| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Trichy dalam 12 Jam (Bagian I dan II)

Kami bergegas check out dari Ashoka Lodge pukul 7 pagi ini. Sesuai dengan rencana, kami akan kembali ke Trichy hari ini, tidak untuk menginap memang, perjalanan sehari saja, takut tak ada penginapan pula. Dari Thanjavur ke Trichy hanya satu jam dengan kereta berpenumpang. Sore hari kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pondicherry, yang masih dalam kawasan perairan Tamil Nadu dengan bus. Sampai di stasiun Trichy kami bergegas menuju terminal bus untuk menitipkan barang kami di cloack room setempat. Harganya cukup mengagetkan: 100 INR untuk dua ransel besar. Tapi mau apalagi, ditawar pun tidak bisa. Kami akhirnya menyetujui harga tersebut. Kami hanya punya waktu hingga jam lima sore untuk berjalan-jalan di kota Trichy, pasalnya jadwal bus ekonomi menuju Pondicherry terakhir sekitar jam itu. Lekas saja kami memulai sightseeing kami kali ini.
Kota ini dikenal juga sebagai Thiruciraphali, salah satu kota kuno dari peradaban Tamil Nadu. Sama seperti Madurai, kota ini juga disebut sebagai rumah para kuil, banyak sekali kuil-kuil Hindu ala Tamil bercokol sepanjang Trichy. Di tengah-tengah keriuhan aktivitas kota, sebuah landmark berdiri kokoh. Kebanyakan orang setempat mengenalnya sebagai Rock Fort Temple. Monumen keagamaan ini berada di atas bukit dengan tebing batu bernama Koil Uchipilaiyar berketinggian 83 meter. Batu tersebut disinyalir berumur sudah lebih 3800 juta tahun.
Akses masuknya berupa 344 anak tangga tertutup menuju kawasan yang dulunya merupakan sebuah benteng kerajaan yang didirikan oleh dinasti Chola, Nayaks, yang juga sebagai pendiri dari kota Trichy. Benteng ini kemudian diubah fungsi menjadi monumen, candi, dan kuil ketika dinasti Chola dikalahkan oleh dinasti Vinayagar pada abad ke-12. Adalah Raja Nayaks yang juga sebagai penguasa di Madurai yang disebut-sebut memprakarsai pembangunan komplek candi di Rock Fort ini.
Untuk mencapai lokasi tersebut, Trichy memiliki bandar udara yang hanya berjarak lima kilometer dari pusat kota. Bandar udara Trichy tak hanya maskapai penerbangan lokal. Saat ini, Trichy terpilih menjadi salah satu dari delapan bandara di India yang melayani rute perjalanan lokal dan internasional. Indian Airlines merupakan salah satu maskapai yang banyak dipilih untuk rute penerbangan internasional. Sedangkan Air Deccan dan beberapa maskapai lainnya juga melayani rute penerbangan ke seluruh wilayah India.
Transportasi kereta api juga menjadi salah satu pilihan transportasi yang laris diminati para wisatawan, menurut sistem perkereta apian India, Trchy merupakan salah satu persimpangan cantik di jalur kereta api Selatan India, pihak Trichy Junction Station melayani berbagai rute perjalanan menuju ke setiap daerah di India. Untuk jalur bus, Trichy memiliki satu terminal besar yang menyediakan jasa perjalanan baik trayek dalam kota ataupun luar kota, untuk perjalanan dengan rute panjang beberapa agen bus juga menyediakan fasilitas yang sesuai untuk kenyamanan Anda, dari yang standar, AC, hingga sleeper class seating. Dari pusat kota Trichy, Anda hanya perlu menggunakan bus dalam kota yang menuju Rock Fort dari terminall utama dengan ongkos berkisar 4 INR. Bertanya pada petugas atau orang sekitar merupakan cara terbaik untuk mendapatkan informasi. Untuk lebih nyaman Anda dapat menggunakan jasa taksi dengan harga berkisar 80 INR.
Setidaknya ada tiga candi penting di kawasan ini, di kaki bukitnya terdapat kuil Manika Vinayaka. Kuil Ucchi Pilaiyar Koil sendiri berada di puncak bukit. Sedangkan Taayumaanava Koyil atau Shivastalam juga berada dalam bukit batu tersebut, menampilkan tak kurang dari 64 wujud Dewa Siva termasuk lingga Siva. Setiap candinya dihiasi oleh pilar-pilar berukir. Beberapa bagian atap langit dan dindingnya penuh dengan lukisan para tokoh Epik Hindu. Sebuah gua kecil peninggalan dinasti Palawa yang terletak di sebelah selatan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah.
Bukan hanya ramai oleh para peziarah, kawasan landmark yang buka dari pukul enam pagi hingga pukul delapan malam ini juga ramai dikunjungi oleh para pemuda-pemudi dan wisatawan mancanegara. Pasalnya bukan hanya sebagai tempat beribadah, sama seperti Monas di Jakarta, kawasan komplek candi di tebing batu ini menawarkan pemandangan menyeluruh dari sekitar kota Trichy. Belum lagi kawasan sekitarnya merupakan kawasan sibuk yang menghamparkan aktivitas bisnis, mulai dari pusat perbelanjaan hingga perkantoran. Lokasi strategis ini membuat landmark itu menjadi tempat favorit bagi para remaja dan peziarah yang taat agama untuk bertandang kapan saja.
Sebenarnya, tak ada tiket masuk untuk mengunjungi tempat ini, hanya donasi untuk kuil sebesar 2 INR, selebihnya Anda dikenakan biaya tambahan sebesar 20 INR untuk operasional alat fotografi Anda. Peraturan kuil mengharuskan pengunjung untuk melepas alas kaki di depan gerbang anak tangga yang bisa dititipkan di penitipan barang atau untuk lebih hemat dimasukkan ke ransel Anda.
Tak hanya Rock Fort Temple, Trichy memiliki kemegahan kuil lainnya yang tak jauh dari lokasi penting ini. Dari ketinggian Rock Fort Temple, kami kembali menyusuri jalan raya dan mencari bus yang menuju Sri Rangam, sebuah kabupaten kecil di Trichy. Murah banget, naik bus cuma 3 INR per orang. Tidak sampai setengah jam, kami diturunkan di kawasan pasar menuju kuil tersebut. Aktivitas sekitarnya sangat ramai, pengunjungnya wisatawan, hingga mayoritasnya adalah pengunjung lokal yang ingin beribadah atau mengadakan ritual keagamaan.
Tamil Nadu memiliki karakter budaya yang unik dan berbeda dari wilayah India lainnya. Seni ukir dengan sentuhan agama memberikan aksen yang khas pada setiap hasil karyanya. Jejak-jejak peninggalan kuno dari Tamil Nadu ternyata masih banyak bercokol di sebagian besar tempat-tempat wisata, salah satunya adalah Srirangam Temple.
Srirangam Temple dikenal juga sebagai Kuil Sriranaganatha, dan merupakan sebuah komplek kuil yang didedikasikan khusus pada Dewa Vishnu, sang penjaga Bumi. Terletak di daerah Srirangam, kuil ini hanya 45 menit dari pusat kota Trichy, negara India bagian Tamil Nadu.
Luasnya yang mencapai 156 hektar menjadikannya sebagai salah satu komplek kuil terluas di sepanjang tanah India. Komplek kuil warisan dari para Penguasa Chola hingga Vinayagar ini terdiri dari 21 menara yang dihiasi beribu-ribu relief para tokoh epik dalam kepercayaan Hindu, terutama relief-relief yang menggambarkan wujud dari Dewa Vishnu. Begitu juga dengan dinding-dinding bangunannya, semua menggambarkan identitas unik dari para dewa.
Di beberapa bagian terdapat banyak mantra-mantra suci tertulis dengan abjad Sansekerta kuno. Konon bertulisan beberapa ajaran penting yang disampaikan oleh dewa Vishnu. Warna kontras yang cenderung biru kemerahan mempesona kala sinar matahari mulai menerpa.
Uniknya, komplek kuil ini memiliki seribu pilar yang menopang kontur bangunan dinding yang penuh ukiran dan relief berwarna tersebut. Pilar-pilar itu mayoritas juga penuh guratan motif ukir Hindu tua. Di beberapa ruangan tertentu, peziarah selain pemeluk Hindu dilarang masuk.
Seperti layaknya pelayanan di gereja, komplek kuil yang buka hingga malam hari ini juga memiliki acara ritual pilihan setiap harinya. Meski diterpa panas yang menyengat, namun bentuk dari ketaatan dan keyakinan tak menyurutkan para peziarah dan pemuja Dewa Vishnu untuk hadir memberikan sesembahan.
Sebenarnya, tak ada tiket masuk untuk mengunjungi tempat ini, hanya donasi untuk kuil sebesar 2 INR. Selebihnya Anda dikenakan biaya tambahan sebesar 50 INR untuk operasional alat fotografi, khusus untuk video administrasi dikenakan lebih besar lagi, sekitar 150 INR.
Peraturan kuil mengharuskan Anda untuk melepas alas kaki sebelum memasuki kuil. Anda bisa menitipkannya di penitipan barang atau untuk lebih hemat, Anda dapat memasukannya di ransel.
Hari beranjak sore, kami segera menyudahi perjalanan kali ini. Dari bilangan Sri Rangam, kami menunggu bus yang menuju City Centre, dengan harga 7 INR per orang. Tak sampai satu jam kami tiba di terminal bus. Kami sempat makan enak di restoran A1, yang terletak di depan terminal bus. Selain enak, makan di sini porsinya banyak, penuh daging, dan murah. Menu ayam kari dan kambing plus nasi dan dua minuman soda hanya 285 INR.
Puas dengan makan, kami kembali menyusuri kawasan terminal bus untuk mengambil ransel kami. Bau dupa menyengat yang di bakar sejak pagi tadi meninggalkan bekas aroma tersebut di backpack-backpack kami.
Hari sudah sore, kami segera mencari jalur bus yang menuju Pondicherry. Sayang bus yang kami dapati sudah penuh, jadi kami terpaksa berdiri untuk tiga jam ke depan. Jengkel juga, sudah bayar 60 INR per orang tetapi tidak bisa duduk. Akhirnya kami duduk di lantai di pintu belakang dengan memanfaatkan ransel besar kami untuk alas. Ternyata hampir empat jam kami harus bergantian duduk. Bus berhenti di beberapa terminal kecil sebelum akhirnya memasuki kawasan pantai Pondicherry.
Kami tiba di Pondicherry pukul sembilan malam, suasana sudah mulai sepi, toko-toko sudah tutup, jalan sudah lengang, hampir tak ada orang lewat. Kami bergegas mencari alamat guest house yang kami maksud, sayang sejak ponsel kami hilang kami harus bertaruh untuk mendapatkan kamar, karena kebanyakan penginapan di sini harus pesan terlebih dahulu, jadi kami menuai akibat tersebut, tak ada kamar kosong di YMCA Guest House.
Lalu satu per satu guest house sekitar kami datangi, juga tak ada kabar baik. Satu penginapan bernama French Guest House memiliki satu kamar kosong, tetapi harganya lumayan mahal, 450 INR itu pun dengan penawaran keras. Tetapi kamarnya memang lumayan, mirip rumah kos dengan harga satu setengah juta rupiah. Bersih dengan pendingin ruangan dan fasilitas air panas. Karena sudah terlalu lelah dan larut malam, kami akhirnya menginap di sana tanpa makan malam.

Leave a Reply