| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Varanasi di Sore Hari

Bulir roda kereta masih terus bergerak sepanjang besi rel yang makin memuai karena panas, perjalanan semalam menghadiahi kami gurun dan ladang yang gersang di terik matahari yang mulai berada tepat diatas kepala. Pukul 10 siang kami terbangun karena hawa panas dalam kereta mulai terasa, tengok keluar jendela, hari telah terang bahkan terik yang amat sangat.
Perjalanan mencapai kota Varanasi, kota di Utar Pradesh, India memang terbilang panjang, 16 hingga 17 jam dari Agra, melewati berbagai cuaca alam, dari panasnya ladang-ladang yang mengering, hingga berganti menjadi ladang padi yang menghijau dengan aliran irigasi yang nampak berjejer rapi.
Kami mulai gelisah ketika pada jam kedatangan kereta yang seharusnya, di jam 12.30, kereta yang kami tumpangi belum juga berhenti di Stasiun Varanasi. Berkali-kali kami menengok pada tulisan bilboard setiap kali kereta ini berhenti di sebuah stasiun, tapi berkali-kali juga kami dikecewakan karena hanya stasiun-stasiun kecil saja yang kami dapati.
Bahkan kami sempat panik karena takut kereta ini telah melewati Varanasi, misuh-misuh tak henti, kami mulai sibuk bertanya kepada penumpang lain, satu persatu hingga seorang bapak dengan bahasa Inggrisnya yang fasih menjelaskan kereta ini memang akan datang terlambat tiba di Varanasi. Menurut cerita pria setengah baya dengan 3 anak itu kereta ini semalam berhenti hingga 2 jam lamanya di sebuah stasiun karena mengalami beberapa masalah. Penjelasannya membuat kami sadar kalau semalam tidur kami begitu nyenyak, hingga tak tahu kejadian seputar masalah kereta yang mengalami kerusakan kecil pada mesinnya semalam.
Akhirnya menjelang sore, di pukul 15.15 kereta ini mulai menepi perlahan diantara banyaknya gerbong di sebuah stasiun, Varanasi JN nama stasiun kereta api kota Varanasi memang merupakan stasiun besar, lebih dari 10 gerbong tersedia, kami turun melalui gerbong 5, kemudian menyusur pada pintu exit di platform utama. Lagi, sopir-sopir, mulai sopir becak hingga sopir taksi berebut menawarkan jasa. Kami hanya tertarik pada seorang pemuda ramah yang menawarkan harga paling ok, 70 Rupees hingga ke penginapan yang kami maksud, Shanti Guest House.
Tetapi sepanjang jalan pula pemuda yang ternyata hanya menjadi kenek bagi sopir yang tak lain adalah ayahnya itu, menawarkan kami penginapan lainnya yang lebih murah dan yang lebih mudah dijangkau. Konon anak dan bapak ini sampai bekerja sama mengantarkan kami, karena letak akomodasi sekitaran ghat di Varanasi lumayan jauh dari jalan. Jalan di ghat-ghat itu konon hanya dapat dilewati kendaraan roda dua saja. Si anak bertugas mengantarkan kami menyusur jalan diantara ghat-ghat tersebut hingga sampai pada sebuah hotel dengan harga 200 Rupees saja. Karena info dan penjelasannya kami pun menghadiahinya beberapa lembar Rupees sebelum ia pamit pergi.
Jalan dari depan gang sana memang lumayan jauh, hampir 800 meter kami berjalan, undakan-undakan menuju tepian Sungai Gangga mulai tampak sekitaran rumah penduduk. Kebetulan hotel yang diberikan nampak tak jauh dari the main ghat of Varanasi, alias Manikarnika ghat, ghat yang terkenal sebagai ghat tersuci dengan fungsinya sebagai ghat kremasi.
Mendengar namanya saja kami sudah mulai merinding, kali ini traveling kami tampak aneh dengan mengunjungi tempat pengkremasian. Belum lagi Mishra Guest House ini nampak remang-remang karena pencahayaannya yang kurang. Tapi yah lumayan murah, jadi kami ok-ok saja dengan apa pun keadaannya, yang penting bersih. Di kamar no 232 di lantai 3 akhirnya kami melabuhkan diri sejenak, meski kamar agak terasa lembab, tapi kipas yang memutar kencang membuat jengah kami mulai terkikis, bagusnya lagi kamar mandinya luas dan bersih.
Perut lapar kami mulai melancarkan demonstrasi tak henti-henti, karena seharian ini kami di kereta, hanya makan beberapa potong biskuit saja. Karena toko-toko sepanjang jalan di gang tadi terlihat sudah mulai tutup, akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran penginapan yang kami tempati saja.
Seperti biasa, letaknya di rooftop, hamparan aliran Sungai Gangga nampak tenang terlihat, menjuntai-juntai menerpa bebatuan yang singgah di belantara sungai. Sayang, sungai yang konon mempunyai aliran deras ini nampak kering sekarang, banyak lahir pulau-pulau kecil di tengah sungai, airnya kotor coklat hingga hijau kehitaman. Di tepiannya nampak banyak sisa sampah yang menggenang tak ada solusinya.
Tapi aura mistis dan dan misterinya begitu kuat membius pengamatan kami, kuat dengan athmosphere hitam yang menjadi tanda kehormatan atas seorang Dewi Hindu yang konon menguasai Sungai Gangga ini. Sembari menikmati kari tofu dan noodlle biryani kami mencoba membaca cerita film berbahasa Hindi yang ditayangkan stasiun TV lokal India di penginapan ini. Anil Kapoor, aktor kawakan itu tengah main di Star Movie ternama zaman kami sekolah dulu, entah apa judulnya tapi kami masih ingat jalan cerita film tersebut, hingga meski tidak mengerti bahasa yang digunakan, kami masih tetap mengingat sedikitnya dialog di 10 tahun silam itu.
Mentari mulai tenggelam di ufuk seberang Sungai Gangga, disambut gemerincing lonceng-lonceng yang makin ramai terdengar, diselingi suara-suara melengking yang melagukan mantra-mantra suci Hindu merasuk di embusan angin. Kami teringat tanah kelahiran yang biasanya menyuguhkan adzan Maghrib dengan shalawatan yang membius para muslim kedalam ketaatan saat matahari tengah terbenam. Aura ketaatan itu kini tak kalah kuatnya kami rasakan, ketaatan para pemeluk Hindu di Varanasi memang terbilang bagai ketaatan sorang Muslim di negara Arab sana, karena kota Varanasi memiliki kesamaan derajat bagi pemeluk agama Hindu, seperti Mekkah bagi Islam, seperti Bethlehem bagi umat Kristiani.
Sekejap kota ini jadi gelap, tak ada pencahayaan canggih yang menerangi, tak lain hanya cahaya lilin, dan lentera-lentera kuno yang dipasang, konon bukan karena kota ini terbelakang, seutuhnya daerah sekitar ghat di Varanasi memang mengusung lilin dan lentera pemujaan mereka untuk menerangi malam mereka, berharap berkah dari lilin dan lentera pemujaan yang mereka nyalakan.
Malam ini kami tak begitu selera untuk meneruskan makan malam, karena menu beberapa jam lalu terasa masih memenuhi lambung. Kami memutuskan hanya minum beberapa gelas chai saja sebelum akhirnya kembali ke kamar dan beristirahat. Melihat baju-baju kotor yang mulai menumpuk dan bau, kami mencoba pelayanan laundry murah yang ditawarkan penginapan ini, 16 potong pakaian hanya habis 223 Rupees. Tapi kami sempat membayangkan bagaimana jadinya jika pakaian kami dicuci dengan air sungai yang coklat kehitaman itu. Lelah berpikir negatif, kami biarkan saja cucian itu dibawa oleh resepsionis hingga hasilnya nampak besok sore.
http://travel.kompas.com/read/2011/06/25/16290053/Varanasi.di.Sore.Hari.

Leave a Reply