| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

TUJUH GUNUNGAN, TANDA KASIH KERATON JOGJA

Tak seperti hari biasanya yang ramai dengan beberapa pengunjung saja, hari itu Minggu 5 Februari 2012 Keraton Jogjakarta dipadati ratusan masyarakat dan abdi dalem beserta keluarga yang memenuhi undangan sang Sultan Hamengkubuwono X. Tepatnya dalam gelaran Grebeg Mulud. Sebuah tradisi adat Jogja dalam menyambut peringatan salah satu hari besar Islam, Maulid Nabi Muhammad SAW. Kali ini, Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat merayakan Grebeg Mulud tahun Wawu 1945 Jawa. Berbagai prosesi adat Jawa Keraton dalam menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad pun dilakukan dalam beberapa tahap. Dari mulai meriahnya Sekaten, Gangsa Kondur, hingga Grebeg Gunungan di puncak acara Grebeg Mulud.
Sekaten tahun ini dilaksanakan sejak 30 Desember 2011 hingga tanggal 4 Februari 2012. Sekaten sendiri dikenal sebagai istilah Pasar Malam yang digelar selama sebulan penuh hingga malam Sekaten tiba, atau malam hari sebelum Maulid. Alun-alun utara keraton selama sebulan penuh dimeriahi pasar malam, baik penjaja makanan, pakaian, hingga mainan. Pemandangan unik kami cermati diantara penjaja makanan di taman Kemanggungan atau alun-alun utara, banyak penjaja makanan yang juga menjual sirih. Jangan heran, berkaitan dengan perayaan Maulid Nabi ini, rupanya masyarakatnya percaya dengan mengunyah sirih/nginang di dalam area keraton akan memberikan serentetan berkah dari prosesi peringatan Maulid Nabi tersebut.
Seminggu menjelang puncak acara, biasanya dilakukan prosesi pagelaran benda pusaka keraton. Gamelan Sekaten namanya, masyarakat Jogja menyebutnya Kanjeng Kyai Sekati, benda pusaka tersebut dibagi dalam dua rancak, yaitu Kanjeng Kyai Nogowilogo dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Masing-masing di bunyikan di lokasi yang berbeda. Kanjeng Kyai Nogowilogo di bangsal Trajumas dan Kyai Guntur madu di bangsal Srimanganti, keduanya pun bertemu di Bangsal Pagongan di Masjid Besar Kauman. Sore menjelang malam Sekaten, dilakukan prosesi adat Gangsa Kondur, yaitu pengembalian dua benda pusaka Gamelan Sekaten tersebut ke Kraton Jogja. Bersamaan prosesi Gangsa Kondur, Sang Sultan akan menebar udhik-udhik dan recehan uang logam. Di malam puncak acara, keraton tak henti-hentinya melantunkan shalawat.
Hingga keesokan harinya, tepat di hari Maulid Keraton Ngayogyakarto akan menggelar prosesi adat yang ditunggu-tunggu rakyat Jogja. Apalagi kalau bukan Grebeg Gunungan. Grebeg Gunungan adalah prosesi adat tradisi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai perwujudan Hajad Dalem atau sedekah Sultan kepada rakyatnya. Perwujudan tanda kasih keluarga keraton itu disimbolisasikan dengan Gunungan atau tumpeng raksasa yang berisi sayuran diantara kacang panjang, cabe dan sebagainya.
Sama seperti tahun yang lalu, 7 gunungan yang di giring oleh kirab bregodo (prajurit kraton) akan disebar di beberapa tempat kehormatan yaitu di Masjid Besar Kauman, di Kadipaten Pakualaman, dan satu lagi di komplek Kepatihan. Gunungan tersebut kemudian akan diperebutkan oleh rakyat Jogja di 3 tempat yamg sudah ditentukan tersebut. Konon Masyarakatnya percaya jika memakan gunungan tersebut akan mendapat berkah dan kebaikan dari Sultan mereka. Sebelum acara Grebeg Gunungan, upacara pembukaan diisi oleh kirab prajurit keraton dari berbagai divisi pun menjadi daya tarik tersendiri bagi kami dan tentunya insan pers Indonesia, tak jarang pula kami lihat wartawan-wartawan bule berkeliaran berebut tempat terdepan untuk mengabadikan prosesinya. Satu persatu keluarga Keraton keluar dengan baju kebesarannya, disusul dengan abdi dalem-abdi dalemnya. Kostum mereka pun beragam sesuai dengan pangkat keprajuritannya.
Pagi menjelang siang itu, setelah terperangah oleh keeksotisan tegap langkah para prajurit keraton dalam pagelaran kirab pasukan, kami berlarian menuju Masjid Besar Kauman. Kami mulai tenggelam dalam kerumunan orang-orang yang berebut mendapatkan secuil dari gunungan tersebut. Tak perduli jatuh ketanah, seorang nenek tua rela berdesak-desakan demi mengumpulkan nasi tiwul dan beberapa potong kacang panjang kedalam plastik yang dibawanya. Ketika sempat ditanyakan, nenek tua itu menjawab, nasi gunungan itu akan di bawa pulang untuk keluarganya, demi mendapat berkah dan kebaikan serta keberuntungan.
Tradisi Grebeg Gunungan dalam adat Jawa bukan hanya dirayakan oleh keraton Jogjakarta saja, terlebih dari itu Keraton Solo hingga Keraton Cirebonan juga melaksanakan prosesi yang sama. Tradisi Grebeg Gunungan sendiri rupanya tidak hanya dalam perayaan Maulid Nabi saja, dua lainnya adalah Grebeg Syawal sebagai peringatan syukur atas datangnya bulan Syawal. Sedangkan Grebeg Pasa dirayakan sebagai peringatan syukur atas datangnya bulan suci Ramadhan.

Leave a Reply