| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

The Great Wall of China – Mutianyu Side

Apa sebagian dari anda merasakan hidup yang datar-datar saja? Butuh melakukan sesuatu yang bermakna, sebelum ini terdengar seperti iklan, kamu bisa menyumbangkan sisi perdamaian dunia lewat traveling bahkan yang lebih detailnya lagi dengan backpacking. Pada dewasa ini kita sangat merasakan bahwa dunia sedang mengalami banyak perubahan, dan perubahannya membawa banyak pengaruh, termasuk dalam dunia traveling. Kini jalur pertemuan global dapat mengantarkan kita pada pengalaman traveling yang terlalu indah untuk dilupakan, bertemunya kita dengan perbedaan dan berkomunikasi antar bangsa, budaya dan agama berikut dengan sejuta makna yang tercipta di sela setiap alur perjalanannya.
Mungkin terdengar jago kandang jika kita hanya bisa menyebutkan mengenai kota-kota wisata di negeri sendiri dalam jurnal perjalanan kita, meski pada hakikatnya kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga dengan keindahan budaya negeri sendiri yang memiliki sudut pandang tak kalah menakjubkan dengan negara-negara lain dimata para pelancong domestik. Tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba merambah bukan lagi wisata luar kota tetapi wisata luar negara. Seperti halnya Borobudur yang merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia yang berlokasi di negeri ini, 6 diantaranya tersebar di seluruh negara-negara besar di belahan bumi ini, yang patut kita kunjungi sebagai situs perjalanan pribadi dalam hidup kita.
The New Great Wall
Didalam kata “keajaiban dunia” mungkin yang sekilas terlintas dalam benak anda adalah tempat yang indah dan terlihat menakjubkan. Tapi tidaklah sekedar dimata anda tempat-tempat itu mempunyai sejarah besar bahkan misteri juga chemistry yang melatarbelakangi terciptanya suatu keajaiban itu sendiri. Dan tak harus selalu mewah dan jauh, salah satu dari 7 keajaiban dunia ada yang terlokasikan di wilayah Asia, tepatnya di negara Cina yaitu GREAT WALL atau dalam bahasa Indonesianya Tembok Besar Cina. Ya, The Great Wall yang baru-baru ini diberitakan tentang penemuan fakta baru sekaligus aneh, yang menurut penelitian Tembok Cina ini bertambah panjang 290km. Penambahan panjang bangunan yang terungkap setelah 2 tahun lamanya pemerintah melakukan pemetaan ini merupakan bukti dari para ahli mengenai ukuran tembok tersebut kurang tepat. Atau menurut para ahli juga mengatakan itu disebabkan oleh badai pasir yang menutup kawasan pegunungan Hu sebelah utara Provinsi Liaoning yang luput dari perhitungan, dan juga karena ulah manusia yang konon dengan sistem pemerintahannya di tahun 1950 ikut serta memperburuk lingkungan yang menyebabkan terjadinya perluasan gurun.
Simbol Kejayaan Leluhur Cina
Tapi Tembok Besar yang alur jalannya membentuk Naga Raksasa ini memang sungguh sangat luar biasa, selain faktor pemandangan alamnya yang sangat indah disekitarnya, adalah juga sejarah pembangunan situs ini yang menarik minat para wisatawan untuk menjelajahinya. Di Tembok raksasa inilah akar sejarah terbesar bangsa Tionghoa diabadikan yang juga merupakan simbol dari kejayaan leluhur cina. Banyak sekali alasan yang melatarbelakangi mengapa Tembok besar Cina ini begitu berlegenda. Bangunan naga raksasa yang memiliki panjang 4.183 mil atau sama dengan 6700 km ini terbentang mulai Badailing di Distrik Yangqing Mutianyu yang masih wilayah distrik Huairo, dan Juyongquan di Changing. Atau bisa digambarkan dari Sanhai Pass dibagian timur hingga Lop Nur disebelah barat. Konon bangunan yang punya tinggi 8m, lebar atasnya 5m dan lebar bawahnya 8m ini dibangun dengan menelan korban jiwa nyaris hingga 3 juta jiwa.
Tembok yang memiliki semacam menara pengintai disetiap 180-270m nya ini juga konon bisa dinikmati dari angkasa luar, meskipun pernyataan ini hanya sebagian dari propaganda pemerintah RRC untuk menimbulkan rasa bangga terhadap negerinya. Karena pada kenyataannya, itu hanya pernyataan dari seorang pelancong barat yang mempublikasikannya pada tahun 1909, dan kebalikannya situs NASA yang diwakili oleh Neil Amstrong dkk atau bahkan oleh Taikonon (Astronot versi RRC) sendiri menyatakan Tembok Besar ini tidak dapat dilihat dari luar angkasa dengan mata telanjang. Tapi patut kita acungi jempol untuk taktik perluasan negara yang punya nama lain negeri Tirai Bambu ini.
History Of The Great Wall
The Great Wall dibangun oleh 3 dinasti besar yaitu Dinasti Qin, Han, dan Ming. Pertama kali didirikan pada 7-6 sebelum masehi pada masa pemerintahan terdahulunya, dinasti Qin. Kemudian pembangunan beberapa tembok lainnya dilanjutkan ke wilayah utara pada abad 14-17 sebelum masehi dibawah pemerintahan 2 Dinasti Han dan Ming. Tujuan dibangunnya tembok raksasa ini pada hakikatnya adalah sama pada setiap dinasti, yaitu sebagai benteng istana untuk memproteksi diri dari serangan bangsa lain terutama Bangsa Mandu atau disebut juga bangsa Mongolia. Bahkan menurut kisah, untuk menjaga tembok raksasa yang menjadi benteng pertahanan itu Kaisar Ming mengerahkan 1 juta pasukannya untuk memperkuat pertahanan.
Dari keunikan dan kisah-kisah sejarah tersebut inilah yang melanjutkan rasa penasaran para wisatawan untuk lebih dekat, tak hanya melihat tapi mengenal betul bentuk dan kisah sejati sang penguasa 3 dinasti besar Cina tersebut. Tak heran, setiap masa liburan tiba antusias pengunjung terlihat memadati area tubuh naga raksasa ini. Cuaca panas dan rasa lelah saat pendakian bukan lagi ketakutan yang menghalangi ataupun mengurangi rasa puas dari perjalanan ini, karena siapa orangnya yang tidak merasa bangga telah menaklukan si naga raksasa, 1 dari sekian banyaknya keajaiban didunia ini.
Transportasi
Untuk melakukan perjalanan wisata ini tersedia beberapa jalur penerbangan dari Indonesia menuju Cina. Tapi biasanya para wisatawan yang berdomosili di Indonesia lebih memilih jalur penerbangan via Kuala Lumpur yang harga tiketnya lebih murah, ini dikarenakan lalu lintas penerbangan di bandara-bandara tersebut lebih banyak dan mencakup wilayah besar. Dan dari Bandara di Kuala Lumpur tersebut kita bisa sampai ke kota tujuan kita di Ibukota Beijing dengan nyaman, cepat dengan tidak menguras dalam-dalam isi kantong kita (inget: Air Asia).
Sejenak, kita bisa menikmati indahnya kota Beijing sambil merebahkan diri beristirahat di beberapa hostel yang tersedia di sekitar kota tersebut, sebelum melanjutkan perjalanan menuju The Great Wall Of China. Dan Red lantern house merupakan salah satu pilihan para Backpacker untuk dijadikan tempat bernaung selama di Beijing, karena model-model penginapan seperti itu cenderung lebih menghemat pengeluaran.
Untuk mencapai Great wall dari Beijing tidaklah terlalu sulit, dengan akomodasi kereta bawah tanah atau bisa juga dari pintu Juyongquan menggunakan bus dari Deshengmen dan stasiun Jishuitan. Dan jalur ini adalah jalur yang sudah sangat komersil dengan kata lain jalur inilah yang banyak biasa digunakan oleh para pelancong. Tapi tak ada salahnya bila kita memilih jalur via Mutianyu yang konon belum banyak digunakan para wisatawan, pilihan ini sangat cocok untuk pribadi yang menginginkan untuk sedikit jauh dari hingar-bingar para wisatawan yang juga ingin menuju Great wall, karena situasi perjalanannya berupa jalan tol saja, dan baru sekitar memasuki kawasan Great Wall terdapat beberapa pemandangan desa, maka ini dimudahkan untuk para wisatawan yang hendak beristirahat didalam bus untuk sekedar menyiapkan stamina di sepanjang pendakian Great Wall nanti.
Dari Mutianyu sendiri dimulai dari terminal bus dan subway Dongzhimen, dan umumnya perjalanan memakan waktu yang sama yaitu 2-3 jam dari setiap jalur-jalur yang tersedia. Khusus dari Pintu Badailing terdapat bangunan Museum Great Wall yang konon menyimpan semua peninggalan sejarah yang berkaitan dengan tembok raksasa tersebut. Termasuk didalamnya adalah alat-alat berat yang digunakan sebagai fasilitas pembangunan tembok besar itu. Dan dengan tiket masuk seharga 40 yuan kita bisa memulai perjalanan menakjubkan menaklukan si raksasa naga. Atau jika anda tidak ingin repot memikirkan biaya perjalanan ini, paket-paket agen wisata yang banyak tersedia di hostel-hostel tempat anda menginap bisa menjadi pilihan jurnal perjalanan anda. Biasanya sudah termasuk didalamnya tiket masuk wisata, tiket bus, dan makan siang.
Euphoria In The Great Wall
Disepanjang area pintu masuk akan terlihat pemandangan sebagian warga Cina, yang mengakses pendapatan mereka baik menjadi pemilik dari sebuah souvenir-souvenir shop atau sekedar jadi penjual kaki lima. Ini merupakan bagian dari euphoria masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan wisata pada umumnya. Dengan menjual banyak jenis-jenis miniatur bentuk bangunan wisata atau sekedar bentuk aksesoris budaya daerah tersebut. Bahkan sesuatu yang unik yang bisa dijadikan oleh-oleh pun bisa kita bawa pulang. Seperti miniatur-miniatur Great Wall dan karya seni sebuah toko stempel yang menyediakan jasa pembuatan stempel nama diri dengan tulisan Cina beserta artinya, cukup bisa menjadi bingkisan kecil untuk keluarga dirumah.
Setelah pintu masuk, kita masih harus dihadapakan pada perjalanan kira-kira setengah jam lamanya untuk bisa sampai di sisi tengah-tengah tembok yang membentang dari timur ke barat ini. Berjalan ke arah kiri ataupun ke arah kanan adalah pilihan yang sama menyenangkannya, dan tak berapa lama kita akan menikmati dari sebagian apa yang disebutkan dalam konstruksi dan sejarah bangunan tersebut, misalnya seperti menara pengintai yang terlihat berbentuk sebuah pos, yang sekarang dalam status pariwisatanya digunakan sebagai tempat berteduh dan istirahat sejenak bagi para wisatawan ataupun penjaga area wisata tersebut, baik dari cuaca terik teduh ataupun dari cuaca waktu musim dingin tiba. Sekedar untuk beristirahat atau bahkan menikmati sampagne bersama para wisatawan lain untuk menghangatkan badan. Dan yang unik dari sisi jalan tersebut adalah tersedianya penjual buah pisang, selain juga makanan dan minuman yang mereka jajakan. Buah pisang ini dimaksudkan sebagai makanan dan nutrisi penguat kaki bagi para wisatawan untuk menjaga stamina tubuh selama pendakian, karena bisa di bayangkan kalau kita harus berjalan beribu kilometer demi menikmati ujung pangkal area naga raksasa ini. Meskipun pada kenyataanya tidak akan beribu meter yang akan kita daki, tapi pisang itu cukup punya peran sebagai pendorong vitalitas kita dengan struktur jalan yang sangat menanjak.
Dan cukup pada 3 meter tanjakan, pada umumnya kita sanggup menikmati area wisata ini. Dan satu hal yang patut di perhatikan adalah untuk lebih menggunakan sepatu sket dari pada sendal jepit biasa, karena selain struktur jalannya yang menanjak, kondisi jalannya pun banyak yang berbatu-batuan alias tidak rata. Ini gunanya untuk para pendaki agar tidak menganggap remeh dalam menjaga kenyamanan diri saat mendaki.
Sisi Lain The Great Wall Of China
Kondisi jalan yang agak rusak dan berbatuan tersebut konon berhubungan dengan sebuah kisah kekuatan cinta yang merupakan sisi lain dari The Great wall, mereka menyebutnya kisah Runtuhnya Tembok Cina. Yang bermula dengan kisah seorang kaisarnya yang diberi cobaan oleh sang dewa, berbentuk 2 tangkai bunga mawar, 1 mawar yang sudah mekar dan yang satunya lagi masih berbentuk kuncup. Konon kaisar memberikan mawar yang mekar pada sang permaisurinya, dan yang masih kuncup pada sang ibu suri. Dan sejak hari pemberian bunga itu ada kejadian aneh yang terjadi antara permaisuri dan ibu suri, dimana semakin hari bersamaan dengan layu dan gugurnya putik mawar mekar yang ada pada permaisuri, ia pun semakin hari semakin terlihat tua dan kehilangan kecantikannya. Sedang disisi lain keadaan ibu suri semakin hari semakin cantik dan bertambah muda seperti layaknya bunga mawar kuncup beranjak mekar yang dimilikinya.
Keadaan aneh ini ternyata sangat berpengaruh pada jiwa sang kaisar yang ternyata karena kecantikan ia mampu menenggelamkan cintanya pada sang permaisuri dan malah berbalik tak sepatutnya mencintai dan menginginkan ibu suri sebagai pendamping barunya. Tak sanggup menolak, ibu suri pun menerima paksaan sang kaisar dengan sebuah syarat. Ibu suri menginginkan atap altar yang akan jadi tempat berlangsungnya pernikahan, ditutup rapat sampai tak ada celah untuk sinar matahari yang masuk. Ini atas dasar rasa malu mereka terhadap dewa langit.
Kaisar pun menyanggupi dengan membangun tembok raksasa, upaya untuk meniadakan matahari di acara pernikahannya. Mungkin karena saking luas dan panjangnya tembok yang harus dibangun, dan memerlukan tenaga yang sangat banyak, serta desakan waktu yang diberikan sebagai syarat, maka pada pembangunan ini memakan banyak korban jiwa. Menyadari hal itu, sang kaisar pun bertindak dengan menunjuk salah satu ahli nujum di istana untuk mencari jalan keluar, agar tidak lagi banyak korban. Dan sang ahli nujum pun memberikan saran kepada kaisar untuk mencari seseorang keturunan bangsa lelembut yang hidup sebagai manusia untuk dijadikan sebagai tumbal, karena konon manusia keturunan lelembut tersebut memiliki catatan 1000 nyawa. Dan ini dirasa cukup sebagai pengganti tumbal.
Selang cerita sang kaisar pun menemukan Ban Kie Neunk, orang yang dimaksudkan oleh sang ahli nujum, dan mengundangnya ke istana tanpa ia tau akan dijadikan tumbal. Dan akhirnya dengan meninggalkan seorang istri yang sedang hamil tua Ban kie nenk telah dijadikan alat penyempurna berdirinya tembok itu. Dan selang waktu berjalan sang istri yang bernama Ban Kieu Deu mengetahui bahwa suaminya telah dijadian tumbal pembangunan tembok tersebut. Tak tinggal diam, Ban kie deu pun berniat mencari tulang belulang suaminya sampai di depan pintu tembok istana. Tapi yang didapatnya malah pengusiran dan ancaman pembunuhan dirinya jika nekat meneruskan niatnya.
Tak tau lagi apa yang harus ia lakukan, dengan rasa cinta bercampur rasa kehilangan yang sangat Ban kieu deu menangis sejadi-jadinya sepanjang waktu. Dan konon air matanya membanjiri di setiap sisi tembok raksasa tersebut. Alhasil sang dewa pun tak sanggup melihat kepedihan seorang istri inipun, dan sesuatu segera terjadi atas kuasa sang dewa. Tiba-tiba langit bergemuruh kencang, dan bumi pun bergetar dengan dahsyatnya disela-sela tangis Ban Kieu Deu, membuat sisi tembok yang kokoh itupun retak dan sebagian runtuh. Lalu dengan kuasa sang dewa, seorang istri ini melanjutkan misinya untuk menemukan tulang belulang jasad orang yang telah memberikannya serang anak, meski dengan langkah gontai dan bathin yang perih ia tak gentar. Diharapkan dari cerita sisi lain The Great Wall ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaat baik pengetahuan diri ataupun wacana jiwa.
Kembali pada realokasi Tembok Besar tersebut, tak hanya history bahkan mistery juga chemistry dapat kita jadikan jurnal tak terlupakan untuk dibagikan kepada mereka siapapun yang haus akan pengetahuan dunia. Seperti halnya souvenir miniatur Great Wall yang dijual sepanjang arah pintu keluar, terdapat miniatur Terracota Warrior, ini ditujukan untuk turis-turis yang tidak sampai ke Xi’An dapat membeli walaupun sekedar kenangannya disitu. Dan dari situ, turun beberapa meter dengan bus anda bisa singgah untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Beijing.

Leave a Reply