak menyambut kami, mereka sedikit terkejut dengan pilihan destinasi kami ke India, kami lebih terkejut pula dengan banyak cerita pengalaman mereka selama di India yang kebanyakan adalah pengusaha-pengusaha ekspor import dan jasa konsultan. Tak hanya bertemu dengan tamu formal, kami juga berkenalan dengan banyak mahasiswa yang sedang mengadakan study di India. Mereka semua digabungkan dalam satu wadah organisasi besar bernama PPI India, Perhimpunan Pelajar Indonesia di India. Dan ternyata pak Athan ini adalah Bapak Koordinator dari PPI, sekaligus orangtua angkat dari seluruh mahasiswa disini. Beliau banyak membantu dalam menyelenggarakan aktivitas para pelajar di India, selain statusnya sebagai wakil Dubes dan departemen Ketahanan di New Delhi. Ramah tamah beliau lebih nampak terasa membaur diantara kami dan para mahasiswa lainnya, bahkan beliau mengundang kami untuk makan malam pada kunjungan kami berikutnya, karena katanya ia bangga dengan jiwa para traveller yang haus tentang budaya dunia. Senang sekali rasanya dipuji pejabat tinggi yang satu ini, hingga rasanya berat hati kami ketika waktu telah menunjukan kami untuk segera meluncur ke Nizamuddin Railway Station. Kami dilepas ibu Roos hingga gerbang Embassy, menyalami tangan kami erat, dan beliau mengucapkan “Selamat Berjuang”, yah kami seperti orang yang hendak berperang, melawan semua bahaya dan trik jahat para pengambil keuntungan terutama dari wisatawan seperti kami selama perjalanan.
Kereta Api India Pertama Kami
Hari masih sore, mengingat jam keberangkatan masih di jam 7 malam, kami bersantai di salah satu restauran yang ada di areal food court stasiun kereta api ini hingga setengah jam sebelum waktu keberangkatan. Agak-agak susah memang menemukan platform yang dimaksud, maklum saja ini kali pertama kami akan naik kereta besar di India. Kami melirik pada sebuah layar sistematis di loby gerbong, pada chapter pertama tulisan bergaya abjad Hindi semua, lalu baru kemudian di Chapter ke dua kami bisa menemukan no platform kereta yang akan kami tumpangi karena tulisan berubah jadi abjad internasional, tinggal mencocokkan dengan no kereta apinya saja. Sebenarnya, pada tiket biasanya telah tercantum no platform atau gerbong, tapi informasi mengatakan, suatu waktu jadwal platform bisa diubah menurut dengan keadaan, jadi cek ulang di screen monitor tak ada salahnya, atau bisa juga mengecek data tiket pada mesin yang telah di sediakan, tinggal memasukkan data no tiket anda, dimonitor akan muncul jadwal dan semua informasi tentang kereta yang dimaksud. Kereta api di India kelas ekonomi, sleeper class ternyata setara dengan kereta api kelas bisnis di Indonesia, bahkan kereta bergaya sleeper class yang laris manis jadi pilihan para penumpang, setiap kabin terdiri dari 6 tempat yang dibuat menjadi 3 tingkat, kursi busa panjang tersebut bisa dimodifikasi menjadi tempat tidur setelah jam 8 malam, dan sebelum jam 8 malam busa panjang itu hanya dipasang dua saja berhadap-hadapan untuk duduk 6 orang. Tapi kebanyakan para traveller langsung menggunakannya untuk tidur. Kami lebih memilih tempat paling atas, agar tidak terganggu dengan orang yang akan naik atau turun. Malam ini kami duduk dan tidur berbaur dengan para Indian, bau yang khas masih sangat kuat tercium di hidung kami, hingga kereta ini berjalan. Kondektur tak lama pun datang untuk memeriksa tiket diiringi beberapa petugas kemiliteran. Baru saja ingin memejamkan mata, pedagang makanan silih berganti lewat, air, dinner box, hingga berbagai jenis jajanan ditawarkan, harganya setaraf dengan kelas ekonomi, bahkan lebih murah, untuk sepaket nasi ayam biryani hanya dikenakkan 50 rupees saja. Tak ayal, kami menikmati menu Indian kereta api untuk yang pertama kali, untungnya rasanya tak seruwet yang kami bayangkan, paling tidak masih ada citarasa gurih yang disajikan dalam bumbu biryaninya. Lalu sebotol air mineral pun membawa kami terlelap pada desir-desir kipas angin yang melaju kencang menembus malam menuju Amritsar.
[nggallery id=56]

Leave a Reply