| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

TREKKING DI TANA TORAJA? AMAZING!! PART 2

“Zee, Arta, cepat kemari, waktunya menyeruput kopi asli suku Toraja!” Begitu teriak Pak Luther dari teras tongkonan. Kami berlari kecil bersemangat dengan aroma kopinya yang makin lama kian harum di hidung.
“Wooooohh, haruuumnya khas kopinya berasa banget!” Spontan saya bertukas setelah membuka tutup cangkir raksasa itu. Gak cukup seseruput dua seruput bahkan satu cangkir, rasa biji kopinya yang baru saja digarang membuat lidah kami ketagihan. Sambil meretas senja di mata bocah-bocah yang asik bermain sepak takraw sore itu, kami menikmati cinta kami kepada Tuhan.
Selepas gelap, langit mendung dan hujan pun turun. Membuat rasa lapar kami tak tertahankan. Beruntung, Bu Naida lekas menghidangkan Sup Ayam, tumis Timun, hingga lombok atau sambal khas Toraja. Ajiib, meski sederhana, namun rasanya selangit enaknya. Kami sampai nambah 3 piring.
Puas dengan hidangan makan malam, kami mulai menikmati waktu dengan berbincang hangat dengan Pak Luther dan Bu Naida.
Sosok bu Naida nampak masih segar bugar, meski jalannya sudah agak pelan dan membungkuk. Dibalik tubuhnya yang bugar, usianya sudah merambat 83 loh! Ibu dengan 9 anak ini berbagi tips awet mudanya. Beliau bertukas bahwa ia bukan tipe orang pemarah, dan bukan pendendam. Itu rahasianya!
Lain cerita dengan Pak Luther, karakter Ayah yang dimilikinya begitu kuat. Rasa tanggung jawabnya terhadap anak begitu tinggi. Ia tak mengharap uluran tangan orang lain atas kesulitan biaya pengobatan anaknya yang menderita sakit tumor Ginjal. Ia berjuang gigih untuk mendapatkan uang demi pengobatan terapi anaknya setiap minggu di sebuah Rumah sakit di Makasar.
Berganti topik, seputar budaya dan adat suku Toraja pun di ulasnya secara gamblang. Tak luput, masalah ekonomi, prestisi hingga politik jadi perbincangan hangat menuju pukul 10 malam.
Hiiii, sambil merinding dingin plus takut, kami tidur disebuah kamar yang sudah disediakan. Membayangkan bagaimana mayat disimpan bertahun-tahun di kamar ini sama sekali bukan opsi untuk membuat ngantuk.
Suara lesung dan alu yang saling berpagut membangunkan kami pada fajar yang mulai muncul. Kami bergegas berbenah diri untuk pulang. Sambil menunggu kabut terangkat dari permukaan desa ini, kami bermain lagi bersama anak-anak. Lain pagi ini, kami bermain menjelang sekolah minggu dimulai.
Wahh, diam-diam saya terenyuh atas ketaatan iman bocah-bocah cilik itu. Dari sudut ujung desa, bocah-bocah muncul dibalik kabut. Menenteng Al-kitab di tangan mungil mereka. Harum tubuh mereka kian serasi dengan penampilan mereka yang rapi.
Lagu-lagu rohani cilik mulai menggema di gereja setelah bu guru memimpin doa misa minggu. Ah, nuansa hikmat mereka menjalar hingga ke tubuhku.
Belum ingin beranjak rasanya, tapi matahari sudah mulai tinggi, kami harus segera kembali ke pematang sawah, menelusup masuk ke desa berikutnya dengan meretas jalan-jalan di tengah persawahan atau kebun penduduk. Di Desa Kadinginan yang juga megah dengan tongkonan dan penduduknya, kami lagi-lagi menyeruput segelas kopi panas untuk memancing energi demi mempercepat langkah kaki menuju desa berikutnya hingga ke Parinding dan Bela-Pemancar.
Terlalu lelah untuk mempercepat langkah? Jangan khawatir, dari desa Kadinginan beberapa ojek akan menawarkan jasa nya mengantar Anda hingga penginapan. 50 ribu harga sewa ke Rantepao. Lumayan murah jika dibanding tenaga yang harus dikeluarkan selama 1 setengah jam bergelut dengan tanjakan dan turunan terjal yang penuh kerikil tajam.
Trekking sudah, wisata adatnya juga sudah, nah waktunya Anda berwisata kuliner sekarang! Eit, tunggu dulu, mandi dulu yaa biar enak curhatnya!

Leave a Reply