| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Perjalanan di India (Hari 09 – Amritsar)

Kunjungan ke Golden Temple
Kereta kami tiba di stasiun kota Amritsar pukul 05.20 pagi, suasana di luar stasiun nampak masih lengang, berjalan di tepian jalan raya sambil melihat arah destinasi penginapan kami berada. Hanya 2 km jaraknya dari stasiun, tapi sudah hampir setengah jam berjalan tak jua kami temukan daerah yang dimaksud. Tidak ada yang bisa kami tanyai, akhirnya kami menyetop ricksaw alias becak yang sedang lewat, tak sampai 10 menit, kami tiba di Tourist Guest House. Seorang penjaga menyambut kami dengan baik, dengan konfirmasi nama yang sudah kami pesan sejak dua hari lalu. Kami memilih kamar dormitory seharga 100 rupees untuk perorang dengan share bathroom, penjaga yang sudah berganti shift itu mengantar kami pada ruangan di lantai atas. Furnishing bergaya British masih kental terasa didala ruangan yang terdapat 6 single bed, kamar mandi nya pun cukup bersih. Seorang bule tengah tidur terlelap disudut ruangan. Kami pun ikut merebahkan diri menghirup athmosphere diranjang tidur baru kami ini. Kami sudah tak sabar untuk melihat turban-turban unik dengan jenggot-jenggot panjang yang tergerai, wajah India berdarah Punjabi tentu punya karakteristik wajah yang cukup berbeda, konon lebih apik dan bersih.
Matahari beranjak naik memilurkan sinar diseluruh kotak-kotak jendela dormitory, semangat makin membara setelah membasuh diri dengan air hangat yang tersedia. Kami bergegas menyetop becak yang tengah lewat, penawaran kali ini berjalan mulus saja, 40 rupees membawa kami tiba didepan Golden Temple, tempat pertama yang menjadi agenda wajib bagi para pelancong luar seperti kami, Konon di kawasan inilah pusat kebudayaan orang Punjabi bercokol erat sejak puluhan tahun lalu. Disebut-sebut kota inilah yang melahirkan suatu bentuk kepercayaan bernama Sikh, para generasi Sikhisme pun mayoritas lahir dari para darah Punjab. Nama Amritsar sendiri mempunyai arti “Kolam sari keabadian”, nama religius ini konon berkaitan erat dengan kolam sakral yang tercipta didalam kuil emas sejak ribuan tahun silam. Seperti halnya Islam memiliki tanah suci Mekkah, dan umat Kristiani yang berpusat di Bethlehem, para Sikh mempunyai pusat spiritualitas di Amritsar, tepatnya di Golden Temple. Untuk masuk kedalam kita dianjurkan mengikuti beberapa peraturan yang ada, pakaian harus sopan hingga menutup mata kaki, wanita dianjurkan memakai selendang penutup kepala, begitu juga kaum pria telah disediakan kain seperti slayer untuk dikenakan dikepala. Barang-barang bawaan harus dititipkan di locker, beberapa penitipan khusus barang berharga juga tersedia dengan harga yang tak jauh berbeda. Sebelum masuk ke areal dalam kuil emas ini para pengunjung juga diharuskan membasuh kaki di pancuran atau kolam kecil yang tersedia.
Dua orang penjaga bertubuh tegap dan besar dengan tombak serta kostum kebesarannya menyambut kami, salah satunya mengiringi kami hingga gerbang dalam. Athmosphere penuh kesakralan tiba-tiba menyelimuti benak kami, kabut putih tipis masih singgah di pelataran ini meski matahari telah bersinar mewah di jam 10 pagi. Kuil emas yang resmi berganti nama menjadi Harimandir Sahib pada maret 2005 lalu ini, mengarsir warna kebebasan memeluk suatu keyakinan, yang tak terikat akan berbagai aturan, hanya meyakini pada Tuhan, bahwa Tuhan itu ada, Tuhan itu satu, membuatkan makna dari 4 pintu masuk disetiap sisinya menggambarkan simbol selamat datang untuk semua orang tanpa memandang kasta, kelas,warna, dan kepercayaan. Bagai magnet dihati setiap orang untuk memasukinya, lalu mengagumi keanggunannya. Tidak hanya karena kilau emas di bagian kuil ini, tapi juga karena ajaran-ajaran bermaknanya yang mengandung penuh logika. Kuil ini dibangun pada masa tahun 1589 hingga 1601, menghubungkan jejak asal muasal ajaran ini, yang konon merupakan campuran antara ajaran Hindu dengan Islam sufi, maka gaya arsitektur seluruhnya pun nampak menganut 2 hal yang sama, perpaduan aksen kontemporer islami dengan keunikan ukiran khas Hindu nampak tertuang pada setiap bangunan putih yang mengelilingi kuil ditengah kolam itu.
Para Sikhisme yang datang mulai sibuk dengan ritual mereka, seorang kakek tengah membantu cucunya mencelupkan diri ke dalam kolam yang ternyata juga sebagai rumah bagi para ikan, si cucu nampak rewel minta penjelasan tentang apa yang sedang di lakukannya, dan dengan penuh kasih si kakek menjelaskan dengan kata-kata yang paling mudah dimengerti si cucu. Disisi lain seorang nenek sedang mengambil secawan air kolam tersebut lalu meminumnya, konon air kolam tersebut memiliki , dipelataran kami lihat sekelompok keluarga sedang bersujud kearah kuil emas tersebut, hampir 10 menit mereka bersujud, mereka meraup air dari sisi kolam dan membasuhkannya ke wajah mereka, dengan harapan sepercik berkah menaungi hari-hari mereka. Selain dari bangunan utama yang terletak ditengah kolam tersebut, terdapat juga bagian bangunan lain yang keberadaannya dihubungkan langsung oleh jembatan, yang seutuhnya terbuat dari marmer, seperti bangunan yang difungsikan sebagai tempat tinggal para guru dan pemuka agama Sikh, konon bila malam hari pembacaan holy book akan tersiar dari ruangan-ruangan dibangunan putih marble ini. Kesakralan kuil ini konon terpusat pada kolam suci yang mengelilingi kuil emas tersebut, ajaran mereka menyebutnya Amrit Sarovar, sebuah kolam dimana seorang calon Sikh akan dibaptis dengan melaksanakan ritual mandi di kolam tersebut, kolam ini dibangun pada tahun 1577 oleh perencanaan Guru Besar Sikh. Tak hanya tempat suci tergelar di komplek kuil ini, sebuah kuil sejarah alias museum juga terdapat disebelah ujung barat bagian komplek kuil ini. Kemudian yang menyentuh rasa kemanusiaan kita, hadir di sebuah bangunan yang disebut Guru Ka-Langar, yang merupakan pusat penyerahan dan penerimaan donasi dari berbagai kalangan dan dalam berbagai bentuk sumbangan, tercatat sumbangan yang dihasilkan mampu memberi makan pada 1000 orang pengunjung setiap harinya. Segala komplemen yang tersedia disini merupakan vulunteer tanpa imbalan, nampak disana kami lihat beberapa kelompok ibu-ibu sedang mencuci perabotan masak, serta disisi lain sekelompok orang juga sedang membantu menyiapkan menu makanan yang biasanya di letakkan pada mangkuk yang terbuat dari daun kering. Bahkan dikesempatan yang tak terulang lagi inipun kami mendapat wujud simbol berkah dari seorang Guru Grant Sahib yang sedang mengadakan ritual di kuil bertahtakan emas murni itu, buntalan kain berwarna orange yang ternyata setelah kami buka isinya berupa 2 lempeng manisan dan kain kebesaran pemuka Sikh.
Selesai dengan tempat suci Sikh ini, kami melipir pada kebutuhan perut kami yang sedari tadi sudah keroncongan, di sudut restaurant Punjabi kami melabuhkan makan siang kami, dengan menu citarasa punjabi, kami mencoba masala dosa, sejenis martabak kentang berbumbu, crispy dengan ukuran selebar nampan, porsi spesial jumbo yang sangat memuaskan, mengingat pagi tadi kami melewati jadwal sarapan. Puas dengan menu masakan Punjab kami kemudian menyusur pada tempat bersejarah yang menarik lainnya dari kota ini, konon sejarah masa silamnya menghubungkan Golden Temple ini dengan beberapa monumen nasional disekitarnya, seperti taman bersejarah yang disebut Jalianwala Bagh yang letaknya hanya kira-kira hanya 1 km dari Golden Temple, dimana taman itu mengabadikan detik-detik pengorbanan para pejuang tanah Hindustan hingga tetes darah terakhirnya, dimana beribu-ribu orang mati terbunuh sia-sia atas pembantaian besar-besaran oleh kolonial Inggris waktu lalu. Dan hebatnya, data-data beserta foto para pejuang yang mati ditempat tersebut, masih rapu sempurna ditempatkan pada sebuah museum di perkomplekan kuil emas ini. Ketika kaki kami gatal bergegas ke taman penuh haru itu, memang, keharuan dan keunikan nampak jelas menjelaskan suatu kepercayaan dan tradisi masyarakat sekitar. Sebuah sumur besar yang rapat dipagari besi, hangat dikerumuni orang, konon sumur besar itu merupakan kuburan massal untuk semua yang mati disekitar wilayah tersebut. Uniknya, tradisi melemparkan sejumlah uang dan bunga menjadi tradisi masyarakat, yang dipercaya dan diaggap sebagai penghormatan atas jasa-jasa arwah perjuangan mereka, beberapa pejabat kota pun sempat kami jumpai tengah berziarah ke taman penuh sisa-sisa penembakan dan penghancuran itu, membawa segulung rangkaian bunga untuk dikalungkan ke sebuah monumen di tengah taman ini.
Seru-nya Closing Ceremony di Wagah Border
Secara Geografis, Amritsar terletak di barat laut India, jaraknya hanya 32 mil ke arah timur Lahore, Pakistan. Sebuah perbatasan India-Pakistan pun berdiri di 30 km arah barat Amritsar, tepatnya di daerah Attari atau Wagah, bayak orang datang setiap harinya ke perbatasan itu untuk menikmati Closing Ceremony ketika senja turun. Ini juga jadi agenda kami di Amritsar, sudah tak sabar rasanya melihat antusiasme dan nasionalisme serta ketegangan yang terjadi diantara 2 kubu yang dulunya sering kali melakukan gencatan senjata. Kami bergegas menuju terminal bus Amritsar dengan becak seharga 25 rupees, tidak terlalu sulit untuk menemukan bus dengan trayek daerah yang dimaksud, hanya perlu mencermati betul tulisan yang ada dipapan bilboard di setiap line, satu setengah jam perjalanan dengan bus seperti mayasari bhakti seharga 20 rupees, kami tiba di Desa Attari, dari tempat pemberhentian bus alias Attari Bazaar, kami melanjutkan perjalanan dengan ricksaw seharga 25 rupees. Orang dengan berbagai karakter wajah Indian pun nampak berdesak-desakan memasuki gerbang, kami memilih bersantai sejenak dengan makan jajanan lokal India bernama Paratha, sejenis roti seperti pastel dengan isi kentang dan sayur ditemani sebotol fanta orange. Peraturan disini mengharuskan para pengunjung untuk menitipkan barang bawaan termasuk tas ke dalam locker yang telah disediakan, kami dipatok harga 50 rupees, karena tas kami harus masuk kedalam privat locker yang mengkhususkan barang berharga.
Antusiasme dan rasa nasionalisme India-india ini mulai makin terlihat dari antrian para pengunjung untuk melewati proses pemeriksaan identitas dan cek body yangterlihat sangat panjang. Beberapa pasukan militer berseragam layaknya PNS Indonesia nampak sangat tinggi dengan sepatu “marinir” nya, mereka benar-benar sangat tinggi, kami hanya seukuran pinggang mereka, sangat etnik dengan sentuhan lipat kipas di topi kebesaran mereka. Kemudian para pengunjung digiring oleh pasukan menuju tempat duduk, dari depan tempat duduk yang disediakan membentuk seperti tempat duduk di stadion lapangan bola, kami mulai berbaur dengan para Indian yang sudah penuh keringat, menuju acara penutupan perbatasan, sebenarnya untuk para turis disediakan tempat duduk khusus dipaling depan dekat gerbang perbatasan, tapi kami lebih memilih untuk berada dikerumunan Indian-indian ini saja. Berdiri di tengah para Indian yang mulai berteriak yel-yel kebangsaan mereka, buluk kuduk kami mulai merinding tak keruan, rasa nasionalisme kami bangkit mengingat bangsa kami di sana. Bahkan kami mulai mengikuti yel-yel yang mereka teriakan selama upacara berlangsung.
Beberapa perempuan dan anak-anak dipersilahkan membawa bendera kebangsaan India, berlari hingga gerbang perbatasan dan kemudian kembali lagi, begitu seterusnya, acara dilanjutkan dengan tari-tarian dari para gadis India, pikiran kami langsung menuju pada film belasan tahun lalu yang pernah kami tonton, Shah Rukhan menari nari dengan Kajol, tiba-tiba kami terkesiap dari lamunan kami, seseorang menarik tubuh kami kedepan jalan dimana para gadis India itu menari nari dengan antusias, pengalam hari ini seperti membuat lamunan tentang Kajol dan Shah Rukhan tadi jadi kenyataan, kami mulai berpartisipasi menari-nari ala India di jalan utama yang dijaga banyak pasukan, serta didepan ribuan masyarakat India, OMG, kami jadi merasa seperti Kajol beneran:) Sensasi jadi Indian dalam sehari ini masih terngiang-ngiang diingatan kami sepanjang perjalanan pulang. Ini gilak, pikir kami, kami di bawa Tuhan menemui hal yang dulu hanya ada dalam mata kami, bagaimana dulu waktu kecil kami begitu menggemari tarian India selain acara film anak Satria Baja Hitam dan Sailormoon. Kami seperti dibawa kemasa lalu dan dimasukkan dalm puing-puing bagian masa lalu tersebut. Tuhan, Terimakasih, besit kami indah menjelang tidur.

Leave a Reply