| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

Varanasi, Kuil Emas Sampai Brokat Emas

Bila bicara seni dan budaya di Varanasi, India, sudah barang tentu kota ini dikenal karena kaya akan tradisi budaya yang unik. Berbagai unsur arkeologi, mitologi, geografi, seni, dan sejarah membuat kota kuno ini seolah menjadi jati diri bangsa India.
Meskipun Varanasi berkaitan erat dengan kepercayaan Hindu dan Buddha, tetapi pada kenyataannya kita dapat menemui banyak jenis keyakinan agama dan jenis ibadah. Juga lembaga-lembaga keagamaan di setiap sudut jalan kota ini.
Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan bisa mengekspos praktek penyembahan kultus yang terhampar di setiap sisi jalan tanpa harus ada embel-embel aturan. Tak hanya Jakarta yang punya segudang museum seni dan budaya, Varanasi menawarkan cita-rasa yang lengkap beserta  sejarahnya. Di sini orang bisa merasakan perubahan dalam pola-pola pergerakan dari setiap proses sejarah yang terjadi.
Dalam hal seni, terutama kesenian rakyat, kota ini memiliki bentuk dan gaya yang unik. Sejak berabad-abad sebelumnya, Varanasi telah mampu menghasilkan master-master pengrajin di setiap bidangnya.
Ketenaran hasil seni sutra tenun Varanasi misalnya, telah menjelajah seantero dunia, yang dikenal juga sebagai saree sutra Benares, pakaian tradisional yang masih melekat dalam keseharian para wanita India. Seolah menjadi bagian integral khususnya bagi para pengantin wanita India.
Tak hanya sutera, konon brokat emas dan perak pun telah mendapatkan namanya lewat generasi ke generasi tanpa sedikit pun kehilangan daya tarik. Selain ragam tekstil, kita dapat menemukan kerajinan tangan lainnya, seperti mainan, hiasan yang berbahan dasar logam, kayu, ataupun tanah liat.
Seperti yang tampak pada penelusuran kami hari itu. Setiap toko menggelar jenis barang dagangannya dari mulai karpet yang dirajut tangan (mirzapur), alat musik khas India, bermacam-macam khatta-meetha atau manisan, dan aam langda atau manisan mangga yang sangat populer sepanjang musim panas.
Juga dengan daun sirih, masyarakat lokal mengenalnya dengan nama pan. Konon mengunyah daun sirih di sini adalah sebagai bagian dari budaya mereka yang telah turun temurun. Bahkan budaya unik menyambut tamu di sini adalah dengan menyuguhkan pan atau daun sirih tersebut.
Dari beberapa pedagang yang sempat kami tanyakan, mereka memberikan referensi tempat belanja yang murah dan telah menjadi hot spot di kota ini. Seperti di Chowk Market, Gyan Vapi, Vishwanat Gali, Thatheri Bazaar, Lahurabir, Godoulia, Dashwamedh Gali, dan Golghar market.
Sedangkan bagian yang terpenting dari semua itu adalah Anda harus pandai dalam penawaran harga, karena berhubungan dengan raut wajah Anda sebagai wisatawan. Di sudut gang di Chowk Market, kami mencoba memulai penawaran beberapa potong blus dan celana khas India.
Ternyata memang benar, bila Anda pandai menawar harga murah akan menjadi keberuntungan Anda yang tidak akan Anda dapatkan di kota lain. Bayangkan saja, bila dihitung-hitung setelah dijumlahkan, satu potong blus atau celana hanya seharga tak kurang dari Rp 7.500.
Meski dengan raut wajah agak kecewa karena berharap bisa meraup keuntungan tinggi dari para wisatawan seperti kami, akhirnya pedagang dengan dua karyawan itu menyetujui harga yang kami tawarkan. Tak hanya itu, kamandalam atau kuningan panci air yang sering digunakan untuk membawa air atau botol “Gangga Jal” yang sering digunakan untuk mengambil air suci dari sebuah ritual, juga tampak diperjualbelikan di sini.
Di sisi lain, melewati riuhnya aktivitas kota, kami mencoba menyusuri jalan-jalan lain di kota ini yang terdapat banyak lembaga-lembaga pengetahuan bermukim di kota ini. Memang sejak zaman dahulu Varanasi dikenal sebagai Vidya Sarva Ki Rajdhani atau ibu kota dari semua pengetahuan.
Di kota ini tercatat telah banyak menelurkan sarjana dan intelektual terkenal, sebut saja dari Banares Hindu University, Sampurnanad University Sanskritt, Mahatma Ghandi Kashi Vidya Peeth, UP College, dan Institute Of Tibet Studies Centre. Dedikasi mereka untuk para anak bangsa seakan telah menjadi nafas kehidupan bagi setiap perkembangan yang terjadi.
Bila ditilik dari luarnya, secara fisik bangunan dan infrastruktur, pendidikan di negara Mahatma Ghandi ini memang sangat memprihatinkan. Bangunan-bangunan yang terlihat semrawut karena kilasan debu yang menumpuk menjadikannya tampak tidak teratur, tetapi kalau sudah bicara soal mutu dan pendidikan negara ini memang patut diacungi jempol.
Dari mulai unsur kemudahan, metode dan pelaksanaan, membuat hasilnya tak kalah dibandingkan dengan perguruan tinggi ternama lainnya di belahan bumi ini. Terbukti dari lulusannya yang telah banyak bersinar di beberapa perusahaan mentereng kelas dunia.
Intinya, metode pendidikan di negara ini lebih sangat mengutamakan isi atau content dibandingkan penampilan dan performanya. Kami sendiri berharap pendidikan di Indonesia bisa mengacu pada inti yang diajarkan pendidikan.
Panas terik di kota ini terasa telah meredup setelah hampir satu jam kami mengelilingi komplek pusat pendidikan  Banares Hindu University, yang tak jauh dari pusat kota. Di kampus yang seluas 5,5 km persegi ini terdapat lebih dari 140 studi departemen pembelajaran dan lebih dari 55 asrama untuk mahasiswa pria dan wanita.
Pemandangan tampak lebih tenang di Universitas yang didonasi oleh seorang mantan Raja Varanasi, Kashi Naresh. Letaknya jauh dari kebisingan kota. Kebersihan juga lebih terasa menghiasi aktivitas belajar para mahasiswa.
Di dalam komplek ini juga terdapat sebuah kuil bernama Vishwanath Temple. Konon kuil ini merupakan kembaran kuil Kashi Vishwanath yang terdapat di salah satu ghat di tepian sungai Gangga. Menurut sejarah, kuil Kashi Vishwanath yang berada di tepi sungai Gangga dulunya adalah pilgrimage centre bagi umat Hindu di Varanasi.
Kuil ini disebut juga kuil emas karena puncak menara setinggi 15,5 m di kuil ini dilapisi metalisasi emas seberat 1 ton, sumbangan dari Maharaja Ranjit Singh. Setelah dua kali berturut-turut dihancurkan oleh para penguasa daerah lain, kuil ini hanya tinggal sisa-sisa.
Sejak itu kuli tertutup untuk umum, hanya umat Hindu saja yang diperkenankan masuk ke kuil emas ini. Bentuk bangunan kuil Vishwanath tak jauh berbeda dengan kuil Kashi Vishwanath. Hanya saja menara kuil Vishwanath tidak dilapisi emas dan terbuka untuk umum.
Cara menuju ke Varanasi, bisa dengan maskapai penerbangan domestik yang tersedia, seperti India Airlines, Jet Airways dan Air Sahara. Anda dipersilahkan memilih pemberhentian menuju Babatpur airport di Varanasi. Perjalanan dilanjutkan menuju pusat kota dengan autoricksaw bertarif sekitar 150 rupee atau taksi seharga kurang lebih 350 rupee.
Sedangkan jasa angkutan kereta api dan bus menuju kota suci ini terdiri dari private deluxe bus dan government bus yang berhenti di terminal bus Varanasi. Sedangkan dengan menggunakan kereta api, Varanasi Juncion merupakan stasiun pemberhentian menuju kota ini.
Umumnya di setiap ghat, Anda bisa menemukan penginapan-penginapan yang sesuai selera Anda. Tetapi mayoritas wisatawan lebih memilih hotel yang letaknya benar-benar di pinggiran ghat dengan view langsung sungai Gangga.
Mishra Guest House bisa menjadi salah satu pilihan Anda. Harga berkisar 250 hingga 350 rupee menurut kelasnya. Anda juga dapat mencoba Schindia Guest House yang letaknya tepat di pinggiran ghat, harga berkisar 450 hingga 1.200 rupee.
http://travel.kompas.com/read/2011/10/11/17375633/Varanasi.Kuil.Emas.Sampai.Brokat.Emas

Leave a Reply