| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Rajutan Ganja Suku Hmong Vietnam

Ketika mendatangi kawasan pegunungan Fansipan di Sapa, Vietnam Utara, kami begitu terkejut . Bukan hanya pemandangan dan keunikan suku Hmong yang menjadi daya tarik kamera kami. Ketertarikan kami juga terarah pada salah satu dari sekian banyak tanaman liar yang hidup di alam Fansipan. Di sana, cannabis, mariyuana, atau ganja tumbuh bebas.
Uniknya, tidak seperti di daerah atau negara lain yang menggunakan ganja untuk obat kesenangan sementara. Di daerah Sapa, suku Hmong menggunakan serat akar tumbuhan cannabis untuk berbagai keperluan rumah tangga. Serat akar tumbuhan tersebut digunakan sebagai bahan campuran untuk olahan benang yang nantinya akan ditenun atau bahan sulaman menjadi pakaian-pakaian, aksesori, hingga kerajinan tangan.
Tanaman Khaam Hohm atau yang lebih dikenal dengan Indigo Strobilanthes, menjadi tanaman utama tiap keluarga di desa ini. Pasalnya tanaman ini menjadi salah satu bahan dasar pembuatan material pakaian, yang biasa dicampur dengan serat tanaman lainnya, termasuk serat akar Cannabis. Masa panen tanaman ini bisa selama tiga bulan tergantung cuaca, paling tidak sekitar bulan Maret, April, dan Mei. Dari proses dasar pemilihan serat akar, pencelupan, hingga pewarnaan semua menggunakan cara tradisional, termasuk menunggu sinar matahari yang jarang datang menyapa area ini.
Hmong sendiri dikenal sebagai suku pegunungan yang sangat lihai bercocok tanam. Mereka tidak hanya terdapat di Sapa, Vietnam, di Laos, Kamboja, namun juga daerah perbukitan di Thailand. Asal-muasal suku dengan kepercayaan animisme ini memang tak dapat diceritakan secara rinci.
Tetapi bukti awal keberadaan mereka tercatat di daratan Tiongkok sekitar 2700 SM. Mesopotamia pun disebut-sebut sebagai asal muasal mereka, setidaknya itu yang dikutip dari legenda rakyatnya. Konon mereka bermigrasi melalui Rusia, Mongolia, dan akhirnya ke daratan Tiongkok. Namun meski keberadaan mereka telah tersebar ke berbagai negara tetangganya, Hmong tetap setia pada adat budayanya, terbukti mereka mempertahankan bakat seni mereka sebagai penghuni alam rimba. Selain bertani dan beternak, mereka memiliki bakat yang sangat artistik. Menyulam, menenun, hingga merajut benang-benang menjadi suatu kerajinan tangan. Hebatnya lagi, untuk menentukan karakter corak pada karya-karyanya, mereka menggunakan simbol-simbol kosmologis dan kepercayaan animismenya. Mereka juga mengalirkan semangat perjalanan hidup mereka pada sulaman atau tenunan tersebut. Kegigihan mereka memperjuangkan hidup di beberapa tempat pengungsian di Laos, Kamboja, dan Thailand juga dapat Anda nikmati melalui corak sulaman mereka.
Sayangnya, hasil tenun dengan bahan dasar Cannabis tersebut jarang yang bisa dibawa keluar desa mereka atau dibawa para wisatawan sebagai oleh-oleh ketika kembali ke negaranya. Namun hasil tenunan dengan bahan dasar akar tanaman lainnya pun tak kalah uniknya untuk dijadikan suvenir.
Hasil karya suku Hmong berupa tas etnik yang sering dikenal dengan sebutan Paj Ntaub atau tas Bunga, baju tradisional mereka, hingga gelang, kalung hasil tenunan atau rajutan juga sekarang dijual secara online. Sebagian besar desain motif sulam Hmong menggambarkan alam atau binatang seperti pola bunga dan serangga, serta lebih cenderung menggunakan warna-warna cerah seperti kuning, merah, biru, hijau, atau oranye.

Leave a Reply