| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

SI CUKANG TANEUH, PESONA GRAND CANYON INDONESIA

Fakta menariknya, ternyata Pangandaran tak hanya menawarkan anda keindahan pantai Pangandaran itu sendiri, beberapa mutiara alam nan cantik tersembunyi disekitar kawasan tersebut. Green Canyon adalah salah satu ikon penting yang menjulang di daftar itinerari wajib para wisatawan yang bertandang ke Indonesia. Tak perlu jauh-jauh terbang ke negeri Paman Syam, Negeri dengan seribu kepulauan ini juga memiliki Grand Canyon yang tak kalah cantiknya, edisi pariwisata Indonesia menyematkan nama Green Canyon untuk si objek wisata yang memiliki nama asli Cukang Taneuh ini. Berawal dari sebuah jembatan tanah yang meghubungkan dua lembah kawasan tersebut, si Cukang Taneuh sukses meraih nama besarnya di daftar objek pariwisata terhebat di Jawa Barat.
Objek wisata yang sempat dipopulerkan oleh warga Perancis sebagai Green Canyon ini terletak disekitar 31 km dari Pangandaran, tepatnya di desa Kertayasa, kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Pesona keindahan stalaktit dan stalakmit yang menghias disepanjang gua yang mengapit aliran sungai Cijulang inilah yang disinyalir sebagai mutiara pengikat bagi alam Indonesia dengan wisatawan mancanegara. Tak hanya cantik, lukisan alam yang satu ini menjadi daya pikat ekstrim bagi para pengunjung untuk menelusuri bebatuan dan pephononan yang merimbuni disekitar sungai yang diapit dua bukit ini. Tak heran, selain hanya berenang dan menjenguk pesonanya, Body Rafting menjadi petualangan menakjubkan sebagai akses menelusuri keindahan Green canyon yang masih liar dengan bebatuan dan arus yang cukup besar. Sepaket sampan dayung atau sampan tempel dari dermaga Ciseureh pun menjadi akses utama untuk hinggap di mulut gua Green Canyon.
Sepanjang dayung dikayuh selama 20 menit, anda disuguhi geleparan air sungai dengan warna hijau tosca yang alami. Tikungan demi tikungan gemercik air, dirimbuni rimba pepohonan serta primata air sungai. Sampan akan berhenti ketika sudah tak ada lagi celah untuk melanjutkan kayuhan, disini petualangan anda dimulai, mengayuh kaki anda untuk lebih jauh kekawasan yang lebih tinggi. Merayap dipinggiran tebing atau berkelahi dengan arus sama-sama memiliki sensasi yang menakjubkan. Spot pertama, uji nyali anda untuk melompat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5 meter dari permukaan air sungai. Hujani tebing tegak ini dengan teriakan-teriakan bebas anda. Ingin yang lebih menantang lagi, semi Body Rafting dapat anda lakukan dengan melanjutkan perjalanan ke Gua Puteri atau Gua Bau, sekitar 45 menit menyusuri arus sungai yang makin deras, meniti tepakan langkah di bebatuan dan karang yang mulai menutup akses berenang, tetapi keindahan beberapa air terjun Palatar pun akan mengibas rasa takut dan lelah anda menjadi rasa takjub. Untuk kenyamanan dan kepuasan anda berkunjung ke Green Canyon, akan lebih baik anda memperhatikan musim yang sedang berlaku disana, musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan Green Canyon.
Ingin suasana yang lain dari wisata air? Atau sedang menyukai wisata penuh peninggalan-peninggalan masa lampau? Anda bisa menukik ke arah perbatasan desa Bagolo dan Desa Emplak, masih dalam lingkup kabupaten Ciamis, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Pangandaran. Tak sampai disitu, perjalanan masih harus menyusuri kebun-kebun liar dan beberapa mata air selama hampir setengah jam, untuk menuju sebuah destinasi tua yang terlupakan di Pangandaran.
Dipenuhi semak belukar, struktur lengkungan tua itu masih nampak sangat kokoh. Yah, dialah aset kota Ciamis yang terlupakan, Terowongan Wilhelmina. Terowongan yang juga dijuluki terowongan Sumber ini memiliki nama unik dari seorang Ratu Belanda yang berkuasa 1890 hingga 1948, Ratu Wilhelmina Helena Pauline Marina. Terowongan yang dianugerahi mahkota sebagai terowongan Terpanjang di Indonesia ini membentang sepanjang 1.200 meter atau 1,2 km. Dibangun oleh Perusahaan kereta api Staats Spoorwegen pada tahun 1914, khusus untuk rute Banjar – Pangandaran – Cijulang, yang melintas sepanjang 82 km. Namun sejak awal penggunaanya di Januari 1921 silam, terowongan ini menjadi barang terlupakan seiring ditutupnya jalur Banjar – Cijulang. Rencana PT Persero untuk merenovasi dan mangaktifkan keberadaan terowongan ini juga nampaknya menjadi rencana yang terlupakan. Pasalnya hingga kini terowongan itu tetap dalam rimbunan semak belukar yang kian merambat liar, ketika menemukannya. saya pun tak menyangka ada terowongan sepanjang 1,2 km ditengah perkebunan liar.
Dalam gelap dan dipenuhi kelelawar saya memberanikan diri untuk menjelajah terowongan ini hingga ke ujungnya. Perlu jasa pemandu untuk menemukan terowongan ini berada, lampu senter atau penerangan juga sangat dibutuhkan bila anda ingin nekad menjelajah terowongan tersebut, tetap berhati-hati, karena medan disepanjang terowongan selain gelap juga licin dan masih terdapat tapak tilas rel kereta.

Leave a Reply