| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Ternyata Connaught Place seperti Blok M

Tepat pukul delapan pagi kami keluar bersama Ruth menuju Metro Station terdekat. Kami dan Ruth sama-sama naik kereta tujuan Rajiv Chowk, akhirnya kami berpisah juga di stasiun tersebut karena Ruth akan menemui temannya di bilangan Paharganj Delhi, sedangkan kami meneruskan kereta menuju Central Sekretariat, agenda kami hari ini khusus bertandang ke Kedutaan Besar RI di India, khususnya New Delhi, untuk menyelesaikan prosedur umum sebagai warga Indonesia yang taat akan kewajiban, yaitu melaporkan diri atas kunjungan kami selama di India.
India terasa panas sekali meski masih terbilang pagi, kami bergegas mencari bajaj, seperti biasa penawaran keras selalu jadi bagian perjuangan dalam perjalanan kami di kota ini, akhirnya ongkos seharga 80 rupee disetujui si sopir. Berbekal alamat yang kami tahu dari internet, si sopir pun dengan sigap menurunkan kami di depan pintu masuk Kedubes RI.
Sejenak penjaga hanya terbengong-bengong melihat kami menggedor pintu pagar, rupanya mereka pikir kami turis Jepang yang salah alamat, tapi setelah kami jelaskan “I am Indonesian”, mereka dengan ramah menyambut kami, setelah mengisi buku tamu, akhirnya kami di persilakan masuk ke lobi utama kedutaan. Di sana sudah duduk manis seorang receptionist. Ketika kami jelaskan maksud kedatangan kami, tak lama ia segera menelepon seseorang dan mempersilakan kami duduk.
Seorang pria necis dengan jas formalnya perlahan mendekati kami dengan senyumnya, Mr Ryan Meugah namanya, setelah beberapa saat kami berbincang, beliau menggiring kami pada ruangan kantornya untuk memastikan laporan kedatangan, karena butuh menyerahkan fotokopi paspor dan visa serta foto berukuran 4 x 6 satu lembar. Untung saja kami masih punya sisa foto beberapa lembar di dompet kami.
Di kantornya kami diperkenalkan oleh seorang wanita muda cantik yang tak lain adalah ibu sekretaris dari duta besar. Wah, kami jadi merasa tersanjung bertemu orang-orang penting hari ini, sebangsa dan setanah air pula, apalagi dua staf kedutaan yang satu ini ternyata punya hobi sama dengan kami, keduanya sama-sama hobi travelling, tapi beda style, jelas kami backpacker alias buget traveller, sedang bu Ross Iskandar punya hobi terbang kelas VIP kalau jalan-jalan, maklumlah gaji staf kantor di India jauh lebih menjamin ketimbang gaji kantoran di Indonesia, sedangkan bapak Ryan sendiri style-nya mirip Pak Bondan Winarno, sasaran dari jalan-jalannya adalah makanan, makanan, dan makanan.
Beliau berdua jadi makin akrab saja dengan kami, sharing banyak hal tentang India, terutama tentang tempat dan rute yang fleksibel untuk bekal perjalanan kami. Kami jadi seperti keluarga sendiri, dengan senang hati kami menerima undangan mereka untuk merayakan gathering Idul Fitri  yang akan digelar bapak duta besar di 2 hari mendatang. Kami keburu membayangkan opor ayam dan ketupat sayur buatan ibu kami di rumah, tentu tidak akan bisa kami dapatkan seantero India ini, mumpung gathering Idul fitri, pasti banyak makanan Indonesia yang disajikan.
Hari beranjak siang, kami dengan berat hati pamit meninggalkan kantor kedutaan, waktunya foto-foto bersama beberapa ukiran Bali di kedutaan pun tak luput dari agenda kami. Hampir semua furnitur di kedutaan tampak lekat dengan kesenian Bali, bahkan di sekeliling pagar kedutaan pun tampak sekali kahs ukiran Bali. Yah, Indonesia memang terkenal Bali-nya, jadi biar enggak nyasar cari Kedutaan Indonesia Anda bisa cari bangunan yang dinding pagarnya berhias ukiran Bali.
Ternyata naik autoricksaw dari daerah para diplomatik ini jauh lebih mahal ketimbang dari tempat lain menuju daerah ini, entah apa alasannya, tetapi kami kira salah satunya karena kami adalah turis. Untuk itu, kami mencoba menggunakan transportasi bus yang banyak berkeliaran di sepanjang jalur area kedutaan, tentunya bukan sembarang bus, kami berkali-kali memperhatikan sign yang biasanya terpasang pada kaca bagian depan bus yang melintas, jarus benar-benar cermat, karena masih banyak bus yang memberikan sign tujuan hanya dengan huruf Hindi.
Dari kejauhan bus bernomor 612 tujuan New Delhi mulai berhenti di depan halte Chanakyapuri, tempat kami berpijak. Selang berapa menit, sejuknya hawa AC pun kami nikmati, ternyata bus AC di India lebih terlihat eksklusif seperti transjakarta di Jakarta, bersih dan  nyaman, 15 rupee yang harus kami bayar menuju sekitaran Connaught Place, harga yang jauh lebih murah ketimbang kami menggunakan bajaj.
Bus besar ini juga tampak sangat mentaati peraturan, semua bus berhenti di setiap halte perhentian, tampaknya masyarakat Delhi juga sudah sadar ketertiban, semua penumpang hanya bisa mendapatkan bus dengan menunggu di halte, tidak ada sembarang angkut di tepi jalan yang tampaknya masih berlaku di Jakarta. Hampir saja uang kembalian kami tidak diberikan, enggak usah menunggu sang kondektur memberikan uang kembalian, karena tampaknya sang kondektur akan selalu berpura-pura lupa.
Lagi-lagi kami menginjakkan kaki di Connaught Place sebelum kembali ke flat, tampaknya Connaught Place layaknya Blok M bagi para masyarakat sekitar Jakarta, peran pentingnya sebagai pusat kota membuat kawasan ini selalu supersibuk meski hari sudah menjelang dini hari. Ternyata, lidah kami masih belum dapat menyesuaikan dengan cita-rasa India kebanyakan, lagi-lagi hari ini kami memilih makan siang dan dinner dengan menu fast food paling umum. Kali ini kami mencoba KFC India, hmm… selain roti, di sini menu yang disajikan ternyata menawarkan nasi juga sebagai pasangan menu pokoknya, ayam.
Tetapi disajikan dengan cita rasa nasi biryani, yaitu nasi yang dimasak dengan dicampur minyak dan beberapa jenis sayur dan kacangan, ada semangkuk kecil salad dingin dan kuah curry. Sebagai lidah Tanah Air, tentu saja ini membuat kami beringas sekali melahapnya karena belakangan kami jarang sekali melihat menu makanan yang menyajikan nasi.
Lalu kami mencoba Pizza Hut India, lagi-lagi cita rasa spagheti yang ditawarkan banyak mengandung rempah-rempah India, kami pikir dengan begini kami tidak akan shock dengan keruwetan rasa menu India yang sering orang katakan, khususnya bila kami akan merambah perjalanan kami ke kota lain yang tak semodern Delhi.
Puas dengan urusan perut dan berselancar di dunia maya, kami kembali ke flat Shiva. Kami mendadak kaget ketika lampu jalan banyak yang mati, tak hanya itu lampu-lampu rumah sepanjang jalan menuju flat Shiva juga padam. Untungnya si pengendara becak sudah tahu betul alamat yang kami maksud, jadi tak susah untuk sampai.
Rasanya sangat tidak nyaman tinggal di flat saat mati lampu begini, bukan hanya gelap, hawa panas pun meluap karena bagian atap yang sangat pendek, membuat sirkulasi udara tidak stabil. Tapi mau apalagi, kami memilih untuk memejamkan mata setelah satu jam ngobrol dengan para penghuni flat yang ada.
http://travel.kompas.com/read/2011/04/02/10254991/Ternyata.Connaught.Place.seperti.Blok.M

Leave a Reply