| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Perjalanan di India (Hari 11 – Amritsar To Agra Via Chandigarh)

Menelusuri Karya Nek Chand di Rock Garden, Chandigarh
Fajar belum terang ketika kami bergegas meninggalkan penginapan, berjalan beberapa km, bus yang akan mengantar kami ke kota Chandigarh sudah mulai dipenuhi penumpang. Di pukul 05.10 menit bus asuhan sebuah travel agent ternama di Amritsar, Libra Travel, mulai melaju dalam embun yang mulai mengikis. Bus bermuatan hampir 50 orang ini rencananya akan membawa kami ke Chandigarh dalam 5 hingga 6 jam kedepan. Sayup-sayup masih dihempas rasa kantuk, kami memilih untuk melanjutkan tidur kami. Baru beberapa saat kami terlelap, bus ini berhenti disebuah rumah makan. Kami tengok ke langit, hari mulai cerah, pukul 07.00 bus ini singgah di sebuah rest area untuk mempersilahkan para penumpang menyantap sarapan paginya di beberapa rumah makan yang tersedia di sekitar area, tapi kami memilih menikmati beberapa cemilan yang kami bawa di dalam bus saja. Hingga pukul 11.35 kami tiba di gerbang masuk kota Chandigarh, kota ini memang nampak lebih tertata dengan jalan-jalan ibu kota yang sudah modern, asri dengan tanaman-tanaman hijau yang berjejer sekitar jalan utama. Tidak ada polusi berarti yang nampak dikota ini. Semua tertata rapi, lalu lintas juga nampak teratur dengan fasilitas pada umumnya seperti di kota metropolitan. Wajar saja kota ini disebut-sebut sebagai The Greenest and the cleanest city in India. Sturktur bangunan juga nampak lebih modern, dari mulai areal perkantoran hingga pusat perbelanjaan, basis akomodasi disini nampak lebih terjamin kebersihan dan ke-eksklusivannya. Tidak menurut rencana, ternyata bus kami berhenti ditempat agen bus tersebut, bukan di terminal kota yang dimaksud, tepatnya di sekitar sektor 9. Kami mulai misuh-misuh dengan tingkah para supir bajaj yang ekstrim dalam menawarkan jasa bajaj nya, bahkan seenaknya saja menarik backpack kami, dengan maksud agar kami memakai jasa kendaraannya, tak segan-segan kami balik marah kepada mereka. Alhasil kami memilih jasa rickshaw seorang punjabi yang menawarkan harga ok sebesar 40 rupees menuju terminal kota Chandigarh di sektor 17.
Matahari mulai meninggi, tapi karena begitu banyaknya pepohonan kota ini jadi nampak redup dan asri, 20 menit kemudian kami tiba di terminal dan menitipkan backpack kami di jasa locker yang tersedia di terminal ini. Lumayan murah hanya seharga 40 rupees untuk satu backpack besar. Dengan begini kami bebas melenggang di Chandigarh, sebenarnya perjalanan ini hanya merupakan perjalanan transit kami menuju Agra, dimata kami Chandigarh memang jauh lebih modern dari kota-kota sebelumnya, tapi yang kami cari bukan hal itu, bukan berarti pula kami lebih tertarik dengan status kotor yang dimiliki negara ini. Jakarta buat kami lebih dari cukup untuk menikmati sisi kemodernan hidup, tak pelak kami memutuskan untuk mencari warna lain kota-kota disini, yang lebih berwarna dan lebih etnik, karena dalam pengamatan kami Chandigarh telah mengadopsi kehidupan diatas kelayakan, tak lagi menampilkan khas etnik dari apa yang disebut warna India. Tiket kereta api malam kami menuju Agra sengaja kami ambil dari kota ini, agar seharian ini cukup bagi kami mengenal kemodernisasian ibu kota dari Haryana dan Punjab ini. Agenda kami di Chandigarh hanya ingin mengujungi Neck Chand Rock Garden Fantasy, yang sedang in di telinga para wisatawan. Konon kebun unik itu dipenuhi dengan berbagai hiasan taman yang pengerjaan hinggan materialnya berasal dari barang-barang bekas yang tidak terpakai, bahkan sampah-sampah organik dan non organik didaur ulang hingga menjadi beberapa bentuk benda-benda yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Menilik balik ke Jakarta, akhir-akhir ini memang banyak sekali bisnis kerjianan tangan yang terbuat dari bahan daur ulang sampah hingga pecah belah. Kami begitu penasaran dengan hasil karya arsitektur kenamaan Chandigarh yang mengotaki pembuatan kebun fantasi itu. Kami bergegas makan siang di kantin yang ada di terminal sebelum melanjutkan perjalanan ke Rock Garden, sepaket Thali (menu reguler khas India) dan Masala Dosa menjadi menu utama makan siang kami kali ini.
Kesulitan untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai trayek sekitar juga kami rasakan, tak cukup dengan mengamati nama trayek dengan tujuan bus tersebut, karena kebanyakan sign nya memakai abjad Hindi, beberapa orang yang kami tanyai juga kadang cuma geleng-geleng kepala. Akhirnya setelah bersusah payah berkomunikasi ala Hindi dengan orang sekitar untuk menanyakan trayek bus yang kami maksud, seorang supir bus menunjukannya pada kami. Walau bus nya tidak ber AC, masih tetap nyaman dengan ventilasi udara yang memadai, harga bus trayek ke Rock Garden ini mematok harga 10 rupees, dengan lama perjalanan maksimal 30 menit. Seorang penjaga loket yang kami temui, menunjuk seorang perempuan tua yang sedang menjaga pintu gerbang masuk Rock Garden, ketika kami menanyakan dimana kami dapat membeli tiket. Kami heran, cara pembayaran macam apa, padahal di loket tersebut tertulis harga tiket, yang kami pikir merupakan loket tiket. Dan kami lebih heran lagi ketika ibu tua yang lagi asyik “nyirih” (India : Pan) itu malah balik menunjuk ke loket yang tadi kami datangi, bahkan ia mendorong-dorong kami menuju loket tersebut. Kontan saja kami marah-marah dengan petugas loket tiket tersebut, kesel kami gak cuma sampai disitu, si wanita penjaga loket itu ganti misuh-misuh kepada kami dengan bahasa Hindinya yang jelas-jelas kami tidak mengerti. “India.. India.. so Incredible banget..” gumam kami sambil berlalu.Sirih di tangannya tak jua di singkirkan oleh wanita pemeriksa tiket itu ketika kami menyodorkan tiket kepadanya. Sambil cengar-cengir bahkan ia berusaha memamerkan bibir merahnya yang masih penuh dengan pan bercampur air liurnya yang hampir menetes. Arghhh, kami cuma bisa bergidik melihatnya sambil berlari kecil menjauh. Ada-ada aja emang India ini, keluhku. Kota ini boleh dibilang modern, tapi orang-orangnya tetap saja terlihat khas dengan ke’norak’annya itu.
Lepas dari orang-orang norak itu, kebun ini memang nampak unik dengan kelompok taman-taman yang masing-masing khas dengan ornamen-ornamennya. Dari mulai patung-patung berbentuk hewan mamalia, burung, hingga patung berbentuk manusia dan petani di hias dengan tempelan-tempelan yang kesemuanya dari barang-barang tak terpakai, sebuah taman penuh dengan ornamen-oranamen burung yang badannya di hiasi dengan pecahan gelang-gelang yang biasa sebagai perhiasan wajib bagi perempuan India, hingga menimbulkan efek bulu-bulu burung warna-warni yang mengkilat, hingga pecahan beling dan keramik juga digunakan sebagai ornamen buat para patung-patung taman yang lainnya. Di areal kebun 20 hektar ini, juga tersimpan air terjun buatan, akar-akar pepohonan yang di buat karya unik di tepian jalan, hingga taman utamanya yang berisi “Laughing Mirror”, kami diajak tersenyum geli melihat pantulan diri kami di kaca-kaca yang memiliki efek pantulan unik tersebut, lebih unik lagi, materialnya pun berasal dari kaca-kaca bekas yang dirangkai. Nek Chand memang hebat membuat Fantasy Rock Garden ini menjadi ciri khas kota Chandigarh. Tidak hanya anak-anak, para pasangan muda pun nampak menikmati lorong-lorong keci l yang dipenuhi tanaman bunga berwarna-warni. 😉
Chandigarh To Agra Via Ambala Cantt
Hari mulai lewat tengah hari, sudah jam 3 sore, kami pun bergegas kembali ke terminal dengan trayek bus yang sama. Letak stasiun kereta api di kota ini memang agak jauh dari pusat kota, butuh waktu kurang lebih dua setengah jam untuk sampai di daerah Ambala Cant (nama railway station Chandigarh). Seperi layaknya terminal kota di Jakarta, terminal ini juga membagi jalur terminalnya dalam 2 trayek, bus dalam kota dan bus luar kota. Untuk ke Ambala kami butuh naik bus dengan trayek luar kota seperti bus Mayasari Bhakti di Jakarta. Penumpang makin riuh dan penuh, kami memilih duduk di sebelah supir, tetap saja harus berdesak-desakkan duduk, tidak hanya orang dengan bawaan banyak, banyak pula eksekutif muda memakai jasa angkutan ini, konon dari seorang pria Punjab yang kami kenal di bus, menurutnya waktu dua setengah jam pulang pergi ke kantor setiap harinya itu hal yang biasa, tempat kerja yang jauh konon tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap bekerja mencari nafkah. Mengingat banyaknya jumlah pengangguran dibanding lapangan pekerjaan, kalaupun banyak lowongan pekerjaan, tingkat masyarakatnya yang masih jauh dari kecukupan untuk mengenyam pendidikan secara otomatis menyulitkan mereka untuk mendapatkan jenjang pekerjaan yang memiliki status, miris memang.
Lain lagi halnya dengan situasi aneh yang kami rasakan didalam bus, sedari tadi sejak kami mulai akrab dengan pria Punjab bernama Ajit Singh itu, supir bus ini nampak sekali tidak senang, apalagi dari obrolan kami, supir itu tahu bahwa Ajit mengundang kami ke rumahnya bersilahturahmi, supir itu bahkan dengan logat India yang kasar nampak sedang memarahi Ajit, dan selau melambaikan tangannya kepada kami, seperti isyarat untuk kami tidak menerima tawaran tersebut, kami jadi berpikir keras antara kebaikan yang ditawarkan Ajit dengan maksud marah sang supir. Perjalanan ke Ambala tak terasa masuk di jam ke 2, tempat tinggal Ajit sudah semakin dekat, perang kata antara supir dengan Ajit masih sering terjadi, kami jadi semakin ragu untuk menerima tawaran Ajit mampir ke rumahnya, tapi wajah polosnya membuat kami bimbang, iming-iming ia akan mengantarkan kami ke stasiun Ambala Cant setelahnya, akhirnya kami indahkan, Ajit turun dan mengajak kami turut serta, sekali lagi kami menengok ke si supir, masih dengan nada gregetan, ia mengisyaratkan kami untuk tetap stay ditempat, sungguh kami bingung menyikapinya, padahal kami ingin sekali mengenal keluarga Punjab disini meski barang sejam dua jam saja, tapi kami kemudian berpikir lebih safety, “maaf lain kali saja kami singgah ke rumahmu” itulah yang akhirnya kami ucapkan saat Ajit memaksa kami turun. Bus masih berjalan menyusur keramaian, nampaknya kami akan segera tiba di pusat daerah Ambala, si supir untuk kemudian tersenyum-senyum, mengangguk-angguk dengan bahasa Hindinya ia bicara pada kami, entah apa yang ia bicarakan yang pasti ia nampak senang karena kami tidak turun bersama Ajit. Kami mencermati mimiknya yang serasa baru lepas dari kandang macan, kami pun mengucap “Sukriya” saat penumpang bus mulai turun di terminal Ambala.
Mencermati keadaan sekitar, kami seperti berada di tengah riuhnya terminal Pasar Senen Jakarta, mirip sekali, tapi kawasan ini lebih tidak teratur, dan jelas jauh dari kata bersih. Stasiunnya yang membuat mirip lokasi Pasar Senen, tepat berada di seberang terminal bus nya. Kami bergegas mengangsur pada kerumunan orang yang mulai berdesakan di antrian tiket, karena bukan highseason, proses pengisian foemulir tiket hingga pembayarannya berjalan sangat lancar. Train ticket “Chatisgarh Express” ala sleeper class kami dapatkan seharga 360 Rupees per orang. Tepat pukul 21.20 pm, kereta sleeper Chatisgarh Express dari platform 5 telah melaju meninggalkan state of Haryana Punjab, 12 jam kedepan menuju kota Agra, dimana satu dari 7 Wonder dunia masih anggun tertata, yah Taj Mahal, we are coming !! besit kami mengakhiri malam di kereta dengan beberapa potong Indian biskuit yang sebelumnya kami beli di Chandigarh. Sengaja, makan malam ini kami memilih untuk ngemil saja, selain menghemat, ofcourse karena persediaan makanan kecil kami masih banyak.

Leave a Reply