| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Trekking di Tana Toraja, Amazing !!

Sudah puas dengan wisata kubur Tana Toraja? Dan ingin yang lebih menantang dari sekedar melihat tengkorak-tengkorak berserakan? Mari kita menjelajah alam Toraja! Keindahan lanskap Tana Toraja bukan hanya untuk sekedar dinikmati dari jauh. Anda bahkan bisa menjelajahinya hingga ke pedalaman, kepuncak-puncak perbukitan.
Pernah berkunjung ke desa wisata suku Baduy di Ciboleger – Banten? Nah, Anda bisa melakukan wisata dengan cara yang sama untuk merasakan kehidupan suku Toraja di pedalaman. Ya, dengan cara trekking. Mendaki dataran-dataran tinggi Tana Toraja, menjelajah desa ke desa kuno adat Toraja di pedalaman. Menikmati keselarasan hidup hingga keaslian adat Toraja yang tersebar di pelosok perbukitan bahkan pegunungan disekitar Tana Toraja.
Bukan hanya gemar dengan bahari nusantara, jauh sebelum mengenal pasir putih kami adalah penjelajah alam rimba. Kini saatnya membabat rindu yang sudah menggunung akan alam liar.
Sebuah kitab wisata dunia menawarkan jalur-jalur trekking yang konon memiliki pemandangan yang menarik. Kali ini kami mencoba lebih berpetualang, membuat jalur trekking tersendiri diluar destinasi yang disebutkan buku-buku tersebut. Dengan bantuan pak Luther, seorang trekking guide asal Bulupu, salah satu desa pedalaman Toraja, pilihan jalur trekking baru pun terlaksanakan.
Paket dua hari trekking kami rasa cukup. Namun nyatanya, keramahan penduduk suku pedalaman hingga keindahan alam sekitarnya membuat kami mengakui betah untuk berlama-lama di sebuah desa bernama Limbong.
Dari penginapan kami membentuk trio dengan Pak Luther. Kami masih harus dibonceng ojek untuk sampai di Kepe spot trekking yang dimaksud. Namun rupanya tak sesederhana itu.
Pak Luther memilihkan jalur menurun, namun kami nekad memulainya dengan jalur-jalur mendaki. Akhirnya dari desa Sareale, penjelajahan pun dimulai. Baru saja menginjak tanah setelah hampir 20 menit berkendara dengan ojek motor, jalur tanjakan sudah tak ada hentinya. Dibeberapa bagian jalan terdapat bebatuan licin, membuat kami sedikit syok karena terlalu meng-underestimate-kan alam Toraja.
Namun pak Luther dengan sigap memilihkan jalan-jalan yang lebih nyaman untuk ditapaki. Tetap saja jalur trekkingnya terus mendaki. Ini sedikit lebih sulit dan liar dari alam Rinjani – Lombok. Jalan setapak hanya muat selebar sepatu kami, sisanya jurang. Tak jarang pula jalan setapak itu sudah hampir menghilang karena ditumbuhi ilalang raksasa. Tak ayal, luka baret kecil di kaki jadi oleh-oleh penjelajahan kali ini.
Yang kami temui bukan hanya tongkonan-tongkonan diantara lebatnya rumpun bambu yang menjulang. Kami juga menemukan banyak tanaman khusus yang dikonsumsi suku Toraja, seperti daun pandan khas Toraja yang digunakan sebagai campuran merebus daging kerbau, khasiatnya konon agar daging kerbau yang terkenal keras dan alot itu menjadi empuk. Dari lebatnya pohon bambu, tumbuh pula rebung, pucuk bambu muda. Rebung biasa digunakan sebagai menu sayur kuah atau tumisan. Rasanya sudah tak asing lagi bukan??
Heii, ada juga pohon Cocoa disepanjang jalur trekking. Buahnya menggelantung cantik berwarna orange kecoklatan hingga yang sudah masak berwarna ungu coklat kehitaman. Bunga-bunga dengan warna-warni yang anggun nampak menghiasi rute jalur trekking. Pak Luther benar-benar guide alam Toraja yang berpengalaman. Ia sangat lihai meng’kompas atau mengambil jalan pintas dari setiap rute.
Berbeda dengan kawasan Baduy yang terikat kuat oleh peraturan adat yang ini itu, pemukiman suku Toraja di pedalaman sudah dilengkapi dengan fasilitas listrik bahkan antena parabola. Signal provider handphone pun bahkan full of service meski Anda sudah berada di atas pegunungan. Tapi yang unik, meski sudah masuk beberapa fasilitas modern, alat makan hingga alat masak mereka masih sangat sederhana, terbuat dari anyaman bambu, gelas pun masih terbuat dari potongan bambu, lesung dan alu juga nampak menyempurnakan keunikan dapur mereka.
Setelah hampir 2 jam mendaki, kami tiba di Kepe. Siang itu Kepe sangat spektakuler dengan langitnya yang membiru cerah, dan awan putih gemilang nampak mempercantik cuaca cerah hari itu. Warga nampak sibuk memotong kayu untuk membangun tongkonan. Kerbau-kerbau terlihat asyik melumat rerumputan di ladang-ladang dekat rumah. Anjing-anjing menggonggong keheranan melihat kami melintas.
Jika Anda tidak terlalu menginginkan rute mendaki, perjalanan bisa dimulai dari desa Kepe, satu jam mendaki dari desa Sareale. Dari desa Kepe perjalanan sudah terbilang mudah, hanya sedikit saja mendaki, sisanya sudah turunan dan tanah datar. Masuk ke pemukiman penduduk, menyusuri pematang sawah, hingga hutan belantara. Tapi hei, jangan khawatir, jika Anda lelah anda bisa mengambil rute jalan umum yang sudah di aspal. Bahkan jika Anda sudah terlalu lelah, Anda bisa menggunakan jasa ojek untuk sampai di desa yang dituju.
Poya, desa ketiga ini kami tempuh 2 jam dari desa Kepe. Hujan gerimis tak menyurutkan langkah kami yang dibalut jas hujan. Setelah melintasi sebuah gereja, jalur pendakian menuju desa Poya nampak cantik dengan hamparan sawah yang menghijau. Air sungai menjadi irigasi alami disela-sela nya. Lapar, kami berhenti di sebuah rumah warga. Ramah, ibu pemilik tongkonan sederhana itu memberi kami setermos air panas untuk sekedar makan mie siram aka Pop Mie.
Melanjutkan cerita, tak sampai setengah jam kami tiba di desa Perangian. Desa ini lumayan ramai dengan penduduk. Nampak asri dengan bunga-bunga mawar yang mekar dan segar di halaman. Belum lagi pemandangan yang sedari perjalanan tadi kami nikmati, sungguh aduhai. Nampak lembah-lembah terkenal yang juga digunakan sebagai jalur trekking ada diseberang bukit yang kami pijak. Desa Tikala nampak bernuansa merah jambu karena mayoritas atap rumahnya berwarna merah. Begitu juga dengan Desa Pangala, lebih memerah lagi karena desa ini sangat ramai penduduknya. Yang membuat takjub adalah gemuruh arus air sungai yang nampak membelah diantaranya.
Ah, hari terlalu cepat untuk kami nikmati. Baru saja asyik memandang lanskap yang memukau itu, kami harus terus melintasi desa ini agar tidak kesorean sampai di desa yg kami tuju nanti. Meninggalkan SDN 4 Rindingallo desa Perangian, lanskap makin memukau saja. Ratusan petak persawahan menghijau berkelok-kelok ditepian lembah. Hingga bertemu Desa Tinapu yang berada di tepi lembah, kami terus memacu semangat menuju Desa Limbong, desa yang akan kami inapi.
Kami melenguh hingga menguap ketika melihat sebuah desa cantik di tengah-tengah lembah. Namun mata dan tangan ini jadi hyper aktif karena tau inilah tempat bersandar yang kami tuju.
Desa bernama Limbong Langi’ ini bukan hanya cantik dengan nuansa warna merah pada atapnya. Eksotik dengan gereja mungil di tengahnya. Sebuah danau irigasi pun menyambut kedatangan kami. Yang unik, desa Limbong ini memiliki gua pekuburan tersendiri di dinding bebatuan di perbatasan desa. Erong-erong pun nampak misterius dengan warna-warnanya yang berbeda.
Tak sabar ingin yang lebih unik lagi, kami segera menyusul Pak Luther yang sudah sedari tadi sampai di rumah bu Naida. Waaaaaow, begitu suara takjub kami melihat uniknya desa ini. Tongkonan berdiri menjulangg, seperti di Kete Kesu, tapi bedanya lanskap alaminya benar-benar menggoda kami untuk 3 hari disini. Ahhh, Toraja!
Bukan cuma unik dan eksotik, masyarakatnya pun sangat ramah. Bu Naida bersama anak-anak nya mulai sibuk mempersiapkan makan malam. Orang sekampung jadi berlomba menangkap ayam, untuk dijadikan menu makan malam kami nanti. Huuuh, asik bukan!
Sambil melepas lelah dan menunggu gelap, kami nongkrong di halaman kampung ini. Sekejap kami jadi tontonan anak-anak yang bergumul di pos kamling. Mereka mulai beraksi, pria-pria cilik itu bergerombol bermain bola. Gocek sana gocek sini, seorang bocah berlagak bak Messy. Kami terbahak ketika aksinya makin memanas karena tahu dibidik kamera. Ya, dia bocah ingusan Toraja yang punya lari secepat Messy. Gemas kami terus menggodanya, mentertawainya hingga terpingkal-pingkal. Aduuh, kena batunya! saya malah balik di tertawai dan di panggil Hihihihi oleh mereka, sebab gaya tertawa saya yang aneh. Huh!
Whooops, seru nya gak cuma sampai disitu loh.. Stay tune on Kakigatel yaa, setelah ini ada Nikmatnya Kopi Toraja dan cerita dari malam di pedalaman Tana Toraja.

Leave a Reply