| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Selamat Datang di Tanah Surga Para Raja

328 Km sebelah utara kota Makasar, Tana Toraja di anugerahi lansekap yang indah sekaligus penuh misteri. Keberadaannya sebagai dataran tinggi nampak seperti keindahan Dieng, si tanah para Dewa. Namun gunung menggunung tebing bebatuan yang tersebar di alamnya nampak mistis. Seperti sudah digariskan Tuhan, rupanya bukit-bukit batu tersebut adalah “jembatan surga” para penghuni tanah etnik ini. Jembatan surga yang akan menjadi rumah masa depan.
Tak percaya, kami pun baru menyadarinya setelah menjelajah surga-surga mistis itu. Terletak di Selatan Sulawesi, Kabupaten Tana Toraja menempati area seluas 1.990 kilometer persegi. Ibukotanya berpusat di Makale yang masuk dalam area Tana Toraja Selatan. Lebih cepat satu jam yang diperkirakan, 3 jam setengah perjalanan membawa kami tiba di Makale. Sebuah patung khas berpakaian adat Toraja berdiri kokoh dipagari kolam di tengah taman kota. Gedung-gedung administratif Pemerintah pun berjejer disekitarnya.
Belum sampai disini, perjalanan dilanjutkan menuju Rantepao, pilihan tempat menginap kami di Tana Toraja. Sungai Sa’dan nan kecoklatan itu nampak membelah ujung utara hingga ke selatan Tana Toraja. Gereja-gereja mungil nan sederhana nampak damai di pucuki tiang salib. Tongkonan pun makin sering saja kami lihat.
Kami berhenti di penginapan Kharisma yang terletak di samping Bank Mandiri satu-satunya di Rantepao. 70 ribu Rupiah perkamar adalah harga standart untuk backpacker macam kami, itu sudah termasuk sarapan pagi. Penginapan ini jadi ramai karena terdapat warnet di lantai bawahnya.
Banyak wisatawan asing berkeliaran, konon Tana Toraja adalah tempat wisata budaya favorit turis Jerman dan Jepang. Bahkan seperti yang dilansir berita-berita kota, bukan hanya sebagai wisata adat dan budaya, dalam waktu dekat pemerintah akan meresmikan Tana Toraja sebagai wisata religi. Sejauh mana adat dan budaya Tana Toraja menjadi yang terkagumi? Adalah pengorbanan yang konon menjadi silsilah meruaknya keanggunan adat istiadat Tana Toraja ini.
Siapa yang tak mengenal Rambu solok? Sebuah ritual sekaligus perayaan besar bagi suku Toraja. Jika suku lain mengumbar kesedihan dan air mata saat melakukan penguburan, tidak demikian yang terjadi di Toraja. Pesta, setiap yang meninggal harus di buatkan pesta, di potongkan beberapa ekor kerbau dan babi guna mengantar kepergian arwah ke dunia kedua setelah kematian.
Tuhan menciptakan sesuatu pasti memiliki fungsinya masing-masing. Begitupula yang tercipta di alam Toraja, bebatuan-bebatuan raksasa hingga gunung batu itu rupanya digunakan suku Toraja sebagai rumah masa depan, alias kuburan bagi mereka. Jika suku dengan agama lain mengharuskan jenazah dikubur dalam tanah atau malah dibakar, lain halnya dengan suku Toraja, masuk peti dan diletakkan di dalam gunung batu atau batu-batu raksasa yang sudah di pahat dan di lubangi bagian dalamnya hingga menyerupai sebuah ruangan.
Jika Islam menganjurkan jenazah harus segera dikuburkan, tidak harus begitu yang terjadi di adat Toraja. Bahkan jenazah biasa di simpan dan diletakkan di dalam rumah sang keluarga hingga datangnya waktu pesta untuk si jenazah. Jika keluarga menyanggupi pesta pemakaman atau Rambu Solok dilaksanakan esok hari, maka esok pun mayat akan dikuburkan dengan semarak datangnya keluarga dan makanan enak. Jika kesanggupan keluarga tahun depan atau bahkan sepuluh tahun mendatang, maka jenazah pun tetap tinggal bersama keluarganya selama itu. Tak dapat dibayangkan, jika menyimpan jenazah keluarga Anda didalam rumah lewat dari sehari saja rasanya sudah merinding bulu roma, tapi itulah uniknya suku Toraja.
Jika kota-kota lain menawarkan kemegahan bangunan bersejarah atau gedung-gedung pencakar langit, atau bahkan keindahan gunung atau pantai untuk dikagumi, uniknya Toraja menawarkan rumah masa depan mereka untuk di nikmati sebagai objek wisata.
Hampir disetiap kampung bahkan yang dipedalaman pasti memiliki batu-batu pemakaman. Di sekitar Rantepao bahkan terdapat gua-gua pemakaman yang terkenal sebagai destinasi wisatawan. Ingin tau bagaimana uniknya rumah masa depan suku Toraja? Jangan beranjak dari dudukmu kawan! Ikuti kisah penjelajan kami menyusuri gua-gua gelap yang penuh mayat dan tengkorak berserakan. Stay tune on Kakigatel ya :)

Leave a Reply