| PINBB - 25B407DC | CALL/WA/SMS - 082125151037 | EMAIL: INFO@KAKIGATEL.COM |

ZOJO-JI TEMPLE, KUIL BAGI WANITA YANG KEGUGURAN

Mau berplesiran ala religi dikawasan Tokyo? Anda dapat mengangsur pada jalan menuju Zojoji Temple. Letaknya tak jauh dari Tokyo Tower dan Istana Kaisar. Zojo-ji Temple adalah sebuah kawasan Buddhist Temple utama bagi ajaran sekte Jodo di distrik Kanto. Didirikan oleh Yuyoshoso. Chinzai sect, Shingon school. Kuil Zojo-ji ini dibangun di zaman muromachi, disekitar tahun 1393 dan selesai di 1598. Kemudian telah menjadi kuil pribadi milik keluarga Shogun alias Panglima Takugawa Ieyasu, tepatnya sejak beliau pindah ke Edo (Tokyo) tahun 1590.
Di himpit oleh keperkasaan kota Tokyo, Zojo-ji temple nampak bersih dan terawat. Sangat mencerminkan keteguhan Jepang dalam menghargai warisan budaya dan sejarah kunonya. Makam-makam penting dari keturunan Takugawa berkumpul dikawasan ini. Sangedatsumon berarsitektural kontemporer Dinasti Tang, yang berdiri sejak tahun 1960 menjadi pintu gerbang utama untuk mengakses kawasan temple ini.
Aroma kesakralan yang unik dapat Anda saksikan lewat banyaknya aneka atribut yang berkaitan dengan ziarah ala Jepang terhampar dibeberapa bagian taman yang sejuk penuh dengan pohon rindang. Arca-arca Dewa dari kepercayaan masyarakat Jepang nampak tersebar dimana-mana, tak beda dengan geliat biksu-biksu yang hanyut dalam doa. Di depan kuil ini nampak deretan bambu yang di gantungi kertas berwarna-warni. Deretan bambu dan kertas tersebut dikenal sebagai omamori, alias jimat. Mitos masyarakat setempat, bagi pengunjung yang menuliskan pengharapannya di kertas suci tersebut, maka akan cepat terkabulkan.
Kami digiring untuk melakukan ritual penyucian diri sebelum masuk ke kuil Zojo-ji. Sebuah bak kayu berbentuk persegi yang penuh dengan air telah disediakan beserta gayung-gayung kecil untuk mencuci tangan, dan membasuh muka. Perasaan kami tiba-tiba mendadak lain ketika melihat bagian dalam taman tersebut. Inilah sisi lain manusiawi dari kota semodern Tokyo. Terdapat ratusan patung-patung bayi dengan topi yang disandingkan dengan sebuah mainan kincir angin, di dalam taman tersebut. Patung-patung ini disebut sebagai patung Jizobosatusu, yaitu patung yang dipercaya sebagai roh pelindung jiwa anak-anak yang telah mati atau lahir mati, konon arwah anak-anak ini disetarakan sebagai para Malaikat Buddha.
Biasanya, para ibu yang keguguran atau melahirkan mati dapat mendedikasikan patung Jizobosatusu disini untuk arwah anak atau janinnya yang telah tiada. Kepercayaan tersebut disebut Mizuko Zizo, yaitu semacam kepercayaan yang kaitannya dengan seorang wanita yang mengalami keguguran alami. Berbagai ritual suci dilakukan oleh sang orang tua di kuil ini, memohon berkah bagi si bayi di dunianya yang baru sekaligus mengharap berkah keturunan lainnya segera.
Seperti perawatan pada bayi umumnya, para ibu juga mengenakkan pakaian bayi pada patung ini. Sekilas budaya ini mirip-mirip dengan kebudayaan kuno ibu-ibu Jawa yang mempercayai bahwa arwah bayi atau janin mereka yang mati, tetapi tetap berhak mendapatkan fasilitas tertentu dari orang tuanya. Suasana hening meliputi kawasan patung bayi itu, beberapa pengunjung nampak tertegun memandangi ratusan wajah-wajah patung bayi tersebut. Nampak beberapa perempuan sedang komat-kamit di depan sebuah patung bayi. Sedang kami tiba-tiba teringat orang tua dan sanak saudara di tanah air. Sungguh perasaan yang menyentuh. Kontras dengan berita-berita di Indonesia yang mencuatkan fakta aborsi, bahkan bayi-bayi yang sengaja di buang di saluran air bahkan septic tank. Miris!
Selain kawasan makam Takugawa, kawasan religi ini dapat diakses tanpa tiket masuk. Lokasi makam tua milik keluarga Takugawa itu dikelilingi tembok beton kuno. Pintu gerbang utamanya memang ditutup untuk umum, namun Anda bisa mengaksesnya melalui pintu disebelahnya, dengan membayar tiket masuk berkisar 500 Yen.

Leave a Reply