| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

PLESIRAN ALA “GENGHIS KHAN” NOMADIC LIFESTYLE

Seluas Alaska, Mongolia hadir dalam hamparan padang rumput yang mempesona. Terletak diantara Rusia dan Cina selatan, Mongolia menjadi kawasan terkurung di Asia Timur. Sejak dulu Mongolia sudah terpecah menjadi dua bagian, Outer Mongolia dan Inner Mongolia. Setelah sempat dipersatukan oleh Genghis Khan dan Kubhlai Khan, akhirnya Outer Mongolia dan Inner Mongolia kembali pecah. Outer Mongolia berhasil merdeka di tahun 1921 atas bantuan Uni Soviet, sedangkan Inner Mongolia jatuh kembali ke tangan negeri Tiongkok.
Dalam peta Tiongkok, Inner Mongolia terletak disebelah utara Cina. Dalam segi pariwisata, Inner Mongolia menjadi salah satu destinasi yang cukup turisty. Banyak wisatawan pergi kesana dengan ekspektasi sama dengan mengunjungi negara sang Genghis Khan. Di dorong penasaran, kami kembali mengangkat ransel di pundak, mencari akses transportasi menuju Inner Mongolia dari bilangan kota Beijing yang ruwet.
Hampir 8 jam kami berada di kereta, menuju ibukota Inner Mongolia yang dikenal sebagai Hohhot. Blue City orang menjulukinya. Dan memang bukan sekedar julukan rupanya, sesampainya disana kami mendapatkan langit sebiru-birunya, seperti tanpa awan. Hohhot terbilang kota yang modern, hampir seramai Beijing, dengan fasilitas yang cukup memadai. Satu hal yang tidak cukup menurut kami, jika di Beijing saja turis selalu kesulitan menemukan orang dengan bahasa Inggris, demikian pun disini, lebih parah lagi banyak bangunan dengan plang tulisan ala Cina bahkan terkadang tulisan Mongol.
Yang unik, jika di Beijing banyak terpajang foto Pahlawan Mao Zedong, tidak begitu yang terjadi di Inner Mongolia. Foto Genghis Khan lebih eksis di propinsi ini. Di Hohhot kami mengunjungi Makam Wang Zhao Jun, dikenal sebagai salah satu dari 4 wanita tercantik dalam sejarah China, beliau konon sangat berjasa dalam mempersatukan etnik Han dan Hun. Kami juga sempat mengunjungi Da Zhao Temple, kuil terbesar pada jaman dinasti Ming dan Qing dan merupakan kuil tertua di Hohhot.
Inner Mongolia bukan hanya kota Hohhot, beberapa tempat yang fantastis dan unik siap menanti kedatangan kita rupanya. Diantaranya kita bisa mengunjungi Grassland, Baotou dan E’erddussi, yang konon kesemuanya menawarkan para pengunjung sensasi hidup ala nomaden yang sampai detik ini masih jadi gaya hidup pengikut Genghis Khan itu.
Akses menuju Grassland cukup sulit, turis biasanya menggunakan jasa travel agent untuk memudahkan perjalanan. Belum lagi akomodasi selama disana yang sepertinya sudah menjadi paket jasa perjalanan disetiap travel agent di Hohhot. Sekitar satu setengah jam dari Hohhot, rombongan kami disuguhkan lansekap spektakuler berupa hamparan luas dari padang rumput yang kecoklatan.
Berkelana di Padang Rumput Xilamuren sangat menyenangkan. Belum lagi ketika kami sampai di Baoutou, lebih menyenangkan lagi saat melihat iring-iringan penari tradisional Mongol menyambut kedatangan kami. Mereka menyuguhkan minuman tradisional Mongol dengan rasa seperti alkohol. Bukan cuma itu, selama disini kami benar-benar diajak hidup gaya orang Mongol, bersantai di dalam Yurts, bahasa Mongolnya menyebut Gerh, rumah adat ala Mongolia yang berbentuk lingkaran dengan atap kerucut. Makan pun disuguhkan ala lidah Mongolia, segala bentuk olahan kambing rebus jadi menu utama di meja makan.
Tak sampai disitu, kami digiring untuk menonton pertunjukan gulat ala Mongol, seru dan unik. Lain di Jepang lain di Inner Mongolia. Pegulatnya memakai baju tradisional Mongolia. Tak kalah serunya, kami pun diajak nonton pertandingan balap kuda. Penasaran dengan kuda, kami menyewa kuda penduduk dan berkelana disepanjang padang rumput. Lansekapnya masih dipenuhi rumput yang kecoklatan, beberapa komplek Gerh/Yurts, beberapa hewan ternak seperti sapi dan kuda nampak mondar-mandir disekitar. Tiang-tiang pemujaan ala Mongolia juga nampak unik di tengah padang rumput.
Untuk berkelana di kawasan ini, biasanya biro perjalanan akan menawarkan beberapa paket, mau yang 4 jam atau yang 6 jam. Kami memilih paket short trip saja, mengingat kawasan ini diselimuti dengan angin yang cukup kencang dan suhu udara yang minim. Rombongan kami sempat singgah di rumah orang lokal Mongolia, dan disuguhkan lagi-lagi makanan dan minuman berbau kambing, susu kambing sukses menjadi teman menghabiskan waktu menunggu hujan gerimis. Yang unik, rumah lokal Mongolia ini bukan lagi Yurt/Gerh, sudah berbentuk bangunan bata, namun tidak memiliki toilet. Di pekarangannya nampak sebuah Gerh masih terpampang rapi lengkap dengan foto Genghis Khan.
Malamnya kami disuguhkan tari-tarian tradisional ala Mongolia, sambil menikmati makan malam dengan menu kambing lagi. Udara makin malam makin dingin sekali, menusuk tulang. Kami juga dipersilahkan untuk tidur didalam Gerh yang sudah disiapkan. Jangan harap ada ranjang, disini cuma ada selimut-selimut tebal bergelimangan. Demi menyiasati rasa dingin yang menggigit, kami tidur disela-sela tumpukan selimut, sambil di temani foto Genghis Khan. Pengalaman yang unik dan menyenangkan.

Leave a Reply