| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

VARKALA BEACH, PANTAI NON INDIA

Setelah 3 hari menikmati kemodernisasian kota Bangalore dan Mysore, akhirnya perjalanan selama kurang lebih 13 jam kami tiba di destinasi cantik yang satu ini. Wilayah selatan India memang terkenal sebagai habitat perairan yang indah, di Kerala, negara India bagian selatan khususnya terdapat sebuah gugusan pantai yang cantik dengan jalan yang membentang disepanjang tebing. Namanya Pantai Varkala, terletak antara tanah Allepey dan Kovalam, sekitar satu jam ke arah utara kota Trivandrum.
Sebelum bicara tentang keindahannya, jelas kami mau curhat bagaimana perjuangan kami hingga sampai tempat terkenal ini. Pasalnya, gak semudah dan selancar perjalanan-perjalanan sebelumnya, kami mengalami insiden-insiden menegangkan yang menguras emosi dan tenaga. Perjalanan dari Bangalore menuju Varkala beach umumnya dengan rute Bangalore – Kochuveli, dari Kochuveli masih naik kereta lokal menuju Varkala Station, itupun masih disambung dengan autosricksaw atau bus selama 10 menit (10 INR perorang).
Memang dasar perjalanan ini kurang beruntung, dari awal kami sudah cukup lelah dengan suara tangis bayi di kereta api Shatabdi Express, tepatnya kereta yang membawa kami dari Bangalore menuju Kovalam, 8 jam bayi itu tak berhenti menangis, hufft ASI ibunya pun tak cukup kuat untuk meredam tangis sang bayi yang nampaknya gak betah diajak jalan-jalan dengan kereta api. Baru 5 menit ia mingkem, sejam selanjutnya ia menangis gulung kuming. Keadaan tersebut membuat kami susah tidur. Belum lagi orang-orang rese dikabin kami yang gak bersedia untuk membuka sleeper seatnya sebelum jam 10 malam, membuat kami dongkol setengah mati.
Gak sampai disitu, gara-gara baru tidur jam 2 pagi, kami kesiangan bangun, dan baru melek di stasiun tempat dimana seharusnya kami turun, Kochuveli / Kovalam. Alhasil, kami panik mengemas barang-barang dan backpack, bahkan kereta sudah mulai bergerak kembali meninggalkan stasiun saat kami berlari kearah pintu keluar kereta. Gak mungkin untuk lompat dengan keadaan kereta sudah berjalan cukup kencang, tetapi apa yang terjadi, Arta memaksa untuk tetap turun, akhirnya dengan ragu saya nekad melompat dari kereta meski petugas sudah mensign saya untuk tidak turun, alhasil saya terjatuh dipelataran platform karena beban backpack besar yang saya bawa depan belakang. Untung hanya terseret dan keseleo sedikit. Lain lagi nasib Arta yang rupanya masih sibuk mengemas barang-barang yang sempat ia taruh di saku kabin. Tertinggal 200 meter, dari pintu keluar kereta yang makin bergerak dengan kecepatan tinggi, doi melempar backpack dan sepatunya kepelataran gerbong, lalu gubbbraggg, doi melompat dari pintu kereta dan terjatuh di pelataran gerbong. Saya gak tahu siapa yang harus disalahkan dalam kejadian ini, kami berdua saling misuh-misuh menyalahkan kebodohan dan kelalaian kami satu sama lain. Pasalnya saya yang bertugas membangunkan doi, tak menerima info apapun tentang di stasiun mana kami akan turun, doai hanya beritahu perkiraan jam kami tiba distasiun pemberhentian yang dimaksud. Saya bangun 5 menit sebelum kereta berhenti di stasiun Kochuveli, karena tak ada barang-barang yang perlu dikemas, saya dengan mudah menrangkul lagi backpack saya, sedang doi yang biasa kalau dibangunin masih suka leyeh-leyeh masih harus mengemas beberapa barang seperti Ipod, hp sepatu dan buku-buku nya yang ia taruh di saku kabin.
Dan bukan cuma kejadian menegangkan itu, saat kami membeli tiket kereta terusan menuju Stasiun Varkala, kami baru sadar HP yang dibawa Arta raib entah kemana, setelah memeriksa seluruh isi backpack bahkan jalan-jalan sepanjang stasiun yang kami lalui tadi, Hp itu tetap tidak ditemukan. Kesimpulan kami, bahwa HP itu tertinggal di saku kabin kereta api. Karena terakhir saat saya akan melompat dari kereta, saya masih jelas melihat HP itu tergeletak disaku jaring tersebut. Mungkin karena panik dan buru-buru Arta tak sadar kalau ada barang yang tertinggal. Alhasil, bisa dibayangkan, sepanjang perjalanan dari stasiun kereta hingga ke penginapan, kami berantem menyalahkan satu sama lain, dan menyesali kebodohan dan kelalaian kami masing-masing.
Untungnya insiden jutek-jutekan gak berlangsung lama, setelah mandi dan beristirahat di penginapan Blue moon seharga 200 INR perhari, kami menikmati suasana semilir yang menyegarkan pantai ini. Kesalahan dan kelalaian semua orang kan pasti mengalaminya, kami sadar ini pelajaran buat kami, agar bekerjasama dengan baik dalam team, tidak teledor meninggalkan barang-barang dalam keadaan tidur didalam kereta, selain kurang aman, kemungkinan jelek lainnya bisa saja terjadi, seperti yang kami alami. Buat kamu, biasakan jika ingin tidur diperjalanan, pastikan barang-barang anda sudah dikemas rapih kembali dalam backpack, untuk mengantisipasi pencurian, anda pun dapat menambahkan gembok kecil pada setiap resleting tas anda, khusus di kereta khususnya di India, kamu lebih baik tidak menarus barang-barang atau tas jauh dari jangkauan anda, kami selalu menaruh backpack kami dipojokan kursi, bahkan saat tidur sayta memilih menjadikannya bantal. Jika kemungkinannya kecil untuk menarus barang di samping anda, dan harus menaruhnya dikolong kursi, biasakan gunakan tambahan rantai dan gembok untuk mengerat backpack anda pada tiang kursi.
Sadar dengan kesalahan masing-masing, akhirnya kami maaf-maafan disaksikan hidangan seafood yang menggugah selera, plus suara debur ombak yang mendamaikan, cie ciehh, lebayy. Yupe, setelah menelusuri gugusan pantai melalui jalan setapak diatas tebing, kami melabuhkan makan siang kami di sebuah restauran, Cafe Delmar namanya. Kawasan tebing ini memang dikenal sebagai pusat akomodasi dan fasilitas bagi para turis, dari penginapan, restoran, cafe, internet bahkan kelas Yoga. Banyak restoran yang sudah free wifi bahkan. Heheh..
Banyak akomodasi penginapan menarik yang sesuai dengan buget anda, pilihan yang bervarian ada disekitar jalan setapak gugusan tebing Varkala. Mk Garden (mkgarden_2005@yahoo.com), New Heaven (newheavenbeachresort@yahoo.com), Kerala Bamboo House (www.keralabamboohouse.com) adalah salah satu dari sekian banyaknya pilihan akomodasi dengan harga backpackeran, harga permalam berkisar 300 hingga 1000 INR, kemungkinan mendapatkan diskon dan penawaran tertentu umumnya bisa anda dapatkan bila waktu anda menginap cukup lama. Untuk fasilitas yang lebih eksklusif anda bisa mencoba Green Palace (greenpalace@eth.net), Hill Palace ( www.hillpalace.com), Villa Jacaranda (www.villajacaranda.biz), atau Taj Garden Retreat ( www.tajhotel.com), harganya berkisar 1200 INR hingga US$300 permalam, dan view dari setiap penginapan adalah harga mahal yang menjadi target daya tarik penjualan.
Seperti pantai-pantai cantik milik Goa, pantai ini juga dikenal sebagai tempat yang paling laris untuk menikmati fenomena alam ketika matahari mulai tenggelam. Tiga hari menikmati keindahan laut ini memang benar-benar membuat sensasi lain dalam suasana hati kami. Berjalan digugusan pasir putih sepanjang hari menjelang sore adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan pantai ini. Dari atas tebing yang menggelar berbagai akomodasi dari mulai penginapan, restoran, hingga tempat hiburan pun dapat jadi pilihan menarik untuk menikmati kawasan ini.
Menurut strukturnya, pantai utama Varkala terletak di Pantai Papanasham, dibagian selatannya merupakan jalan gugusan menuju sebuah kuil Hindu yang konon merupakan tempat umat Hindu sekitar melakukan beberapa ritual keagamaan dan beberapa upacara kematian. Bagian utaranya merupakan pusat wisata yang biasanya penuh dengan turis yang ingin mandi sinar matahari bersama kecipakan air laut. Dalam beberapa meter, kawasan pantainya dapat digunakan untuk bermain atau berenang. Pantai ini dipagari dinding tebing yang tinggi, ini lah salah satu keunikan pantai Varkala, dengan jalan yang berundak sebagai akses, diatas tebing anda dapat menikmati wisata super relaksasi yang disediakan tempat-tempat hiburan atau sarana kesehatan, seperti Yoga, Pijat Ayurvedic, hingga sarana Spa eksklusif. Menjelang malam, restoran di jalan setapak gugusan tebing ini banyak menggelar menu seafood yang masih fresh, anda dapat memilih sendiri jenis ikan laut yang anda inginkan, dan kemudian para koki akan mengolahnya sedemikian rupa di dapur pembakaran atau pengolahan yang sengaja dilokasikan didepan restoran. Yang romantis kamu bisa nikmati di restoran Trattoria, menu seafood dikemas dalam citarasa Tibetan – Mongol. Suasananya remang-remang romantis dengan kayuhan lilin cair disetiap meja. Pelayanannya super ramah, di depan resepsionistnya terdapat papan besar yang penuh dengan kertas warna-warni. Yang unik, kertas memo tersebut berisi tentang kesan dan pesan para pengunjung dari berbagai belahan dunia yang sempat mampir disini. Hahah, malam itu kami jadi orang Indonesia pertama yang diberi kesempatan untuk menuliskan sedikit biografi kami serta kesan dan pesan kami untuk cafe tersebut.
Disini kami puas menikmati wisata kuliner ala seafood, dari yang biasa saja, hingga yang lezatnya tak terkira, belum lagi dengan suasana restoran yang disuguhkan, dari mulai musik-musik Hindi, hingga lantunan si gimbal Bob Marley. Ada suasana resort yang megah, hingga suasana romantis yang hanya dengan sebatang lilin remang-remang. Dari pelayanan yang memuaskan hingga yang tidak sopan sama sekali. Bayangkan saja, di sebuah restoran bernama Beach Resto, hidangan disajikan dalam keadaan dingin, porsinya juga dikurangi dari berat yang seharusnya sudah kami beli, harganya juga tak terkira, sama dengan harga menu di resort. Rasanya lebih mirip masakan basi sudah seminggu.
Kalau soal pemandangan dan aktivitas, dijamin jempolan deh sobat, gak bosan-bosan kami berkecipak air di pantai ini setiap hari, meski dibeberapa tempat dipasang bendera merah tanda kawasan berbahaya, kebanyakan wisatawan tetap menikmati waktunya bermain dengan berenang dan berselancar, tentunya dengan mematuhi rambu-rambu yang ada. Bangun siang, makan, menunggu sunset, berjemur, berenang, main volley pantai dengan masyarakat sekitar saat sore hari, dinner seafood segar, sampai menikmati ombak pada malam hari di tepian pantai yang hanya berjarak 300 meter dari penginapan kami, menjadi liburan relaksasi yang bermanfaat untuk mood kami selanjutnya. Pantainya bersih, gak ada sampai berserakan, saluut pokoknya. Ini pantai paling unik yang kami temui selama perjalanan kami di India, pasalnya kawasan pantai ini diurus sedemikian rupa oleh pihak pemerintah, puluhan cleaning service siap membersihkan pantai ini dengan sapu lidi nya setiap hari. Belum lagi pelayanan yang mengistimewakan para turis disini, tau gak sih, rupanya pantai ini tertutup untuk pengunjung lokal India, terutama untuk aktivitas mandi, jadi anda dengan tenang bisa menikmati berbikini ria tanpa takut sorotan mata jahil mengintai anda.
Iklim tropis dan lembab lebih banyak mendominasi kawasan ini, akhir Desember hingga awal Maret adalah masa kunjungan terbaik menghindari sengatan matahari yang terlalu terik atau curah hujan yang tinggi. Menurut kepercayaan agama Hindu, pantai ini tergolong desa suci, itu sebabnya ada larangan mengkonsumsi minuman beralkohol dan hal-hal yang memabukkan, meski pada kenyataannya masih banyak oknum-oknum restoran yang melayani pesanan jenis tersebut. Ini mengindikasikan para pengunjung untuk lebih berhati-hati atas dampak yang ditimbulkan dari mengkonsumsi alkohol, seperti halnya para wanita yang berplesiran sendiri saat malam hari diharap lebih hati-hati dan tidak pulang larut malam, menghindari gangguan para pemabuk yang biasa mangkal disepanjang jalan.

Leave a Reply